Hikayat Soldatenkaffee Bandung, Kafe NAZI yang Bikin Heboh Sekolong Jagat

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Soldatenkaffee Bandung. (Sumber: Amusing Planet.)
Soldatenkaffee Bandung. (Sumber: Amusing Planet.)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah sudut Jalan Cikawao, Bandung, pernah berdiri kafe dengan interior merah menyala dan foto besar Adolf Hitler di dindingnya. Namanya Soldatenkaffee. Di luar negeri, nama itu identik dengan kafe-kafe tempat nongkrong tentara Jerman pada masa pendudukan NAZI di Eropa. D Bandung, nama itu tiba-tiba menjadi bahan berita internasional.

Tidak ada yang istimewa sebetulnya. Kafe itu berdiri sejak 2011, dimiliki oleh seorang pengusaha lokal bernama Henry Mulyana. Ia seorang kolektor memorabilia perang, terutama dari era Perang Dunia II. Di ruang tamunya dulu, sebelum ada kafe, sudah ada helm baja, seragam militer, lencana, dan bahkan replika senjata dari era itu. Ia suka cerita perang, katanya. Ia kagum pada strategi militer dan disiplin Jerman.

Tapi yang terjadi setelah kafe itu buka, tidak ada yang menduga.

Di dalam Soldatenkaffee, dinding-dindingnya penuh poster propaganda NAZI, bendera dengan swastika tergantung di atas pintu, dan sebuah potret besar Hitler menatap tamu yang baru masuk. Para pelayan mengenakan seragam mirip tentara Wehrmacht, lengkap dengan topi dan simbol elang Reich. Menu makanannya pun bermain-main dengan tema itu: Nazi Goreng, Gestapo Burger, Himmler Cocktail. Sebuah ironi yang tidak disadari banyak orang di sana.

Di Bandung, kafe ini sempat dianggap biasa saja, sekadar kafe tematik, seperti kafe bertema Harry Potter atau steampunk. Tapi bagi orang luar, terutama di Eropa dan Amerika, tempat seperti itu adalah mimpi buruk sejarah yang dihidupkan kembali.

Segalanya berubah pada pertengahan 2013.

Seorang jurnalis dari Associated Press datang ke Bandung dan tanpa sengaja menemukan kafe itu. Ia mengambil foto interiornya, menulis laporan singkat, dan mengirimkannya ke redaksi. Dalam hitungan jam, foto-foto itu menyebar ke seluruh dunia. Al Jazeera, The Guardian, CBS News, semuanya memuat kisah yang sama: “Ada kafe bertema NAZI di Indonesia.”

Dalam waktu sehari, Soldatenkaffee berubah dari tempat nongkrong mahasiswa menjadi pusat kemarahan global.

Kemarahan itu datang dari banyak arah. Pusat Simon Wiesenthal, organisasi pemburu penjahat perang NAZI, menyebut kafe itu penghinaan terhadap korban Holocaust. Mereka menuntut agar pemerintah Indonesia segera menutupnya. Media internasional menyorotnya sebagai contoh kebodohan sejarah di Asia Tenggara.

Enam juta orang Yahudi dibunuh oleh NAZI. Swastika bukan sekadar tanda sejarah, tapi simbol genosida. Di Eropa, menampilkan simbol itu di ruang publik bahkan bisa berujung penjara. Tapi di Bandung, simbol itu dijual dalam bentuk dekorasi dan foto selfie.

Henry Mulyana kelimpungan. Ia tidak menyangka akan seheboh ini.

Ia menolak disebut rasis. Menurutnya, simbol-simbol NAZI di kafe itu hanya cara menarik pelanggan. Ia menyebutnya sebagai seni, bukan ideologi, katanya.

"Yang kami angkat adalah sejarah perang dunia, bukan khusus NAZI-nya tapi kan NAZI bagian dari sejarah juga," kata Henry kepada media.

Tapi bagi banyak orang, alasan itu tak cukup.

Di Indonesia, sejarah Holocaust nyaris tak dibahas di sekolah. Kurikulum sejarah lebih banyak bicara tentang penjajahan Belanda dan Jepang, perjuangan kemerdekaan, serta Pahlawan Nasional. Nama Hitler hanya muncul di film perang atau video game. Ia muncul sebagai tokoh antagonis yang karismatik, bukan sosok pembunuh massal.

Karena itulah banyak pengunjung yang datang ke Soldatenkaffee tidak merasa bersalah. Mereka melihatnya sebagai tempat yang unik dan keren.

Hiburan Bertema Sejarah Kelam

Pada Juli 2013, pemerintah Kota Bandung akhirnya turun tangan. Pejabat dari Dinas Pariwisata dan Polrestabes Bandung memanggil Henry Mulyana. Tidak ada undang-undang yang secara spesifik melarang simbol NAZI, tapi tekanan publik begitu kuat. Pemerintah khawatir citra pariwisata Bandung tercoreng.

"Kita harus tanya secara rinci apa maksud yang sebenarnya. Tapi yang jelas, Kota Bandung tidak akan membiarkan siapapun menghasut kebencian rasial," kata Wakil Wali kota Bandung, Ayi Vivananda.

Kafe itu akhirnya ditutup sementara. Tapi tidak lama.

Pengunjung Soldatenkaffee di Bandung. (Sumber: Warfare History Network)
Pengunjung Soldatenkaffee di Bandung. (Sumber: Warfare History Network)

Setahun kemudian, pada Juni 2014, Soldatenkaffee dibuka kembali. Kali ini dengan tema yang “lebih berimbang”. Potret besar Hitler diturunkan, dan di dinding kini berdampingan foto Winston Churchill dan Joseph Stalin. Henry mengatakan kepada media, “Dari awal saya bilang Soldatenkaffee bukan kafe NAZI. Ini kafe Perang Dunia II.”

Ia menambahkan memorabilia dari pihak Sekutu agar tampak netral. Tapi beberapa simbol NAZI masih dibiarkan menggantung. Swastika kecil masih ada di topi pelayan.

Outlet media seperti The Times of Israel mencatat bahwa swastika masih berlimpah di sana. Namun Henry bersikeras, itu hanya bagian dari sejarah perang.

Kafe itu kembali ramai. Di Bandung, Soldatenkaffee jadi tempat nongkrong seperti akfe pada umumnya. Pesta Tahun Baru 2014 bertema Black & White Night digelar di sana, menghadirkan model dari majalah Popular dan grup musik Cherrybelle. Di media sosial, foto-foto dinding merah dan dekorasi vintage kafe itu viral, tanpa konteks sejarah.

Sebagian orang datang karena ingin tahu. Sebagian lagi datang hanya karena penasaran dengan “kafe NAZI yang sempat dikecam dunia.”

Tapi di luar negeri, protes tidak berhenti. Petisi online di situs Change.org menuntut penutupan total. Di Indonesia, sejumlah aktivis HAM juga mulai bicara. Mereka menilai simbol seperti swastika berpotensi menormalisasi kebencian rasial. Tapi argumen itu tidak banyak menggema. Di mata banyak orang, itu hanya urusan luar negeri.

Bagi Bandung, Soldatenkaffee sudah menjadi bagian dari eksotisme kota kreatif: aneh, absurd, tapi tetap ramai.

Ditutup Permanen pada 2017

Pada awal 2017, Soldatenkaffee akhirnya tutup permanen. Tidak ada lagi bendera swastika di jendela, tidak ada lagi pelayan berseragam Wehrmacht membawa Gestapo Burger.

Henry Mulyana mengatakan alasannya sederhana: bisnis sepi. Lokasinya kurang strategis, katanya, bukan karena kontroversi. Tapi banyak pengamat berpendapat lain. Publisitas negatif membuat wisatawan asing enggan datang, sementara pelanggan lokal mulai bosan.

Kafe itu akhirnya menjadi kenangan.

Beberapa tahun kemudian, para peneliti budaya menulis tentangnya. Dalam artikel di Warfare History Network, Soldatenkaffee disebut sebagai contoh bagaimana simbol sejarah gelap bisa digunakan untuk mencari sensasi di negara yang tidak punya hubungan langsung dengan tragedinya.

Fenomena itu menunjukkan satu hal: ada jarak besar antara simbol dan makna. Swastika, misalnya, dalam agama Hindu dan Buddha adalah simbol matahari, keberuntungan, dan keabadian. Tapi sejak NAZI menggunakannya, simbol itu berubah menjadi tanda kebencian.

Bagi banyak anak muda Bandung, perbedaan itu kabur. Mereka lebih mengenal Hitler dari produk buaya popular, bukan dari sejarah.

Kini, bekas lokasi kafe di Jalan Cikawao sudah berubah menjadi tempat lain. Tapi kisahnya masih sering disebut dalam obrolan warga, terutama ketika muncul perdebatan soal batas kebebasan berekspresi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.