Sejarah Masjid Cipaganti Bandung, Dibelit Kisah Ganjil Kemal Wolff Schoemaker

5 menit baca
Aris Abdul Salam
Ditulis oleh Aris Abdul Salam diterbitkan
Masjid Cipaganti Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Masjid Cipaganti Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah tikungan di Jalan Cipaganti, Bandung, berdiri sebuah masjid tua yang masih anggun. Tak terlalu megah, tapi punya gaya. Atapnya limasan, jendelanya tinggi, dan sudut-sudutnya menyimpan aroma zaman kolonial. Namanya: Masjid Cipaganti. Masjid ini bukan hanya rumah ibadah, tapi juga rumah bagi segenggam kisah sejarah yang unik dan agak membingungkan.

Salah satu tokoh yang membuat masjid ini istimewa adalah sang perancangnya: Charles Prosper Wolff Schoemaker. Arsitek Belanda yang hidupnya mirip tokoh utama dalam novel absurd. Ia pernah memelihara macan kumbang dan ular di rumah, menikah lima kali, sempat masuk Islam, lalu kembali jadi Katolik dan dimakamkan di kuburan Kristen.

Begitu pun Masjid Cipaganti: masjid yang dibangun oleh seorang non-Muslim, lalu diresmikan tak lama setelah si arsiteknya mengucap dua kalimat syahadat.

Dari Bilik ke Beton

Bangunan Masjid Cipaganti yang kita kenal hari ini berdiri pada 1933. Tapi cerita aslinya lebih tua dari itu. Menurut pengurus masjid sekarang, bangunan aslinya sudah ada sejak 1800-an. Namanya dulu Masjid Kaum Cipaganti, terbuat dari bilik bambu. Luasnya mencapai 8.000 meter persegi, nyaris sebesar dua lapangan bola.

Dulunya masjid ini berdiri megah (meski dari bambu) di tengah kawasan penduduk. Tapi ketika pemerintah kolonial Belanda mulai merancang kawasan Cipaganti sebagai pemukiman elite untuk orang-orang Eropa, masjid ini jadi ‘gangguan’. Tahun 1920-an, Gemeenteraad alias dewan kota hendak membongkarnya demi membuka jalan baru.

Tentu saja masyarakat Muslim tak terima. Mereka protes. Kepala Penghulu Bandung dan tokoh masyarakat menyuarakan keberatan. Surat kabar zaman itu pun ramai memberitakan keberisikan kaum pribumi yang ingin mempertahankan masjidnya.

Pada akhirnya, pemerintah kolonial mengalah dengan catatan: masjid boleh tetap ada, tapi harus dibangun permanen. Tidak boleh dari bambu atau bilik lagi, karena akan bersebelahan langsung dengan vila-vila Eropa. Dengan kata lain: masjid boleh eksis, asal bergaya dan elok dipandang.

Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)
Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)

Lantas dimulailah pembangunan ulang masjid ini, di atas tanah wakaf yang sama. Tapi dengan arsitektur yang lebih modern. Dan di sinilah muncul nama Wolff Schoemaker.

Wolff Schoemaker, Tokoh Kolonial yang Tak Biasa

Wolff Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1882. Ia menempuh pendidikan arsitektur di Breda, Belanda. Tapi jangan bayangkan ia hidup dengan gaya aristokrat yang kalem dan terukur. Ia lebih cocok disebut flamboyan, kalau bukan eksentrik.

Dalam buku Tropical Modernity: Life and Work of C.P. Wolff Schoemaker karya C.J. van Dullemen, Schoemaker digambarkan sebagai arsitek yang nyentrik dan sulit ditebak. Ia punya kebiasaan aneh: memelihara macan kumbang dan ular di rumahnya di Bandung. Ia menikah lima kali, dan dua dari pernikahan itu berlangsung singkat sekali—sampai anak dari istri keempat lahir sebelum anak terakhir dari istri ketiga.

Tak cuma itu. Schoemaker juga dikenal sebagai guru dari Soekarno di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kelak jadi ITB. Hubungan keduanya sangat dekat, dan saking dekatnya, Schoemaker dikabarkan kurang disukai oleh komunitas Eropa sendiri. Bisa jadi karena gaya hidupnya. Bisa jadi karena kedekatannya dengan muridnya yang sangat pro-pribumi. Atau mungkin juga karena rumor lain: bahwa ia masuk Islam.

Baca Juga: Kisah Sumur Bandung, Lidi Bertuah Bupati yang Jadi Penanda Kota

Sebelum rumor itu muncul, Schoemaker sudah lebih dulu merancang Masjid Cipaganti. Prasasti di masjid mencatat bahwa pembangunan dimulai pada 11 Syawal 1351 H atau 7 Februari 1933. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Bupati Bandung saat itu, R.T. Hassan Soemadipradja, bersama Patih Wirijadinata dan Kepala Penghulu Raden Haji Abdoel Kadir.

Bangunan ini dikerjakan oleh pemborong bernama Anggadibrata dengan bantuan Balai Keramik, dulu dikenal sebagai Keramisch Laboratorium.

Bangunan masjid selesai dibangun pada 27 Januari 1934. Dan secara tak sengaja, hanya dua pekan sebelumnya, sebuah kabar cukup heboh beredar: sang arsitek, Wolff Schoemaker, masuk Islam.

Versi yang paling dipercaya menyebut bahwa Schoemaker mengucap syahadat pada Januari 1934. Dalam salat Jumat perdananya sebagai Muslim, ia datang ke Masjid Agung bersama dua Eropa lain: Dr. Khalid Scheldrake dan Mr. Simson. Ketiganya memakai celana panjang (pantolan), dan kehadiran mereka tentu saja mengundang sensasi. "Orang bule masuk masjid? Salat Jumat pula?" begitu kira-kira gumaman jamaah yang hadir hari itu.

Sejak saat itu, Schoemaker mulai menggunakan nama “Kemal Wolff Schoemaker”. Konon, nama “Kemal” itu ia ambil dari Mustafa Kemal Atatürk, tokoh sekuler Turki yang jadi idola modernis Muslim saat itu.

Dengan begitu, jadilah Masjid Cipaganti satu-satunya masjid di Bandung yang dirancang oleh non-Muslim yang baru masuk Islam tepat di masa peresmiannya.

Schoemaker Dimakamkan di Pemakaman Kristen

Sejak masuk Islam, kabar tentang Schoemaker agak mengendap. Ia tak lantas jadi ustaz atau ikut pengajian RT. Malah, beberapa bulan kemudian, muncul tulisan menyindir di koran De Tribune, bertajuk Is dit ook Politiek? (Apakah Ini Juga Politik?). Koran itu menyindir bahwa masuknya Schoemaker ke Islam hanyalah strategi politik agar lebih diterima kaum pribumi.

Tuduhan itu tak sepenuhnya mengada-ada. Sebab, sejarah kolonialisme penuh dengan konversi oportunis. Contoh paling terkenal tentu Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang pura-pura masuk Islam demi menembus perlawanan Aceh.

Charles Prosper Wolff Schoemaker (Sumber: Wikimedia)
Charles Prosper Wolff Schoemaker (Sumber: Wikimedia)

Tapi apakah Schoemaker betul-betul mualaf sejati atau sekadar diplomatis spiritual, tak ada yang bisa memastikan. Yang jelas, makamnya sekarang berada di Blok CB Pemakaman Kristen Pandu, Bandung. Van Dullemen menulis bahwa Schoemaker kembali menjadi Katolik sebelum wafat pada 22 Mei 1949, saat menjadi tahanan Jepang.

Seperti banyak tokoh besar, kisah hidup Schoemaker ditutup dengan jalan pulang yang berbeda dari jalan tengahnya.

Masjid Cipaganti hari ini masih berdiri kokoh. Masih jadi tempat salat lima waktu, tarawih, bahkan akad nikah. Tak banyak yang tahu bahwa masjid ini pernah digambar oleh tangan seorang kolonial yang pelihara macan, jadi Muslim, lalu dimakamkan di kompleks Kristen. Tapi sejarah memang tak selalu lurus seperti jalan protokol. Kadang belok ke arah yang mengejutkan, seperti nasib Schoemaker sendiri.

Masjid Cipaganti bukan cuma rumah ibadah. Ia juga monumen yang menyimpan jejak aneh dari zaman yang tak biasa: ketika seorang arsitek Belanda membantu membangun masjid, lalu sempat jadi Muslim, lalu berpulang ke agamanya semula.

Dan seperti itu pulalah sejarah: membingungkan, tapi tak bisa dipisahkan dari yang kita pijak hari ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)