Kisah Sumur Bandung, Lidi Bertuah Bupati yang Jadi Penanda Kota

5 menit baca
Fira Nursyabani
Ditulis oleh Fira Nursyabani diterbitkan
Situs Sumur Bandung (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Situs Sumur Bandung (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Tak ada meriam, tak ada kereta kuda. Bandung bukan dilahirkan oleh peluru atau istana, tapi oleh sebatang lidi yang ditancapkan ke tanah oleh seorang bupati. Dari tanah itu memancar air bening—dan dari situlah Kota Bandung ditetapkan sebagai ibu kota baru.

Kisah ini dimulai pada awal abad ke-19, ketika Raden Adipati (R.A.) Wiranatakusumah II mendapati ibu kota Kabupaten Bandung yang lama, yaitu Krapyak (sekarang Dayeuhkolot), terlalu sering digenangi air. Banjir bukan hanya merepotkan, tapi juga menurunkan wibawa seorang bupati yang seharusnya memimpin dari tempat yang tinggi dan kering, bukan dari kubangan.

Tahun 1809, Dalem Kaum—begitu gelar yang melekat pada Wiranatakusumah II—memulai pengembaraan. Bukan sekadar jalan-jalan atau inspeksi mendadak, tapi perjalanan spiritual dan politis untuk menemukan lokasi baru bagi pusat pemerintahan Bandung. Ia tidak membawa peta topografi atau drone. Yang ia bawa adalah keyakinan dan ilmu titen warisan leluhur Sunda.

Ia berjalan ke arah utara, mendekati jalur yang kelak jadi Jalan Raya Pos (Grote Postweg), yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Ia percaya bahwa tempat ideal untuk ibu kota baru harus memenuhi beberapa syarat gaib dan geografis: tanahnya bahe ngidul (miring ke selatan), dekat mata air, dan—ini yang menarik—merupakan bekas tempat paguyangan (berkubang) badak putih.

Suatu hari, ketika tengah beristirahat di wilayah barat Sungai Cikapundung, sang Bupati menancapkan lidi ke tanah. Beberapa versi menyebutnya tongkat. Dari lubang tancapan itu memancar air jernih. Air yang dianggap sebagai pertanda ilahi bahwa tempat itu telah diberkahi. Para pengiringnya menggali lubang di sekitar sumber air tersebut, dan jadilah sumur. Sumur itu kelak dinamai Sumur Bandung.

Tahun berikutnya, pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal Daendels mengeluarkan besluit (keputusan resmi) yang menyetujui pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke lokasi baru yang ditemukan sang Bupati. Tak hanya karena syarat spiritual terpenuhi, tetapi juga karena lokasinya dekat dengan jalur Grote Postweg yang strategis. Maka lahirlah Bandung yang kita kenal hari ini, bermula dari sebuah sumur dan sebatang lidi.

Sumur Bandung kini berdiri tenang di halaman belakang Kantor PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten, di pertigaan Jalan Asia-Afrika dan Jalan Cikapundung. Tapi sebelum sampai ke sana, sumur ini mengalami perjalanan panjang, termasuk menjadi bagian dari gedung kolonial bergaya art deco karya arsitek Belanda Wolff Schoemaker.

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Bangunan di atas Sumur Bandung dibangun tahun 1930-an dan diresmikan pada 26 Oktober 1939. Awalnya digunakan oleh N.V. Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO), perusahaan listrik milik pemerintah kolonial. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini beralih fungsi menjadi kantor PLN.

Pada masa awal kemerdekaan hingga 1990-an, Sumur Bandung berada di lobi gedung. Baru pada era Wali Kota Wahyu Hamidjaja, sumur dipindahkan ke halaman belakang gedung PLN pada 26 Oktober 1997. Pemindahan itu dilakukan untuk menjaga sumur agar lebih sakral dan tak terganggu aktivitas kantor.

Warga sekitar percaya, air sumur ini tak pernah kering meski kemarau panjang datang. Bahkan, airnya dulu pernah digunakan sebagai pasokan utama untuk Masjid Raya Bandung. Konon juga, air ini bisa menyembuhkan penyakit. Meski tidak ada bukti ilmiah, kepercayaan tetap mengalir seperti air di dasar sumur.

Sumur-Sumur Lain yang Tertimbun Zaman

Hasil penelusuran Komunitas Aleut, Sumur Bandung tak hanya satu. Setidaknya ada tujuh sumur serupa di kawasan sekitar pusat Kota Bandung. Dua di antaranya yang paling terkenal letaknya seperti saling berhadapan di sisi barat Sungai Cikapundung—dalam istilah Sunda, ngabandung.

Sumur Bandung kedua berada di halaman belakang Gedung Vorkink, yang dulunya berdiri di lahan kosong belakang kompleks pertokoan Palaguna. Gedung itu kini sudah lenyap, rata dengan tanah. Sumur ketiga ditemukan di belakang gedung Ned. Handemij—yang sebelumnya ditempati oleh Firma De Kock Sparkes & Co.—tapi sumur itu telah ditimbun untuk pondasi gedung pada awal abad ke-20.

Sumur keempat pernah ditemukan di lokasi Gedung Miramar, mal yang populer di tahun 1980-an. Tapi seperti nasib banyak bangunan di kota ini, sumur itu tertutup beton ketika mal mulai dibangun.

Tiga sumur lainnya ditemukan di kompleks Gedung De Vries, bangunan tua yang menyimpan banyak jejak kolonial. Sayangnya, ketiga sumur ini tidak terawat dengan baik. Beberapa hanya dipagari rantai seadanya, sebagian nyaris tak dikenali lagi bentuknya. Ada pula satu sumur yang disebut berada di Gedung De Zon, namun tidak diketahui dengan pasti apakah sumur itu masih ada atau telah dikubur beton seperti saudaranya yang lain.

Eks wali kota Bandung Yana Mulyana saat meninjau situs bersejarah Sumur Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Eks wali kota Bandung Yana Mulyana saat meninjau situs bersejarah Sumur Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Sumur Bandung tak hanya menyimpan air, tetapi juga cerita mistis. Konon, sumur utama yang kini berada di kantor PLN itu dijaga oleh seorang perempuan gaib bernama Nyi Mas Dewi Kentring Manik.

Dalam mitologi Sunda, Kentring Manik bukan sosok sembarangan. Ia disebut sebagai istri Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan juga putri dari Prabu Susuk Tunggal. Dalam Mooi Bandoeng, majalah tahun 1937 yang dikutip oleh Komunitas Aleut, W.H. Hoogland menyebut sosok ini juga dikenal sebagai Nyi Ken Buniwangi, dewi penjaga mata air atau Bron-godin dalam istilah Belanda.

Keyakinan akan penjaga gaib ini membuat sebagian orang datang ke sumur bukan sekadar untuk menengok sejarah, melainkan juga untuk berziarah, berdoa, atau sekadar mohon karahayuan—memohon keselamatan dan kemakmuran.

Kini, nama Sumur Bandung abadi bukan hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam administrasi dan tata ruang kota. Ia menjadi nama kecamatan yang mencakup area pusat pemerintahan Kota Bandung. Ia juga menjadi nama jalan yang menghubungkan kawasan Tamansari dengan Siliwangi.

Di tengah pembangunan yang terus membubung, dari hotel berbintang hingga kafe tematik, Sumur Bandung berdiri sebagai pengingat. Bahwa kota ini lahir bukan dari surat keputusan semata, tapi dari air, tanah yang miring, lidi, dan kepercayaan.

Dan mungkin, dari doa seorang Bupati yang tidak ingin rakyatnya terus kebanjiran.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)