Sejarah Kebun Binatang Bandung yang Sempat Jadi Hutan, dari Jubileumpark ke Bazooga

4 menit baca
Bob Yanuar
Ditulis oleh Bob Yanuar diterbitkan
Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung)
Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID – Di tengah geliat wisata kekinian yang menjamur di Bandung, ada satu tempat lawas yang tetap berdiri dengan teguh: Kebun Binatang Bandung. Lokasinya strategis, di Jalan Tamansari, tak jauh dari kampus ITB. Tapi siapa sangka, kebun binatang yang dikenal kini sebagai Bazooga itu menyimpan sejarah lebih tua dari usia Republik Indonesia.

Tempat ini bukan produk zaman Orde Baru. Ia lahir dari imajinasi kolonial, tumbuh dalam geliat kota Parijs van Java, lalu sempat terbengkalai seperti hutan belantara karena perang dan kekacauan revolusi.

Pada awal abad ke-20, Bandung belum seperti sekarang. Masih banyak pohon, banyak angin, dan sedikit manusia. Tahun 1900, Bupati Bandung kala itu, R.A.A. Martanegara mendirikan kebun binatang di daerah Cimindi. Sementara itu, beberapa orang Belanda bikin versi mereka sendiri di Bukit Dago.

Ketika Bandung resmi menjadi gemeente pada 1 April 1906, mimpi besar mulai dibangun: menjadikan Bandung seperti kota-kota Eropa, lengkap dengan taman kota, rumah-rumah elit, jalan berpaving, dan tentu saja... kebun binatang yang proper.

“Kota Bandung itu awalnya desa kecil dan dikhususkan untuk menjadi Enwester Envlape, atau hunian untuk para orang Eropa,” ujar sejarawan dan dosen UPI, Leli Yulifar.

Lalu, tahun 1920, lahirlah Bandoeng Vooruit. Jangan bayangkan LSM atau ormas. Ini adalah kelompok elit Belanda yang jadi rekan resmi pemerintah kota dalam urusan tata ruang dan pariwisata. Mereka merancang taman-taman kota, dari Taman Maluku, Taman Ganesha, sampai Jubileumpark, sebuah taman botani mewah yang dibangun untuk memperingati 50 tahun Ratu Wilhelmina memerintah.

Jubileumpark berdiri pada 1923. Sepuluh tahun kemudian, atas prakarsa Bandoeng Vooruit, kedua kebun binatang—Cimindi dan Dago—dipindahkan dan digabung di ujung selatan taman tersebut. Tempat itu kelak menjadi Kebun Binatang Bandung yang kita kenal sekarang.

Baca Juga: Balap Becak Bandung Tahun 1970-an, Fast and Furious ala Raja Jalanan

“Kebun binatang tersebut berdiri pada sebagian tanah gemeente, yang terletak di Huygensweg (sekarang Jalan Tamansari),” kata Leli.

Tahun 1933, kebun binatang resmi dibuka dengan nama Bandoengsche Zoologisch Park. Pimpinannya adalah Hoogland, direktur bank DENNIS, yang duitnya bukan main. Bahkan kandang gajah dibangun oleh kontraktor Tionghoa bernama Thio Tjoan Tek. Kebun binatang itu lengkap dan tertata: bukan sekadar tempat hiburan, tapi bagian dari estetika kota.

Koleksi Llama di Kebun Binatang Bandung tahun 1930-an. (Sumber: Dierentuin Nummer)
Koleksi Llama di Kebun Binatang Bandung tahun 1930-an. (Sumber: Dierentuin Nummer)

Pendudukan Jepang dan Zaman Kacau

Tapi, seindah apa pun perencanaan, sejarah kadang lebih keras kepala. Tahun 1942, Jepang datang dan semua orang Belanda ditahan, termasuk Hoogland. Kota berubah jadi medan kacau. Binatang tak lagi terurus. Pemeliharaan ala meneer berubah jadi usaha gotong royong seadanya.

“Jangankan mikirin binatang, kondisi saat itu kacau balau,” ujar Leli.

Dalam situasi itu, muncullah nama Raden Ema Bratakoesoema, tokoh lokal yang kemudian mengurus kebun binatang. Dengan keterbatasan dana dan kondisi keamanan yang rawan, ia menjaga semampunya. Hewan banyak yang mati. Kebun binatang pelan-pelan berubah jadi hutan liar.

Setelah kemerdekaan 1945, Hoogland kembali ke Bandung pada 1956. Ia kaget: taman satwa yang dulu ia bangun berubah jadi rimba belantara. Dari sini, muncul kesepakatan penting: Bandoengsche Zoologisch Park dibubarkan. Aset dilikuidasi. Lalu dibentuk yayasan baru bernama Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), dengan Hoogland sebagai ketua.

Baca Juga: Saat Patung Harimau Bandung Loncat dari Pos Jaga

Tahun 1957, Hoogland akhirnya balik ke Belanda. Sejak saat itu, Ema Bratakoesoema memimpin yayasan sampai wafat tahun 1984. Setelah itu, kepengurusan diteruskan oleh ahli warisnya.

Tahun 1990, Pemkot Bandung punya rencana: lahan Kebun Binatang akan diberikan ke ITB untuk perluasan kampus. Kebun Binatang pun akan dipindah ke Jatinangor. Tapi seperti biasa, urusan niat baik dan anggaran tak selalu sejalan.

“Karena tidak ada dana untuk memindahkan, akhirnya kampus ITB-nya yang pindah,” ujar Leli.

Ironis. Harimau tetap tinggal di Tamansari. Tapi kampus bergengsi terpaksa cari tanah baru. Sampai hari ini, Yayasan Margasatwa Tamansari masih menjadi pengelola resmi Kebun Binatang Bandung.

Pada era 2020-an, Kebun Binatang Bandung bukan hanya menghadapi tantangan perawatan hewan. Kini, perkara paling berat datang dari manusia: tagihan dan sengketa hukum.

Pertama, Pemkot Bandung menagih sewa lahan sebesar Rp13,5 miliar, yang disebut belum dibayar sejak 2007. Surat peringatan sudah tiga kali dikirim. Ancaman penyegelan pun digaungkan lewat Satpol PP.

Kedua, muncul nama baru: Stephen Partana, yang mengklaim lahan Kebun Binatang sebagai milik pribadi. Proses hukum masih berjalan di pengadilan.

Dalam situasi ini, publik mulai bertanya-tanya: akankah Bazooga tetap bertahan? Ataukah akan bernasib seperti banyak ruang publik lain yang tergusur atas nama kemajuan?

Pengunjung saat berlibur ke Bandung Zoo, Jalan Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pengunjung saat berlibur ke Bandung Zoo, Jalan Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kebun Binatang Bandung bukan cuma tempat anak-anak melihat gajah. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah kota. Dari zaman meneer Belanda yang menanam taman botani, masa pendudukan Jepang yang penuh kekacauan, perjuangan saudagar lokal menjaga satwa dalam kondisi genting, hingga kini: bertahan di tengah sengketa lahan dan tagihan milyaran.

Lebih dari sekadar kandang hewan, Kebun Binatang Bandung adalah wajah lain dari sejarah kota ini yang tak selalu rapi, tapi selalu menarik untuk disimak. Dan siapa tahu, di masa depan, harimau dan tapir di sana tetap punya rumah, meski para pengurus dan pejabat kota terus berganti-ganti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)