Balap Becak Bandung Tahun 1970-an, Fast and Furious ala Raja Jalanan

5 menit baca
Bob Yanuar
Ditulis oleh Bob Yanuar diterbitkan
Balap becak Bandung tahun 1971. (Sumber: Majalah Mayapada)
Balap becak Bandung tahun 1971. (Sumber: Majalah Mayapada)

AYOBANDUNG.ID - Lupakan Vin Diesel dan Dominic Toretto. Bandung era 1970-an sudah punya versi lokal Fast and Furious, tapi dengan nama lebih sopan: balap becak. Bedanya, kecepatan bukan dari turbo, tapi dari nasi rames dan sebotol jamu buat doping halal. Dan jangan remehkan tikungan Gasibu, di sana banyak becak hampir salto tanpa efek CGI.

Kala itu, balap becak menjadi satu hiburan rakyat yang bikin degup jantung penonton meningkat dan betis para peserta kejang-kejang. Sebuah tontonan kolosal yang tak kalah menegangkan dari MotoGP, hanya saja tanpa Valentino Rossi dan tanpa mesin 1.000cc. Cukup dengan sepasang betis dan keyakinan.

Suasana balapan ini begitu berkesan hingga diabadikan oleh Majalah Mayapada No. 116, Th. IV, 6 Mei 1971. Begini narasinya:

"Belakangan ini mereka didjuluki 'Radja.' Radja djalanan, jg. ditakuti dan disegani. Bukan karena wibawa mereka jang patut dihormati, melainkan karena sepak terdjang mereka jang sungguh2 mentjiutkan 'njali'."

Siapa mereka? Ya, para tukang becak yang biasanya duduk melamun di bawah pohon kini menjelma jadi jagoan trek lurus. Balap becak bukan sekadar lomba genjot-genjotan. Ini adalah ajang eksistensi. Tempat tukang becak naik panggung. Momen ketika pedal-pedal jadi senjata dan becak berubah jadi kuda besi.

Bagaimana antusiasme publik? Jangan ditanya. Warga datang ramai-ramai, bahkan dari luar kota. Yang nonton sambil duduk di pinggir jalan, yang berdiri di trotoar, dan yang bawa anak kecil di atas pundak, semua larut dalam semangat. Kalah menang bukan soal. Yang penting lihat becak bisa lari seperti kesurupan.

Sejak tahun 1970-an, beberapa lokasi jadi arena balap: dari Gasibu, Gedung Sate, hingga finish line di Ciwastra. Tapi memori itu pelan-pelan larut oleh waktu. Untungnya masih ada yang mengingat. Salah satunya Adang Sudarman, tukang becak 63 tahun yang kami temui di sekitar Jalan Suniaraja, dekat Pasar Baru. Wajahnya terkejut begitu ditanya soal balap becak.

“Balap becak itu diadakan satu tahun sekali. Acara paling besar itu diadakan di Gasibu dan Gedung Sate,” ujar Adang. Soal hadiah? “Abdi ge hilap deui.”

Sosok Adang bukanlah pembalap. Ia penonton. Tapi ingat betul antusiasme rakyat kecil saat itu. Kadang, ia menonton sambil membayangkan jadi pembalap. Tapi hidup berkata lain. “Jadi dulu itu, yang langganan juara balap becak itu berasal dari timur. Kebanyakan kode becaknya itu KR,” ungkapnya. KR adalah kode untuk becak asal Kiaracondong, wilayah yang konon menghasilkan pembalap becak paling ganas.

Kabar dari Adang membawa Ayobandung pada nama samar: seseorang dari Kiaracondong yang selalu juara. Sebuah perburuan dimulai. Bertanya sana-sini, dari tukang parkir hingga pedagang gorengan. Hingga pada suatu hari, bertemulah Ayobandung dengan Maman Suherman, veteran pengayuh becak sejak 1970 yang hanya punya satu gigi tersisa tapi segudang cerita.

“Betul, dulu memang ada salah satu tukang becak yang selalu mewakili daerah Kiaracondong untuk balap. Di Jalan Papanggungan, coba cari di sana,” ujar Maman sambil naik becaknya, melenggang perlahan menyusuri aspal.

Balap becak Bandung tahun 1971. (Sumber: Majalah Mayapada)
Balap becak Bandung tahun 1971. (Sumber: Majalah Mayapada)

Gumbira Juara Sang Legenda Hidup

Jalan Papanggungan X, Sukapura, Kiaracondong. Sang legenda akhirnya ditemukan: Tarya Sutarya, pria jangkung berumur 70 tahun yang dulu dikenal sebagai Gumbira Juara. Ia bukan sembarang pengayuh becak. Ia juara sejati. Bukan sekali. Tapi tiga kali. Dan bukan menang karena hoki, tapi karena betis yang ditempa sejak usia 12 tahun.

“Saya itu gak sengaja narik becak, karena pas usia 12 tahun atau lulus SD kalau gak salah,” kenangnya. Becak yang ia kayuh adalah milik Pak Kastim, disewa Rp300 sehari. Bagi Tarya kecil, itu adalah awal dari segalanya. Ia narik becak dari tahun 1969, lebih tua dari sebagian besar gedung kantor kelurahan hari ini.

Sampai suatu hari, dari radio, ia dengar kabar tentang balapan becak di Gasibu dan Gedung Sate. “Ngincer hadiahnya,” katanya jujur, seperti anak SD mengejar permen.

Didukung teman-temannya yang tergabung dalam PEPERGA (Persatuan Pengayuh Roda Tiga), Tarya mendaftar. “Kalau gak salah waktu itu saya diantar teman yang lain untuk mengikuti lomba.”

Balapannya sendiri tidak main-main. Total ada 100 peserta, dibagi 10 grup. Setiap peserta harus mengelilingi lintasan tiga kali. Menariknya, becak tak boleh kosong. Harus ada penumpang sebagai penyeimbang. Ya, jadi pembalap becak saat itu butuh kecepatan dan kestabilan. Sedikit miring, bisa "tiguling."

Tarya kecil menang. “Alhamdulillah pas di putaran terakhir saya berhasil menjadi juara pertama dan mendapatkan hadiah dari panitia,” kenang Tarya. Hadiah itu bukan uang. Tapi lebih mulia dari uang: beras dua karung, kaos, jamu, dan radio baterai.

Tak berhenti di sana, ia menang lagi di dua kompetisi lain, termasuk lomba dengan rute Baleendah–Ciwastra. Luar biasa? Tentu. Saat itu, tukang becak jadi seperti legenda jalanan. Dan becak milik Tarya, diberi nama Gumbira, ikut menjadi legenda tersendiri.

Tarya pensiun dari balapan dan narik becak sekitar tahun 1982. Ia lalu bekerja di SPBU Jalan Riau hingga 2009. Sekarang? “Ya sekarang mah di rumah aja ngasuh incu,” katanya, lalu tertawa. Katanya, badannya masih bugar. “Mungkin pengaruh dulu narik becak, olahraga terus.”

Tarya sang Gumbira Juara, pelaku sejarah balap becak di Kota Bandung yang kini telah jarang diadakan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Tarya sang Gumbira Juara, pelaku sejarah balap becak di Kota Bandung yang kini telah jarang diadakan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Ia bukan cuma saksi sejarah. Tapi bagian dari sejarah itu sendiri. Ia tak punya medali emas, tapi ia punya kenangan yang cukup jadi cerita lintas generasi.

Balap becak memang sudah tinggal cerita. Kota berubah. Becak digantikan ojek online, balapan digantikan TikTok. Tapi kisah para “Radja Djalanan” seperti Tarya adalah pengingat bahwa Bandung pernah punya momen ketika rakyat kecil jadi sorotan, bukan karena kontroversi, tapi karena keberanian dan otot betis.

Sosok awam tak pernah masuk buku sejarah. Tapi mungkin, di hati warga sekitar Jalan Papanggungan, nama Gumbira Juara tetap hidup. Tak peduli berapa karung beras yang ia menangkan, yang penting: ia pernah jadi raja. Tanpa mahkota. Cukup dengan pedal dan semangat.

Kalau lewat Kiaracondong, tengoklah gang kecil di Papanggungan. Siapa tahu, Gumbira masih tersenyum di beranda rumah, menyambut cucu—dan sesekali, pewarta penasaran yang ingin menuliskan namanya lagi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)