Komunikasi Salah Kaprah, Jangan Tolerir Sebutan LGBT

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Hari ini, prilaku menyimpang bisa disamarkan dengan berbagai istilah global yang membuat terlihat keren dan terkoneksi global seperti LGBT. (Sumber: Pexels/Alexander Grey)
Hari ini, prilaku menyimpang bisa disamarkan dengan berbagai istilah global yang membuat terlihat keren dan terkoneksi global seperti LGBT. (Sumber: Pexels/Alexander Grey)

Kita sedang hidup di zaman ketika banyak dosa makin sering disamarkan lewat cara komunikasi publik yang terdengar ramah dan keren. Perilaku menyimpang yang dulunya disebut apa adanya, kini dibungkus istilah yang dianggap modern dan sah diperjuangkan.

Salah satunya, sebutan bencong atau banci kini diganti dengan kata seperti LGBT, gay, queer, atau nonbiner.

Pertanyaannya, apakah penggantian istilah ini benar-benar membawa nilai kemanusiaan yang lebih baik, atau justru menyuburkan perilaku yang bertentangan dengan semua ajaran agama di negeri ini?

Sebelum lebih luas, KBBI daring menyebut banci adalah bencong, serta sebaliknya, dengan definisi, "1. tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan; 2 laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan; wadam; waria;" Artinya, negara mengakui kata tersebut tanpa ada tendensi merendahkan seseorang.

Namun setidaknya lima tahun terakhir, muncul istilah baru tersebut. Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai ketuhanan, penggunaan istilah global ini justru berbahaya. Penghalusan istilah itu menghapus rasa salah dan membuka ruang pembenaran.

Jika dulu seorang remaja yang mulai bergaya kewanita-wanitaan mungkin merasa malu atau ditegur, sekarang ia cukup menyebut dirinya sebagai queer atau bagian spektrum LGBTQ. Ia merasa itu adalah hak, bukan pelanggaran.

Di sinilah jebakan eufemisme bekerja. Kata-kata yang mestinya memberi batas moral malah berubah menjadi selimut penyangkalan. Bahaya yang mestinya diwaspadai menjadi gaya hidup yang dirayakan. Bahasa dalam komunikasi membentuk realitas. Dan ketika kata-kata itu tidak lagi menunjukkan kejujuran makna, masyarakat akan terseret normalisasi.

Semua agama di Indonesia, dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, hingga Buddha, dengan jelas menolak perilaku homoseksual. Namun karena istilah seperti gay dan queer terasa netral, bahkan modern, banyak yang mulai menganggapnya bukan lagi masalah moral, tapi semata-mata pilihan identitas.

Ketika diksi yang digunakan berubah, rasa bersalah pun ikut menghilang. Padahal rasa bersalah itulah awal dari kesadaran untuk berubah.

Contoh eufemisme lain yang kontraproduktif bisa ditemukan di berbagai ranah sosial. Koruptor disebut menyalahgunakan anggaran. Pelacur disebut pekerja seks komersial.

Pembunuhan janin disebut hak reproduksi. Anak-anak muda yang kecanduan judi online disebut gamers dengan minat khusus. Aborsi bahkan dipanggil: hak reproduksi perempuan!

Semua ini tampak seolah untuk menghormati, padahal yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat kehilangan kemampuan untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah.

Komunikasi dan bahasa sepatutnya mendidik, bukan menyembunyikan. Dalam konteks dakwah dan pendidikan moral, penggunaan istilah yang jujur sangat penting. Qullil haqqi wa lau kanna murron, katakanlah yang benar sekalipun pahit.

Komunikasi Jujur

Hari ini, prilaku menyimpang bisa disamarkan dengan berbagai istilah global yang membuat terlihat keren dan terkoneksi global seperti LGBT. (Sumber: Pexels/Alexander Grey)
Hari ini, prilaku menyimpang bisa disamarkan dengan berbagai istilah global yang membuat terlihat keren dan terkoneksi global seperti LGBT. (Sumber: Pexels/Alexander Grey)

Kita, memang, boleh berbicara santun, tapi tidak boleh mengaburkan fakta. Bila istilah lokal seperti bencong dianggap kasar, maka sampaikanlah dengan empati dan kasih, namun tetap jujur.

Jangan ganti dengan istilah yang malah menguatkan jaringan global penyimpangan itu. Yang membuat pelaku merasa dibenarkan dunia modern.

Di dunia digital, hal ini semakin genting. Ketika seseorang yang menyebut dirinya queer di Indonesia merasa menjadi bagian dari gerakan global yang didukung selebritas, film, influencer, bahkan lembaga internasional, ia mendapatkan penguatan terus-menerus.

Kritik dari masyarakat lokal dianggap intoleransi, bukan nasihat kultural atau spiritual. Perilaku yang mestinya menjadi titik perbaikan justru dijadikan identitas permanen.

Komunikasi publik harus berani berkata tegas namun tidak menghina. Bahasa harus kembali menjadi alat membimbing, bukan membungkus penyimpangan.

Jika kita ingin generasi muda Indonesia tumbuh dengan arah moral sehat, kita tidak bisa lagi menyerahkan bahasa pada kampanye global yang tak peduli nilai luhur bangsa ini.

Inilah saatnya kita kembali jujur dalam berbahasa, jangan sampai demi alasan sopan dan modern, kita ikut menormalisasi perilaku salah. Bukan berarti kita harus kasar atau membenci.

Justru sebaliknya, cinta sejati muncul ketika kita mau mengatakan yang benar meskipun itu tidak populer. Kita tidak sedang menolak manusia, tapi menolak perilakunya! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)