Klik Bijak, Dakwah Berjejak

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 04 Jul 2025, 10:34 WIB
Ilustrasi anak kecanduan gawai. Banyak orang tua khawatir karena tidak tahu penyebab kecanduan game online pada anak, remaja, bahkan orang dewasa (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi anak kecanduan gawai. Banyak orang tua khawatir karena tidak tahu penyebab kecanduan game online pada anak, remaja, bahkan orang dewasa (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Alkisah, Susan Carland, seorang mualaf, ahli sosiolog asal Australia sempat menggemparkan dunia maya. Pasalnya, segala tindakan filantropi yang dilakukanya sebagai respons atas perlakuan tidak menyenangkan terhadap dirinya.

Carland sering menerima cemoohan dari para aktivis antimuslim, mengingat dirinya dibesarkan dalam lingkungan Kristen, tapi memilih menjadi mualaf pada usia 19 tahun. Melalui akun twitter(x)-nya, Carland kerap menerima cemoohan, hinaan karena mengenakan hijab dan memperlihatkan sikap kepedulian atas umat Islam di Australia.

Walhasil, Carland menemukan solusi yang brilian dalam merespons tindakan bullying yang dilakukan oleh para hatter-nya. Caranya dengan melakukan donasi sebesar 1 dolar kepada anak-anak miskin untuk setiap hate-speech yang diterimanya melalui twitter (X). Tindakan terpuji ini segera menjadi viral di kalangan pengguna internet.

Bandingkan dengan sikap kita dalam menyikapi tindakan bullying di media sosial. Justru kita sering tidak menerima, bahkan balas menci-maki, menghujatnya.

Sepanjang tahun 2024, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, melonjak drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dari 573 jumlah itu, 31 persen merupakan kasus bullying, 42 persen merupakan kekerasan seksual, menjadikannya bentuk kekerasan paling dominan tahun ini.

Untuk kasus kekerasan pada 2020 tercatat hanya 91,  meningkat menjadi 142 kasus (2021), 194 kasus (2022), dan 285 kasus (2023). Lonjakan ini menunjukkan bukan hanya peningkatan kasus, tapi menumbuhkan kesadaran publik untuk melapor.

Temuan ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan, bullying dan kekerasan seksual bukan lagi isu tersembunyi, melainkan krisis yang harus segera ditangani. (Tirto, 30 Desember 2024)

Dalam Laporan Tahunan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat telah menerima 2.057 pengaduan sepanjang tahun 2024. 954 kasus telah ditindaklanjuti sampai tahap terminasi. Sisanya telah diberikan layanan psikoedukasi (dirujuk) ke penyedia layanan setempat.

Pengawasan dilakukan di 78 wilayah, mencakup dua klaster utama, Pemenuhan Hak Anak (PHA) dan Perlindungan Khusus Anak (PKA). Isu terbanyak berasal dari lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif (1.097 kasus), anak korban kejahatan seksual (265 kasus), pemenuhan hak atas pendidikan, waktu luang, budaya, dan agama (241 kasus), anak korban kekerasan fisik dan psikis (240 kasus), anak korban pornografi dan kejahatan siber (40 kasus). (KPAI, 11 Februari 2025)

Memang sebagian masyarakat kita tengah terjangkit penyakit lebih bangga dapat mem-bully orang lain dengan melontarkan cacian, makian, fitnah di medsos daripada bertutur baik, tidak ikut membagikanya.

Padahal bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur dan menjunjung sikap saling menghormati atas segala perbedaan, bukan saling mencaci-maki.

Media Dakwah

Mari kita belajar kepada Susan Carland tentang pemanfaatan internet dalam melakukan syiar, aktivisme dakwah Islam.

Dalam buku Dakwah di Era Media Baru karya Moch. Fakhruroji, dosen UIN Bandung menguraikan keistimewaan tindakan Carland itu bukan terletak bagaimana memberi donasi kepada anak-anak miskin, tetapi donasi itu dijadikan sebagai cara respons atas perilaku tidak menyenangkan yang dialaminya.

Sebagai seorang mualaf, Carland mengakui kendala-kendala sosial tidak hanya muncul secara riil, tetapi secara virtual melalui tindakan bullying di medsos.

Disadari atau tidak, tindakan Carland merupakan salah satu bukti nyata tentang internet yang telah menjadi lebih dari sekedar media yang memfasilitasi dan memerantarai pertukaran informasi seputar Islam.

Internet telah menjadi sebuah lingkungan baru yang dapat mewadahi ekspresi umat Islam dalam konteks global, sebagaimana pula ditemui pada agama-agama lain. Umat Islam melihat internet sebagai wahana baru bagi aktivisme dakwah Islam yang lebih konstruktif.     

Sungguh apa yang dilakukan Carland merupakan salah satu gerakan sosial dengan motif agama yang muncul dalam konteks cyberspace. Wikotorowics menyebut fenomena semacam ini sebagai aktivisme Islam, semua bentuk gerakan dengan tujuan mendukung segala kepentingan kaum muslim.

Ilustrasi | Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama dengan fasilitas lengkap, termasuk laboratorium, fasilitas olahraga, dan sistem pembelajaran berbasis teknologi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ilustrasi | Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama dengan fasilitas lengkap, termasuk laboratorium, fasilitas olahraga, dan sistem pembelajaran berbasis teknologi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)

Untuk kasus Carland, sikap yang ditunjukkanya bukan terletak pada bagaimana melakukan donasi, tetapi donasi itu sendiri, sebagai tindakan pembelaan terhadap kepentingan dan eksistensi kaum muslim.

Dalam ruang sosial baru, internet memiliki peluang yang sama dalam memfasilitasi gerakan-gerakan sosial, termasuk gerakan sosial keagamaan. Dalam khazanah Islam, gerakan sosial kegamaan diperlihatkan melalui etos dakwah.

Oleh sebab itu, membicarakan aktivisme Islam sebagai gerakan sosial pada dasarnya selalu berhubungan dengan konteks dakwah yang memang memiliki agenda utama untuk melakukan perubahan sosial. Dengan demikian, aktivisme Islam pada tataran praktisnya tidak lain merupakan aktivisme dakwah.

Lingkungan Islami

Hadirnya konsep Cyber-Islamic Environments (CIEs), lingkungan Islami di internet merupakan bentuk kesadaran mendalam umat Islam atas perkembangan teknologi internet. Dengan pendekatan lebih spesifik menyajikan analisis fenomena atas gagasan Bunt sebagai aktivisme dakwah.

Interaksi sosial di internet yang direpresentasikan melalui situs portal, media sosial, blog, aplikasi berbasis smartphone telah meneguhkan pandangan internet, bukan lagi sesuatu yang dianggap sekadar media dalam arti conduits yang mengantarkan pesan dari satu pihak ke pihaka lain.

Lebih dari itu, internet merupakan sebuah ruang ekspresi, rumah, perpustakaan, toko buku, bioskop, televisi, tempat rekreasi, ruang komunitas dan ruang sakral.

Dengan demikian, internet dapat menjadi salah satu ruang perantara seseorang untuk --meminjam istilah Althusser-- mematerialisasikan ideologi yang dianutnya, aktivisme dakwah salah satunya.

Umat Islam yang memiliki kewajiban untuk berdakwah, kehadiran Cyber-Islamic Environments (CIEs) di internet merupakan modal dasar bagi lahirnya model-model (pola-pola) aktivisme dakwah yang mungkin sama sekali baru.

Ingat, internet bukan ruang informasional dengan karakteristik yang homogen.  Semua jenis informasi muncul di internet, mulai dari informasi keagamaan, hingga perjudian yang memiliki potensi sejajar antara satu dan yang lainya.

Dalam informasi agama pun sering muncul informasi yang kontra-pruduktif dan dipandang menyesatkan serta merugikan bagi umat Islam itu sendiri.

Salah satu yang dipandang merugikan itu dengan munculnya pesan-pesan keagamaan bernuansa radikal yang hadir (tersedia) dari situs yang mengatasnamakan portal berita Islam, hingga penutupan 22 situs Islam.

Kemunculan pesan-pesan radikal itu pada dasarnya tidak hanya disebabkan oleh penafsiran sepihak atas ayat-ayat Al-Quran, tetapi juga karena kurangnya pengetahuan tentang standar penyiaran dan kode etik jurnalisme daripada pengelola portal berita Islam.

Secara umum aktivisme dakwah di internet dapat diidentifikasikan sebagai: pertama, upaya domestikasi teknologi oleh agama; kedua, upaya kontruksi identitas; ketiga, bentuk aksi solidaritas keumatan; keempat tindakan antisipasi atas keberlimpahan informasi; kelima bentuk perlawanan.

Virtual Ummah

Oliver Roy, peneliti asal Prancis, memunculkan sebuah istilah teoritis yang mendeskripsikan tentang kiprah dan eksistensi umat Islam di internet yang disebut Virtual Ummah. Hasil penelitian Roy yang dilakukan di negara-negara barat itu mengungkapkan komunitas virtual dalam kontek keislaman dianggap mampu membantu, menjembatani komunikasi dan pemenuhan kebutuhan menjadi seorang muslim.

Virtual ummah merupakan salah satu solusi yang memfasilitasi umat Islam di seluruh dunia untuk "bertemu", berkomunikasi dan berbagi pengalaman. 

Dalam konteks ini, virtual ummah dapat diartikan sebagai representasi dari komunitas muslim di seluruh dunia yang difasilitasi oleh teknologi internet. Inilah yang membuat Roy meyakini virtual ummah sebagai tempat yang sempurna bagi umat Islam dalam  mengekspresikan diri seraya mengklam dirinya sebagai bagian dari komunitas untuk saling berkontribusi dan mengambil peran secara aktif.

Upaya mengartikulasikan Islam itu memang banyak peran yang dapat dijalankan umat Islam dalam konteks virtual ummah.

Salah satunya dengan berbagi informasi dan pengetahuan keagamaan. Misalnya, ketika seorang muslim ingin mengimplementasikan anjuran Rasul dalam satu hadis "Yang terbaik di antara kamu (umat Islam) adalah mereka yang mempelajari Al-Quran dan mengejarkannya" maka mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam pemahaman Al-Quran dapat menyebarkanya melalui internet.

Caranya dengan membuat dan menyebarkan software semacam Al-Quran Digital, menyelenggarkan pembelajaran Al-Quran secara online, pembahasan tema-tema Al-Quran melalui discussion forum.

Cyber-Islamic Environments (CIEs) merupakan salah satu manisfestasi dari virtual ummah. CIEs dapat dipandang sebagai upaya positif untuk membedakan zona di internet yang merepresentasikan keragaman pandangan umat muslim dalam dunia Islam yang secara keseluruhan mencoba menghadirkan identitas dengan cara mengonseptualisasi Islam.

Tentunya lingkungan ini menampilkan identitas Islam, termasuk keyakinan esensial yang berkembang secara mayoritas dalam masyarakat Islam. Meskipun demikian, tidak semua aspek Islam direpresentasikan seluruhnya secara online, khususnya bagi mereka yang masih belum memiliki konteksi internet.

Melalui CIEs, umat Islam sesungguhnya tengah melakukan proses identifikasi dan kontruksi identitas dalam internet yang tidak terbatas. Semua ini disebabkan sebagian umat Islam yang net-literate betul-betul menyadari internet merupakan sebuah dunia yang penuh dengan spekulasi.

Meski sebagian pihak melihat CIEs sebagai bentuk ekslusivitas umat Islam di internet, tapi aya yang dilakukan oleh umat Islam melalui CIEs itu merupakan tindakan riil yang patut diapresiasi sebagai bentuk peneguhan identitas muslim di internet. (Moch. Fakhruroji, 2017: viii, 176-179, 185-187) 

Ilustrasi -- Sejumlah anak bermain gawai di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (11/10/2019). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi -- Sejumlah anak bermain gawai di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (11/10/2019). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Maraknya ujaran kebencian (hate speech), cyberbullying, dan berita hoaks yang berkaitan dengan agama di internet kerap menciptakan citra negatif terhadap dunia maya.

Padahal, internet menyimpan potensi besar sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai dan penuh rahmat sekaligus menjadi ruang strategis untuk merespons berbagai stereotipe negatif terhadap umat Islam.

Internet tidak hanya berperan sebagai media penyebaran konten dakwah, temasuk sarana membangun aktivisme dakwah Islam yang lebih kreatif, inklusif, dan transformatif.

Dakwah digital kini menjadi jalan baru untuk menjangkau masyarakat yang semakin terkoneksi melalui media sosial, platform video, podcast, dan berbagai kanal digital lainnya.

Dalam konteks ini, isu-isu seperti dakwah Islam di masyarakat jejaring, interaksi dakwah dengan budaya media, media baru, budaya siber (cyberculture), agama di ranah digital (cyberreligion), aktivisme dan ekspresi dakwah di internet menjadi sangat relevan untuk dikaji lebih dalam.

Kehadiran aktivisme dakwah digital, dengan berbagai aplikasi dan platform daring, merupakan bukti nyata internet telah berkembang menjadi lebih dari sekadar media komunikasi dan menjadi lingkungan baru yang mewadahi ekspresi keagamaan umat Islam dalam konteks global, sekalipun yang dialami oleh pemeluk agama-agama lain.

Dengan demikian, umat Islam harus menjadikan internet sebagai wahana strategis untuk mengembangkan aktivisme dakwah yang lebih konstruktif, adaptif terhadap zaman, dan terbuka terhadap keberagaman pengguna di era digital ini. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Beranda 05 Feb 2026, 09:25 WIB

AI Bukan Sekadar Canggih, Tapi Ada Isu Etika dan Pencurian Hak Cipta di Baliknya

Kemajuan AI saat ini menyimpan potensi bahaya sistematis, terutama terkait pelanggaran hak cipta dan etika yang berlangsung secara masif dan otomatis.
Suasana diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” yang digelar di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada (31/1/26). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 05 Feb 2026, 08:42 WIB

5 Padanan Kata Ramadan agar Konten Islami Tidak Monoton

Dengan bantuan tesaurus, pesan kebaikan bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih segar tanpa mengubah makna.
Ilustrasi masjid. (Sumber: Unsplash | Foto: Nouman Younas)
Ayo Jelajah 04 Feb 2026, 20:22 WIB

Hikayat Pasar Buku Palasari Bandung, Terus Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Pasar Buku Palasari pernah jadi pusat perburuan buku murah di Bandung. Kini, pasar legendaris itu berjuang bertahan di tengah gempuran teknologi digital.
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 19:21 WIB

Jaga Manglayang

Hadirnya Ruwatan Gunung Manglayang bukan sekadar tradisi, melainkan pondasi yang harus menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan kearifan lokal.
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Jelajah 04 Feb 2026, 17:55 WIB

Tragedi Penembakan Rene Louis Coenraad, Razia Rambut Gondrong Orde Baru Berujung Petaka Berdarah

Kematian Rene Louis Coenraad, mahasiswa ITB asal Prancis, membuka sisi gelap razia rambut Orde Baru dan relasi brutal antara negara dan mahasiswa.
Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)
Ayo Jelajah 04 Feb 2026, 16:47 WIB

Sejarah Panjang Freeport Indonesia, Tambang Emas Raksasa Pusara Kontroversi

Freeport Indonesia bukan sekadar tambang emas dan tembaga. Sejarahnya merekam tarik-menarik kuasa, modal asing, politik negara, dan luka panjang di Papua.
Penambangan Freeport di Grasberg, Mimika, Papua. (Sumber: Kementerian ESDM)
Bandung 04 Feb 2026, 16:11 WIB

Napas Seni di Sudut Braga, Kisah GREY Membangun Rumah bagi Imajinasi

Grey Art Gallery kini bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang bernapas, bergerak, dan terus menantang batas-batas konvensional seni rupa kontemporer di Jawa Barat.
Grey Art Gallery kini bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang bernapas, bergerak, dan terus menantang batas-batas konvensional seni rupa kontemporer di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 16:00 WIB

Kata-Kata Khas Ramadan yang Sering Salah Kaprah

Bahasa, seperti pasar, bergerak mengikuti kebiasaan mayoritas.
Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Bandung 04 Feb 2026, 14:50 WIB

Menjual Rasa, Merawat Janji: Rahasia Stevia Kitchen Bertahan Belasan Tahun Lewat Kekuatan Mulut ke Mulut

Tanpa strategi pemasaran yang muluk-muluk, Stevia hanya mengandalkan satu kunci utama untuk bertahan di industri kuliner yang keras: kepercayaan pelanggan yang dibangun secara organik.
Tanpa strategi pemasaran yang muluk-muluk, Stevia hanya mengandalkan satu kunci utama untuk bertahan di industri kuliner yang keras kepercayaan pelanggan yang dibangun secara organik. (Sumber: instagram.com/stevia.kitchen2)
Bandung 04 Feb 2026, 14:14 WIB

Bukan Soal Viral tapi Bertahan: Refleksi Dale tentang Kejujuran dan Ketangguhan di Balik Riuh Kuliner Bandung

Ledakan bisnis FnB yang kian marak jumlahnya, dapat dikatakan membantu memudahkan warga Bandung dalam menemukan apa yang mereka mau, dapat disortir dalam berbagai jenis dan pilihan.
Dale sudah menekuni dunia FnB ini sejak delapan tahun lamanya, pahit-manis perjalanan sudah Ia lalui dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 14:03 WIB

5 Keuntungan Menulis di Ayobandung.id lewat Kanal Ayo Netizen

Ada sejumlah keuntungan yang bisa didapatkan penulis dengan berkontribusi secara rutin di Ayobandung.id
AYO NETIZEN merupakan kanal yang menampung tulisan para pembaca Ayobandung.id. (Sumber: Lisa from Pexels)
Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)