Ikan Cirata Terkontaminasi Logam Berat, Pembudidaya Minta Solusi Nyata Bukan Sekadar Peringatan

3 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Kawasan Waduk Cirata. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Kawasan Waduk Cirata. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)

AYOBANDUNG.ID - Waduk Cirata, salah satu sentra budidaya ikan terbesar di Jawa Barat, kini menjadi sorotan setelah Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bahwa ikan hasil budidaya di sana mengandung merkuri tinggi dan tidak layak konsumsi. Ia mengungkapkan kekhawatiran untuk mengambil tindakan tegas karena bisa memicu gelombang protes dari ribuan pembudidaya yang menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut.

Pernyataan itu mendapat respons keras dari para pembudidaya keramba jaring apung (KJA) di sekitar waduk. Mereka tidak menampik bahwa pencemaran logam berat di Cirata memang sudah lama menjadi masalah, namun menyayangkan pernyataan sepihak tanpa diikuti dengan solusi konkret dari pemerintah. Asep Sulaeman, salah satu pembudidaya yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Cirata (MPC), mengungkapkan bahwa dirinya telah mengetahui kondisi air tercemar sejak 2009 berdasarkan sejumlah penelitian. Ia menyebut pencemaran diperparah oleh air lindi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang mengalir langsung ke waduk.

Pernyataan Menteri Trenggono dinilai berpotensi merusak kepercayaan pasar terhadap ikan Cirata. Padahal, Cirata dan Jatiluhur selama ini menyumbang produksi ikan air tawar dalam jumlah besar untuk Jawa Barat. Para pembudidaya khawatir, stigma negatif akibat pernyataan menteri akan menurunkan nilai jual ikan mereka di pasaran, tanpa diimbangi tindakan tegas terhadap sumber pencemar utama seperti limbah domestik, industri, dan pertanian.

Berbagai penelitian memang mengonfirmasi tingginya kadar logam berat di Waduk Cirata. Sebuah studi tahun 2009 oleh Adang Saputra menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri di sedimen mencapai 26,83 mg/kg, dengan timbal 2,38 mg/kg dan besi 29.495 mg/kg. Studi itu juga mencatat peningkatan kadar logam berat pada ikan patin yang dibudidayakan di keramba setelah enam bulan, dengan kandungan merkuri naik drastis dari 0,0001 mg/kg menjadi 0,025 mg/kg.

Penelitian lain oleh Nandang Priyanto dan tim (2008) mengungkapkan bahwa logam berat dalam air dan sedimen di Cirata kerap melampaui ambang batas aman. Misalnya, kandungan merkuri di outlet waduk sempat mencapai 62,58 ppb, jauh di atas batas aman 2 ppb. Sementara itu, studi dari Universitas Padjadjaran (2020) mencatat bahwa air di beberapa titik pengamatan mengandung timbal 0,0307 mg/L, sudah melewati batas baku mutu untuk budidaya ikan air tawar.

Dalam penelitian terhadap ikan patin yang dipelihara di keramba jaring apung, terjadi peningkatan kadar logam berat setelah enam bulan budidaya.
Dalam penelitian terhadap ikan patin yang dipelihara di keramba jaring apung, terjadi peningkatan kadar logam berat setelah enam bulan budidaya.

Kondisi ini tak hanya membahayakan keberlanjutan usaha budidaya, tetapi juga mengancam kesehatan konsumen yang mengonsumsi ikan atau tutut dari waduk tersebut. Meski beberapa sampel biota masih menunjukkan kadar logam di bawah ambang batas aman, namun fakta bahwa pencemaran telah menjalar ke air dan substrat menandakan bahaya yang kian nyata.

Para peneliti menekankan perlunya langkah pemulihan serius. Penataan ulang kawasan budidaya dan penegakan aturan terhadap sumber pencemaran dianggap sebagai solusi mendesak. Hal senada juga disuarakan Asep, yang menyatakan dukungannya terhadap pemerintah jika benar-benar serius menata ulang kawasan Cirata secara menyeluruh, bukan sekadar mengeluarkan peringatan di media.

Menurut Asep, para pembudidaya sudah terlalu lama menjadi korban dari kondisi lingkungan yang memburuk. Ia menambahkan bahwa program revitalisasi Citarum yang selama ini digaungkan pemerintah belum menunjukkan dampak signifikan bagi perbaikan kualitas air di Cirata.

Jika pemerintah ingin menghentikan budidaya demi menjaga keselamatan pangan masyarakat, para pembudidaya berharap ada kompensasi dan langkah transisi yang adil. Tanpa itu, mereka akan terus berada dalam dilema antara menjaga kesehatan konsumen dan mempertahankan mata pencaharian.

Dalam menghadapi persoalan lingkungan yang kompleks seperti ini, keseimbangan antara keberlanjutan ekosistem dan kelangsungan ekonomi masyarakat menjadi kunci. Tanpa penanganan menyeluruh dan kolaboratif, waduk yang dulu menjadi sumber kehidupan bisa berubah menjadi ancaman diam-diam bagi banyak pihak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)