Menyoal Gagalnya Bandung Raya dalam Indeks Kota Hijau

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sampah masih menjadi salah satu masalah besar di Kawasan Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdallah)
Sampah masih menjadi salah satu masalah besar di Kawasan Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdallah)

UNIVERSITAS Indonesia (UI), melalui inisiatif UI Green City Metric, mengumumkan Kota Paling Berkelanjutan di Indonesia dalam ajang UI Green City Metric Award 2025. 

Tahun ini, ada sepuluh kota/kabupaten yang berhasil dinobatkan Paling Berkelanjutan. Kesepuluh kota/kabupaten itu adalah Kota Surabaya, Kota Madiun, Kota Semarang, Kota Medan, Kota Kediri, Kota Salatiga, Kota Banjarbaru, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Wonogiri, dan Kota Magelang. 

Sekurangnya ada enam kriteria yang dijadikan dasar untuk penilaian, yaitu penataan ruang dan infrastruktur, energi dan perubahan Iklim, tata kelola sampah dan limbah, tata kelola air, akses dan mobilitas, serta tata pamong (governance).

Sayangnya, dari daftar 10 Kota/Kabupaten Paling Berkelanjutan itu, tak ada satu pun perwakilan dari Bandung Raya -- Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, maupun Kabupaten Bandung Barat. Di UI GreenCityMetric Award 2025 itu, Kota Bandung sendiri hanya berhasil menyabet peringkat kedua sebagai Kabupaten/Kota Paling Berkelanjutan di bidang tata kelola akses dan mobilitas.

Tak masuknya Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat dalam daftar Kota/Kabupaten Paling Berkelanjutan tentu saja bukan sekadar catatan kecil di tabel pemeringkatan. Bisa jadi ini adalah salah satu tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pengelolaan ruang dan sumber daya di Bandung Raya.

Indeks keberlanjutan seperti UI Green City Metric sejatinya bukan hanya lomba pemeringkatan, tetapi cermin dari konsistensi kebijakan lingkungan. Dari indeks tersebut bisa terlihat seberapa serius sebuah daerah menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian.

Patut dibaca ulang

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kegagalan Bandung Raya menembus daftar sepuluh besar Kota/Kabupaten Paling Berkelanjutan dalam UI Green City Metric 2025 patut dibaca pula bukan sebagai sekadar kekalahan simbolik, melainkan juga sebagai sinyal bahaya terkait pembangunan yang kian menjauh dari prinsip-prinsip keberlanjutan. 

Dalam dua dekade terakhir, kawasan metropolitan Bandung Raya tumbuh dengan kecepatan yang tidak diimbangi oleh kendali tata ruang yang kuat. Kota dan kabupaten di Bandung Raya berlomba membangun, tetapi sering lupa menata ulang fondasi ekologis yang menopang kehidupan warganya.

Lihat saja kawasan pinggiran seperti Lembang, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek atau Cileunyi yang berubah drastis menjadi permukiman padat, sementara area resapan air menyusut tajam. Di sisi lain, pembangunan vertikal di Kota Bandung meningkat, namun tidak disertai perencanaan mobilitas dan utilitas yang efisien. Buntutnya, kemacetan kronis, banjir tahunan, dan degradasi kualitas udara terus menghantui kawasan ini.

Menurut teori compact city yang dikemukakan Dantzig dan Saaty (1973), kota yang berkelanjutan seharusnya mengedepankan kepadatan terencana dengan dukungan transportasi publik dan ruang hijau memadai. Bandung Raya jelas belum menuju ke arah itu.

Ketidaksiapan dalam mengelola limbah dan air memperparah situasi. Sungai Citarum, yang mengalir melintasi jantung kawasan Bandung Raya, masih menjadi korban utama industrialisasi tak terkendali. Walau sudah ada program Citarum Harum, hasilnya masih belum signifikan karena lemahnya pengawasan dan koordinasi antarpemerintah daerah.

Kota Bandung dan sekitarnya juga masih mengandalkan sistem pengelolaan sampah yang reaktif, bukan preventif, yang ditandai dengan overload-nya TPA Sarimukti dan minimnya program waste to energy yang berfungsi optimal.

Ujungnya, Bandung Raya seolah terjebak dalam kegagapan manajemen ruang hidup. Ketika kota lain seperti Surabaya, misalnya, berhasil menanamkan prinsip ekonomi sirkular dan efisiensi energi, Bandung Raya masih berkutat pada proyek estetika perkotaan yang lebih menonjolkan simbol, bukan substansi.

Refleksi kolektif

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Indeks seperti UI Green City Metric sejatinya bukan hanya ajang prestise, tetapi instrumen refleksi kolektif. Ia menunjukkan sejauh mana sebuah kawasan mampu menerjemahkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan menjadi tindakan konkret dan terukur. 

Bagi Bandung Raya, gagalnya menembus UI Green City Metric tahun ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa bahwa visi kota cerdas dan hijau belum menemukan arah yang konsisten. Alarm itu bukan sekadar penanda kegagalan administratif, melainkan tanda bahwa model pembangunan yang dijalankan selama ini di Bandung Raya masih belum seimbang antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekologi. 

Karenanya, Bandung Raya membutuhkan rekonstruksi menyeluruh terhadap paradigma pembangunan, yakni perubahan cara pandang dari pembangunan yang ekonomis berorientasi proyek menjadi pembangunan yang ekologis berorientasi sistem.

Itu berarti setiap kebijakan, dari izin pendirian bangunan hingga rencana transportasi, harus diuji berdasarkan daya dukung lingkungan dan kapasitas sosial wilayahnya. Tanpa perubahan paradigma tersebut, pembangunan hanya akan menjadi tambal sulam kebijakan yang gagal menembus akar persoalan struktural.

Krisis tata ruang yang kini terjadi di Bandung Raya merupakan bukti nyata dari kegagalan pendekatan lama itu. Masalahnya kian kompleks karena diperparah oleh fragmentasi kewenangan antarwilayah.

Empat entitas administratif di Bandung Raya -- Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat -- kerap berjalan dengan agenda masing-masing tanpa koordinasi lintas batas. Akibatnya, pembangunan yang seharusnya terintegrasi menjadi terpecah, menciptakan kesenjangan layanan publik dan memperburuk kerentanan ekologis kawasan metropolitan ini.

Sejauh ini, tidak ada otoritas metropolitan yang mampu mengintegrasikan kebijakan transportasi, air, dan limbah secara menyeluruh. Padahal, ekosistemnya saling terhubung. Misalnya, limbah dari Cimahi bisa mengalir ke Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, sementara kemacetan di Padalarang atau Lembang berdampak langsung pada mobilitas warga Kota Bandung.

Punya modal besar

Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Bandung Raya sebetulnya memiliki modal besar untuk berbenah dengan keberadaan universitas terkemuka, pusat riset, komunitas kreatif, hingga gerakan lingkungan akar rumput yang aktif. Namun, potensi itu sering tak terkonversi menjadi kebijakan yang sistemik.

Program penghijauan, kampanye hemat energi, atau pengelolaan sampah berbasis komunitas masih sporadis, tergantung pada siapa yang memimpin. Belum ada mekanisme keberlanjutan kelembagaan yang menjamin program tetap hidup meski pergantian kepala daerah terjadi.

Pada titik inilah pentingnya tata pamong atau governance sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Kota atau kabupaten yang berkelanjutan hanya dapat tumbuh dari pemerintahan yang transparan, adaptif, dan partisipatif. Tak heran jika UI Green City Metric menempatkan aspek ini sebagai salah satu indikator utama, sebab tata pamong menentukan bagaimana sumber daya dikelola dan kebijakan dijalankan secara nyata di lapangan.

Sayangnya, di Bandung Raya, prinsip itu belum sepenuhnya hadir. Transparansi data lingkungan masih terbatas, koordinasi lintas instansi kerap lemah, dan partisipasi publik sering berhenti pada forum musrenbang yang bersifat seremonial. Padahal, di sinilah keterlibatan warga justru menjadi kunci yang sering terlewat.

Pembangunan berkelanjutan sejatinya bukan proyek teknokratik semata, melainkan gerakan sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga ruang hidup bersama. Surabaya bisa menjadi contoh, ketika pemerintah kota berhasil menggerakkan partisipasi warga dalam pengelolaan sampah dan konservasi energi. Ini membuktikan bahwa keberlanjutan hanya mungkin terwujud jika pemerintah dan masyarakat berjalan seirama.

Menata transportasi

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Khusus dalam hal transportasi, Bandung Raya perlu segera menata ulang orientasi transportasinya. Sejauh ini, sektor transportasi adalah penyumbang terbesar emisi karbon di kawasan ini. Tanpa sistem mobilitas yang efisien, Bandung Raya bakal terus terjebak dalam lingkaran kemacetan, polusi, dan kehilangan produktivitas ekonomi yang signifikan.

Penting pula untuk melihat dimensi energi dan perubahan iklim. Bandung Raya masih sangat bergantung pada energi fosil, sementara adopsi energi terbarukan seperti surya atau mikrohidro berjalan lambat. Di sisi lain, potensi pengembangan energi bersih cukup besar, terutama di daerah perbukitan Bandung Barat dan Selatan. 

Jika dibandingkan, kota-kota yang menembus peringkat atas dalam UI Green City Metric seperti Surabaya dan Semarang telah menerapkan sistem smart governance yang memungkinkan data lingkungan dipantau secara real-time. Bandung Raya perlu belajar dari pendekatan berbasis data seperti ini untuk membangun kebijakan yang responsif dan berbasis bukti (evidence-based policy). Tanpa data akurat, sulit mengukur keberhasilan atau kegagalan program keberlanjutan secara objektif.

Pada akhirnya, absennya Bandung Raya dari daftar Kota Paling Berkelanjutan berdasar UI Green City Metric tahun ini agaknya menandakan adanya kesenjangan antara visi dan implementasi kebijakan di Bandung Raya. Kondisi ini seharusnya menjadi titik balik untuk mereformulasi strategi pembangunan yang lebih ekologis, integratif, dan berpihak pada keseimbangan lingkungan, sehingga mengembalikan Bandung Raya ke jalur kawasan hijau yang sesungguhnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)