Hikayat Kaum Sarungan

11 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kampanye pakai sarung dengan fashion show di jalanan yang dilakukan oleh pecinta budaya di Semarang. Diperingati 3 Maret, sarung punya sejarah panjang. (Sumber: Ayo Semarang.com | Foto: Audrian Firhannusa)
Kampanye pakai sarung dengan fashion show di jalanan yang dilakukan oleh pecinta budaya di Semarang. Diperingati 3 Maret, sarung punya sejarah panjang. (Sumber: Ayo Semarang.com | Foto: Audrian Firhannusa)

Pagi yang mendung menyelimuti daerah Cibiru Bandung coret dan sekitarnya. Jalanan tampak becek, genangan air sisa hujan semalam masih terlihat di sudut-sudut jalan.

Dengan langkah hati-hati, saat berjalan sambil sedikit mengangkat sarung agar tak terpercik lumpur.

Tiba-tiba, seorang tetangga menegur sambil tersenyum, “Waduh, pakai sarung, koko mau ke mana Pa?”

Kujawab singkat, “Muhun, damel!”

Ya, hari ini bukan hari biasa. Rabu pagi (22/10/2025), seluruh sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkumpul di Lapangan Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad, untuk melaksanakan Upacara Hari Santri 2025.

Sejak pukul 06.00, suasana kampus tampak menggeliat dan hidup apa adanya. Tampak lautan manusia. Kaum Adam dengan sarung dan koko putih. Kaum Hawa dengan busana muslimah berwarna lembut dan berkerudung hitam.

Tentunya membawa semangat santri berdatangan dari berbagai penjuru kampus. Mereka menyemut menuju lapangan utama kampus perjuangan, menyatu dalam barisan panjang yang rapi untuk mengikuti apel Hari Santri 2025.

Ada yang berbeda dari upacara kali ini. Semua peserta laki-laki kompak mengenakan samping dan songkok, para perempuan tampil anggun dengan busana muslimah dan berkerudung hitam. Suasana religius dan khidmat terasa sejak pukul 07.30 pagi saat apel dimulai.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, guru besar ilmu tafsir ini membacakan sambutan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, yang bertajuk “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Tema ini menjadi pengingat bahwa semangat santri tidak berhenti di pesantren, melainkan harus terus hidup dan bergerak, menjaga kemerdekaan, sekaligus membawa nilai-nilai keislaman menuju peradaban yang lebih maju dan berkeadaban.

Setelah amanat selesai, suasana semakin khidmat ketika lagu “Hari Santri” berkumandang. Para peserta mengangkat kepala dengan bangga, ya sebagian ikut melantunkan bait-baitnya dengan penuh semangat.

Upacara ditutup dengan doa bersama, memohon agar semangat santri terus terpelihara, terjaga, terawat dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan bermasyarakat.

Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama sebelum mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)
Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama sebelum mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)

Filosofi Santri

Ingat, salah satu kekhasan Islam Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain adalah kaum santri, kaum sarungan. Ini bukan semata karena tiap tahun lebih dari empat juta anak belajar di pesantren dan lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyah yang rerata menjadi bagian dari pesantren, tetapi lantaran santri adalah identitas yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan "non formal", tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading. Meraka adalah kaum terpelajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apa pun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman.

Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa. Dalam filsafat Jawa disebutkan urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat).

Falsafah ini santri banget! Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian, peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, termasuk sektor paling vital, dalam menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI.

Bukankah kebanyakan kaum terpelajar non-santri (terutama para politisi) hanya berwacana, beretorika, dan membual ke sana kemari soal kedaulatan. Padahal mereka merampok dan menjual tanah airnya sendiri?

Sejumlah siswa kelas 1-6 di MI Al-Mujtahidin, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, saat ikuti lomba cerdas cermat, pidato, mewarnai, kaligrafi dan fashion show, Selasa 22 Oktober 2024, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024 yang mengambil tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa kelas 1-6 di MI Al-Mujtahidin, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, saat ikuti lomba cerdas cermat, pidato, mewarnai, kaligrafi dan fashion show, Selasa 22 Oktober 2024, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024 yang mengambil tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Santri tidak perlu diajak bicara perihal wawasan kebangsaan dan kerukunan, mengapa? Karena, ketika wawasan itu baru diseminarkan di perguruan tinggi dan masyarakat perkotaan, kaum santri telah menerapkannya selama berabad-abad. Mau tahu buktinya?

Gus Dur adalah produk pesantren yang paling autentik. Kurikulum pesantren mengalahkan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu Gus Dur hendak kuliah di sana, ternyata semua mata kuliah di fakultas Dirasah Islamiyah sudah diajarkan di pesantren klasik di Indonesia. Nah, pernyataan lucunya kemudian, kalau kurikulum pesantren klasik saja sudah setara universitas Al-Azhar, mengapa negara tidak mau adopsi kurikulum itu?

Soal kerukunan umat beragama dan multikulturalisme? Kaum santri tidak ada yang intoleran dan radikal, karena pesantren klasik khususnya lebih menomorsatukan moral (tarbiyyah) dari pada sisi intelektual (taʼlim).

Soal narkoba dan terorisme? Pesantren malah sejak awal paling anti merusak generasi muda dengan dalih apa pun, maka, penyuluhan narkoba di pesantren sangat tidak berguna. Soal keamanan dan keutuhan bangsa?

Pesantren adalah benteng NKRI yang paling kokoh sejak pra kemerdekaan, masa revolusi bahkan hingga kini dan nanti. Soal kemandirian dan survivalitas hidup? Kaum sarungan paling tangguh dan pantang mengeluh. Terkadang kaum santri nyaris tidak pernah merepotkan negara dan memang kaum santri dipandang sebelah mata oleh negara. Yang ada malah negara selalu merepotkan santri, sejak perjuangan pra kemerdekaan hingga kini.

Meski negara tak pernah hadir, santri tetap membela Sabang-Merauke ini sampai jasad ke liang lahat. Tanpa negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata, dan doa.

Tidak ada yang lebih berani menyambung nyawa melawan kekejaman penjajah selain santri. Setelah kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka. Apa itu?

Santri adaptasi dari tradisi cantrik Hindu "shastri" dalam bahasa Sanskerta adalah orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an (pesantren) adalah gabungan dari huruf Arab Sin, Nun, Ta, Ra' dan Ya. Apakah makna-makna di balik huruf-huruf keramat itu?

Sin artinya Salik ilal-Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Santri meyakini bahwa sejarah manusia bukan di bumi, kerajaan manusia bukan di dunia, tapi di akhirat. Walhasil, apa pun yang ditempuh dan diperjuangkan santri, semata demi kebahagiaan dan kejayaan di akhirat kelak.

Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama setelah mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)
Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama setelah mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)

Tidak penting popularitas dan menjadi pusat perhatian di bumi, yang penting di langit punya bendera. Oleh karena itu, santri lebih memilih jalan sunyi daripada publisitas. Maka, filosofi pertama dari kaum sarungan adalah jelas orientasi hidupnya, tidak zigzag dan miring. Bukankah penyakit dan petaka manusia modern adalah menjalani hidup yang tak jelas tujuan dan orientasinya?

Nun maknanya Na-ib 'anil-Masyayikh (penerus para guru). Filosofi yang kedua adalah kaderisasi yang dilakukan oleh para kiai agar santri mereka kelak menjadi penerus estafet perjuangan para guru dan leluhur. Tidak ada yang mengungguli pada santri dalam mengagungkan dan memuliakan guru.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., berujar, "Aku adalah budak bagi guru yang mengajarkan ilmu, meski satu huruf." Inilah mengapa ikatan emosional para santri dengan kiai dan guru-guru mereka sangat mengakar dan mengkristal hingga jasad berkalang tanah. Biasanya, santri belum boleh pulang dari pesantren sebelum mumpuni ilmu, etos, dan karakternya agar kelak bisa menggantikan sang kiai.

Ta' maksudnya adalah Tarik 'anil-Ma'ashi (meninggalkan maksiat). Dengan demikian, filosofi yang ketiga kaum santri adalah selalu bertobat melakukan penyucian rohani dengan cara menjalani hidup sederhana dan menjauhi dosa-dosa.

Dosa-dosa apa sajakah yang dijauhi oleh santri? Pertama, Dosa intelektual, yakni kebodohan dan atau memperjualbelikan ilmu dan agama;

Kedua, Dosa sosial, dalam arti tidak peduli dan peka pada lingkungan, baik dengan cara mendidik dan terlibat dalam perjuangan masyarakat kecil. Maksiat jenis ini sangat dijauhi oleh santri karena santri memang rakyat, jadi, istilah "merakyat" seharusnya diperuntukkan bagi pejabat yang lupa darat;

Ketiga, Dosa spiritual, dosa karena tidak menjalani hidup asketik (zuhud), sederhana dan bersahaja, menjauhi gemerlap, pukau, pesona dan tipu daya, terutama ancaman dari dunia politik yang kerap membuat sebagian oknum kiai dan santri tergiur.

Ra' akronim dari Raghib ilal-Khayr (selalu menghasrati kebaikan). Filosofi yang keempat ini kian mempertegas posisi santri sebagai pribadi yang lebih menomorsatukan kebaikan daripada keburukan, kesenjangan, perselisihan, dan negativitas. Menyampaikan kebenaran itu penting, tapi jangan abaikan aspek dan cara-cara yang baik dan santun.

Lazimnya, orang bukan tidak menerima kebenaran, tetapi lebih karena kebenaran itu dibungkus dengan tidak baik. Jelas bahwa santri dan pesantren sangat memuliakan dan memanusiakan manusia, mengapa? Karena yang baik dalam pandangan manusia, Tuhan pun melihatnya demikian.

Ya' adalah singkatan dari Yarjus-Salamah (optimis terhadap keselamatan). Filosofi kelima dari santri adalah selalu optimis menjalani hidup dan mengharap keselamatan di dunia pun lebih-lebih kelak di akhirat. Santri tak sekadar optimis dalam pikiran, tetapi optimisme yang dibarengi dengan tindakan nyata. Apa sebab?

Teramat banyak kegagalan umat manusia karena bertindak tanpa berpikir dan atau sebaliknya berpikir tanpa bertindak. Nah, mengapa penting menjadi orang yang selamat?

Kiranya tak perlu dipaparkan lagi betapa ilmu, jabatan, harta-benda, dan popularitas justru mencelakakan manusia. Kabar baiknya, pesantren telah mewanti-wanti para santri untuk mewaspadai hal ini.

Lima falsafah santri yang mencerminkan diri sebagai pribadi yang memiliki kejelasan orientasi hidup, menjadi penerus para guru, meninggalkan maksiat, cenderung menghasrati kebaikan, dan senantiasa optimis akan keselamatan dunia-akhirat adalah pedoman hidup kaum sarungan yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Meski kita tidak pernah belajar secara resmi di pesantren. jika memiliki kelima prinsip tersebut dan sungguh-sungguh, yakini dan hayati untuk kemudian diterapkan dalam keseharian, maka kita semuanya termasuk dalam bagian santri. (Ach. Dhofir Zuhry, 2018:3-8).

Pengibaran bendera merah putih saat upacara Hari Santri 2025 di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I, Rabu (22/10/2025). (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Pengibaran bendera merah putih saat upacara Hari Santri 2025 di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I, Rabu (22/10/2025). (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Jadi Spirit Nasionalisme

Sarung telah menjadi semacam identitas bagi kalangan santri, di dunia pesantren, santri dalam melakukan aktivitasnya selalu memakai sarung terlebih dalam kegiatan pengajian. Ada yang mengatakan bahwa kata sarung berasal dari kata "syar"" artinya syariat, dalam hal ini adalah syariat (aturan Islam), dari kata syar'i tersebut bentuk masdarnya adalah syarun dan akhirnya menjadi kata sarung.

Dalam beberapa catatan informasi bahwa sarung dibawa dan diperkenalkan di Nusantara adalah melalui saudagar atau pedagang yang berasal dari Arab dan Gujarat India, komunitas pedagang muslim tersebut adalah komunitas yang membawa dan menyebarkan Islam di Indonesia sambil berdagang.

Sarung adalah salah satu barang dagangan dan barang yang dipakai oleh saudagar muslim tersebut, hal ini terjadi sekitar abad ke 14 dan seiring berkembangnya zaman dan meluasnya Islam di Nusantara sarung telah menjadi kebudayaan Islam di Indonesia.

Namun ada catatan literatur yang menyebutkan bahwa sarung berasal dari negeri Yaman, di Yaman sendiri sarung disebut dengan futah. Sebagian para ahli juga menyebutkan bahwa sarung berasal dari kebudayaan ajaran budhisme.

Terlepas dari berbagai asumsi mengenai asal-muasal sarung, yang jelas bagi kalangan muslim tradisional, sarung telah melekat begitu lama dalam tradisi, kebudayaan bahkan peradaban Islam di Indonesia.

Salah satu elemen paling menonjol dari Islam tradisional di Indonesia yang erat memakai sarung atau disebut kaum sarungan adalah santri. Pada masa penjajahan di Indonesia baik kolonialisme dan imperialisme Belanda ataupun Jepang, sarung merupakan simbol dari gerakan perlawanan kaum santri.

Mereka para santri menentang terhadap datangnya kebudayaan dan tradisi barat di Indonesia dan agama yang dibawa oleh penjajah. Mereka para santri juga melakukan perlawanan terhadap praktek penjajahan secara ekonomi dan politik, santri-santri sarungan inilah yang siap menyambung nyawa untuk merdeka dan terbebas dari cengkeraman penjajah dan segala bentuk penjajahannya.

Pemimpin keagamaan namun juga sebagai sosok pemimpin dalam perlawanan kepada penjajah dan pesantren sebagai markas dalam menyusun strategi perlawanan tersebut. Kyai, santri dan pesantren merupakan semacam banteng aqidah umat Islam dalam menyelamatkan umat dan generasi ke depan dari invasi dan misi agama yang dilakukan oleh penjajah.

Kyai, santri dan pesantren merupakan banteng bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk terbebas dari invasi politik dan ekonomi kaum penjajah yang nyata-nyata telah melahirkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.

Meletusnya resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa bahwa membela tanah air hukumnya wajib bagi setiap individu, pada masa itu santri dengan gagah berani mengusir penjajah dari bumi Nusantara dengan melakukan revolusi fisik. Dari sejak saat itulah nasionalisme seorang santri lahir, bahwa santri siap menjaga kedamaian dan keanekaragaman di Indonesia, bahwa santri siap untuk menjadi agen peradaban Islam di Indonesia yang ramah dan toleran, santri siap untuk amar ma'ruf bil ma'ruf dan nahyil mungkar bil ma'ruf, dan santri siap menjaga keutuhan negeri Indonesia ini dari siapa saja yang ingin memecah belah bangsa dan negara.

Nasionalisme santri adalah mereka yang mempunyai kesadaran bahwa mereka hidup menghirup oksigen di udara Indonesia, mereka hidup meminum air di airnya Indonesia, mereka hidup dan beraktivitas di atas tanah, tanah Indonesia, mereka akan mati diselimuti dengan tanah Indonesia yang sejuk. Inilah konsep tanah air nasionalisme seorang santri.

Dengan demikian, nasionalisme santri pada hari ini bukan perang melawan penjajah, nasionalisme santri hari ini adalah perang melawan kebodohan dan kemiskinan, umat Islam lebih-lebih santri harus memiliki dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan sains, ilmu agama Islam harus menjadi basic utama dalam tubuh santri, ilmu pengetahuan dan sains harus menjadi keutamaan santri dalam upaya bersaing dengan bangsa barat.

Santri harus melawan kemiskinan, karena dengan kemiskinan iman umat Islam akan gampang goyah, maka dengan mengembangkan ekonomi umat, Islam akan jaya, santri akan menjadi simbol peradaban kejayaan Islam di Indonesia, kejayaan Islam akan lahir dan terbit dari sebelah timur yaitu Indonesia dan santri adalah stakeholder-nya. (Andri Nurjaman, 2022:67-70).

Presiden Prabowo setujui pembentukan Ditjen Pesantren di Kemenag, kado Hari Santri 2025 untuk memperkuat peran pendidikan dan dakwah nasional. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Presiden Prabowo setujui pembentukan Ditjen Pesantren di Kemenag, kado Hari Santri 2025 untuk memperkuat peran pendidikan dan dakwah nasional. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)

Dalam ikhtiar mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia, Rosihon Anwar menegaskan santri adalah peneguh nilai, penjaga moral bangsa, dan penggerak perubahan sosial. Dari pesantren, lahir peradaban yang berakar pada ilmu, iman, dan amal.

Petuah itu senantiasa terpatri dalam hati, terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Saat cakrawala masih berselimut awan tebal, para peserta tampak asyik berfoto bersama di depan panggung bertuliskan Hari Santri 2025. Sungguh mengabadikan momen berharga yang tak terlupa. Sarung yang tadi basah oleh embun kini menjadi simbol kebanggaan, tanda syukur ihwal menjadi santri bukan sekadar identitas masa lalu, melainkan sikap hidup yang berusaha rendah hati, cinta tanah air, dan teguh menjaga nilai-nilai keislaman di tengah arus perubahan zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)