Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Hikayat Kaum Sarungan

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 23 Okt 2025, 11:31 WIB
Kampanye pakai sarung dengan fashion show di jalanan yang dilakukan oleh pecinta budaya di Semarang. Diperingati 3 Maret, sarung punya sejarah panjang. (Sumber: Ayo Semarang.com | Foto: Audrian Firhannusa)

Kampanye pakai sarung dengan fashion show di jalanan yang dilakukan oleh pecinta budaya di Semarang. Diperingati 3 Maret, sarung punya sejarah panjang. (Sumber: Ayo Semarang.com | Foto: Audrian Firhannusa)

Pagi yang mendung menyelimuti daerah Cibiru Bandung coret dan sekitarnya. Jalanan tampak becek, genangan air sisa hujan semalam masih terlihat di sudut-sudut jalan.

Dengan langkah hati-hati, saat berjalan sambil sedikit mengangkat sarung agar tak terpercik lumpur.

Tiba-tiba, seorang tetangga menegur sambil tersenyum, “Waduh, pakai sarung, koko mau ke mana Pa?”

Kujawab singkat, “Muhun, damel!”

Ya, hari ini bukan hari biasa. Rabu pagi (22/10/2025), seluruh sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkumpul di Lapangan Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad, untuk melaksanakan Upacara Hari Santri 2025.

Sejak pukul 06.00, suasana kampus tampak menggeliat dan hidup apa adanya. Tampak lautan manusia. Kaum Adam dengan sarung dan koko putih. Kaum Hawa dengan busana muslimah berwarna lembut dan berkerudung hitam.

Tentunya membawa semangat santri berdatangan dari berbagai penjuru kampus. Mereka menyemut menuju lapangan utama kampus perjuangan, menyatu dalam barisan panjang yang rapi untuk mengikuti apel Hari Santri 2025.

Ada yang berbeda dari upacara kali ini. Semua peserta laki-laki kompak mengenakan samping dan songkok, para perempuan tampil anggun dengan busana muslimah dan berkerudung hitam. Suasana religius dan khidmat terasa sejak pukul 07.30 pagi saat apel dimulai.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, guru besar ilmu tafsir ini membacakan sambutan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, yang bertajuk “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Tema ini menjadi pengingat bahwa semangat santri tidak berhenti di pesantren, melainkan harus terus hidup dan bergerak, menjaga kemerdekaan, sekaligus membawa nilai-nilai keislaman menuju peradaban yang lebih maju dan berkeadaban.

Setelah amanat selesai, suasana semakin khidmat ketika lagu “Hari Santri” berkumandang. Para peserta mengangkat kepala dengan bangga, ya sebagian ikut melantunkan bait-baitnya dengan penuh semangat.

Upacara ditutup dengan doa bersama, memohon agar semangat santri terus terpelihara, terjaga, terawat dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan bermasyarakat.

Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama sebelum mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)
Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama sebelum mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)

Filosofi Santri

Ingat, salah satu kekhasan Islam Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain adalah kaum santri, kaum sarungan. Ini bukan semata karena tiap tahun lebih dari empat juta anak belajar di pesantren dan lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyah yang rerata menjadi bagian dari pesantren, tetapi lantaran santri adalah identitas yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan "non formal", tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading. Meraka adalah kaum terpelajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apa pun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman.

Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa. Dalam filsafat Jawa disebutkan urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat).

Falsafah ini santri banget! Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian, peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, termasuk sektor paling vital, dalam menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI.

Bukankah kebanyakan kaum terpelajar non-santri (terutama para politisi) hanya berwacana, beretorika, dan membual ke sana kemari soal kedaulatan. Padahal mereka merampok dan menjual tanah airnya sendiri?

Sejumlah siswa kelas 1-6 di MI Al-Mujtahidin, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, saat ikuti lomba cerdas cermat, pidato, mewarnai, kaligrafi dan fashion show, Selasa 22 Oktober 2024, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024 yang mengambil tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa kelas 1-6 di MI Al-Mujtahidin, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, saat ikuti lomba cerdas cermat, pidato, mewarnai, kaligrafi dan fashion show, Selasa 22 Oktober 2024, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024 yang mengambil tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Santri tidak perlu diajak bicara perihal wawasan kebangsaan dan kerukunan, mengapa? Karena, ketika wawasan itu baru diseminarkan di perguruan tinggi dan masyarakat perkotaan, kaum santri telah menerapkannya selama berabad-abad. Mau tahu buktinya?

Gus Dur adalah produk pesantren yang paling autentik. Kurikulum pesantren mengalahkan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu Gus Dur hendak kuliah di sana, ternyata semua mata kuliah di fakultas Dirasah Islamiyah sudah diajarkan di pesantren klasik di Indonesia. Nah, pernyataan lucunya kemudian, kalau kurikulum pesantren klasik saja sudah setara universitas Al-Azhar, mengapa negara tidak mau adopsi kurikulum itu?

Soal kerukunan umat beragama dan multikulturalisme? Kaum santri tidak ada yang intoleran dan radikal, karena pesantren klasik khususnya lebih menomorsatukan moral (tarbiyyah) dari pada sisi intelektual (taʼlim).

Soal narkoba dan terorisme? Pesantren malah sejak awal paling anti merusak generasi muda dengan dalih apa pun, maka, penyuluhan narkoba di pesantren sangat tidak berguna. Soal keamanan dan keutuhan bangsa?

Pesantren adalah benteng NKRI yang paling kokoh sejak pra kemerdekaan, masa revolusi bahkan hingga kini dan nanti. Soal kemandirian dan survivalitas hidup? Kaum sarungan paling tangguh dan pantang mengeluh. Terkadang kaum santri nyaris tidak pernah merepotkan negara dan memang kaum santri dipandang sebelah mata oleh negara. Yang ada malah negara selalu merepotkan santri, sejak perjuangan pra kemerdekaan hingga kini.

Meski negara tak pernah hadir, santri tetap membela Sabang-Merauke ini sampai jasad ke liang lahat. Tanpa negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata, dan doa.

Tidak ada yang lebih berani menyambung nyawa melawan kekejaman penjajah selain santri. Setelah kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka. Apa itu?

Santri adaptasi dari tradisi cantrik Hindu "shastri" dalam bahasa Sanskerta adalah orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an (pesantren) adalah gabungan dari huruf Arab Sin, Nun, Ta, Ra' dan Ya. Apakah makna-makna di balik huruf-huruf keramat itu?

Sin artinya Salik ilal-Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Santri meyakini bahwa sejarah manusia bukan di bumi, kerajaan manusia bukan di dunia, tapi di akhirat. Walhasil, apa pun yang ditempuh dan diperjuangkan santri, semata demi kebahagiaan dan kejayaan di akhirat kelak.

Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama setelah mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)
Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama setelah mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)

Tidak penting popularitas dan menjadi pusat perhatian di bumi, yang penting di langit punya bendera. Oleh karena itu, santri lebih memilih jalan sunyi daripada publisitas. Maka, filosofi pertama dari kaum sarungan adalah jelas orientasi hidupnya, tidak zigzag dan miring. Bukankah penyakit dan petaka manusia modern adalah menjalani hidup yang tak jelas tujuan dan orientasinya?

Nun maknanya Na-ib 'anil-Masyayikh (penerus para guru). Filosofi yang kedua adalah kaderisasi yang dilakukan oleh para kiai agar santri mereka kelak menjadi penerus estafet perjuangan para guru dan leluhur. Tidak ada yang mengungguli pada santri dalam mengagungkan dan memuliakan guru.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., berujar, "Aku adalah budak bagi guru yang mengajarkan ilmu, meski satu huruf." Inilah mengapa ikatan emosional para santri dengan kiai dan guru-guru mereka sangat mengakar dan mengkristal hingga jasad berkalang tanah. Biasanya, santri belum boleh pulang dari pesantren sebelum mumpuni ilmu, etos, dan karakternya agar kelak bisa menggantikan sang kiai.

Ta' maksudnya adalah Tarik 'anil-Ma'ashi (meninggalkan maksiat). Dengan demikian, filosofi yang ketiga kaum santri adalah selalu bertobat melakukan penyucian rohani dengan cara menjalani hidup sederhana dan menjauhi dosa-dosa.

Dosa-dosa apa sajakah yang dijauhi oleh santri? Pertama, Dosa intelektual, yakni kebodohan dan atau memperjualbelikan ilmu dan agama;

Kedua, Dosa sosial, dalam arti tidak peduli dan peka pada lingkungan, baik dengan cara mendidik dan terlibat dalam perjuangan masyarakat kecil. Maksiat jenis ini sangat dijauhi oleh santri karena santri memang rakyat, jadi, istilah "merakyat" seharusnya diperuntukkan bagi pejabat yang lupa darat;

Ketiga, Dosa spiritual, dosa karena tidak menjalani hidup asketik (zuhud), sederhana dan bersahaja, menjauhi gemerlap, pukau, pesona dan tipu daya, terutama ancaman dari dunia politik yang kerap membuat sebagian oknum kiai dan santri tergiur.

Ra' akronim dari Raghib ilal-Khayr (selalu menghasrati kebaikan). Filosofi yang keempat ini kian mempertegas posisi santri sebagai pribadi yang lebih menomorsatukan kebaikan daripada keburukan, kesenjangan, perselisihan, dan negativitas. Menyampaikan kebenaran itu penting, tapi jangan abaikan aspek dan cara-cara yang baik dan santun.

Lazimnya, orang bukan tidak menerima kebenaran, tetapi lebih karena kebenaran itu dibungkus dengan tidak baik. Jelas bahwa santri dan pesantren sangat memuliakan dan memanusiakan manusia, mengapa? Karena yang baik dalam pandangan manusia, Tuhan pun melihatnya demikian.

Ya' adalah singkatan dari Yarjus-Salamah (optimis terhadap keselamatan). Filosofi kelima dari santri adalah selalu optimis menjalani hidup dan mengharap keselamatan di dunia pun lebih-lebih kelak di akhirat. Santri tak sekadar optimis dalam pikiran, tetapi optimisme yang dibarengi dengan tindakan nyata. Apa sebab?

Teramat banyak kegagalan umat manusia karena bertindak tanpa berpikir dan atau sebaliknya berpikir tanpa bertindak. Nah, mengapa penting menjadi orang yang selamat?

Kiranya tak perlu dipaparkan lagi betapa ilmu, jabatan, harta-benda, dan popularitas justru mencelakakan manusia. Kabar baiknya, pesantren telah mewanti-wanti para santri untuk mewaspadai hal ini.

Lima falsafah santri yang mencerminkan diri sebagai pribadi yang memiliki kejelasan orientasi hidup, menjadi penerus para guru, meninggalkan maksiat, cenderung menghasrati kebaikan, dan senantiasa optimis akan keselamatan dunia-akhirat adalah pedoman hidup kaum sarungan yang akan terus dibawa dan dibela sampai mati.

Meski kita tidak pernah belajar secara resmi di pesantren. jika memiliki kelima prinsip tersebut dan sungguh-sungguh, yakini dan hayati untuk kemudian diterapkan dalam keseharian, maka kita semuanya termasuk dalam bagian santri. (Ach. Dhofir Zuhry, 2018:3-8).

Pengibaran bendera merah putih saat upacara Hari Santri 2025 di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I, Rabu (22/10/2025). (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Pengibaran bendera merah putih saat upacara Hari Santri 2025 di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I, Rabu (22/10/2025). (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Jadi Spirit Nasionalisme

Sarung telah menjadi semacam identitas bagi kalangan santri, di dunia pesantren, santri dalam melakukan aktivitasnya selalu memakai sarung terlebih dalam kegiatan pengajian. Ada yang mengatakan bahwa kata sarung berasal dari kata "syar"" artinya syariat, dalam hal ini adalah syariat (aturan Islam), dari kata syar'i tersebut bentuk masdarnya adalah syarun dan akhirnya menjadi kata sarung.

Dalam beberapa catatan informasi bahwa sarung dibawa dan diperkenalkan di Nusantara adalah melalui saudagar atau pedagang yang berasal dari Arab dan Gujarat India, komunitas pedagang muslim tersebut adalah komunitas yang membawa dan menyebarkan Islam di Indonesia sambil berdagang.

Sarung adalah salah satu barang dagangan dan barang yang dipakai oleh saudagar muslim tersebut, hal ini terjadi sekitar abad ke 14 dan seiring berkembangnya zaman dan meluasnya Islam di Nusantara sarung telah menjadi kebudayaan Islam di Indonesia.

Namun ada catatan literatur yang menyebutkan bahwa sarung berasal dari negeri Yaman, di Yaman sendiri sarung disebut dengan futah. Sebagian para ahli juga menyebutkan bahwa sarung berasal dari kebudayaan ajaran budhisme.

Terlepas dari berbagai asumsi mengenai asal-muasal sarung, yang jelas bagi kalangan muslim tradisional, sarung telah melekat begitu lama dalam tradisi, kebudayaan bahkan peradaban Islam di Indonesia.

Salah satu elemen paling menonjol dari Islam tradisional di Indonesia yang erat memakai sarung atau disebut kaum sarungan adalah santri. Pada masa penjajahan di Indonesia baik kolonialisme dan imperialisme Belanda ataupun Jepang, sarung merupakan simbol dari gerakan perlawanan kaum santri.

Mereka para santri menentang terhadap datangnya kebudayaan dan tradisi barat di Indonesia dan agama yang dibawa oleh penjajah. Mereka para santri juga melakukan perlawanan terhadap praktek penjajahan secara ekonomi dan politik, santri-santri sarungan inilah yang siap menyambung nyawa untuk merdeka dan terbebas dari cengkeraman penjajah dan segala bentuk penjajahannya.

Pemimpin keagamaan namun juga sebagai sosok pemimpin dalam perlawanan kepada penjajah dan pesantren sebagai markas dalam menyusun strategi perlawanan tersebut. Kyai, santri dan pesantren merupakan semacam banteng aqidah umat Islam dalam menyelamatkan umat dan generasi ke depan dari invasi dan misi agama yang dilakukan oleh penjajah.

Kyai, santri dan pesantren merupakan banteng bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk terbebas dari invasi politik dan ekonomi kaum penjajah yang nyata-nyata telah melahirkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.

Meletusnya resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa bahwa membela tanah air hukumnya wajib bagi setiap individu, pada masa itu santri dengan gagah berani mengusir penjajah dari bumi Nusantara dengan melakukan revolusi fisik. Dari sejak saat itulah nasionalisme seorang santri lahir, bahwa santri siap menjaga kedamaian dan keanekaragaman di Indonesia, bahwa santri siap untuk menjadi agen peradaban Islam di Indonesia yang ramah dan toleran, santri siap untuk amar ma'ruf bil ma'ruf dan nahyil mungkar bil ma'ruf, dan santri siap menjaga keutuhan negeri Indonesia ini dari siapa saja yang ingin memecah belah bangsa dan negara.

Nasionalisme santri adalah mereka yang mempunyai kesadaran bahwa mereka hidup menghirup oksigen di udara Indonesia, mereka hidup meminum air di airnya Indonesia, mereka hidup dan beraktivitas di atas tanah, tanah Indonesia, mereka akan mati diselimuti dengan tanah Indonesia yang sejuk. Inilah konsep tanah air nasionalisme seorang santri.

Dengan demikian, nasionalisme santri pada hari ini bukan perang melawan penjajah, nasionalisme santri hari ini adalah perang melawan kebodohan dan kemiskinan, umat Islam lebih-lebih santri harus memiliki dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan sains, ilmu agama Islam harus menjadi basic utama dalam tubuh santri, ilmu pengetahuan dan sains harus menjadi keutamaan santri dalam upaya bersaing dengan bangsa barat.

Santri harus melawan kemiskinan, karena dengan kemiskinan iman umat Islam akan gampang goyah, maka dengan mengembangkan ekonomi umat, Islam akan jaya, santri akan menjadi simbol peradaban kejayaan Islam di Indonesia, kejayaan Islam akan lahir dan terbit dari sebelah timur yaitu Indonesia dan santri adalah stakeholder-nya. (Andri Nurjaman, 2022:67-70).

Presiden Prabowo setujui pembentukan Ditjen Pesantren di Kemenag, kado Hari Santri 2025 untuk memperkuat peran pendidikan dan dakwah nasional. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Presiden Prabowo setujui pembentukan Ditjen Pesantren di Kemenag, kado Hari Santri 2025 untuk memperkuat peran pendidikan dan dakwah nasional. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)

Dalam ikhtiar mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia, Rosihon Anwar menegaskan santri adalah peneguh nilai, penjaga moral bangsa, dan penggerak perubahan sosial. Dari pesantren, lahir peradaban yang berakar pada ilmu, iman, dan amal.

Petuah itu senantiasa terpatri dalam hati, terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Saat cakrawala masih berselimut awan tebal, para peserta tampak asyik berfoto bersama di depan panggung bertuliskan Hari Santri 2025. Sungguh mengabadikan momen berharga yang tak terlupa. Sarung yang tadi basah oleh embun kini menjadi simbol kebanggaan, tanda syukur ihwal menjadi santri bukan sekadar identitas masa lalu, melainkan sikap hidup yang berusaha rendah hati, cinta tanah air, dan teguh menjaga nilai-nilai keislaman di tengah arus perubahan zaman. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)