Dari Barak Tentara ke Istana, Sejarah Mobil Maung Pindad Buatan Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Deretan kendaraan khusus Maung MV 3 Produksi PT Pindad di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Deretan kendaraan khusus Maung MV 3 Produksi PT Pindad di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di Indonesia, nasionalisme kadang butuh bentuk yang bisa disentuh, dikendarai, dan difoto dari berbagai sudut. Mobil Maung buatan PT Pindad adalah salah satunya. Kendaraan taktis ini bukan cuma produk pabrikan pertahanan, tapi juga mitologi baru: harimau dari Bandung yang kini menuruni aspal Istana.

Bandung memang kota yang akrab dengan industri besi, senjata, dan ide besar tentang kemandirian bangsa. Di sinilah PT Pindad beroperasi, perusahaan yang lebih sering mengelas baja ketimbang memoles krom. Dari pabrik mereka lahir senjata, amunisi, kendaraan lapis baja—dan kini, sebuah mobil yang tiba-tiba jadi ikon nasional. Namanya Maung, dari bahasa Sunda berarti harimau. Nama itu bukan kebetulan. Dalam kultur Sunda, maung melambangkan keberanian, keuletan, dan kesetiaan pada wilayahnya.

Kendaraan ini punya tampang seperti hasil perkawinan antara jip perang dan truk off road. Tidak ada lekuk manis. Semuanya tegas, fungsional, dan seolah dibuat untuk menerjang apa pun di depannya. Tapi di balik bentuk keras itu, ada cerita yang jauh lebih menarik: kisah tentang ambisi, eksperimen, dan bagaimana politik bisa mengubah kendaraan militer jadi simbol kebanggaan nasional.

Baca Juga: Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

Ceritanya dimulai sekitar 2018. Ide itu datang dari seorang jenderal, Surawahadi, yang waktu itu menjabat Danpussenif. Ia ingin kendaraan cepat untuk operasi infanteri jarak dekat—sesuatu yang gesit tapi kuat, mirip jip perang yang bisa diajak menyelusuri hutan Kalimantan atau gurun Natuna.

Proyeknya diberi nama Bima M-31, dan waktu itu belum ada yang menyebutnya Maung. Pembuatan prototipe diserahkan ke PT MSA, rekanan TNI, yang kemudian menggandeng bengkel off road FAD Works di Bandung, tempat yang lebih akrab dengan lumpur dan suara las ketimbang pendingin ruangan. Daniel Zebedeus, pemilik bengkel, bersama timnya mulai membangun purwarupa dengan semangat "asal bisa jalan, bisa nembus medan."

Mobil itu pertama kali muncul di Indo Defence 2018, pameran militer tahunan yang lebih sering diisi dengan alat tempur buatan luar negeri. Tapi di antara tank Leopard dan kendaraan lapis baja Korea, tiba-tiba ada satu mobil sederhana buatan lokal dengan tulisan Bima M-31. Orang-orang berhenti, menatapnya, dan mulai bicara: “Ini buatan kita, nih.”

Setahun kemudian, proyeknya masuk ke Dislitbang Angkatan Darat untuk uji coba dan pengembangan. PT Pindad dilibatkan untuk memastikan mobil itu bisa naik kelas dari purwarupa ke produksi massal. Setelah berbagai perbaikan dan modifikasi, nama Bima pun ditinggalkan. Mereka mencari sesuatu yang lebih menggigit, lebih lokal, lebih berkarakter. Maka lahirlah nama itu: Maung.

Pada Oktober 2020, Maung resmi masuk jalur produksi di pabrik Pindad, Bandung. Kementerian Pertahanan langsung memesan 500 unit. Tapi yang menarik bukan jumlahnya, melainkan siapa yang pertama kali membeli. Prabowo Subianto, saat itu Menteri Pertahanan, memesan Maung dengan uang pribadinya. Ia ingin memberi contoh, katanya, bahwa mencintai produk dalam negeri itu tidak cukup dengan pidato. Pada 13 Januari 2021, 40 unit pertama Maung diserahkan kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa.

Di luar kompleks militer, orang mulai penasaran. Mobil ini tidak seperti jip biasa. Ada aura “negara” di dalamnya. Bulan Mei 2021, Pindad membuka pemesanan versi sipil. Tanpa bodi antipeluru, tanpa dudukan senapan mesin, tapi tampilannya tetap seperti mobil perang yang sedang menyamar di jalan raya.

Baca Juga: Seabad Lebih Tanpa Nasi, Kampung Cireundeu Pertahankan Kemandirian dan Ketahanan Pangan Lokal Lewat Singkong

Mobil Maung buatan Pindad. (Sumber: Pindad)
Mobil Maung buatan Pindad. (Sumber: Pindad)

Dari Jalan Tempur ke Jalan Protokol

Waktu berjalan cepat. Pada Indo Defence 2022, Maung tampil lagi dengan nama baru: Morino MV Cruiser (Motor Rekacipta Indonesia). Kedengarannya keren, tapi juga terasa terlalu korporat. Orang-orang lebih suka menyebutnya Maung. Harimau tetap lebih berkarisma daripada singkatan panjang.

Versi ketiganya diresmikan oleh Joko Widodo pada 18 Januari 2023, di acara Rapim Kemhan 2023. Tapi bintang sesungguhnya bukan Jokowi—melainkan Prabowo. Sejak itu, setiap kali Prabowo muncul di depan kamera, selalu ada Maung di dekatnya. Dalam berbagai kunjungan, dari markas batalyon sampai istana, mobil itu seperti bayangan yang menempel padanya.

Spesifikasi Maung tidak main-main. Mesin diesel Toyota 2.4 liter atau Isuzu 2.5 liter, transmisi manual 6 percepatan, tenaga 149 HP, torsi 400 Nm, kecepatan maksimal 120 km/jam. Dengan jarak tempuh 800 kilometer, mobil ini bisa melintasi pulau Jawa tanpa isi solar. Sekitar 70 persen komponennya lokal, sementara 30 persen berasal dari SsangYong Korea Selatan.

Harga per unitnya sekitar Rp600 juta. Murah kalau dibandingkan dengan mobil dinas pejabat seperti Alphard atau Mercedes-Benz. Tapi Maung tidak dijual dengan logika kemewahan. Ia dijual dengan logika nasionalisme.

Baca Juga: Keracunan MBG di Bandung Barat, Kronik Tragedi Hidangan Basi di Balik Santapan Bergizi

Pada 20 Oktober 2025, di sidang kabinet paripurna pertamanya sebagai Presiden, Prabowo memberi perintah yang menggema: semua menteri dan pejabat tinggi negara wajib menggunakan Maung sebagai mobil dinas mulai tahun depan. Ia memperbolehkan mereka memakai mobil mewah di luar jam dinas, asal untuk urusan pribadi. Tapi kalau urusan negara, naik Maung.

Kebijakan itu mengguncang. Sebagian menganggapnya populis, sebagian lagi menyebutnya revolusioner. Pemerintah langsung memesan 10.000 unit Maung untuk kebutuhan kementerian, gubernur, dan bupati. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut anggaran sudah siap. Produksi massal dijadwalkan mulai Februari 2026, dengan pengiriman April–Mei 2026.

PT Pindad, yang kini berada di bawah holding pertahanan Defend ID, mencatat pendapatan Rp27 triliun pada 2024. Dengan tambahan proyek Maung, angka itu diperkirakan melonjak. Di Bandung, pabrik mereka berderu siang malam. Para teknisi, yang dulu hanya memproduksi kendaraan tempur untuk PBB, kini membuat mobil untuk para menteri.

Politisi pun ikut bicara. Ada yang bilang kebijakan seperti ini perlu dipaksakan, seperti Malaysia dengan Proton atau China dengan Geely. Maung juga disebut bukan sekadar produk, tapi simbol keteladanan pejabat. Kawendra Lukistian dari Gerindra berjanji mengawal proses produksinya.

Pada Juni 2025, Pindad meluncurkan Maung MV3-EV Pandu, versi listrik dengan jarak tempuh 400 kilometer per pengisian. Kendaraan ini disiapkan untuk mendukung transisi energi hijau di sektor pemerintahan dan militer.

Hingga Maret 2025, sebanyak 700 unit Maung sudah diserahkan ke TNI dan Polri. Maung membuktikan dirinya bukan sekadar gimmick politik. Ia bekerja, berjalan, dan tetap kuat bahkan setelah melewati medan berat.

Sekarang, Maung sudah berubah status. Dari kendaraan taktis yang lahir di bengkel kecil, ia menjelma jadi simbol kebanggaan nasional. Ia parkir di depan kantor kementerian, di halaman istana, di garasi gubernur. Harimau dari Bandung itu akhirnya menuruni gunung, bukan untuk berburu, tapi untuk menunjukkan bahwa negeri ini, kalau mau, bisa membuat mobil sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)