Keracunan MBG di Bandung Barat, Kronik Tragedi Hidangan Basi di Balik Santapan Bergizi

Gilang Fathu Romadhan Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Restu Nugraha Sauqi diterbitkan Senin 29 Sep 2025, 17:25 WIB
Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Pada mulanya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terdengar seperti kabar bahagia. Pemerintah pusat dengan lantang menyebutnya sebagai solusi gizi anak bangsa. Retorikanya sederhana: anak-anak sekolah di seluruh pelosok negeri bakal dapat makan siang bergizi. “Biar pinter, biar kuat, biar tidak lapar saat belajar,” begitu kira-kira narasi manisnya.

Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), program ini diimplementasikan dengan semangat 45. Pemerintah daerah menggandeng Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) — dapur umum yang namanya terdengar meyakinkan: ada SPPG Makmur Kaya di Desa Sirnagalih, ada pula Maju Jaya di Neglasari, dan SPPG di Mekarmukti. Kalau dilihat dari namanya saja, kita sudah bisa membayangkan anak-anak yang sehat, ceria, dan penuh energi setelah menyantap nasi bergizi gratis itu.

Tapi, sejarah mencatat bahwa niat baik tidak selalu berjalan mulus. Di atas kertas, MBG memang dirancang dengan misi luhur. Di lapangan? Yah, nasi basi tetaplah nasi basi. Program yang semestinya jadi penyelamat gizi malah berubah menjadi bencana kesehatan massal. Sejak Januari 2025, Jawa Barat sudah beberapa kali dilanda keracunan akibat MBG. Bandung Barat menjadi babak paling heboh dari drama panjang ini.

Baca Juga: Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio dan Uya Kuya Tumbang di Tangan Rakyat

Pada sepertiga akhir September 2025, Bandung Barat resmi masuk headline nasional. Bukan karena prestasi akademik siswanya, ribuan bocah, guru, hingga ibu menyusui harus antre di Puskesmas dan rumah sakit setelah menyantap menu MBG. Jumlah korban mencapai 1.315 orang, membuat Cipongkor dan Cihampelas mendadak jadi “kawasan rawan konsumsi”.

"Data yang kita himpun hingga 28 September 2025 pukul 22:00 WIB, ada 15 pasien masih dirawat. Sedangkan 1.300 sudah sembuh pulang ke rumah," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N. Sukandar saat dikonfirmasi, Senin 29 September 2025.

Ironi terbesar dari semua ini adalah: program yang digembar-gemborkan untuk meningkatkan kualitas hidup malah bikin banyak orang masuk rumah sakit. Makan Bergizi Gratis akhirnya belakangan diolok sebagai “Makan Basi Gratis.”

Kronologi Keracunan MBG

Drama ini dimulai pada Senin, 22 September 2025. Beberapa siswa SMK Pembangunan Bandung Barat tiba-tiba muntah, pusing, bahkan ada yang kejang. Mereka dilarikan ke Puskesmas Cipongkor. Awalnya, pihak sekolah dan orang tua mungkin mengira ini kasus masuk angin atau maag. Tapi ketika jumlahnya bertambah esok harinya, barulah sadar: ini bukan maag, ini masalah serius.

Selasa, 23 September 2025, jumlah korban meledak. Siswa SD, SMP, sampai SMA ikut tumbang setelah makan MBG. Gejalanya mirip: mual, muntah, pusing, lemas, dan beberapa sampai susah bernapas. Media lokal mulai ramai memberitakan, dan suasana panik merambat ke seluruh Cipongkor.

Baca Juga: Demo Solidaritas Bandung, 13 Jam Jahanam di Gedung DPRD Jawa Barat

Rabu, 24 September 2025, keracunan menyebar ke Cihampelas. Ratusan orang dari berbagai klaster—Cipari, Neglasari, Mekarwangi—ikut tumbang. Data Dinas Kesehatan Bandung Barat mencatat: 411 orang dari Kampung Cipari, 730 dari Pasirsaji Neglasari, dan 192 dari Mekarwangi. Totalnya mencapai 1.333 orang. Angka yang cukup untuk mengisi stadion kecil.

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Kamis, 25 September, pemerintah daerah akhirnya menyatakan ini Kejadian Luar Biasa (KLB). RSUD Cililin kewalahan menampung pasien, beberapa harus dirujuk ke rumah sakit lain. Ironisnya, pada 29 September, muncul lagi 26 kasus baru di Cipongkor. Kali ini memang katanya bukan karena MBG, tapi tetap saja masyarakat makin tidak percaya.

Kalau dihitung sejak Januari, kasus keracunan MBG di Jawa Barat sudah memakan korban 5.000 anak. Bandung Barat adalah “final boss” dari semua insiden itu.

Baca Juga: Mengapa Tanah di Cekungan Bandung Terus Ambles? Cerita dari Rancaekek dan Bojongsoang

Lalu, apa penyebabnya?

Problem pemicu keracunan MBG di Cipongkor ternyata bukan pada daging yang basi sejak awal, melainkan pada cara masaknya yang kelewat ngawur. Menurut pengakuan sang pengelola dapur, NS, proses masak dimulai jam 9 malam. Daging direbus sampai pukul 3 dini hari. Buah-buahan dipotong mulai jam 9 malam dan selesai sekitar jam 11 malam. Lalu makanan ini didiamkan. Menunggu giliran masuk kotak.

Pagi-pagi, distribusi dimulai. Ada dua skema: porsi kecil untuk anak-anak PAUD dan SD—dibagikan dari jam 4 pagi supaya bisa disantap jam 8. Porsi besar untuk anak SMP dan SMA—dikirim jam 5 sampai 8 pagi agar bisa disantap jam 10. Total: 3.567 porsi. Angka yang besar. Angka yang juga, tanpa mereka sadari, membawa potensi bencana.

Persoalannya sederhana, tapi mematikan: makanan punya batas waktu hidup. Seorang ahli, Ryan, mengingatkan bahwa makanan seharusnya dikonsumsi maksimal enam jam setelah dimasak. Lebih dari itu, bakteri mulai berpesta. Aturan mainnya jelas: makanan harus dijaga tetap panas di atas 60 derajat Celsius atau tetap dingin di bawah 5 derajat Celsius. Di luar itu, makanan jadi rumah singgah bakteri.

Yang terjadi di Cipongkor adalah makanan dibiarkan nongkrong di suhu ruang. Jam demi jam lewat. Dari malam sampai siang. Akhirnya, anak-anak yang seharusnya mendapat gizi, malah dicekoki dengan racun.

Hasil pemeriksaan Labkesda Jawa Barat menemukan bakteri Salmonella dan Bacillus cereus bercokol di makanan MBG. Bakteri ini biasanya nongkrong di nasi yang didiamkan terlalu lama pada suhu ruangan. Bayangkan nasi dimasak pagi, tapi baru disantap siang. Lebih dari enam jam nongkrong di meja tanpa penghangat, jelas bakteri bisa bikin pesta pora.

"Hasil pemeriksaan ada bakteri Salmonella dan Bacillus Cereus," kata Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, Ryan Bayusantika.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Labkesda Jawa Barat sepanjang Januari hingga September 2025 menerima lebih dari 200 sampel terkait dugaan keracunan makanan dari 12 dinas kesehatan kota dan kabupaten. Dari uji mikrobiologi, sekitar 23% sampel mengandung bakteri penyebab pembusukan, dengan Salmonella dan Bacillus cereus sebagai temuan terbanyak. Bakteri lain yang juga muncul antara lain Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Sementara itu, pemeriksaan kimia mengungkap delapan persen sampel positif mengandung Nitrit.

Dapur Makmur Jaya yang jadi tempat memasak menu MBG penyebab keracunan massal. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Dapur Makmur Jaya yang jadi tempat memasak menu MBG penyebab keracunan massal. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Tak berhenti di situ. Higiene dapur SPPG ternyata juga amburadul. Air untuk masak tidak steril, daging ayam yang dipakai sudah tidak segar, peralatan kurang bersih. Ada juga kabar tentang menu ikan hiu goreng yang dipertanyakan keamanan konsumsinya. Pendeknya, dapur SPPG seolah lebih mirip laboratorium bakteri daripada dapur bergizi.

Jumlah korban memang akhirnya banyak yang pulih. Per 28 September, 1.300 orang sudah diperbolehkan pulang, hanya 15 orang masih dirawat di RSUD Cililin, RS Dustira Cimahi, dan RS Karisma Cimareme. Tapi trauma sudah terlanjur menyebar. Banyak orang tua menolak anaknya menerima MBG lagi. Beberapa sekolah bahkan sempat didemo orang tua yang menuntut program dihentikan sementara.

Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, sampai harus turun langsung memantau. Dinas Kesehatan buru-buru mengumpulkan sampel muntahan korban. Badan Gizi Nasional ikut menenangkan dengan janji semua biaya perawatan gratis ditanggung negara. Tapi janji itu tidak cukup menghapus rasa was-was orang tua.

Setelahnya, SPPG dipaksa lebih disiplin: bahan makanan harus segar, masak jangan kepagian, distribusi jangan molor, dan peralatan dapur harus disterilkan. Sosialisasi ke sekolah-sekolah juga gencar dilakukan. Masalahnya, kepercayaan publik sudah terlanjur retak.

Keracunan Berulang

Seolah drama ini belum cukup panjang, Senin, 29 September 2025, panggung Cipongkor menampilkan episode baru: keracunan berulang. Seperti sinetron dengan plot berputar, puluhan pasien yang minggu lalu sudah dinyatakan “sembuh” tiba-tiba balik lagi ke UGD Poned Puskesmas dengan wajah pucat dan perut mual.

Data resmi mencatat 26 orang masuk sekitar pukul 10.30 WIB. Empat orang harus dirujuk, sisanya pulang lagi setelah diberi obat. “Betul ini keracunan berulang, ada 26 kasus kita tangani,” kata Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah. Hasil anamnesa menyimpulkan bahwa biang keladinya kali ini bukan MBG. “Ini akibat konsumsi makanan lain. Karena kalau MBG dua dapur sudah disetop, jadi mungkin konsumsi makanan lain,” kata Yuyun.

Plt Camat Cipongkor, Bambang Wijanarko, menyebut korban masih berasal dari klaster Neglasari: siswa-siswa MTS Muslim, MTS Syarif Hidayatullah, MI Babakan, hingga MA Darulfikri. “Betul korban keracunan lagi, mereka masih yang dari dapur Neglasari,” kata dia.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Keracunan berulang ini jadi judul episode tambahan dari drama MBG. Pemerintah bisa bilang penyebabnya makanan lain, bukan dari nasi kotak gratis. Tapi bagi orang tua yang anaknya muntah-muntah, beda penyebab itu sama saja: hasilnya tetap antre di puskesmas.

Di atas kertas, MBG digadang sebagai proyek prestisius untuk memperbaiki gizi bangsa. Di lapangan, ia lebih mirip percobaan massal tentang seberapa banyak orang bisa keracunan sebelum sistem kesehatan daerah kolaps.

News Update

Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)