Keracunan MBG di Bandung Barat, Kronik Tragedi Hidangan Basi di Balik Santapan Bergizi

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Pada mulanya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terdengar seperti kabar bahagia. Pemerintah pusat dengan lantang menyebutnya sebagai solusi gizi anak bangsa. Retorikanya sederhana: anak-anak sekolah di seluruh pelosok negeri bakal dapat makan siang bergizi. “Biar pinter, biar kuat, biar tidak lapar saat belajar,” begitu kira-kira narasi manisnya.

Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), program ini diimplementasikan dengan semangat 45. Pemerintah daerah menggandeng Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) — dapur umum yang namanya terdengar meyakinkan: ada SPPG Makmur Kaya di Desa Sirnagalih, ada pula Maju Jaya di Neglasari, dan SPPG di Mekarmukti. Kalau dilihat dari namanya saja, kita sudah bisa membayangkan anak-anak yang sehat, ceria, dan penuh energi setelah menyantap nasi bergizi gratis itu.

Tapi, sejarah mencatat bahwa niat baik tidak selalu berjalan mulus. Di atas kertas, MBG memang dirancang dengan misi luhur. Di lapangan? Yah, nasi basi tetaplah nasi basi. Program yang semestinya jadi penyelamat gizi malah berubah menjadi bencana kesehatan massal. Sejak Januari 2025, Jawa Barat sudah beberapa kali dilanda keracunan akibat MBG. Bandung Barat menjadi babak paling heboh dari drama panjang ini.

Baca Juga: Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio dan Uya Kuya Tumbang di Tangan Rakyat

Pada sepertiga akhir September 2025, Bandung Barat resmi masuk headline nasional. Bukan karena prestasi akademik siswanya, ribuan bocah, guru, hingga ibu menyusui harus antre di Puskesmas dan rumah sakit setelah menyantap menu MBG. Jumlah korban mencapai 1.315 orang, membuat Cipongkor dan Cihampelas mendadak jadi “kawasan rawan konsumsi”.

"Data yang kita himpun hingga 28 September 2025 pukul 22:00 WIB, ada 15 pasien masih dirawat. Sedangkan 1.300 sudah sembuh pulang ke rumah," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N. Sukandar saat dikonfirmasi, Senin 29 September 2025.

Ironi terbesar dari semua ini adalah: program yang digembar-gemborkan untuk meningkatkan kualitas hidup malah bikin banyak orang masuk rumah sakit. Makan Bergizi Gratis akhirnya belakangan diolok sebagai “Makan Basi Gratis.”

Kronologi Keracunan MBG

Drama ini dimulai pada Senin, 22 September 2025. Beberapa siswa SMK Pembangunan Bandung Barat tiba-tiba muntah, pusing, bahkan ada yang kejang. Mereka dilarikan ke Puskesmas Cipongkor. Awalnya, pihak sekolah dan orang tua mungkin mengira ini kasus masuk angin atau maag. Tapi ketika jumlahnya bertambah esok harinya, barulah sadar: ini bukan maag, ini masalah serius.

Selasa, 23 September 2025, jumlah korban meledak. Siswa SD, SMP, sampai SMA ikut tumbang setelah makan MBG. Gejalanya mirip: mual, muntah, pusing, lemas, dan beberapa sampai susah bernapas. Media lokal mulai ramai memberitakan, dan suasana panik merambat ke seluruh Cipongkor.

Baca Juga: Demo Solidaritas Bandung, 13 Jam Jahanam di Gedung DPRD Jawa Barat

Rabu, 24 September 2025, keracunan menyebar ke Cihampelas. Ratusan orang dari berbagai klaster—Cipari, Neglasari, Mekarwangi—ikut tumbang. Data Dinas Kesehatan Bandung Barat mencatat: 411 orang dari Kampung Cipari, 730 dari Pasirsaji Neglasari, dan 192 dari Mekarwangi. Totalnya mencapai 1.333 orang. Angka yang cukup untuk mengisi stadion kecil.

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Kamis, 25 September, pemerintah daerah akhirnya menyatakan ini Kejadian Luar Biasa (KLB). RSUD Cililin kewalahan menampung pasien, beberapa harus dirujuk ke rumah sakit lain. Ironisnya, pada 29 September, muncul lagi 26 kasus baru di Cipongkor. Kali ini memang katanya bukan karena MBG, tapi tetap saja masyarakat makin tidak percaya.

Kalau dihitung sejak Januari, kasus keracunan MBG di Jawa Barat sudah memakan korban 5.000 anak. Bandung Barat adalah “final boss” dari semua insiden itu.

Baca Juga: Mengapa Tanah di Cekungan Bandung Terus Ambles? Cerita dari Rancaekek dan Bojongsoang

Lalu, apa penyebabnya?

Problem pemicu keracunan MBG di Cipongkor ternyata bukan pada daging yang basi sejak awal, melainkan pada cara masaknya yang kelewat ngawur. Menurut pengakuan sang pengelola dapur, NS, proses masak dimulai jam 9 malam. Daging direbus sampai pukul 3 dini hari. Buah-buahan dipotong mulai jam 9 malam dan selesai sekitar jam 11 malam. Lalu makanan ini didiamkan. Menunggu giliran masuk kotak.

Pagi-pagi, distribusi dimulai. Ada dua skema: porsi kecil untuk anak-anak PAUD dan SD—dibagikan dari jam 4 pagi supaya bisa disantap jam 8. Porsi besar untuk anak SMP dan SMA—dikirim jam 5 sampai 8 pagi agar bisa disantap jam 10. Total: 3.567 porsi. Angka yang besar. Angka yang juga, tanpa mereka sadari, membawa potensi bencana.

Persoalannya sederhana, tapi mematikan: makanan punya batas waktu hidup. Seorang ahli, Ryan, mengingatkan bahwa makanan seharusnya dikonsumsi maksimal enam jam setelah dimasak. Lebih dari itu, bakteri mulai berpesta. Aturan mainnya jelas: makanan harus dijaga tetap panas di atas 60 derajat Celsius atau tetap dingin di bawah 5 derajat Celsius. Di luar itu, makanan jadi rumah singgah bakteri.

Yang terjadi di Cipongkor adalah makanan dibiarkan nongkrong di suhu ruang. Jam demi jam lewat. Dari malam sampai siang. Akhirnya, anak-anak yang seharusnya mendapat gizi, malah dicekoki dengan racun.

Hasil pemeriksaan Labkesda Jawa Barat menemukan bakteri Salmonella dan Bacillus cereus bercokol di makanan MBG. Bakteri ini biasanya nongkrong di nasi yang didiamkan terlalu lama pada suhu ruangan. Bayangkan nasi dimasak pagi, tapi baru disantap siang. Lebih dari enam jam nongkrong di meja tanpa penghangat, jelas bakteri bisa bikin pesta pora.

"Hasil pemeriksaan ada bakteri Salmonella dan Bacillus Cereus," kata Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, Ryan Bayusantika.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Labkesda Jawa Barat sepanjang Januari hingga September 2025 menerima lebih dari 200 sampel terkait dugaan keracunan makanan dari 12 dinas kesehatan kota dan kabupaten. Dari uji mikrobiologi, sekitar 23% sampel mengandung bakteri penyebab pembusukan, dengan Salmonella dan Bacillus cereus sebagai temuan terbanyak. Bakteri lain yang juga muncul antara lain Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Sementara itu, pemeriksaan kimia mengungkap delapan persen sampel positif mengandung Nitrit.

Dapur Makmur Jaya yang jadi tempat memasak menu MBG penyebab keracunan massal. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Dapur Makmur Jaya yang jadi tempat memasak menu MBG penyebab keracunan massal. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Tak berhenti di situ. Higiene dapur SPPG ternyata juga amburadul. Air untuk masak tidak steril, daging ayam yang dipakai sudah tidak segar, peralatan kurang bersih. Ada juga kabar tentang menu ikan hiu goreng yang dipertanyakan keamanan konsumsinya. Pendeknya, dapur SPPG seolah lebih mirip laboratorium bakteri daripada dapur bergizi.

Jumlah korban memang akhirnya banyak yang pulih. Per 28 September, 1.300 orang sudah diperbolehkan pulang, hanya 15 orang masih dirawat di RSUD Cililin, RS Dustira Cimahi, dan RS Karisma Cimareme. Tapi trauma sudah terlanjur menyebar. Banyak orang tua menolak anaknya menerima MBG lagi. Beberapa sekolah bahkan sempat didemo orang tua yang menuntut program dihentikan sementara.

Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, sampai harus turun langsung memantau. Dinas Kesehatan buru-buru mengumpulkan sampel muntahan korban. Badan Gizi Nasional ikut menenangkan dengan janji semua biaya perawatan gratis ditanggung negara. Tapi janji itu tidak cukup menghapus rasa was-was orang tua.

Setelahnya, SPPG dipaksa lebih disiplin: bahan makanan harus segar, masak jangan kepagian, distribusi jangan molor, dan peralatan dapur harus disterilkan. Sosialisasi ke sekolah-sekolah juga gencar dilakukan. Masalahnya, kepercayaan publik sudah terlanjur retak.

Keracunan Berulang

Seolah drama ini belum cukup panjang, Senin, 29 September 2025, panggung Cipongkor menampilkan episode baru: keracunan berulang. Seperti sinetron dengan plot berputar, puluhan pasien yang minggu lalu sudah dinyatakan “sembuh” tiba-tiba balik lagi ke UGD Poned Puskesmas dengan wajah pucat dan perut mual.

Data resmi mencatat 26 orang masuk sekitar pukul 10.30 WIB. Empat orang harus dirujuk, sisanya pulang lagi setelah diberi obat. “Betul ini keracunan berulang, ada 26 kasus kita tangani,” kata Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah. Hasil anamnesa menyimpulkan bahwa biang keladinya kali ini bukan MBG. “Ini akibat konsumsi makanan lain. Karena kalau MBG dua dapur sudah disetop, jadi mungkin konsumsi makanan lain,” kata Yuyun.

Plt Camat Cipongkor, Bambang Wijanarko, menyebut korban masih berasal dari klaster Neglasari: siswa-siswa MTS Muslim, MTS Syarif Hidayatullah, MI Babakan, hingga MA Darulfikri. “Betul korban keracunan lagi, mereka masih yang dari dapur Neglasari,” kata dia.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Keracunan berulang ini jadi judul episode tambahan dari drama MBG. Pemerintah bisa bilang penyebabnya makanan lain, bukan dari nasi kotak gratis. Tapi bagi orang tua yang anaknya muntah-muntah, beda penyebab itu sama saja: hasilnya tetap antre di puskesmas.

Di atas kertas, MBG digadang sebagai proyek prestisius untuk memperbaiki gizi bangsa. Di lapangan, ia lebih mirip percobaan massal tentang seberapa banyak orang bisa keracunan sebelum sistem kesehatan daerah kolaps.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)