Demo Solidaritas Bandung, 13 Jam Jahanam di Gedung DPRD Jawa Barat

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Redaksi
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Redaksi diterbitkan
Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, pada Jumat 29 Agustus 2025 dikerumuni demonstran yang melakukan aksi protes. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, pada Jumat 29 Agustus 2025 dikerumuni demonstran yang melakukan aksi protes. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Kota Bandung berubah mencekam pada Jumat, 29 Agustus 2025. Hujan sore itu gagal menurunkan suhu amarah yang menggelegak di Jalan Diponegoro. Ribuan orang, sebagian mengenakan jaket hijau ojek online dan sebagian lainnya berbalut almamater kampus, berkumpul di depan Gedung DPRD Jawa Barat. Mereka membawa satu tuntutan yang sama: keadilan untuk Affan Kurniawan, pengemudi ojek online di Jakarta yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob.

Demostrasi yang dimulai sejak sekitar pukul 14.00 WIB itu menjelma menjadi 13 jam penuh ketegangan. Kota seolah lumpuh di satu titik. Sirene meraung, gas air mata meletup, batu berhamburan, hingga api menjilat bangunan. Dari sore hingga dini hari keesokan harinya, Bandung menyaksikan salah satu demonstrasi paling dramatis dalam satu dekade terakhir.

“Tuntutan kami hanya satu, keadilan,” kata Sandi, 32 tahun, seorang pengemudi ojek online.

Gelombang massa mulai berdatangan sejak pukul 13.30 WIB. Ada yang datang dari arah Gedung Sate, ada pula dari Jalan Trunojoyo. Mereka berjalan sambil menyanyikan lagu Buruh Tani berulang-ulang, lagu yang sering menjadi mars gerakan perlawanan. Begitu tiba di depan gerbang DPRD, suasana sudah tegang. Barisan polisi yang berjaga mundur beberapa langkah, dikejar puluhan orang. Botol air mineral, kayu, dan batu beterbangan ke arah aparat.

Di sela kepulan asap flare merah yang dinyalakan, pekikan sumpah mahasiswa menggema. Massa menutup total Jalan Diponegoro. Dari arah Gasibu, kendaraan dialihkan ke Jalan Banda, sementara dari arah Sulanjana diarahkan ke Trunojoyo. Lalu lintas Bandung seketika macet, menyisakan hanya suara orasi, sirene, dan dentuman keras yang entah berasal dari petasan atau ledakan gas air mata.

“Saya sebagai masyarakat Indonesia mengutuk keras polisi yang seakan tidak punya hati nurani. Melindas teman saya, saudara saya, hingga meninggal. Tolong diusut tuntas semuanya,” kata Gusti, pengemudi ojol lain.

Baca Juga: Mengapa Mereka Menjadi Sangat Marah?

Hujan sempat turun sekitar pukul 14.30, membasahi kawat berduri dan wajah massa yang basah keringat. Namun bukannya bubar, kerumunan justru semakin menebal. Dari berbagai kampus di Bandung, mahasiswa berdatangan. Videotron di depan DPRD berulang kali jadi sasaran lemparan. Beberapa orang mencoba memanjat tembok sisi kanan gedung, sementara gerbang utama yang dipasangi kawat berduri terus didorong.

Sekitar pukul 15.30, aksi serupa juga berlangsung di Mapolda Jabar. Ratusan mahasiswa menggelar orasi mengecam kematian Affan. Sempat terjadi dorong-dorongan di depan gerbang Mapolda, tapi mereda setelah polisi menahan diri. Massa kemudian bergerak menuju Gedung Sate, lalu bergabung kembali dengan kerumunan di DPRD menjelang sore.

Kondisi Gedung DPRD Jabar pasca demonstrasi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kondisi Gedung DPRD Jabar pasca demonstrasi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Jelang malam, situasi di DPRD kian panas. Letupan gas air mata dari halaman gedung membuat ratusan orang merasakan perih di mata dan sesak napas, sesak napas dan mata perih. Tim medis dari Universitas Islam Bandung (Unisba) mendirikan posko darurat di sekitar lokasi.

“Kami membuat triase darurat untuk memilah korban berdasarkan tingkat kegawatannya, mana yang urgent, bisa ditunda, atau yang tergolong ringan,” kata Fajar Awalia Yulianto, Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Unisba. Catatan medis menunjukkan, hingga pukul 18.30 jumlah korban mencapai 208 orang, mayoritas karena sesak akibat gas air mata.

Di tengah kekacauan itu, api tiba-tiba muncul dari arah Wisma MPR RI yang berdiri di samping Gedung DPRD. Diduga bangunan itu dianggap sebagai tempat persembunyian aparat. Sejumlah orang berusaha membobol pintu, sementara lainnya berteriak menyelamatkan seseorang yang terjebak di dalam. Api menjalar cepat, menambah kepanikan malam itu.

Baca Juga: Kisah Siti Fatimah: Intel Cilik yang Menjadi Saksi Agresi Militer Belanda

Di jalanan, lemparan batu tak henti menghujani. Seorang mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Ilham Renal mengalami luka tusuk di punggung. Tusukan itu membuat paru-paru kirinya kolaps. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. “Paru-paru kirinya tidak berfungsi, jadi harus operasi segera,” kata seorang relawan medis.

Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada Jumat, 29 Juli 2025. Tampak kobaran api dari wisma MPR. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada Jumat, 29 Juli 2025. Tampak kobaran api dari wisma MPR. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Di sisi lain, polisi juga tak luput jadi korban. “Tiga orang (luka) dan dua orang dilarikan ke RS Sartika Asih karena harus ada jahitan karena lemparan batu,” kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, Sabtu 30 Agustus 2025.

Hingga pukul 23.00, suasana masih belum sepenuhnya reda. Tidak hanya Wisma MPR RI yang terbakar, tapi juga rumah makan Sambara, satu rumah warga di Jalan Gempol, serta dua kantor bank di kawasan Dago. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, ada lima bangunan rusak berat. Sejumlah fasilitas umum, termasuk lampu lalu lintas, ikut hancur. Bahkan, beberapa ruas jalan aspal hangus terbakar.

Hingga larut malam aksi tak kunjung reda. Massa masih menyalakan berkerumun. Baru sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu dini hari, situasi mulai mereda. Namun sisa-sisa kerusakan terlihat jelas: kaca pecah berserakan, kawat berduri rebah, jalan penuh batu dan arang.

Keesokan harinya, polisi bergerak cepat. Polda Jabar menangkap sedikitnya 65 orang yang disebut biang ribut dalam aksi solidaritas itu. Status Siaga 1 diberlakukan di seluruh jajaran kepolisian Jawa Barat.

“Berarti seluruh personel Polres, personel Polda itu berada di mako, semuanya untuk siaga memantau situasi perkembangan,” kata Kombes Hendra.

Gelombang Protes Lawan Despotisme

Gelombang aksi protes massa ini sendiri dipantik oleh kekecewaan rakyat yang sedang bertungkus-lumus mempertahankan hidup di tengah gejolak ekonomi yang justru dihadapkan dengan tindak tanduk congkak kelompok elit. Kabar kenaikan gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi pemicu awal. Belum reda perbincangan publik soal itu, beredar pula video sejumlah anggota dewan bernyanyi dan berjoget. Di layar gawai, gambar mereka tampil riang. Di lapangan, rakyat masih berkutat dengan harga pangan, upah murah, dan pekerjaan tak pasti.

Ketegangan itu mulanya pecah pada 25 Agustus 2025. Ribuan mahasiswa memimpin aksi di depan Gedung DPR Senayan. Dari spanduk dan pengeras suara, suara-suara tuntutan bersahut-sahutan. Mereka tak hanya menolak kenaikan gaji dewan, melainkan juga mendesak mundurnya Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Daftar tuntutan meluas: pembubaran DPR, pembatalan proyek penulisan ulang sejarah, penolakan Rancangan Undang-Undang Anti Pemerasan, hingga desakan agar Fadli Zon diadili atas pernyataannya yang menolak mengakui tragedi perkosaan massal 1998. Transparansi gaji DPR dan pembatalan tunjangan perumahan pun masuk dalam agenda.

Beberapa hari kemudian, giliran buruh turun ke jalan. Pada 28 Agustus, massa pekerja dari berbagai serikat menggelar demonstrasi besar-besaran. Mereka menolak upah murah, menuntut penghapusan outsourcing, kenaikan upah minimum, dan penghapusan pajak atas tunjangan hari raya serta pesangon. “Omnibus Law harus dicabut,” teriak orator dari atas mobil komando.

Baca Juga: Meme Mahasiswa ITB Tak Lulus Sensor Kekuasaan

Protes itu berlangsung damai hingga sore. Namun, ketika tuntutan tak kunjung dijawab anggota DPRD, ketegangan pecah. Aparat menembakkan gas air mata dan menyemprotkan water cannon. Massa terpaksa mundur ke ruas-ruas jalan sekitarnya.

Imbauan kondusifitas terpasang di papan reklame Dago Cikapayang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Imbauan kondusifitas terpasang di papan reklame Dago Cikapayang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Situasi memburuk malam harinya. Sebuah kendaraan taktis Brimob melaju kencang di kawasan Pejompongan. Alih-alih membubarkan kerumunan, mobil itu menabrak pengemudi ojek online. Rekamannya tersebar di media sosial, memantik kemarahan baru. Ribuan orang bergerak ke markas Brimob, menuntut pelaku ditindak.

Di tengah panasnya situasi, komentar Ahmad Sahroni, anggota Komisi III DPR, menyulut api. Ia menyebut rakyat “bodoh” karena menyerukan pembubaran DPR. Tak lama kemudian, rumah Sahroni di Jakarta Utara diserbu demonstran. Perabotan dan kendaraan di dalamnya hancur. Aksi serupa menyasar kediaman politikus cum seleb Eko Patrio dan Uya Kuya. Rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani juga jadi sasaran.

Kerusuhan menyebar ke berbagai kota. Di Jakarta, Tangerang, Surabaya, hingga Bandung, massa terus turun ke jalan. Di antara kerumunan, muncul kelompok-kelompok tak dikenal yang bertindak brutal. Mereka membakar halte busway, merusak fasilitas umum, bahkan melumpuhkan jalur tol.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)