Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.
Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.

AYOBANDUNG.ID - Suasana Bandung di akhir 1945 sudah seperti kota yang duduk di tepi kawah. Bau mesiu, asap pembakaran, dan ketegangan menghantui tiap sudut. Di jalan-jalan, anak-anak muda berseragam seadanya—seringkali hanya kemeja lusuh dan celana panjang—menenteng senjata rampasan dari Jepang. Di antara deretan bangunan kolonial yang megah, berdiri Gedung Sate, ikon arsitektur Hindia Belanda yang pada masa itu menjadi Kantor Departemen Pekerjaan Umum (Verkeer en Waterstaat).

Bagi Republik yang baru berdiri, gedung ini bukan sekadar kantor. Ia simbol bahwa pemerintahan Indonesia hadir di Bandung. Bagi Belanda yang datang membonceng pasukan Sekutu, Gedung Sate adalah target strategis. Letaknya di Bandung Utara—wilayah yang secara militer sudah mulai mereka kuasai—membuatnya seperti bendera merah yang berkibar di mata banteng.

Ledakan aktivitas revolusioner mulai terasa sejak 25 September 1945. Seperti dicatat dalam Peristiwa Perebutan Gedung Sate di Bandung Tahun 1945, para pemuda baik yang terorganisir maupun tidak, mulai berusaha untuk mengambil kendali dari Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, kekosongan kekuasaan membuka ruang bagi republik muda untuk merebut pos-pos penting.

Tapi, perayaan itu tak berlangsung lama. Pada 4 Oktober 1945, tentara Inggris, serdadu Belanda, dan NICA masuk ke Bandung. Resminya, Inggris datang untuk melucuti Jepang dan membebaskan tawanan perang. Kenyataannya, mereka mengawal kembalinya administrasi kolonial Belanda.

Sejak saat itu, Bandung berubah menjadi kota terbelah. Utara dikuasai Sekutu dan Belanda, lengkap dengan markas, gudang logistik, dan pos pemeriksaan. Selatan tetap di tangan pejuang Indonesia, termasuk Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan laskar-laskar pemuda. Garis pemisahnya tidak selalu jelas, tapi semua orang tahu wilayah siapa yang aman untuk dilintasi.

Lokasi markas besar Sekutu berdiri tak jauh dari Gedung Sate. Gangguan terhadap Kantor Departemen PU mulai sering terjadi. “Tentara Sekutu hampir setiap hari mengacaukan Kantor Departemen,” tulis risalah yang diterbitkan akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung tersebut. Akhirnya, sejak awal November, hanya pegawai muda yang diizinkan masuk gedung. Mereka diberi perintah khusus: pertahankan kantor dan barang-barang negara di dalamnya, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan nyawa.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Rawayan 1946, Gugurnya 43 Pemuda saat Bandung Terbelah Dua

Tanda-Tanda Badai

Saat memasuki pertengahan November, kota seperti memanas dari dalam. Baku tembak sporadis mulai terdengar hampir tiap malam. Jalan Braga, alun-alun, dan rel kereta jadi titik-titik ketegangan. Zona netral hampir tidak ada. Di malam hari, pemuda bersenjata sering berkumpul untuk menembaki pasukan Gurkha yang ditempatkan di Hotel Savoy Homann.

Puncaknya, pada akhir November, dua batalion Gurkha—sekitar 2.000 prajurit dari Nepal yang jadi pasukan tempur Inggris dan Belanda—berkonsentrasi di Bandung Utara. Gurkha bukan prajurit sembarangan. Mereka terkenal berani, kejam di medan perang, dan dilengkapi senjata modern.

Bagi para pentolan Angkatan Muda Pekerjaan Umum, situasinya jelas: pengepungan sudah di depan mata. Pada 29 November 1945, Didi Hardianto Kamarga, Ketua Angkatan Muda Verkeer en Waterstaat, datang ke markas Majelis Persatuan Priangan (MP3) bersama dua rekannya. Di hadapan Ketua Biro Pertahanan MP3, Soetoko, ia mengungkap kesediaannya menjadi martir untuk mempertahankan Gedung Sate.

“Saya dan kawan-kawan sanggup untuk mempertahankan kantor kami. Kami datang hendak meminta izin dan minta senjata,” kata Didi dipetik dari Gedung Sate Bandung (2009) karya Sudarsono Katam.

Soetoko menghargai semangat itu, tapi menyarankan mereka mengurungkan niat. Ia tahu lawan yang akan mereka hadapi. Namun tekad Didi dan kawan-kawan tak goyah. Akhirnya, Soetoko memberikan revolver pribadinya—senjata tunggal dari markas pertahanan untuk misi itu.

Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)
Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

3 Desember, Serbuan Badai Peluru Jahanam di Gedung Sate

Pagi 3 Desember 1945, suasana Bandung sudah panas sejak subuh. Sekitar pukul 11 siang, derap langkah berat mulai terdengar di sekitar Gedung Sate. Pasukan Gurkha datang dari berbagai arah. Di dalam, hanya ada 21 pemuda pegawai, sebagian masih belasan tahun.

Serangan dimulai dengan tembakan beruntun. Peluru menghantam dinding, kaca pecah, dan udara dipenuhi debu. Para pemuda membalas tembakan dengan senjata seadanya. Pertempuran itu berlangsung sengit. Mereka dikepung dan diserang dari segala penjuru. Jumlah pasukan Gurkha yang menyerbu para pemuda jauh lebih banyak.

Selama empat jam, Gedung Sate berubah menjadi benteng terakhir. Para pemuda memanfaatkan setiap sudut ruangan, jendela, dan pintu untuk menahan serbuan. Namun ketidakseimbangan jumlah dan persenjataan akhirnya mematahkan pertahanan. Pada pukul 14.00, sisa tembakan terhenti. Gedung Sate jatuh ke tangan Sekutu.

Tujuh pemuda dinyatakan hilang: Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebenget, Ranu, dan Soeharjono. Sisanya luka berat atau ringan. Bagi mereka yang selamat, pertempuran itu meninggalkan kenangan yang membekas seumur hidup.

Bagi Inggris, ini kemenangan taktis. Bagi Republik, ini kehilangan yang berat. John R.W. Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946 menulis bahwa Inggris memanfaatkan kekuatan yang superior untuk memaksa mundur lawan. Perebutan Gedung Sate hanyalah satu dari rangkaian operasi yang membuat banyak bangunan penting di Bandung Utara jatuh.

Keberadaan misterius tujuh pemuda itu baru terpecahkan sebagian pada Agustus 1952. Dari pencarian di sekitar lokasi pertempuran, hanya empat kerangka yang ditemukan. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tiga lainnya tak pernah ditemukan. Dua tanda peringatan dibuat di dalam Gedung Sate untuk mengenang mereka.

Pada 3 Desember 1951, Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, Ir. Ukar Brata Kusumah, menyatakan mereka sebagai “Pemuda yang berjasa”. Tugu Prasasti Sapta Taruna didirikan di halaman belakang Gedung Sate, memuat nama tujuh pejuang itu. Sejak itu, setiap 3 Desember diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum.

Baca Juga: Riwayat Gedung Sate dan Jejak Para Insinyur Kolonial

Tak lama kemudian, sebuah batu besar di bekas lokasi pertempuran diresmikan menjadi Monumen Gedung Sate, penanda abadi bahwa di titik itu, sekelompok pemuda pernah berdiri melawan badai peluru demi republik yang baru lahir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)