Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 14 Agu 2025, 15:10 WIB
Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.

Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.

AYOBANDUNG.ID - Suasana Bandung di akhir 1945 sudah seperti kota yang duduk di tepi kawah. Bau mesiu, asap pembakaran, dan ketegangan menghantui tiap sudut. Di jalan-jalan, anak-anak muda berseragam seadanya—seringkali hanya kemeja lusuh dan celana panjang—menenteng senjata rampasan dari Jepang. Di antara deretan bangunan kolonial yang megah, berdiri Gedung Sate, ikon arsitektur Hindia Belanda yang pada masa itu menjadi Kantor Departemen Pekerjaan Umum (Verkeer en Waterstaat).

Bagi Republik yang baru berdiri, gedung ini bukan sekadar kantor. Ia simbol bahwa pemerintahan Indonesia hadir di Bandung. Bagi Belanda yang datang membonceng pasukan Sekutu, Gedung Sate adalah target strategis. Letaknya di Bandung Utara—wilayah yang secara militer sudah mulai mereka kuasai—membuatnya seperti bendera merah yang berkibar di mata banteng.

Ledakan aktivitas revolusioner mulai terasa sejak 25 September 1945. Seperti dicatat dalam Peristiwa Perebutan Gedung Sate di Bandung Tahun 1945, para pemuda baik yang terorganisir maupun tidak, mulai berusaha untuk mengambil kendali dari Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, kekosongan kekuasaan membuka ruang bagi republik muda untuk merebut pos-pos penting.

Tapi, perayaan itu tak berlangsung lama. Pada 4 Oktober 1945, tentara Inggris, serdadu Belanda, dan NICA masuk ke Bandung. Resminya, Inggris datang untuk melucuti Jepang dan membebaskan tawanan perang. Kenyataannya, mereka mengawal kembalinya administrasi kolonial Belanda.

Sejak saat itu, Bandung berubah menjadi kota terbelah. Utara dikuasai Sekutu dan Belanda, lengkap dengan markas, gudang logistik, dan pos pemeriksaan. Selatan tetap di tangan pejuang Indonesia, termasuk Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan laskar-laskar pemuda. Garis pemisahnya tidak selalu jelas, tapi semua orang tahu wilayah siapa yang aman untuk dilintasi.

Lokasi markas besar Sekutu berdiri tak jauh dari Gedung Sate. Gangguan terhadap Kantor Departemen PU mulai sering terjadi. “Tentara Sekutu hampir setiap hari mengacaukan Kantor Departemen,” tulis risalah yang diterbitkan akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung tersebut. Akhirnya, sejak awal November, hanya pegawai muda yang diizinkan masuk gedung. Mereka diberi perintah khusus: pertahankan kantor dan barang-barang negara di dalamnya, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan nyawa.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Rawayan 1946, Gugurnya 43 Pemuda saat Bandung Terbelah Dua

Tanda-Tanda Badai

Saat memasuki pertengahan November, kota seperti memanas dari dalam. Baku tembak sporadis mulai terdengar hampir tiap malam. Jalan Braga, alun-alun, dan rel kereta jadi titik-titik ketegangan. Zona netral hampir tidak ada. Di malam hari, pemuda bersenjata sering berkumpul untuk menembaki pasukan Gurkha yang ditempatkan di Hotel Savoy Homann.

Puncaknya, pada akhir November, dua batalion Gurkha—sekitar 2.000 prajurit dari Nepal yang jadi pasukan tempur Inggris dan Belanda—berkonsentrasi di Bandung Utara. Gurkha bukan prajurit sembarangan. Mereka terkenal berani, kejam di medan perang, dan dilengkapi senjata modern.

Bagi para pentolan Angkatan Muda Pekerjaan Umum, situasinya jelas: pengepungan sudah di depan mata. Pada 29 November 1945, Didi Hardianto Kamarga, Ketua Angkatan Muda Verkeer en Waterstaat, datang ke markas Majelis Persatuan Priangan (MP3) bersama dua rekannya. Di hadapan Ketua Biro Pertahanan MP3, Soetoko, ia mengungkap kesediaannya menjadi martir untuk mempertahankan Gedung Sate.

“Saya dan kawan-kawan sanggup untuk mempertahankan kantor kami. Kami datang hendak meminta izin dan minta senjata,” kata Didi dipetik dari Gedung Sate Bandung (2009) karya Sudarsono Katam.

Soetoko menghargai semangat itu, tapi menyarankan mereka mengurungkan niat. Ia tahu lawan yang akan mereka hadapi. Namun tekad Didi dan kawan-kawan tak goyah. Akhirnya, Soetoko memberikan revolver pribadinya—senjata tunggal dari markas pertahanan untuk misi itu.

Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)
Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

3 Desember, Serbuan Badai Peluru Jahanam di Gedung Sate

Pagi 3 Desember 1945, suasana Bandung sudah panas sejak subuh. Sekitar pukul 11 siang, derap langkah berat mulai terdengar di sekitar Gedung Sate. Pasukan Gurkha datang dari berbagai arah. Di dalam, hanya ada 21 pemuda pegawai, sebagian masih belasan tahun.

Serangan dimulai dengan tembakan beruntun. Peluru menghantam dinding, kaca pecah, dan udara dipenuhi debu. Para pemuda membalas tembakan dengan senjata seadanya. Pertempuran itu berlangsung sengit. Mereka dikepung dan diserang dari segala penjuru. Jumlah pasukan Gurkha yang menyerbu para pemuda jauh lebih banyak.

Selama empat jam, Gedung Sate berubah menjadi benteng terakhir. Para pemuda memanfaatkan setiap sudut ruangan, jendela, dan pintu untuk menahan serbuan. Namun ketidakseimbangan jumlah dan persenjataan akhirnya mematahkan pertahanan. Pada pukul 14.00, sisa tembakan terhenti. Gedung Sate jatuh ke tangan Sekutu.

Tujuh pemuda dinyatakan hilang: Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebenget, Ranu, dan Soeharjono. Sisanya luka berat atau ringan. Bagi mereka yang selamat, pertempuran itu meninggalkan kenangan yang membekas seumur hidup.

Bagi Inggris, ini kemenangan taktis. Bagi Republik, ini kehilangan yang berat. John R.W. Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946 menulis bahwa Inggris memanfaatkan kekuatan yang superior untuk memaksa mundur lawan. Perebutan Gedung Sate hanyalah satu dari rangkaian operasi yang membuat banyak bangunan penting di Bandung Utara jatuh.

Keberadaan misterius tujuh pemuda itu baru terpecahkan sebagian pada Agustus 1952. Dari pencarian di sekitar lokasi pertempuran, hanya empat kerangka yang ditemukan. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tiga lainnya tak pernah ditemukan. Dua tanda peringatan dibuat di dalam Gedung Sate untuk mengenang mereka.

Pada 3 Desember 1951, Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, Ir. Ukar Brata Kusumah, menyatakan mereka sebagai “Pemuda yang berjasa”. Tugu Prasasti Sapta Taruna didirikan di halaman belakang Gedung Sate, memuat nama tujuh pejuang itu. Sejak itu, setiap 3 Desember diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum.

Baca Juga: Riwayat Gedung Sate dan Jejak Para Insinyur Kolonial

Tak lama kemudian, sebuah batu besar di bekas lokasi pertempuran diresmikan menjadi Monumen Gedung Sate, penanda abadi bahwa di titik itu, sekelompok pemuda pernah berdiri melawan badai peluru demi republik yang baru lahir.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)