Mengapa Mereka Menjadi Sangat Marah?

8 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Pengunjuk rasa melempari Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung pada Jumat, 29 Agustus. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengunjuk rasa melempari Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung pada Jumat, 29 Agustus. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID – Selama akhir pekan ini sejumlah aksi unjuk rasa yang akhirnya berujung pada pembakaran terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

Kemarahan publik ini sebenarnya bukan datang dari satu insiden saja, melainkan akumulasi dari berbagai isu yang selama ini terpendam. Ucap-ucapan arogan anggota DPR, ditambah dengan aksi joget anggota dewan di tengah penderitaan ekonomi rakyat, bak bensin yang disiramkan ke kobaran api.

Kesenjangan yang begitu nyata antara gaya hidup mewah para pejabat dan realitas perjuangan hidup masyarakat membuat demonstrasi yang awalnya menuntut perbaikan upah kini berubah menjadi seruan reformasi yang lebih besar. Insiden tragis yang merenggut nyawa pengemudi ojek online menjadi pemicu yang membuat seluruh amarah itu meledak.

Pada Kamis, 28 Agustus 2025, aksi demonstrasi besar yang awalnya berlangsung damai di depan Gedung DPR/MPR Jakarta, berubah menjadi kerusuhan hingga menelan korban jiwa.

Demo dimulai sejak pagi dengan ribuan buruh yang menuntut penghapusan sistem outsourcing dan penolakan upah murah, namun situasi berbalik setelah giliran mahasiswa mengambil alih aksi pada siang hari.

Sejak pukul 09.00 WIB, ribuan buruh dari Jabodetabek dan Karawang memadati kawasan DPR. Mereka tergabung dalam gerakan Hostum dan menyuarakan enam tuntutan utama, mulai dari perbaikan upah hingga kesejahteraan pekerja. Aksi yang juga digelar serentak di sejumlah kota besar itu berjalan tertib, bahkan semula direncanakan menuju Istana Presiden, namun akhirnya dipusatkan di DPR.

Dalam orasi yang lantang, para pimpinan buruh menyoroti kesenjangan gaji antara pekerja dengan wakil rakyat. Mereka menegaskan perjuangan buruh untuk sekadar menaikkan upah beberapa ratus ribu sangat sulit, sementara anggota dewan bisa menaikkan tunjangan dengan mudah. Sorakan massa menguatkan ancaman mogok nasional bila tuntutan diabaikan. Hingga siang, aksi berjalan damai tanpa insiden berarti.

Sementara itu, aparat kepolisian sejak pagi telah melakukan langkah pencegahan agar pelajar tidak ikut turun ke jalan. Surat edaran juga dikeluarkan Sekretariat Jenderal DPR agar ASN dan tenaga ahli bekerja dari rumah demi mengantisipasi potensi gangguan. Namun selepas pukul 13.00 WIB, aksi menyampaikan aspirasi dengan damai berubah tegang.

Polisi menurunkan water cannon, sementara pengunjuk rasa merespons dengan lemparan batu, petasan, hingga bom molotov. Bentrokan pun pecah dan menyebabkan penutupan Jalan Gatot Subroto serta tol dalam kota.

Kericuhan semakin meluas hingga sore menjelang malam. Aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang bertahan di sejumlah kawasan penting di Jakarta.

Puncak tragedi terjadi sekitar pukul 7 malam, ketika sebuah kendaraan taktis Brimob melindas seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, di kawasan Bendungan Hilir. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong. Peristiwa ini memicu kemarahan massa yang menuntut pertanggungjawaban aparat.

Massa yang sebagian besar adalah pengemudi ojek online mendatangi markas Brimob Kwitang dan bentrokan kembali terjadi. Belasan kendaraan hangus dibakar.

Sementara Kapolri kemudian menyampaikan permintaan maaf terbuka dan berjanji menindak tegas oknum yang terlibat. Aksi 28 Agustus 2025 pun tercatat sebagai salah satu demo terbesar sekaligus paling tragis tahun ini.

Di waktu bersamaan terjadi juga unjuk rasa di beberapa kota lainnya, termasuk di Kota Bandung.

Ucapan Tolol Sahroni

Kemarahan warga ini dipicu oleh kekecewaan yang sudah menumpuk. Salah satunya adalah akibat dari ucapan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ahmad Sahroni, menjadi yang dinilai merendahkan rakyat. Paling menyulut amarah adalah pernyataannya yang menyebut masyarakat yang menyerukan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”. Ucapan tersebut disampaikan ketika ia menanggapi gelombang kritik terhadap institusinya.

Kemarahan publik semakin meluas setelah potongan video ucapannya viral di media sosial. Banyak yang menilai Sahroni bukan hanya gagal menjaga etika, tetapi juga memperlihatkan sikap arogan terhadap suara rakyat. Kritik keras pun muncul, baik dari masyarakat sipil maupun kelompok mahasiswa yang merasa tersinggung dan semakin kehilangan kepercayaan pada DPR. Situasi ini ikut memperburuk tensi politik di tengah gelombang demonstrasi yang sudah merebak di berbagai kota.

Aksi Joget-joget

Kemarahan publik terhadap DPR tidak hanya dipicu oleh ucapan Ahmad Sahroni yang menyebut rakyat sebagai orang tolol, tetapi juga oleh aksi joget sejumlah anggota dewan dalam sidang tahunan MPR. Dalam acara resmi negara yang digelar pada 15 Agustus 2025, beberapa legislator, termasuk figur publik yang kini menjadi anggota DPR, tampil berjoget mengikuti alunan lagu daerah. Momen itu sontak viral dan menuai kecaman keras dari masyarakat luas.

Banyak pihak menilai aksi tersebut sangat tidak peka terhadap situasi. Di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit, rakyat harus berjuang memenuhi kebutuhan pokok, sementara para wakilnya justru menunjukkan euforia yang dianggap berlebihan.

Kritik makin deras setelah informasi mengenai pendapatan anggota DPR periode 2024–2029 tersebar luas. Dengan gaji pokok dan berbagai tunjangan, termasuk tunjangan perumahan hingga Rp50 juta, anggota DPR disebut bisa membawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp100 juta per bulan

Akumulasi antara ucapan merendahkan rakyat, aksi joget yang dianggap tidak pantas, serta kenyataan mengenai besarnya pendapatan anggota DPR semakin mempertebal jarak antara wakil rakyat dengan konstituennya. Kritik publik pun membanjir di media sosial hinga terwujud menjadi aksi di jalanan.

Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada Jumat, 29 Juli 2025. Tampak kobaran api dari mess MPR. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Suasana di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada Jumat, 29 Juli 2025. Tampak kobaran api dari mess MPR. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Aksi Pembakaran

Gelombang demonstrasi yang dipicu kematian seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, akibat tertabrak kendaraan taktis polisi di Jakarta, berubah menjadi amarah yang tak terbendung di berbagai daerah. Publik yang sudah gerah oleh besarnya tunjangan anggota legislatif turut menuai gejolak yang lebih luas: mulai dari kemarahan terhadap ketidakadilan ekonomi hingga kritik keras terhadap penegakan hukum. Demonstrasi ini menjadi titik ledak pengungkapan ketidakpuasan yang telah lama membuncah.

Aksi yang diikuti oleh mahasiswa, pengemudi ojol, dan warga sipil ini menyasar sejumlah titik seperti Markas Komando Brimob Kwitang, Mapolda Metro Jaya, DPR/MPR, serta halte-halte transportasi umum.

Massa melempari petugas dan melanjutkan dengan pembakaran fasilitas umum, termasuk halte Transjakarta dan pos polisi. Bahkan, mobil yang berada di sekitar lokasi juga dirusak dan dibakar massal.

Tidak sedikit fasilitas transportasi yang menjadi sasaran kerusuhan. Halte Transjakarta, termasuk yang berada di kawasan Senen, dan beberapa halte MRT rusak parah akibat dibakar massa. Selain itu, halte bus dan sejumlah bangunan publik di sekitar Senen dan Istora Mandiri juga hancur. Transportasi publik seperti Transjakarta dan MRT bahkan sempat terhenti operasionalnya.

Di tengah eskalasi aksi, massa juga membakar pos polisi dan pagar pembatas di Polda Metro Jaya serta Mako Brimob Kwitang. Tentara Marinir dan pasukan Kostrad pun dikerahkan sebagai upaya penahan yang strategis.

Sisa rangka mobil dan motor serta bangunan mess MPR di Kota Bandung habis dibakar massa unjukrasa pada Jumat 29 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sisa rangka mobil dan motor serta bangunan mess MPR di Kota Bandung habis dibakar massa unjukrasa pada Jumat 29 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sementara di Makassar, Sulawesi Selatan, massa demonstran menyerbu dan membakar kantor DPRD. Kebakaran ini merenggut tiga nyawa—termasuk staf dewan dan pegawai sipil—sementara beberapa lainnya terluka akibat terjun menyelamatkan diri. Beberapa korban dilaporkan tergulung oleh kobaran dan jebakan kebakaran tersebut.

Pembakaran tidak hanya terjadi di Makassar, tetapi juga terjadi di gedung DPRD di Cirebon, di mana massa merusak dan menjarah fasilitas: meja, komputer, televisi, hingga pagar besi diambil dan dibawa. Sementara di Bandung, aksi demonstrasi pecah menjadi kerusuhan dengan membakar bangunan milik MPR dan bahkan rumah milik instansi negara.

Rumah Anggota DPR Dijarah

Tak puas dengan simbol institusi, massa bergerak menuju rumah para anggota DPR yang namanya beredar luas di media sosial. Dalam dua hari berturut-turut, kediaman Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Eko Patrio di Jakarta Selatan, Uya Kuya, hingga Nafa Urbach di Tangerang Selatan menjadi sasaran amuk massa.

Sabtu (30/8/2025) siang, rumah Ahmad Sahroni di Jalan Swasembada Timur XXII, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, didatangi ratusan orang. Awalnya mereka berorasi meminta Sahroni keluar rumah. Namun setelah tahu politisi NasDem itu tidak ada di tempat, kerumunan merangsek masuk. Koleksi mobil mewahnya tidak terselamatkan. Massa juga membawa keluar berbagai barang dari dalam rumah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga tampak puas. Beberapa bahkan berseloroh bahwa jumlah mobil Sahroni terlalu sedikit untuk dihancurkan. Tidak terlihat aparat kepolisian di lokasi saat kejadian. Tetangga yang sempat berusaha menutup portal jalan akhirnya pasrah ketika massa semakin banyak berdatangan.

Namun amarah massa tidak berhenti di Tanjung Priok. Malam harinya, rumah Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, disatroni ratusan orang. Rekaman video menunjukkan perabotan, pakaian, barang elektronik, hingga tas bermerek keluar dari rumah mewah Wakil Ketua Komisi VI DPR itu.

Kondisi rumah Eko porak-poranda, penuh serpihan kaca dari jendela dan pintu yang dipecahkan. Warga dari berbagai kalangan terlihat hilir-mudik membawa barang.

Tak lama kemudian, giliran rumah selebritas sekaligus anggota DPR RI Uya Kuya yang digeruduk. Massa mendobrak pagar, merusak isi rumah, hingga mengacak-acak ruang keluarga.

Kemudian pada Minggu, 31 Agustus 2025, giliran rumah artis dan politikus Nafa Urbach di Kebayoran Residence, Pondok Aren, Tangerang Selatan, ikut dijarah.

Rangkaian penjarahan ini memperlihatkan bagaimana amarah publik yang awalnya dipicu pernyataan kontroversial seorang politisi melebar menjadi aksi liar.

Sikap Prabowo Subianto

Demonstrasi ini membawa dampak nasional yang berat. Presiden Prabowo Subianto bahlkan harus menunda kunjungannya ke China demi memantau situasi dalam negeri. Ia menegaskan akan menindak tegas pelaku kekerasan, sementara polisi melakukan ratusan penangkapan.

Selain jalur keamanan, Prabowo juga memilih pendekatan dialog dengan kekuatan masyarakat sipil. Pada Sabtu, 30 Agustus 2025, ia mengundang 16 organisasi masyarakat Islam ke kediamannya di Hambalang, Jawa Barat.

Tidak berhenti di situ, Presiden Prabowo juga menjadwalkan agenda politik penting di Istana Kepresidenan pada Minggu, 31 Agustus 2025. Ia memanggil sejumlah ketua umum partai politik dan menteri kabinet.

Perkembangan terakhir untuk meredam situasi agar terkendali, aktivitas masyarakat akan dibatasi hingga waktu yang belum ditentukan. Salah satunya kegiatan perkuliahan dan sekolah untuk sementara dilakukan secara jarak jauh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 28 Jul 2026, 08:08

Memahami Kontradiksi Wilayah Kerajaan Melayu dalam Konteks Ekspedisi Pamalayu (1275-1286 M)

Pada masa ekspansi bangsa Mongol, Raja Kertanegara melakukan perluasan wilayah menuju Sumatera.

Prasasti Amoghapasa yang diberikan oleh Kertanegara kepada Kerajaan Pamalayu. (Sumber: Museum Nasional Indonesia)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 21:00

Selat Solo, Steak Jawa yang Lahir dari Pertemuan Dua Tradisi Kuliner

Selat Solo merupakan perpaduan steak, salad, dan sup dengan kuah manis khas Jawa. Pelajari sejarah, keunikan, dan filosofi kuliner legendaris ini.

Selat Solo. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 20:40

Memahami Strategi Komunikasi dalam Membangun Citra Merek Melaui Figur Publik di Era Digital

Analisis ini membahas pemanfaatan figur publik dan komunikasi lintas platform dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media online sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital.

Rose BlackPink sebagai figur publik dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media sosial sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital. (Sumber: PUMA)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 18:31

Dulu Debu Pasir Kini Kapur

Memori saat Bandung Raya diserbu debu Gunung Galunggung tasikmalaya tahun 1980-an, kini daerah Cipatat diserang debu tambang kapur

Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 17:05

KDM Perlu Langkah Cepat Atasi Bencana Kekeringan di Jawa Barat

Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya

Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 16:37

Romantisme Mendengarkan Sandiwara Radio Saur Sepuh di Radio Bandung Era 1990-an

Popularitas Saur Sepuh kemudian melahirkan berbagai adaptasi ke layar lebar dan layar kaca, sehingga kisah legendaris tersebut dapat dinikmati generasi berikutnya.

Sandiwara Radio Saur Sepuh, salah satu program radio paling legendaris pada era 1990-an. (Sumber: Tabloid Monitor, edisi 4 Juni 1987)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:52

Merentas Kesenjangan Mutu Pendidikan

Keberadaan SNT, setidaknya bisa menjadi solusi sekaligus penyegaran bagi sekolah-sekolah yang sudah ada.

Pelajar sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: KyoRa Kee)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:13

Konstruksi Sosial dalam Pernikahan: Antara Kebutuhan dan Keinginan

Pernikahan muda sebagai solusi yang justru banyak mengakibatkan perceraian, kekerasan, dan penderitaan.

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 13:57

Dari Viral Menjadi Pembelajaran: Memahami Fungsi Pelican Crossing

Di balik kasus viral pelican crossing di Bundaran HI Jakarta, tersimpan pelajaran penting tentang hak pejalan kaki, keselamatan jalan, dan tanggung jawab pengendara dalam ruang publik.

Tangkapan layar video satpam menegur pengemudi mobil Toyota Alphard yang diduga menerobos pelican crossing di kawasan Halte Transjakarta Bundaran HI, (23/7/2026). (Sumber: Instagram/@infojktku)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)