Kisah Siti Fatimah: Intel Cilik yang Menjadi Saksi Agresi Militer Belanda

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Siti Fatimah (95) veteran yang dulu bertugas menjadi mata-mata saat usianya masih 15 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Siti Fatimah (95) veteran yang dulu bertugas menjadi mata-mata saat usianya masih 15 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID — Wajah ketakutan orang-orang pribumi di Ciwaru, Kabupaten Kuningan pada 1947 masih tergambar jelas di ingatan Siti Fatimah yang saat ini berusia 95 tahun. Kala itu Indonesia telah merdeka. Tapi Belanda melakukan agresi militer, membuat aktifitas warga terbatas.

Tentara Belanda berjaga di sejumlah titik di Jawa Barat, termasuk di Kuningan. Mereka melakukan penyekatan di perbatasan antara pedesaan dengan perkotaan. Sebab saat itu pejuang Indonesia tengah melakukan perang gerilya. 

Siti Fatimah adalah salah satunya, pejuang wanita asal Ciwaru, Kuningan, yang lahir pada 20 Maret 1932. Ia tergabung ke dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Usianya baru 15 tahun. Namun tugasnya berat: menjadi seorang mata-mata. Salah sedikit, nyawanya melayang, para pejuang gagal melakukan penyerangan.

"Ibu waktu itu masih SMP kelas dua. Setelah proklamasi, Belanda merongrong ingin kembali menjajah, tapi mungkin bangsa kitanya sudah melek jadi ibu ikut gabung ke tentara pelajar (TRIP)," kata Fatimah di kediamannya di Jalan Waluh, Malabar, Kota Bandung, Jumat, 15 Agustus 2025.

Tubuhnya kini sudah kian membungkuk, kulitnya keriput, pendengaran pun mulai memburuk. Akan tetapi, semangatnya masih berkobar. Ketika Fatimah bercerita, waktu seakan kembali ke masa lalu.

Tugasnya sebagai intel cilik dijalankan tanpa bekal latihan khusus, hanya bermodal nekat. Keinginannya sederhana: melihat suasana kota dan mencicipi makanan enak. Namun, justru itulah yang menjadi pemantik keberaniannya. Di balik itu, ia menyadari dirinya adalah pejuang termuda. Ia paham, hanya dirinya yang berpeluang lolos dari pemeriksaan tentara Belanda.

Sebagai mata-mata, Fatimah bertugas untuk mengantar sebuah surat dari Komandan Pasukan di perkampungan Ciwaru bernama Kapten Mustofa. Dengan kaos dan rok lusuh, ia memulai perjalanannya. Dari Ciwaru ke Luragung—perbatasan dengan pusat kota—membutuhkan waktu lebih dari tiga jam dengan berjalan kaki, melewati hutan belantara dan perkebunan.

Dalam perjalanannya, ia kerap memantau situasi, seperti mencari tahu berapa jumlah tentara Belanda yang berjaga atau berpatroli. Informasi seperti ini membantu pejuang gerilya yang berperang pada malam hari, secara diam-diam dan terorganisir.

Fatimah tidak pergi sendiri. Seringkali ia pergi bersama penjual hasil bumi. Untuk pergi ke pusat kota, mereka mesti menaiki angkutan umum. Namun angkutan baru nampak di Luragung. Di satu sisi, tentara Belanda berjaga di sana, mencekal siapa saja yang berasal dari desa tanpa tujuan penting ke pusat kota. 

Fatimah bisa lolos dari pemeriksaan karena dianggap bukan ancaman oleh tentara Belanda. Alasannya karena ia seorang perempuan dibawah umur. Meski tak jarang pasukan Belanda mencurigai Fatimah, ia kerap ditolong oleh para pedagang.

"Kadang pedagang bilang kalo saya itu anak mereka. Jadi akhirnya saya lolos bisa masuk ke pusat kota," ungkapnya sambil tersenyum.

Ibu dari 10 anak itu bilang, surat yang diberikan kepadanya untuk diantar ke pusat kota ia simpan di alas kaki. Tujuannya jelas, yakni mengelabui pandangan tentara Belanda. Cara ini membuat surat berhasil tersampaikan kepada pejuang di pusat kota di kawasan Kuningan. Kembali lah dia ke kampung halamannya.

Ketika ditanya tentang isi surat itu, Fatimah mengaku tidak pernah tahu. Ia hanya menerima amanat untuk mengantarkannya kepada orang-orang republik—sebutan bagi kaum pribumi kala itu. Baginya, yang terpenting adalah para pejuang Indonesia bisa terus bergerilya dengan leluasa, tanpa terhambat oleh keterbatasan komunikasi.

Senyum sumringah Fatimah seketika hilang saat ia menceritakan dua sahabatnya yang gugur dalam bertugas. Mereka adalah Jumat dan Hudaya. Keduanya tewas dibredel senjata otomatis oleh tentara Belanda. 

"Mereka ketahuan sebagai pejuang republik oleh Belanda. Sempat kabur tapi mereka nggak selamat," ungkapnya lirih, diiringi setetes bening keluar dari mata kanannya.

Fatimah menjadi mata-mata tentara gerilya selama setahun lebih. Keberaniannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI membuatnya mendapatkan penghargaan Bintang Gerilya.

Bertemu Pujaan Hati

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga membawanya pada percintaan. Seorang lelaki gagah, tinggi, dan berani bernama Muhammad Tomi membuatnya jatuh cinta. Ia kagum dan terkesima kepada Tomi secara diam-diam, layaknya seorang mata-mata yang bersaksi tanpa disadari orang-orang.

Kisah percintaan mereka tak lepas dari momen-momen bersejarah. Pada 1946, pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan secara diam-diam dari Jakarta ke Yogyakarta. Ini karena tentara sekutu datang ke Jakarta, membuat kondisi keamanan tidak menguntungkan. Presiden ke-1 RI, Soekarno kemudian menggelar rapat terbatas pada 1 Januari 1946. Sehari setelahnya, Sultan Hamengkubuwono IX menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota RI sementara.

Soekarno dan Hatta serta para pemimpin lainnya lalu berangkat ke Yogyakarta menggunakan kereta api secara diam-diam. Di sana, Soekarno berpidato melalui radio RRI bahwa pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta. Sejak saat itu, Yogyakarta menjadi Ibu Kota sementara.

Muhammad Tomi adalah salah satu pejuang yang berangkat ke sana. Sementara Fatimah memilih untuk berjaga di kampung halamannya. 

Belanda melakukan agresi militer II pada Desember 1948. Ini membuat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, dan mereka menyebarkan klaim bahwa Indonesia telah bubar. Indonesia yang tak rela kemerdekaannya yang dicapai susah payah kembali direbut.

Penyerangan Indonesia di Yogyakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Serangan dilancarkan secara mendadak dan berhasil menduduki Yogyakarta selama 6 jam. Upaya ini untuk memberitahu dunia bahwa Indonesia masih ada. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret.

Setelah selesai bertugas di Yogyakarta, Tomi ditugaskan kembali ke daerah Kuningan. Tomi dan Fatimah akhirnya bertemu. Fatimah mengaku pertemuan awal dengan Tomi sangat sederhana.

"Biasa saja, karena kami sama-sama pejuang. Waktu itu kami sering bertemu di daerah markas, di perkampungan yang jauh dari kota," tuturnya. 

Sebagai mata-mata, Fatimah bertugas untuk mengantar surat dari komandannya sambil memantau keberadaan tentara Belanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sebagai mata-mata, Fatimah bertugas untuk mengantar surat dari komandannya sambil memantau keberadaan tentara Belanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Namun dari perjumpaan demi perjumpaan, kedekatan itu tumbuh hingga akhirnya mereka menikah pada 1951, saat Fatimah berusia 19 tahun dan Tomi 23 tahun. Tomi dikenal sebagai sosok pejuang yang tegas, sementara Fatimah sebagai mata-mata perempuan yang berani. 

Keduanya kemudian mengisi hari-hari setelah perang dengan kehidupan sederhana. Mereka lalu tinggal di Kota Bandung, tepatnya di Jalan Rakatan Nomor 79 RT 1/1, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.

Pernikahan itu dikaruniai 10 orang anak. Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Tomi dan putra bungsunya lebih dahulu berpulang, meninggal dalam sebuah kecelakaan sepulang dinas ABRI di daerah Cileunyi pada 1973. Duka itu begitu dalam bagi Fatimah. Meski hatinya hancur, ia sadar masih ada sembilan anak yang harus ia besarkan dengan kasih dan keteguhan seorang ibu.

"Saya jadi calo pembebasan lahan tol Bandung-Jakarta buat dapat penghasilan. Kadang juga berjualan," ujarnya.

Kini anak-anaknya telah tumbuh dewasa. Lima diantaranya berhasil meraih gelar sarjana. Ada juga yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Perjuangannya membesarkan anak seorang diri berhasil meski tak mudah. Sekarang dia tinggal bersama anaknya di Jalan Waluh No.19.

Ratusan Veteran di Kota Bandung Belum Terdata

Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandung mencatat masih banyak veteran yang belum mendaftarkan diri. Padahal, data jumlah veteran menjadi penting untuk memastikan mereka mendapat perhatian dari pemerintah.

"Di kota yang terdaftar, sebetulnya banyak veteran di Kota Bandung. Cuman mereka tidak mendaftarkan ke LVRI Kota Bandung. Tahun ini kita sedang menjalankan sensus pendataan untuk veteran yang ada di Kota Bandung. Cuman kan, belum selesai semua,” kata Staf Administrasi Veteran LVRI Kota Bandung, Putut Susanto, saat dihubungi, Jumat, 15 Agustus 2025.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 410 veteran yang terdaftar. Namun, jumlah tersebut belum diperbarui karena sebagian di antaranya sudah meninggal. Dari jumlah itu, hanya tersisa sekitar empat orang veteran yang terlibat langsung dalam peristiwa besar, seperti Bandung Lautan Api.

"Yang lainnya itu kebanyakan veteran Trikora. Terus, sekarang yang baru-baru ini PBB. Sedangkan ibu Fatimah itu masuknya PKRI (Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia)," ujar Putut.

Berkas-berkas dokumen Fatimah sebagai anggota pejuang kemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Berkas-berkas dokumen Fatimah sebagai anggota pejuang kemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Ia menambahkan, pemerintah memberikan tunjangan bagi para veteran. Namun, tidak semua golongan mendapatkannya secara penuh, terutama mereka yang tergabung dalam pasukan PBB. 

"Ada Tunjangan veteran, tapi belum semua kalau yang PBB itu mendapatkan. Masih diurus. Jadi belum masuk. Intinya, negara tidak melupakan jasa-jasa mereka," ungkapnya.

Pesan untuk Indonesia dan Generasi Penerus

Delapan puluh tahun sudah Indonesia menikmati kemerdekaan. Namun, bagi Fatimah, perjuangan bangsa belum usai. Ia menilai masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, terutama oleh pemerintah dan generasi muda.

"Mudah-mudahan generasi muda bisa mengisinya dengan baik," ujarnya.

Fatimah menekankan, perjuangan hari ini justru lebih berat. Jika dahulu para pejuang bertaruh nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka kini generasi penerus dituntut mengisinya dengan karya nyata. 

"Karena untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, kita harus menjadi pemimpin yang baik. Dalam bidang apa pun, semua harus dijalankan dengan sungguh-sungguh," bebernya.

Ia menambahkan, cerita perjuangan masa lalu tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Namun, bagi generasi penerus bangsa, tugas utamanya bukan sekadar mengingat, melainkan melanjutkan perjuangan dengan kerja keras, ilmu, dan rasa tanggung jawab.

"Sesungguhnya, mengisi kemerdekaan lebih berat. Semoga dengan ilmu yang didapat, bisa dimanfaatkan untuk negeri ini. Supaya Indonesia betul-betul bisa merasakan arti kemerdekaan seutuhnya," tuturnya.

Fatimah menjalani hidup yang tak pernah jauh dari kata perjuangan. Di masa mudanya, ia bertaruh nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. Setelah menikah, perjuangannya berlanjut dalam membesarkan anak-anak seorang diri. Kini, di usia senja, ia menitipkan salam perpisahan yang sarat makna, sebuah pesan yang membakar semangat generasi muda untuk terus melanjutkan perjuangan.

"Selamat berjuang, selamat bertugas," katanya sambil mengepalkan tangan kanan ke atas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 18:02

Risiko Kenaikan Suhu Ekstrem di Bandung

Bandung yang sejak dulu dikenal berhawa sejuk, kini harus mawas diri terhadap perubahan suhu ekstrem. Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan.

Seorang anak berjalan di sawah yang mengalami kekeringan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:37

Tyson, Bullying, Bandung

Kenangan terhadap Mike Tyson petinju sohor dan fenomenal meraih empat sabuk juara dunia WBC, WBO, WBA dan IBF

Mike Tyson. (Sumber: Flickr | Foto: Eduardo Merille)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:06

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. Kondisi ini mendorong kebangkitan tren fitness sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan investasi jangka panjang.

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Wisata & Kuliner 14 Jul 2026, 16:54

Kelezatan Coto Makassar, Empat Puluh Rempah dari Kerajaan Gowa untuk Semua Orang

Kenali sejarah Coto Makassar dari era Kerajaan Gowa, filosofi 40 rempah, kuah air tajin, hingga rekomendasi warung legendaris yang wajib dicoba.

Coto Makassar.
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)