Kemerdekaan Pangan dan Idealisme Pembangunan yang Berkelanjutan

5 menit baca
Willfridus Demetrius Siga
Ditulis oleh Willfridus Demetrius Siga diterbitkan
Upacara Kampung Adat Cireundeu. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Upacara Kampung Adat Cireundeu. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ditulis oleh Benedict Erick Mutis, Putu Jovita Nareswary, dan Willfridus Demetrius S. 

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan begitu banyak pulau dan keberagaman budaya. Salah satunya adalah Kampung Adat Cireunde yang terletak di kecamatan Cimahi Selatan, Leuwigajah, Jawa Barat.

Kampung Adat Cirendeu masih mempertahankan budaya dan warisan leluhur di tengah dinamika peradaban yang selalu mengedepankan semangat eksploitasi dan konsumtif.

Masyarakat Adat Cireundeu memiliki ikatan batin yang kuat dengan alam yang diwariskan oleh leluhur dan senantiasa dilestarikan dan dihidupi. Hal ini nampak dari cara mereka menjaga alam, merawat, dan mengelola pangan secara bijaksana.

Arti ‘Cirendeu’, menurut para sepuh berasal dari dua kata ‘ci’ (air) dan “rendeu” (pohon ‘rendeu’, ‘sarendeu’: kebersamaan, kekompakan). Konon, Kampung Adat Cireundeu sudah eksis sejak abad 16M. Kampung tersebut secara periodik telah mengalami perubahan sosial, salah satunya akibat gelaran kolonialisme-imperialisme Belanda. Pada 1918, para sepuh menggagas ide yang dinamakan: ‘nendeun kersanyai’, bermakna menyimpan padi dengan alasan mulia untuk kemerdekaan lahir-batin, luar-dalam masyarakat Kampung Adat Cireundeu.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, bahwa praktik kolonialisme Belanda melakukan perampasan kekayaan alam sekaligus mendukung niat Gubernur Jenderal Daendels yang merencanakan pemindahan Ibu Kota Batavia ke Kota Bandung. Dengan demikian, butuh pasokan logistik cukup besar untuk mewujudkan rencana tersebut.

Kampung Adat Cireundeu menjadi salah satu pemasok bahan pangan kepada pemerintah kolonial saat itu. Para sepuh menggunakan tanda-tanda alam, berupa padi-padian sebagai simbol kemerdekaan lahir batin. Salah satu pendahulu Kampung Adat Cireundeu, bernama Abu Sepuh mendapatkan piagam penghargaan sebagai ‘pahlawan pangan’.

Menjaga api semangat Abu Sepuh dan sesepuh lain masyarakat Kampung Adat Cireundeu bertekad merawat sistem ketradisian hingga saat ini. Menggarisbawahi ketahanan pangan yang berkelindan dalam tradisi dan kebudayaan dapat kita telusuri dalam visi ‘kemerdekaan pangan’ menjadi salah satu pilar pembangunan yang berkelanjutan - Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs merupakan kompendium aspirasi global untuk mengeliminasi kemiskinan, menghapus kelaparan, memastikan kehidupan yang sehat dan sejahtera, menyediakan pendidikan berkualitas, mencapai kesetaraan gender, menyediakan air bersih dan sanitasi yang layak, menawarkan energi bersih dan terjangkau, menciptakan pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, mendorong industri, inovasi, dan infrastruktur, mengurangi kesenjangan, membangun kota dan pemukiman yang berkelanjutan, menerapkan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, menangani perubahan iklim, melestarikan ekosistem laut dan darat, serta mempromosikan perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta membangun kemitraan untuk mencapai tujuan global. Tujuh belas pilar SDGs, merangkum inti permasalahan dunia masa kini, langkah mitigasi serta solusinya hingga tahun 2030.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk merangkul berbagai elemen sosial, seperti komunitas adat, pemerintah, dan berbagai lapisan masyarakat. Kolaborasi, memegang peranan penting di sini. Seluruh stakeholder, saling kait-mengait mewujudkan kesejahteraan umum, menutup kesenjangan, pemerataan manfaat sosio-ekonomis, dan memberi penekanan pada pembangunan berkelanjutan. Masyarakat adat, turut dilibatkan dalam proses pencapaian SDGs. Pengetahuan lokal (local genius), agrikultur, dan konsistensi menjaga warisan leluhur menguatkan komunitas adat untuk tetap adaptif - kontekstual dengan peradaban masa kini.

SDGs merupakan ‘cetak biru’ (blueprint) sinergi atas keragaman masyarakatnya, mulai dari etnis, ras, dan bahasanya. Pilar SDGs yang relevan dengan semangat ketahanan pangan Kampung Adat Cireundeu adalah ‘Tanpa Kelaparan’ (Zero Hunger). Pilar tersebut, berkorelasi dengan laku sosio-kultural masyarakat Kampung Adat Cireundeu. Merencanakan, membangun, dan merawat pola ketahanan pangan mandiri berimplikasi pada lepasnya ketergantungan pada pola konsumsi beras. Mereka mengembangkan sumber pangan lokal berbasis singkong atau yang dikenal dengan rasi (beras singkong) yang memiliki lebih banyak kandungan serat dan rendah glukosa.

Upacara Tutup Tahun Kampung Cireundeu, Merawat Tradisi dan Syukur Kepada Ibu Bumi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Upacara Tutup Tahun Kampung Cireundeu, Merawat Tradisi dan Syukur Kepada Ibu Bumi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Inisiasi yang dihidupi oleh Masyarakat Adat Cirendeu tak hanya menjaga keberlanjutan pangan lokal, melainkan menjadi strategi budaya untuk menekan risiko kelaparan akibat krisis ketersediaan beras nasional. Prinsip "jika sudah lepas dari beras, berarti sudah dekat dengan kemerdekaan," Masyarakat Adat Cireundeu selalu mengakarkan kemandirian pangan dan kecukupan gizi bagi semua individu tanpa terkecuali. Strategi ini mencerminkan poin dua SDGs, yakni memastikan aksesibilitas kecukupan, kebergizian, dan keberlanjutan pangan masyarakat luas.

Strategi yang dipraktikan oleh Masyarakat Adat Cireundeu berbarengan dengan pengetahuan dan pemeliharaan ekosistem hijau, rantai pasok pangann nasional, dan pertimbangan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ideologi ‘ketahanan pangan’ dapat dicapai tanpa merusak biodiversitas alam setempat. Bukan sebaliknya, monokulturisasi alam dengan dalil meraih ‘kemerdekaan pangan’, justru menampilkan manusia sebagai ‘serigala’ atas alam. Falsafah Sunda Wiwitan tentang alam: “Indung Nu Teu Ngandung” (alam sebagai ibu yang tak mengandung), berarti alam secara cuma-cuma melahirkan, merawat, menimang kehidupan manusia.

Kang Tri, salah satu warga Kampung Adat Cireundeu menuturkan bahwa secara saintifik, singkong cocok bagi para penderita diabetes dan bagi mereka yang menjalankan program diet. Skema ekologis yang berakar pada kemandirian pangan, berdampak pula pada variasi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat umum.

Di lain pihak, ruang kolektivitas dalam kegiatan panen, penyimpanan, dan pengolahan makanan memberi makna tersendiri. Kebudayaan lokal menyatu dengan aktivitas agrarianya melalui semangat gotong royong, urun rembuk, welas asih, dan rasa syukur atas tanah pemberi kehidupan.

Kampung Adat Cireundeu memberikan contoh konkret, bagaimana komunitas adat mampu memajukan keberlanjutan pangan yang senada, selaras dengan alam. Kepastian distribusi dan aksesibilitas terkait ketercukupan, kebergizian, dan keberlanjutan pangan perlu diperkuat dengan regulasi yang berpihak pada kebaikan bersama (bonum commune).

Sistem pangan berkelanjutan perlu dipertimbangkan secara serius dalam konteks pertumbuhan dan populasi yang cepat, urbanisasi, pola konsumsi yang terus berubah, globalisasi, perubahan iklim dan penipisan sumber daya alam. Perkembangan dalam sistem pangan telah menghasilkan banyak hal positif.

Perspektif sosial budaya menganggap sistem pangan dapat dikatakan berkelanjutan apabila ada keadilan distribusi yang berakar pada tradisi kelompok adat tertentu dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Poin kuncinya adalah praktik baik sistem pangan berkelanjutan perlu dan terus berkontribusi pada kemajuan dan keutuhan sosio-kultural seperti nutrisi, kesehatan masyarakat, tradisi, etos kerja, dan kesejahteraan.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Masyarakat Adat Cirendeu telah membuktikan bahwa setiap individu memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan mulai dari pengolahan lahan sampai pascakonsumsi. Beras singkong yang menjadi bahan makanan pokok dijaga keberlanjutannya melalui harmoni, sinergi, dan perilaku baik yang diwariskan turun temurun.

Bersinergi dengan alam! Kata para sepuh, lamun urang nyaah ka alam, alam ge bakal nyaah. Lamun leuweung maneh ruksak, maranehna (orang yang punya bisnis) rugi moal? Kan moal, maranehna mah da nyokot kauntungan hungkul. Lamun halodo cai béak, lamun hujan pasti banjir. (*)

Ditulis oleh Benedict Erick Mutis, Putu Jovita Nareswary, dan Willfridus Demetrius S., merupakan dosen dan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)