Ujungberung dan Gedebage Langganan Banjir, Seberapa Berdampak Kolam Retensi?

5 menit baca
Bob Yanuar Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Bob Yanuar , Hengky Sulaksono diterbitkan
Kolam Retensi Rancabolang di kawasan Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Kolam Retensi Rancabolang di kawasan Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

AYOBANDUNG.ID - Pemerintah Kota Bandung terus menambah jumlah kolam retensi untuk menanggulangi persoalan banjir yang kerap melanda kawasan timur kota, terutama di Gedebage dan Ujungberung. Namun, efektivitasnya masih menyisakan tanda tanya.

Di atas kertas, pembangunan kolam-kolam tersebut bertujuan untuk menampung limpasan air dari kawasan hulu dan mengurangi genangan yang mengancam pemukiman. Tapi di lapangan, banjir tetap datang, bahkan setelah kolam retensi baru diresmikan.

Kolam Retensi Ciporeat di Kecamatan Ujungberung menjadi kolam ke-15 yang dibangun Pemkot Bandung. Wali Kota Muhammad Farhan meresmikannya pada 27 Mei 2025. Dalam pernyataannya, Farhan menyebut pembangunan ini sebagai bagian dari kesadaran kolektif dalam menjaga ekosistem dan membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi.

"Keberadaan kolam retensi Ciporeat ini menjadi salah satu upaya kita semua untuk memperkuat resiliensi warga Bandung terhadap ancaman banjir. Kita bukan sedang membangun sesuatu yang besar-besaran, tetapi membangun ketangguhan warga secara kolektif,” ucapnya.

Farhan juga menekankan bahwa kolam retensi bukan sekadar infrastruktur air, melainkan ruang edukasi, konservasi, dan ekonomi lokal. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa banjir masih menjadi persoalan utama, terutama di wilayah Gedebage.

Selama dua tahun terakhir, sejumlah kolam retensi telah dibangun di kawasan timur Kota Bandung. Kolam Retensi Pasar Gedebage diresmikan pada 5 Februari 2025 dengan kapasitas tampung 7.515 meter kubik di lahan seluas 1.749 meter persegi. Sebelumnya, Kolam Retensi Rancabolang dioperasikan sejak 2022 di atas lahan 8.000 meter persegi, dilengkapi rumah pompa berkapasitas 150 liter air per detik.

Banjir Belum Teratasi

Walau pembangunan solusi sementara terus dilakukan, banjir tak berhenti mampir. Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung pada 6 Maret 2025 memicu banjir di sejumlah titik di kawasan timur kota. Genangan air dilaporkan terjadi di wilayah Rancanumpang, kompleks Summarecon, hingga Perumahan Bandung Indah Raya dan Riung Bandung.

Berdasarkan informasi dari warga dan laporan dinas terkait, banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Rancanumpang yang tak mampu menampung debit air hujan dalam waktu singkat. Luapan air tersebut kemudian meluber ke jalan dan permukiman, mengganggu aktivitas warga serta menggenangi fasilitas umum.

Sebulan berselang, peristiwa serupa kembali terjadi. Pada 5 April 2025, hujan dengan intensitas tinggi melanda Kota Bandung dan kembali menyebabkan genangan di sejumlah kawasan, khususnya di Ujungberung dan Gedebage. Air menggenangi ruas-ruas jalan dan permukiman di beberapa titik, menandakan bahwa persoalan banjir masih belum terselesaikan sepenuhnya, meskipun sejumlah kolam retensi telah dibangun dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa infrastruktur pengendalian banjir yang ada belum mampu mengimbangi perubahan pola cuaca dan tekanan aliran dari kawasan hulu. Muncul pertanyaan besar: sejauh mana efektivitas kolam retensi dalam menahan luapan air?

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengakui bahwa daya tampung kolam-kolam retensi saat ini masih belum memenuhi kebutuhan riil. Bahkan setelah kehadiran kolam di Pasar Gedebage, genangan masih terjadi.

Berdasarkan perhitungan teknis, wilayah Gedebage sebenarnya masih menyisakan potensi genangan air hingga 16.000 meter kubik setelah Kolam retensi Pasar Gedebage diresmikan. Potensi genangan akan berkurang dengan hadirnya kolam Ciporeat, namun bukan berarti tak ada ancaman banjir terutama ketika hujan turun deras dan aliran air dari kawasan hulu mengalir ke wilayah ini.

Dalam situasi ini, meskipun pembangunan kolam retensi dianggap sebagai langkah mitigasi, kenyataannya kolam yang ada belum cukup besar atau belum cukup banyak untuk benar-benar menyelesaikan masalah banjir.

Didi menyebut pihaknya masih menanti langkah dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengaktifkan kembali aliran kali mati di kawasan Cisaranten, Arcamanik. Upaya ini diperkirakan akan membawa dampak signifikan terhadap penurunan volume genangan air di wilayah Gedebage.

Jika rencana tersebut terealisasi, kata Didi, potensi limpasan air yang tak tertampung bisa ditekan hingga 8.000 meter kubik. “Harapannya, genangan akan semakin berkurang,” katanya saat peresmian Kolam Retensi gedebage.

Secara total, kapasitas belasan kolam retensi di Bandung baru mencapai lebih dari 70.000 meter kubik. Padahal, kebutuhan ideal untuk mengatasi banjir mencapai lebih dari 273.000 meter kubik. Ketimpangan inilah yang membuat kolam-kolam yang sudah dibangun seolah belum memberi hasil signifikan.

Walau kolam retensi terus dibangun, akar masalah banjir di Gedebage dan Ujungberung tampaknya lebih kompleks. Degradasi kawasan resapan di Kawasan Bandung Utara (KBU) akibat alih fungsi lahan yang massif tak bisa dikesampingkan. Kawasan yang seharusnya menjadi daerah serapan air kini berubah menjadi permukiman dan area komersial, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke hilir tanpa sempat diserap tanah.

Problem lainnya adalah sistem drainase yang tak memadai, sungai-sungai yang mengalami penyempitan dan sedimentasi, serta pencemaran akibat limbah domestik. Kombinasi ini menciptakan tekanan besar pada sistem tata air kota yang belum siap menghadapi curah hujan ekstrem.

Wali Kota Farhan juga mengakui bahwa upaya yang ada belum cukup. Ia menyebut perlunya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan infrastruktur air dan pengelolaan limbah. Farhan bahkan menyebut bahwa kolam retensi saat ini terlalu kecil dan terlalu sedikit.

“Kolam retensi itu memang kurang, karena kecil dan sedikit, sedangkan itu harus besar dan dalam. Makannya kita akan cari mitra untuk pemerintah yang bisa membangun drainase sekaligus tempat saluran air limbah atau black water,” katanya pertengahan April lalu.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Gimmick WIsata Wali Kota

Dalam narasi Farhan, kolam retensi tak hanya diposisikan sebagai solusi banjir, tetapi juga sebagai potensi wisata. Ia menyebut bahwa sejumlah titik akan disulap menjadi kolam retensi berorientasi pariwisata.

“Di beberapa titik jadi kolam retensi untuk wisata, seperti Gedebage deket stadion GBLA, ada lahan bawah sawah yang luasnya 67 hektar akan diimanfaatkan. Sawahnya tetap ada tapi nanti alir mengalir lebih baik di sana,” kata Farhan.

Rencana konservasi Kampung Belekok di Gedebage juga digadang akan menjadi destinasi ekowisata baru, bermitra dengan pengembang seperti Summarecon. Namun, sejumlah pihak mulai mempertanyakan apakah pendekatan gimmick wisata ini cukup tepat ketika akar persoalan seperti drainase dan konservasi kawasan resapan belum sepenuhnya tertangani.

Dengan banjir yang terus datang dan genangan yang tak kunjung surut, banyak yang melihat bahwa kolam retensi bukanlah solusi tunggal. Ia hanya bagian dari sistem pengendalian banjir yang lebih luas dan menuntut integrasi antara pengelolaan hulu-hilir, pengendalian pembangunan, serta kesadaran masyarakat. Di atas semua itu, dibutuhkan komitmen politik yang konsisten dan tidak mudah tergoda dengan narasi proyek yang menjual secara visual tetapi luput menyentuh inti masalah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)