Riwayat Sentra Bengkel Patah Tulang Citapen, Warisan Dua Sahabat yang Jadi Legenda

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Plang bengkel patah tulang yang menjadi tanda masuk ke kawasan sentra bengkel patah tulang di Citapen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Plang bengkel patah tulang yang menjadi tanda masuk ke kawasan sentra bengkel patah tulang di Citapen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah sudut Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Desa Citapen, terdapat fenomena unik yang tak semua orang tahu tapi banyak orang datangi: deretan bengkel patah tulang. Kalau kamu lewat Jalan Raya Cihampelas-Cililin dan melihat papan-papan kayu, mika, seng, atau bahkan tripleks yang bertuliskan “Ahli Patah Tulang”, selamat, kamu telah memasuki wilayah sakral yang oleh warga setempat disebut sebagai sentra pengobatan alternatif tulang.

Tak ada gapura besar atau gerbang semegah kawasan industri. Tak pula ada tanda-tanda yang mengatakan bahwa kamu telah sampai di kampung ortopedi rakyat. Tapi, aroma minyak urut, rempah hangat, dan cerita-cerita kesembuhan yang beredar dari mulut ke mulut membuat nama Citapen harum seharum minyak gandapura yang dihangatkan.

“Sudah terkenal ke mana-mana, banyak pasien datang ke sini dari luar kota. Kalau ditanya mereka tahu dari mulut ke mulut,” kata Kepala Desa Citapen, Iwan Kristiawan.

Garut, Sukabumi, Subang, Cianjur, Indramayu. Daftar ini belum termasuk pasien dari Jakarta yang terkena aspal saat naik motor gede dan kemudian direkomendasikan “urang Citapen” oleh rekannya di kantor. Tidak sedikit pula orang yang datang karena tak tahan menunggu antrean dokter ortopedi di rumah sakit besar. Kalau bisa diurut dan sembuh dalam tiga hari dengan biaya seikhlasnya, kenapa harus tunggu berbulan-bulan dengan biaya berjuta?

Tak Hanya Soal Plang dan Pijat

Salah satu ciri khas dari bengkel-bengkel ini adalah plang nama—mirip plang praktik dokter, tapi versi rakyat. Di sana tertera nama ahli tulangnya, biasanya diikuti sapaan khas seperti “Abah”, “Mama”, atau “Mang”. Contohnya, “Abah Oya Ahli Tulang”, “Mama Haji H. Karta”, atau “Urut Tradisional Mang Ujang”.

Tapi, seperti halnya usaha keluarga, tidak semua bengkel ini awet. Menurut data desa, jumlah terapis tulang semakin menyusut. “Memang ada juga buka bengkel patah tulang tapi gak pasang plang. Kalau dijumlah mungkin tak lebih dari 25 orang. Memang jumlahnya terus turun. Mungkin karena minat masyarakat juga turun,” tutur Iwan.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Di balik papan nama yang sederhana, banyak kisah turun-temurun. Seorang anak laki-laki yang dulunya cuma memijit kaki pasien karena disuruh ayahnya, kini jadi terapis utama. Seorang cucu perempuan yang awalnya hanya bantu merebus daun-daunan, sekarang mahir membetulkan engsel sendi yang terkilir.

"Contoh Abah A dulu buka bengkel patah tulang, sekarang sudah meninggal, diteruskan dengan nama yang sama oleh keluarganya," ujar Iwan. Nama jadi brand, warisan jadi keahlian.

Bagaimana metode pengobatannya? Campuran antara urut, lilit dengan bambu kecil, balur ramuan, dan tentu saja keyakinan. Semua dilakukan dengan tangan kosong. Tidak ada alat X-ray, tidak ada anestesi, tidak ada resep. Hanya intuisi, pengalaman, dan ilmu dari leluhur yang diwariskan lewat praktik.

"Rata-rata memang belajar dari orang tuanya, ada juga yang sambil baca-baca buku atau nanya-nanya. Tapi gak ada sekolahnya," kata salah satu terapis yang enggan disebutkan namanya.

Dua Legenda Bengkel Patah Tulang

Keberadaan Citapen sebagai sentra penyembuhan patah tulang tak lepas dari dua nama yang melegenda: Mama Hamidi dan Mama Haji Tarma. Tak ada patung peringatan untuk keduanya, tak pula prasasti. Tapi di kepala warga Citapen dan ribuan pasien, nama dua sahabat ini sudah seperti doktrin suci.

“Pada awalnya Mama Hamidi dan Mama Haji Tarma. Mereka ini sahabat yang punya keahlian mengobati luka luar dan dalam. Jadi kalau ada warga misalah atawa tijalikeun, nyak ka anjeuna,” tutur Abah Aso, tokoh masyarakat yang kini sudah berusia 76 tahun.

Dia berkata, dua orang ini tak pernah membebankan biaya. Mereka menerima pasien dari segala kalangan, dengan satu prinsip: “selama masih bisa ditolong, ditolong.” Bahkan ketika pasien datang tanpa membawa uang, mereka tetap diterima, malah dibantu ongkos pulang jika perlu.

“Puncaknya tahun 1950-an,” kenang Abah Aso. Masa itu, rumah Mama Hamidi dan Mama Haji Tarma seperti posko kesehatan alternatif. Pasien bisa datang pagi-pagi sekali atau menjelang malam, dan selalu ada ramuan hangat serta tangan-tangan yang siap mengurut.

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Hingga kini, nama keduanya terus dikenang sebagai pelopor. Dari mereka pula lahir generasi-generasi ahli tulang Citapen berikutnya. Tidak heran kalau sampai hari ini, anak-anak muda di Citapen masih menyebut dua nama itu dengan penuh hormat.

“Kalau bukan karena Mama Hamidi dan Mama Tarma, mungkin gak akan ada yang percaya Citapen bisa jadi tempat urut tulang,” kata seorang cucu dari pasien lama yang pernah sembuh dari keseleo parah karena jatuh dari pohon kelapa.

Warisan yang Diimpikan Bertahan

Walaupun sudah masuk era BPJS dan pengobatan modern, bengkel-bengkel patah tulang di Citapen masih berdenyut. Tapi denyut itu makin pelan. Generasi muda banyak yang memilih kerja di pabrik atau jadi kurir daring, bukan meneruskan usaha urut. Sementara, pemerintah belum banyak campur tangan dalam pelestarian praktik ini.

“Kita punya mimpi ini dilestarikan dan didukung oleh pemerintah jadi ciri khas daerah,” harap Kepala Desa Citapen.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Harapan ini tidak muluk. Di tempat lain, pengobatan alternatif semacam ini justru dijadikan daya tarik wisata kesehatan. Di Thailand, misalnya, pijat tradisional bisa masuk kurikulum sekolah. Di China, akupuntur sudah resmi dijadikan pengobatan nasional. Lantas, mengapa Citapen tidak bisa?

Warisan dua sahabat, jejak tangan-tangan yang menyembuhkan, serta papan-papan plang sederhana di sepanjang jalan, adalah saksi bisu sejarah yang tidak tertulis di buku pelajaran. Tapi ia hidup. Dan semoga, terus bertahan.

Kalau kelak kamu keseleo atau terkilir karena naik gunung atau jatuh saat main bola, coba saja datang ke Citapen. Siapa tahu, tangan-tangan dari warisan dua sahabat itu masih bisa menyelamatkan sendi yang bengkok, tanpa perlu kamu membayar mahal atau menunggu antrean panjang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)