Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

6 menit baca
Frederica Elvira A
Ditulis oleh Frederica Elvira A diterbitkan Jumat 12 Jun 2026, 10:19 WIB
 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)

(Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)

Tidak sulit menemukan mahasiswa yang menjadikan mie instan sebagai penyelamat akhir bulan. Di sekitar kos-kosan, warung makan dengan menu nasi dan lauk sederhana hampir selalu lebih ramai dibandingkan lapak buah segar. Bukan karena mahasiswa tidak tahu pentingnya makan sehat. Sebagian besar justru memahami bahwa tubuh membutuhkan sayur, buah, dan protein yang cukup. Faktanya, keterbatasan biaya, waktu, dan pilihan makanan sering kali menjadi penghambat penerapan pengetahuan tersebut.

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkenalkan pedoman "Isi Piringku" sebagai panduan makan bergizi seimbang (Darmawanti, 2022). Setengah piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sementara sisanya terdiri dari protein dan karbohidrat. Secara konsep, pedoman ini sangat masuk akal. Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan, seperti apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkannya?

Pertanyaan ini menjadi penting karena persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu. Kemampuan seseorang untuk makan sehat juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, akses terhadap pangan bergizi, hingga kebiasaan yang terbentuk sejak lama. Ketika harga buah dan sayur terus meningkat sementara makanan tinggi karbohidrat lebih mudah dijangkau, pola makan sehat perlahan berubah dari kebutuhan menjadi sesuatu yang terasa mewah bagi sebagian kelompok masyarakat. Kondisi tersebut tercermin pada pola konsumsi masyarakat Indonesia. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa lebih dari 96% masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Pada tahun 2023, rata-rata konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia hanya mencapai sekitar 240,5 gram per kapita per hari, yang masih berada di bawah target pemerintah.

Melalui tulisan ini, saya ingin melihat kembali sejauh mana pedoman "Isi Piringku" dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Alih-alih menyalahkan individu yang dianggap tidak mampu menjaga pola makan, pembahasan ini mencoba melihat masalah gizi dari sudut pandang yang lebih luas, seperti bagaimana kesehatan saling berkaitan dengan faktor ekonomi dan kemudahan mendapatkan makanan sehat.

Pedoman "Isi Piringku" lahir dari tujuan yang baik. Melalui panduan tersebut, masyarakat diajak untuk mengonsumsi makanan yang lebih beragam dan seimbang agar kebutuhan gizi terpenuhi. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini diharapkan dapat menurunkan berbagai masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di Indonesia, mulai dari kekurangan gizi hingga penyakit tidak menular.

Namun, persoalan mulai muncul ketika pedoman yang ideal tersebut bertemu dengan realitas kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, menentukan menu makanan sering kali bukan soal memilih yang paling bergizi, melainkan yang paling memungkinkan untuk dibeli. Ketika harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, pertimbangan utama yang muncul adalah bagaimana makanan tersebut dapat mengenyangkan seluruh anggota keluarga dengan biaya yang terbatas.

Kondisi serupa juga dapat ditemukan di lingkungan mahasiswa. Berdasarkan pengamatan penulis, tidak sedikit mahasiswa yang tinggal di kos lebih sering mengonsumsi mie instan, makanan cepat saji, atau lauk sederhana karena harganya lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Di sisi lain, buah, sayur, dan sumber protein tertentu justru dianggap sebagai pengeluaran tambahan yang dapat ditunda. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk menerapkannya.

Namun, persoalan ini tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ekonomi. Memang, harga pangan berpengaruh terhadap pilihan makanan masyarakat. Akan tetapi, ada faktor lain yang juga berperan, seperti kebiasaan makan yang sudah terbentuk sejak lama, tingkat pemahaman mengenai gizi, hingga kemudahan mendapatkan makanan tertentu. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari kesadaran masyarakat, gaya hidup, hingga daya beli masyarakat. Tidak sedikit orang yang sebenarnya memahami pentingnya mengonsumsi buah dan sayur, tetapi masih kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, makanan sumber karbohidrat sering menjadi pilihan utama karena dianggap lebih mengenyangkan dan terjangkau dibandingkan membeli buah atau sayuran secara rutin.

Lingkungan sekitar juga ikut menentukan pilihan makanan seseorang. Di banyak kawasan perkotaan, mencari minimarket, gerai makanan cepat saji, atau makanan instan jauh lebih mudah dibandingkan menemukan pilihan makanan sehat dengan harga yang ramah di kantong. Akibatnya, makanan praktis menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bukan berarti masyarakat mengabaikan kesehatan, tetapi sering kali pilihan yang tersedia memang mengarah ke sana. Ketika seseorang harus memilih antara makanan yang cepat, murah, dan mudah didapat dengan makanan yang lebih sehat tetapi membutuhkan biaya dan usaha lebih, pilihan pertama sering kali terasa lebih realistis.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Media Digitac (2026) menyebutkkan bahwa konsumsi makanan cepat saji masih sangat tinggi meskipun kampanye hidup sehat telah dilakukan selama bertahun-tahun. Menurut Nomira (2024) keputusan seseorang dalam memilih makanan tidak hanya dipengaruhi oleh harga, tetapi juga oleh faktor kenyamanan, kecepatan, dan kebiasaan sehari-hari. Artinya, tantangan mewujudkan pola makan sehat merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan ekonomi.

Dampak dari kondisi ini tentu tidak dapat dianggap sepele. Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Di satu sisi, masih ditemukan kasus kekurangan gizi yang menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap penyakit. Di sisi lain, angka obesitas terus meningkat dan menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimakan seseorang hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidupnya di masa depan (Nomira, 2024).

Pada akhirnya, persoalan gizi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Masyarakat memang perlu didorong untuk memahami pentingnya pola makan sehat, tetapi edukasi saja tidak cukup ketika kondisi ekonomi, akses pangan, dan lingkungan masih menjadi hambatan. Mengajak masyarakat mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan protein tentu merupakan langkah yang baik, tetapi ajakan tersebut perlu diiringi dengan upaya agar pangan bergizi benar-benar dapat dijangkau oleh semua kalangan.

Pedoman "Isi Piringku" menunjukkan gambaran tentang pola makan yang ideal. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang harus berhitung dengan pengeluaran harian, memenuhi komposisi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Dalam situasi seperti itu, pilihan makanan sering kali ditentukan oleh apa yang tersedia dan mampu dibeli, bukan oleh apa yang paling sehat.

Jika melihat berbagai hal tersebut, sulit mengatakan bahwa persoalan gizi sepenuhnya bergantung pada kesadaran individu. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkan pola makan yang dianggap ideal. Ada yang harus menyesuaikan pilihan makanan dengan kondisi ekonomi keluarga, ada yang tinggal di lingkungan dengan akses pangan sehat yang terbatas, dan ada pula yang terbiasa dengan pola makan tertentu sejak kecil. Karena itu, pembahasan mengenai gizi seimbang seharusnya tidak berhenti pada ajakan untuk hidup sehat. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa makanan bergizi benar-benar dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya oleh mereka yang mampu membelinya. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Pangan Nasional. (2024). Gugah kesadaran masyarakat pentingnya sayur dan buah demi capai pola makan bergizi seimbang. Badan Pangan Nasional.

  • Darmawanti, B. (2022). Isi piringku: Pedoman makan kekinian orang Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • Digitac Media. (2026). Fast food diners 2026: Who they are & what drives them.
  • Nomira, S. R. (2024). Relevansi Gizi dan Kesehatan. Public Health Journal, 443-451.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Frederica Elvira A
Mahasiswa Teknik Kimia di Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:36

Memahami Konsep Iklan 'Mie Nyemek': Perlukah Inovasi Kuliner Lokal dan Warmindo?

Membedah peluncuran Indomie Hype Abis Mie Nyemek melalui tiga platform yaitu website, Instagram, dan news online.

Penulis menganalisis teknik penulisan PT. Indofood dari ketiga platform yaitu website, media sosial, dan news online untuk melihat konsistensi pesan.
Wisata & Kuliner 11 Jun 2026, 18:17

Panduan Tamasya ke Situ Cileunca Pangalengan, Danau Buatan yang Jadi Ikon Bandung Selatan

Situ Cileunca di Pangalengan menawarkan wisata danau, rafting, camping, dan sejarah PLTA sejak 1919.

Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Disbudpar Kabupaten Bandung)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 18:09

Surabi Bandung Melintasi Zaman: Dari Menu Sarapan Kaum Agraris hingga Ikon Kuliner Kafe

Kudapan bundar berbahan dasar tepung beras dan kelapa ini adalah contoh sempurna dari kelenturan budaya kuliner Nusantara.

Salah satu varian surabi di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: JENNI AGUSTINA)
Wisata & Kuliner 11 Jun 2026, 15:14

5 Penginapan Estetik Pilihan di Yogyakarta, Bukan Cuma Buat Tempat Tidur

Dari hotel ramah lingkungan hingga penginapan bernuansa Meksiko, berikut lima penginapan estetik di Yogyakarta yang menawarkan pengalaman menginap berbeda.

Por Aqui Stay & Dine
Linimasa 11 Jun 2026, 09:46

ITC Kebonkalapa, Pusat Perbelanjaan Kota Bandung yang Memudar

Dulu penuh pembeli, kini ITC Kebonkalapa menghadapi sepinya pengunjung dan banyak kios kosong.

Kondisi ITC Kebonkalapa yang dulu sempat jadi tempat nongkrong dan belanja andalan warga Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 09:08

Bagaimana Musik Membantu Anak Tunagrahita Berinteraksi dengan Orang Lain?

Anak tunagrahita menghadapi hambatan sosial akibat gangguan fungsi kognitif.

Ilustrasi. (Sumber: gemini.ai)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:20

Mengapa Banjir di Majalaya Hari Ini Berbeda dengan Era Hindia-Belanda?

Apakah banjir di Majalaya terjadi baru baru ini atau dimulai pada abad 20?

Gambar banjir di Majalaya (Sumber: wa grup | Foto: Mufti Nurlita Sari)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:03

Menyoal Eksklusivitas dalam Komunitas Baca Buku

Menurutku cukup pejabat yang terlihat hidup lebih eksklusif dibandingkan rakyatnya tapi jangan sampai ruang-ruang membaca, ruang-ruang diskusi juga ikut membentuk kesenjangan diantara anggotanya

Komunitas Baca Buku seharusnya menjadi ajang paling ramah bagi mereka yang ingin mencari ruang aman untuk berdiskusi dan berdialetika bukan justru terasing karena punya pilihan yang berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)