Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

6 menit baca
Frederica Elvira A
Ditulis oleh Frederica Elvira A diterbitkan
 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
(Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)

Tidak sulit menemukan mahasiswa yang menjadikan mie instan sebagai penyelamat akhir bulan. Di sekitar kos-kosan, warung makan dengan menu nasi dan lauk sederhana hampir selalu lebih ramai dibandingkan lapak buah segar. Bukan karena mahasiswa tidak tahu pentingnya makan sehat. Sebagian besar justru memahami bahwa tubuh membutuhkan sayur, buah, dan protein yang cukup. Faktanya, keterbatasan biaya, waktu, dan pilihan makanan sering kali menjadi penghambat penerapan pengetahuan tersebut.

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkenalkan pedoman "Isi Piringku" sebagai panduan makan bergizi seimbang (Darmawanti, 2022). Setengah piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sementara sisanya terdiri dari protein dan karbohidrat. Secara konsep, pedoman ini sangat masuk akal. Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan, seperti apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkannya?

Pertanyaan ini menjadi penting karena persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu. Kemampuan seseorang untuk makan sehat juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, akses terhadap pangan bergizi, hingga kebiasaan yang terbentuk sejak lama. Ketika harga buah dan sayur terus meningkat sementara makanan tinggi karbohidrat lebih mudah dijangkau, pola makan sehat perlahan berubah dari kebutuhan menjadi sesuatu yang terasa mewah bagi sebagian kelompok masyarakat. Kondisi tersebut tercermin pada pola konsumsi masyarakat Indonesia. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa lebih dari 96% masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Pada tahun 2023, rata-rata konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia hanya mencapai sekitar 240,5 gram per kapita per hari, yang masih berada di bawah target pemerintah.

Melalui tulisan ini, saya ingin melihat kembali sejauh mana pedoman "Isi Piringku" dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Alih-alih menyalahkan individu yang dianggap tidak mampu menjaga pola makan, pembahasan ini mencoba melihat masalah gizi dari sudut pandang yang lebih luas, seperti bagaimana kesehatan saling berkaitan dengan faktor ekonomi dan kemudahan mendapatkan makanan sehat.

Pedoman "Isi Piringku" lahir dari tujuan yang baik. Melalui panduan tersebut, masyarakat diajak untuk mengonsumsi makanan yang lebih beragam dan seimbang agar kebutuhan gizi terpenuhi. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini diharapkan dapat menurunkan berbagai masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di Indonesia, mulai dari kekurangan gizi hingga penyakit tidak menular.

Namun, persoalan mulai muncul ketika pedoman yang ideal tersebut bertemu dengan realitas kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, menentukan menu makanan sering kali bukan soal memilih yang paling bergizi, melainkan yang paling memungkinkan untuk dibeli. Ketika harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, pertimbangan utama yang muncul adalah bagaimana makanan tersebut dapat mengenyangkan seluruh anggota keluarga dengan biaya yang terbatas.

Kondisi serupa juga dapat ditemukan di lingkungan mahasiswa. Berdasarkan pengamatan penulis, tidak sedikit mahasiswa yang tinggal di kos lebih sering mengonsumsi mie instan, makanan cepat saji, atau lauk sederhana karena harganya lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Di sisi lain, buah, sayur, dan sumber protein tertentu justru dianggap sebagai pengeluaran tambahan yang dapat ditunda. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk menerapkannya.

Namun, persoalan ini tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ekonomi. Memang, harga pangan berpengaruh terhadap pilihan makanan masyarakat. Akan tetapi, ada faktor lain yang juga berperan, seperti kebiasaan makan yang sudah terbentuk sejak lama, tingkat pemahaman mengenai gizi, hingga kemudahan mendapatkan makanan tertentu. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari kesadaran masyarakat, gaya hidup, hingga daya beli masyarakat. Tidak sedikit orang yang sebenarnya memahami pentingnya mengonsumsi buah dan sayur, tetapi masih kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, makanan sumber karbohidrat sering menjadi pilihan utama karena dianggap lebih mengenyangkan dan terjangkau dibandingkan membeli buah atau sayuran secara rutin.

Lingkungan sekitar juga ikut menentukan pilihan makanan seseorang. Di banyak kawasan perkotaan, mencari minimarket, gerai makanan cepat saji, atau makanan instan jauh lebih mudah dibandingkan menemukan pilihan makanan sehat dengan harga yang ramah di kantong. Akibatnya, makanan praktis menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bukan berarti masyarakat mengabaikan kesehatan, tetapi sering kali pilihan yang tersedia memang mengarah ke sana. Ketika seseorang harus memilih antara makanan yang cepat, murah, dan mudah didapat dengan makanan yang lebih sehat tetapi membutuhkan biaya dan usaha lebih, pilihan pertama sering kali terasa lebih realistis.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Media Digitac (2026) menyebutkkan bahwa konsumsi makanan cepat saji masih sangat tinggi meskipun kampanye hidup sehat telah dilakukan selama bertahun-tahun. Menurut Nomira (2024) keputusan seseorang dalam memilih makanan tidak hanya dipengaruhi oleh harga, tetapi juga oleh faktor kenyamanan, kecepatan, dan kebiasaan sehari-hari. Artinya, tantangan mewujudkan pola makan sehat merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan ekonomi.

Dampak dari kondisi ini tentu tidak dapat dianggap sepele. Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Di satu sisi, masih ditemukan kasus kekurangan gizi yang menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap penyakit. Di sisi lain, angka obesitas terus meningkat dan menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimakan seseorang hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidupnya di masa depan (Nomira, 2024).

Pada akhirnya, persoalan gizi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Masyarakat memang perlu didorong untuk memahami pentingnya pola makan sehat, tetapi edukasi saja tidak cukup ketika kondisi ekonomi, akses pangan, dan lingkungan masih menjadi hambatan. Mengajak masyarakat mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan protein tentu merupakan langkah yang baik, tetapi ajakan tersebut perlu diiringi dengan upaya agar pangan bergizi benar-benar dapat dijangkau oleh semua kalangan.

Pedoman "Isi Piringku" menunjukkan gambaran tentang pola makan yang ideal. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang harus berhitung dengan pengeluaran harian, memenuhi komposisi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Dalam situasi seperti itu, pilihan makanan sering kali ditentukan oleh apa yang tersedia dan mampu dibeli, bukan oleh apa yang paling sehat.

Jika melihat berbagai hal tersebut, sulit mengatakan bahwa persoalan gizi sepenuhnya bergantung pada kesadaran individu. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkan pola makan yang dianggap ideal. Ada yang harus menyesuaikan pilihan makanan dengan kondisi ekonomi keluarga, ada yang tinggal di lingkungan dengan akses pangan sehat yang terbatas, dan ada pula yang terbiasa dengan pola makan tertentu sejak kecil. Karena itu, pembahasan mengenai gizi seimbang seharusnya tidak berhenti pada ajakan untuk hidup sehat. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa makanan bergizi benar-benar dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya oleh mereka yang mampu membelinya. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Pangan Nasional. (2024). Gugah kesadaran masyarakat pentingnya sayur dan buah demi capai pola makan bergizi seimbang. Badan Pangan Nasional.

  • Darmawanti, B. (2022). Isi piringku: Pedoman makan kekinian orang Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • Digitac Media. (2026). Fast food diners 2026: Who they are & what drives them.
  • Nomira, S. R. (2024). Relevansi Gizi dan Kesehatan. Public Health Journal, 443-451.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Frederica Elvira A
Mahasiswa Teknik Kimia di Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)