Tidak sulit menemukan mahasiswa yang menjadikan mie instan sebagai penyelamat akhir bulan. Di sekitar kos-kosan, warung makan dengan menu nasi dan lauk sederhana hampir selalu lebih ramai dibandingkan lapak buah segar. Bukan karena mahasiswa tidak tahu pentingnya makan sehat. Sebagian besar justru memahami bahwa tubuh membutuhkan sayur, buah, dan protein yang cukup. Faktanya, keterbatasan biaya, waktu, dan pilihan makanan sering kali menjadi penghambat penerapan pengetahuan tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkenalkan pedoman "Isi Piringku" sebagai panduan makan bergizi seimbang (Darmawanti, 2022). Setengah piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sementara sisanya terdiri dari protein dan karbohidrat. Secara konsep, pedoman ini sangat masuk akal. Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan, seperti apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkannya?
Pertanyaan ini menjadi penting karena persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu. Kemampuan seseorang untuk makan sehat juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, akses terhadap pangan bergizi, hingga kebiasaan yang terbentuk sejak lama. Ketika harga buah dan sayur terus meningkat sementara makanan tinggi karbohidrat lebih mudah dijangkau, pola makan sehat perlahan berubah dari kebutuhan menjadi sesuatu yang terasa mewah bagi sebagian kelompok masyarakat. Kondisi tersebut tercermin pada pola konsumsi masyarakat Indonesia. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa lebih dari 96% masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Pada tahun 2023, rata-rata konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia hanya mencapai sekitar 240,5 gram per kapita per hari, yang masih berada di bawah target pemerintah.
Melalui tulisan ini, saya ingin melihat kembali sejauh mana pedoman "Isi Piringku" dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Alih-alih menyalahkan individu yang dianggap tidak mampu menjaga pola makan, pembahasan ini mencoba melihat masalah gizi dari sudut pandang yang lebih luas, seperti bagaimana kesehatan saling berkaitan dengan faktor ekonomi dan kemudahan mendapatkan makanan sehat.
Pedoman "Isi Piringku" lahir dari tujuan yang baik. Melalui panduan tersebut, masyarakat diajak untuk mengonsumsi makanan yang lebih beragam dan seimbang agar kebutuhan gizi terpenuhi. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini diharapkan dapat menurunkan berbagai masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di Indonesia, mulai dari kekurangan gizi hingga penyakit tidak menular.
Namun, persoalan mulai muncul ketika pedoman yang ideal tersebut bertemu dengan realitas kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, menentukan menu makanan sering kali bukan soal memilih yang paling bergizi, melainkan yang paling memungkinkan untuk dibeli. Ketika harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, pertimbangan utama yang muncul adalah bagaimana makanan tersebut dapat mengenyangkan seluruh anggota keluarga dengan biaya yang terbatas.
Kondisi serupa juga dapat ditemukan di lingkungan mahasiswa. Berdasarkan pengamatan penulis, tidak sedikit mahasiswa yang tinggal di kos lebih sering mengonsumsi mie instan, makanan cepat saji, atau lauk sederhana karena harganya lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Di sisi lain, buah, sayur, dan sumber protein tertentu justru dianggap sebagai pengeluaran tambahan yang dapat ditunda. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk menerapkannya.
Namun, persoalan ini tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ekonomi. Memang, harga pangan berpengaruh terhadap pilihan makanan masyarakat. Akan tetapi, ada faktor lain yang juga berperan, seperti kebiasaan makan yang sudah terbentuk sejak lama, tingkat pemahaman mengenai gizi, hingga kemudahan mendapatkan makanan tertentu. Badan Pangan Nasional (2024) mencatat bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari kesadaran masyarakat, gaya hidup, hingga daya beli masyarakat. Tidak sedikit orang yang sebenarnya memahami pentingnya mengonsumsi buah dan sayur, tetapi masih kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, makanan sumber karbohidrat sering menjadi pilihan utama karena dianggap lebih mengenyangkan dan terjangkau dibandingkan membeli buah atau sayuran secara rutin.
Lingkungan sekitar juga ikut menentukan pilihan makanan seseorang. Di banyak kawasan perkotaan, mencari minimarket, gerai makanan cepat saji, atau makanan instan jauh lebih mudah dibandingkan menemukan pilihan makanan sehat dengan harga yang ramah di kantong. Akibatnya, makanan praktis menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bukan berarti masyarakat mengabaikan kesehatan, tetapi sering kali pilihan yang tersedia memang mengarah ke sana. Ketika seseorang harus memilih antara makanan yang cepat, murah, dan mudah didapat dengan makanan yang lebih sehat tetapi membutuhkan biaya dan usaha lebih, pilihan pertama sering kali terasa lebih realistis.
Kejadian serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Media Digitac (2026) menyebutkkan bahwa konsumsi makanan cepat saji masih sangat tinggi meskipun kampanye hidup sehat telah dilakukan selama bertahun-tahun. Menurut Nomira (2024) keputusan seseorang dalam memilih makanan tidak hanya dipengaruhi oleh harga, tetapi juga oleh faktor kenyamanan, kecepatan, dan kebiasaan sehari-hari. Artinya, tantangan mewujudkan pola makan sehat merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan ekonomi.
Dampak dari kondisi ini tentu tidak dapat dianggap sepele. Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Di satu sisi, masih ditemukan kasus kekurangan gizi yang menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap penyakit. Di sisi lain, angka obesitas terus meningkat dan menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimakan seseorang hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidupnya di masa depan (Nomira, 2024).

Pada akhirnya, persoalan gizi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Masyarakat memang perlu didorong untuk memahami pentingnya pola makan sehat, tetapi edukasi saja tidak cukup ketika kondisi ekonomi, akses pangan, dan lingkungan masih menjadi hambatan. Mengajak masyarakat mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan protein tentu merupakan langkah yang baik, tetapi ajakan tersebut perlu diiringi dengan upaya agar pangan bergizi benar-benar dapat dijangkau oleh semua kalangan.
Pedoman "Isi Piringku" menunjukkan gambaran tentang pola makan yang ideal. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang harus berhitung dengan pengeluaran harian, memenuhi komposisi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Dalam situasi seperti itu, pilihan makanan sering kali ditentukan oleh apa yang tersedia dan mampu dibeli, bukan oleh apa yang paling sehat.
Jika melihat berbagai hal tersebut, sulit mengatakan bahwa persoalan gizi sepenuhnya bergantung pada kesadaran individu. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkan pola makan yang dianggap ideal. Ada yang harus menyesuaikan pilihan makanan dengan kondisi ekonomi keluarga, ada yang tinggal di lingkungan dengan akses pangan sehat yang terbatas, dan ada pula yang terbiasa dengan pola makan tertentu sejak kecil. Karena itu, pembahasan mengenai gizi seimbang seharusnya tidak berhenti pada ajakan untuk hidup sehat. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa makanan bergizi benar-benar dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya oleh mereka yang mampu membelinya. (*)
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pangan Nasional. (2024). Gugah kesadaran masyarakat pentingnya sayur dan buah demi capai pola makan bergizi seimbang. Badan Pangan Nasional.
- Darmawanti, B. (2022). Isi piringku: Pedoman makan kekinian orang Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Digitac Media. (2026). Fast food diners 2026: Who they are & what drives them.
- Nomira, S. R. (2024). Relevansi Gizi dan Kesehatan. Public Health Journal, 443-451.
