Konstruksi Sosial dalam Pernikahan: Antara Kebutuhan dan Keinginan

3 menit baca
Rio Praja
Ditulis oleh Rio Praja diterbitkan
Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)
Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)

Coba tanyakan pada diri sendiri: mengapa Anda ingin menikah? Atau—jika Anda belum siap menikah—mengapa Anda merasa harus menikah? Jawabannya mungkin tidak sederhana. Sebab di balik setiap alasan, ada suara-suara di luar diri yang ikut berbicara: orang tua, tetangga, teman-teman yang sudah berkeluarga, Generasi muda hari ini adalah generasi yang paling banyak mendapat nasihat pernikahan, tetapi juga yang paling banyak meragukannya. Mereka melihat pernikahan sebagai institusi yang indah sekaligus menakutkan.

Pernikahan adalah sebuah bentuk komitmen bersama yang legal dan telah berlangsung selama ratusan tahun menjadi salah satu produk budaya manusia yang terus-menerus diwariskan dan diubah oleh masyarakat dari generasi ke generasi, di Indonesia, pernikahan bukan hanya sekedar pilihan hidup, melainkan telah menjadi konstruksi sosial yang kuat dan mengakar di kehidupan masyarakat. Masyrakat di tengah kehidupas sosial telah membangun “realitas subjektif” bahwa seseorang yang telah menginjak dewasa dianggap lengkap atau sukses setelah menikah. Di sisi lain, realitas subjektif ini juga mengikat kepada mereka yang belum atau tidak memilih untuk menikah. Ada anggapan yang terbentuk berkaitan dengan harga diri seseorang seakan-akan lebih tinggi bila ia sudah sampai ditahap pernikahan. sehingga banyak diantara generasi muda yang terburu-buru menikah hanya demi memenuhi ekspektasi sosial semata tanpa mempertimbangkan kesiapan finansial dan kematangan mental yang cukup.

Kampanye Nikah Muda

Beberapa tahun belakangan banyak tokoh agama mengkampanyekan nikah muda sebagai solusi moral dan spiritual, yang meligitimasi ajakan tersebut menggunakan doktrin-doktrin agama. Tanpa mempertimbangkan bahwa hubungan pernikahan adalah sebuah usaha bersama, ruang penuh risiko, dan ketidakadilan. Akibatnya, pernikahan dirayakan hanya sebagai sebuah pertunjukan untuk mendapatkan validasi sosial berupa keinginan untuk diterima, tidak dianggap aneh, dan mengamankan status sosial di mata keluarga, tetangga, dan masyarakat. Pernikahan yang seharusnya menjadi kebutuhan pribadi seperti untuk mendapatkan ketentraman atau membangun keluarga. Justru berubah menjadi keinginan untuk memenuhi tuntutan sosial. akibatnya angka perceraian meningkat dari waktu kewaktu dan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Perempuan Harus Cepat Menikah

Jika kita analisis ungkapan ini bukanlah kebenaran yang dapat ditimbang dari sisi biologis ataupun kebenaran agama semata, ungkapan ini hadir dari produk pemikiran masyarakat patriarkal yang diwariskan dan berlangsung secara turun-temurun. Masyarakat mengkonstruksi realitas sosial terkait hubungan pernikahan, bahwa perempuan dinilai dari status pernikahannya (the status of being a wife), dengan laki-laki seperti apa dia menikah? setinggi apa jabatanya? seberapa banyak hartanya?

Di sisi lain, masyarakat yang hidup dan terbentuk dari budaya patriarkal ini juga, memaknai bahwa perempuan memiliki usia kadaluarsa, dimana perempuan yang menunda pernikahan karena alasan tertentu dianggap sebagai perawan tua. Perempuan juga dianggap kurang berhasil jika usianya sampai di atas 25 tahun atau 30 tahun belum memutuskan untuk menikah. Berangkat dari pandangan inilah yang mengakibatkan banyak perempuan rela mengabaikan kebutuhan akan kematangan emosi dan kemandirian, demi memenuhi keinginan lingkungan untuk melihat mereka 'laku'.

Pernikahan Karena Panik (Panic Marriage)

Ketika seorang perempuan menikah cepat karena tekanan sosial (bukan karena kesiapan internal), maka ia sedang mengorbankan kebutuhan esensialnya demi keinginan sosial. Kebutuhan esensialnya ini berupa kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaan sendiri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pernikahan yang didorong oleh faktor sosial (bukan kesiapan internal) memiliki risiko perceraian lebih tinggi. Mengapa? Karena fondasinya bukan pada kebutuhan untuk membangun kehidupan bersama, melainkan pada keinginan untuk mengakhiri pertanyaan-pertanyaan sosial seperti "Kapan nikah?" atau "Jangan kelamaan sendiri nanti keburu tua".

Perempuan Boleh Memilih Waktunya Sendiri

Menariknya, kini mulai muncul konstruksi sosial baru yang melawan narasi lama. Melalui media sosial juga, banyak perempuan dan tokoh publik yang mulai menyuarakan:

Menikah bukan tujuan hidup, melainkan salah satu pilihan.

Tidak ada usia ideal untuk menikah; yang ada adalah kesiapan ideal.

Sudah saatnya kita membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dalam pernikahan dan mana yang hanya diinginkan karena tekanan sosial. Upaya untuk mengembalikan pernikahan pada ranah kebutuhan (kebutuhan akan pasangan yang tepat, kesiapan batin, dan kematangan) dan menepis keinginan sosial yang memaksa perempuan menikah di waktu yang tidak tepat. Dengan menyadari bahwa banyak dari "keinginan" kita sebenarnya adalah konstruksi sosial yang bisa dibongkar, kita bisa mengambil keputusan pernikahan yang lebih jernih, lebih matang, dan lebih sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rio Praja
Tentang Rio Praja
Mahasiswa Program Studi Agama-Agama | Menulis tentang manusia, agama, budaya, dan perjalanan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)