Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lampu ruangan mulai dimatikan, suara film perlahan dinaikkan. Layar menayangkan potongan-potongan kehidupan di Jakarta yang terasa asing namun sekaligus akrab.

Lebih dari sekadar hiburan, film Selamat Pagi, Malam menghadirkan kesempatan untuk melihat sisi-sisi yang jarang ditampilkan dalam film lain.

Diskusi setelah pemutaran menjadi lanjutan dari apa yang tersaji di layar. Percakapan mengalir, membawa penonton masuk ke makna yang lebih dalam, tidak sekadar menonton lalu pulang seperti di bioskop.

“Kita tuh memang terbiasa melihat yang baik dan yang jahat secara hitam putih, padahal realitanya nggak seperti itu,” ujar salah satu peserta diskusi.

Wajah Kota dan Manusia yang Tak Sederhana

Film Selamat Pagi, Malam (2014) karya Lucky Kuswandi ini masuk nominasi Festival Film Indonesia. Film tersebut menampilkan tiga perempuan dengan latar berbeda yang sama-sama berhadapan dengan realitas ibu kota.

Cerita bergerak tanpa pola tunggal. Alih-alih mengikuti alur konvensional, film ini lebih menyerupai potret fragmen kehidupan yang saling terhubung oleh tema besar tentang kehidupan urban, gender, konstruksi sosial, seksisme, dan cara bertahan hidup di kota.

Jakarta dalam film ini tidak digambarkan sebagai kota yang homogen, melainkan ruang yang dipenuhi kontradiksi. Siang hari menampilkan wajah kota yang tertata dan tampak sempurna, sementara malam hari membuka kenyataan yang kerap dihindari.

“Penampilan seseorang bisa terlihat baik, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka di balik itu,” kata seorang peserta diskusi.

“Kalau kita nggak tahu, bukan berarti itu nggak ada,” timpal pemandu diskusi dari Komunitas Layarkita, Mardohar Tobing.

Bagi sebagian penonton, pengalaman ini terasa dekat. Kehidupan malam, pilihan hidup, hingga cara orang bertahan di kota besar menjadi cerminan yang sulit diabaikan.

Nissa Nurbayti (23), salah satu peserta diskusi, mengungkapkan, “Yang paling nyata itu kehidupan malam. Banyak hal yang sebenarnya kita enggak tahu tentang kehidupan orang-orang urban,” ujarnya.

Dalam diskusi, muncul kesadaran bahwa masyarakat sering merasa berhak memberi label pada orang lain, padahal identitas jauh lebih kompleks dari yang tampak.

“Urbanisme itu membuat kita seolah-olah berhak menentukan identitas orang lain,” jelas Nissa.

Ia mencermati bagaimana film ini menampilkan ironi tersebut. Individu dalam film tidak selalu merasa “salah”, meskipun kerap dinilai dari sudut pandang masyarakat yang melabelinya demikian.

“Padahal orang yang kita labeli belum tentu merasa dirinya seperti itu,” lanjutnya.

Kontras kelas sosial juga menjadi sorotan kuat. Perbedaan antara kemewahan dan keterbatasan digambarkan secara tajam.

“Ada yang makan wagyu, ada yang cuma makan nasi di jalan. Itu kontras banget,” ujar Nissa.

Diskusi pun meluas pada realitas yang lebih besar. Ketimpangan sosial tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di banyak kota lain.

“Dan itu bukan cuma di Jakarta, hampir di semua kota ada kalau kita mau melihat,” tambahnya.

Menurut Mardohar Tobing, film seperti ini memang tidak dimaksudkan untuk memberikan jawaban pasti. Justru sebaliknya, film dipilih untuk memantik pertanyaan.

“Kita memutar film yang debatable,” ujarnya saat menjelaskan alasan pemilihan film.

Ia menegaskan bahwa ketiadaan akhir yang pasti bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Dari situ, diskusi dapat berkembang dan melahirkan beragam perspektif.

“Film ini nggak ada ending-nya, supaya didiskusikan,” katanya sambil tersenyum.

Film ini juga menolak cara pandang yang terlalu sederhana tentang manusia. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.

“Kita tidak menayangkan film yang hitam putih, yang jahat dan yang baik dipisahkan begitu saja,” jelas Tobing.

Menurutnya, setiap individu memiliki lapisan yang tidak bisa disederhanakan. Apa yang terlihat di permukaan sering kali hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita.

“Kalau kamu tidak tahu, bukan berarti tidak ada,” tegasnya.

Tema-tema seperti seksualitas, konstruksi sosial, hingga pilihan hidup yang dianggap menyimpang kerap dipandang tabu. Namun justru di situlah relevansi film ini terasa kuat.

Ia menambahkan, masyarakat sering mengabaikan kenyataan yang tidak nyaman, padahal hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Hal-hal yang kita anggap tabu itu sebenarnya ada di sekitar kita,” ucap Tobing, merujuk pada berbagai scene dalam film seperti eksistensi kaum queer, seksisme, one night stand, hingga cara meraih status sosial.

Bagi Nissa, kekuatan acara ini tidak hanya terletak pada film, tetapi juga pada ruang diskusi yang terbuka. Orang-orang dari latar belakang berbeda dapat bertemu dan saling bertukar pandangan.

“Diskusi ini sangat membantu, karena kita jadi melihat dari banyak perspektif yang berbeda,” ujarnya.

Perspektif yang beragam justru memperkaya pemahaman. Tidak ada satu kebenaran tunggal, melainkan banyak kemungkinan makna.

Tobing menambahkan, “Walaupun penontonnya sedikit, ruang alternatif ini harus tetap ada.”

Pada akhirnya, film ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi.

“Karena bahkan orang terdekat kita pun belum tentu benar-benar kita kenal,” tutup Nissa.

Kesadaran ini menjadi penutup yang reflektif. Bahkan orang yang paling dekat sekalipun belum tentu sepenuhnya kita pahami.

Di tengah arus tontonan yang cenderung seragam, Komunitas Layar Kita memilih jalur berbeda. Mereka tidak berupaya menjadi besar, tetapi tetap konsisten menghadirkan ruang alternatif.

“Kita hanya memberikan alternatif di tengah tontonan yang mainstream,” ujar Tobing.

Bagi mereka, film bukan sekadar hiburan, melainkan cara sederhana untuk memahami dunia dan melihat manusia dari sudut pandang yang lebih luas.

“Film adalah ongkos paling murah untuk mengenal dunia,” pungkasnya sambil tersenyum.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:37

Melihat Asap dari Lensa Karl Marx

Asap tidak lepas dari perluasan perkebunan kelapa sawit. Siapa yang ada dibaliknya adalah korporasi dan prinsip kapitalistik. Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis.

Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis. (Sumber: Ilustrasi diolah Gemini AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)