Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 01 Apr 2026, 15:27 WIB
Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lampu ruangan mulai dimatikan, suara film perlahan dinaikkan. Layar menayangkan potongan-potongan kehidupan di Jakarta yang terasa asing namun sekaligus akrab.

Lebih dari sekadar hiburan, film Selamat Pagi, Malam menghadirkan kesempatan untuk melihat sisi-sisi yang jarang ditampilkan dalam film lain.

Diskusi setelah pemutaran menjadi lanjutan dari apa yang tersaji di layar. Percakapan mengalir, membawa penonton masuk ke makna yang lebih dalam, tidak sekadar menonton lalu pulang seperti di bioskop.

“Kita tuh memang terbiasa melihat yang baik dan yang jahat secara hitam putih, padahal realitanya nggak seperti itu,” ujar salah satu peserta diskusi.

Wajah Kota dan Manusia yang Tak Sederhana

Film Selamat Pagi, Malam (2014) karya Lucky Kuswandi ini masuk nominasi Festival Film Indonesia. Film tersebut menampilkan tiga perempuan dengan latar berbeda yang sama-sama berhadapan dengan realitas ibu kota.

Cerita bergerak tanpa pola tunggal. Alih-alih mengikuti alur konvensional, film ini lebih menyerupai potret fragmen kehidupan yang saling terhubung oleh tema besar tentang kehidupan urban, gender, konstruksi sosial, seksisme, dan cara bertahan hidup di kota.

Jakarta dalam film ini tidak digambarkan sebagai kota yang homogen, melainkan ruang yang dipenuhi kontradiksi. Siang hari menampilkan wajah kota yang tertata dan tampak sempurna, sementara malam hari membuka kenyataan yang kerap dihindari.

“Penampilan seseorang bisa terlihat baik, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka di balik itu,” kata seorang peserta diskusi.

“Kalau kita nggak tahu, bukan berarti itu nggak ada,” timpal pemandu diskusi dari Komunitas Layarkita, Mardohar Tobing.

Bagi sebagian penonton, pengalaman ini terasa dekat. Kehidupan malam, pilihan hidup, hingga cara orang bertahan di kota besar menjadi cerminan yang sulit diabaikan.

Nissa Nurbayti (23), salah satu peserta diskusi, mengungkapkan, “Yang paling nyata itu kehidupan malam. Banyak hal yang sebenarnya kita enggak tahu tentang kehidupan orang-orang urban,” ujarnya.

Dalam diskusi, muncul kesadaran bahwa masyarakat sering merasa berhak memberi label pada orang lain, padahal identitas jauh lebih kompleks dari yang tampak.

“Urbanisme itu membuat kita seolah-olah berhak menentukan identitas orang lain,” jelas Nissa.

Ia mencermati bagaimana film ini menampilkan ironi tersebut. Individu dalam film tidak selalu merasa “salah”, meskipun kerap dinilai dari sudut pandang masyarakat yang melabelinya demikian.

“Padahal orang yang kita labeli belum tentu merasa dirinya seperti itu,” lanjutnya.

Kontras kelas sosial juga menjadi sorotan kuat. Perbedaan antara kemewahan dan keterbatasan digambarkan secara tajam.

“Ada yang makan wagyu, ada yang cuma makan nasi di jalan. Itu kontras banget,” ujar Nissa.

Diskusi pun meluas pada realitas yang lebih besar. Ketimpangan sosial tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di banyak kota lain.

“Dan itu bukan cuma di Jakarta, hampir di semua kota ada kalau kita mau melihat,” tambahnya.

Menurut Mardohar Tobing, film seperti ini memang tidak dimaksudkan untuk memberikan jawaban pasti. Justru sebaliknya, film dipilih untuk memantik pertanyaan.

“Kita memutar film yang debatable,” ujarnya saat menjelaskan alasan pemilihan film.

Ia menegaskan bahwa ketiadaan akhir yang pasti bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Dari situ, diskusi dapat berkembang dan melahirkan beragam perspektif.

“Film ini nggak ada ending-nya, supaya didiskusikan,” katanya sambil tersenyum.

Film ini juga menolak cara pandang yang terlalu sederhana tentang manusia. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.

“Kita tidak menayangkan film yang hitam putih, yang jahat dan yang baik dipisahkan begitu saja,” jelas Tobing.

Menurutnya, setiap individu memiliki lapisan yang tidak bisa disederhanakan. Apa yang terlihat di permukaan sering kali hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita.

“Kalau kamu tidak tahu, bukan berarti tidak ada,” tegasnya.

Tema-tema seperti seksualitas, konstruksi sosial, hingga pilihan hidup yang dianggap menyimpang kerap dipandang tabu. Namun justru di situlah relevansi film ini terasa kuat.

Ia menambahkan, masyarakat sering mengabaikan kenyataan yang tidak nyaman, padahal hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Hal-hal yang kita anggap tabu itu sebenarnya ada di sekitar kita,” ucap Tobing, merujuk pada berbagai scene dalam film seperti eksistensi kaum queer, seksisme, one night stand, hingga cara meraih status sosial.

Bagi Nissa, kekuatan acara ini tidak hanya terletak pada film, tetapi juga pada ruang diskusi yang terbuka. Orang-orang dari latar belakang berbeda dapat bertemu dan saling bertukar pandangan.

“Diskusi ini sangat membantu, karena kita jadi melihat dari banyak perspektif yang berbeda,” ujarnya.

Perspektif yang beragam justru memperkaya pemahaman. Tidak ada satu kebenaran tunggal, melainkan banyak kemungkinan makna.

Tobing menambahkan, “Walaupun penontonnya sedikit, ruang alternatif ini harus tetap ada.”

Pada akhirnya, film ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi.

“Karena bahkan orang terdekat kita pun belum tentu benar-benar kita kenal,” tutup Nissa.

Kesadaran ini menjadi penutup yang reflektif. Bahkan orang yang paling dekat sekalipun belum tentu sepenuhnya kita pahami.

Di tengah arus tontonan yang cenderung seragam, Komunitas Layar Kita memilih jalur berbeda. Mereka tidak berupaya menjadi besar, tetapi tetap konsisten menghadirkan ruang alternatif.

“Kita hanya memberikan alternatif di tengah tontonan yang mainstream,” ujar Tobing.

Bagi mereka, film bukan sekadar hiburan, melainkan cara sederhana untuk memahami dunia dan melihat manusia dari sudut pandang yang lebih luas.

“Film adalah ongkos paling murah untuk mengenal dunia,” pungkasnya sambil tersenyum.

News Update

Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)