Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 01 Apr 2026, 15:27 WIB
Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lampu ruangan mulai dimatikan, suara film perlahan dinaikkan. Layar menayangkan potongan-potongan kehidupan di Jakarta yang terasa asing namun sekaligus akrab.

Lebih dari sekadar hiburan, film Selamat Pagi, Malam menghadirkan kesempatan untuk melihat sisi-sisi yang jarang ditampilkan dalam film lain.

Diskusi setelah pemutaran menjadi lanjutan dari apa yang tersaji di layar. Percakapan mengalir, membawa penonton masuk ke makna yang lebih dalam, tidak sekadar menonton lalu pulang seperti di bioskop.

“Kita tuh memang terbiasa melihat yang baik dan yang jahat secara hitam putih, padahal realitanya nggak seperti itu,” ujar salah satu peserta diskusi.

Wajah Kota dan Manusia yang Tak Sederhana

Film Selamat Pagi, Malam (2014) karya Lucky Kuswandi ini masuk nominasi Festival Film Indonesia. Film tersebut menampilkan tiga perempuan dengan latar berbeda yang sama-sama berhadapan dengan realitas ibu kota.

Cerita bergerak tanpa pola tunggal. Alih-alih mengikuti alur konvensional, film ini lebih menyerupai potret fragmen kehidupan yang saling terhubung oleh tema besar tentang kehidupan urban, gender, konstruksi sosial, seksisme, dan cara bertahan hidup di kota.

Jakarta dalam film ini tidak digambarkan sebagai kota yang homogen, melainkan ruang yang dipenuhi kontradiksi. Siang hari menampilkan wajah kota yang tertata dan tampak sempurna, sementara malam hari membuka kenyataan yang kerap dihindari.

“Penampilan seseorang bisa terlihat baik, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka di balik itu,” kata seorang peserta diskusi.

“Kalau kita nggak tahu, bukan berarti itu nggak ada,” timpal pemandu diskusi dari Komunitas Layarkita, Mardohar Tobing.

Bagi sebagian penonton, pengalaman ini terasa dekat. Kehidupan malam, pilihan hidup, hingga cara orang bertahan di kota besar menjadi cerminan yang sulit diabaikan.

Nissa Nurbayti (23), salah satu peserta diskusi, mengungkapkan, “Yang paling nyata itu kehidupan malam. Banyak hal yang sebenarnya kita enggak tahu tentang kehidupan orang-orang urban,” ujarnya.

Dalam diskusi, muncul kesadaran bahwa masyarakat sering merasa berhak memberi label pada orang lain, padahal identitas jauh lebih kompleks dari yang tampak.

“Urbanisme itu membuat kita seolah-olah berhak menentukan identitas orang lain,” jelas Nissa.

Ia mencermati bagaimana film ini menampilkan ironi tersebut. Individu dalam film tidak selalu merasa “salah”, meskipun kerap dinilai dari sudut pandang masyarakat yang melabelinya demikian.

“Padahal orang yang kita labeli belum tentu merasa dirinya seperti itu,” lanjutnya.

Kontras kelas sosial juga menjadi sorotan kuat. Perbedaan antara kemewahan dan keterbatasan digambarkan secara tajam.

“Ada yang makan wagyu, ada yang cuma makan nasi di jalan. Itu kontras banget,” ujar Nissa.

Diskusi pun meluas pada realitas yang lebih besar. Ketimpangan sosial tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di banyak kota lain.

“Dan itu bukan cuma di Jakarta, hampir di semua kota ada kalau kita mau melihat,” tambahnya.

Menurut Mardohar Tobing, film seperti ini memang tidak dimaksudkan untuk memberikan jawaban pasti. Justru sebaliknya, film dipilih untuk memantik pertanyaan.

“Kita memutar film yang debatable,” ujarnya saat menjelaskan alasan pemilihan film.

Ia menegaskan bahwa ketiadaan akhir yang pasti bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Dari situ, diskusi dapat berkembang dan melahirkan beragam perspektif.

“Film ini nggak ada ending-nya, supaya didiskusikan,” katanya sambil tersenyum.

Film ini juga menolak cara pandang yang terlalu sederhana tentang manusia. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.

“Kita tidak menayangkan film yang hitam putih, yang jahat dan yang baik dipisahkan begitu saja,” jelas Tobing.

Menurutnya, setiap individu memiliki lapisan yang tidak bisa disederhanakan. Apa yang terlihat di permukaan sering kali hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita.

“Kalau kamu tidak tahu, bukan berarti tidak ada,” tegasnya.

Tema-tema seperti seksualitas, konstruksi sosial, hingga pilihan hidup yang dianggap menyimpang kerap dipandang tabu. Namun justru di situlah relevansi film ini terasa kuat.

Ia menambahkan, masyarakat sering mengabaikan kenyataan yang tidak nyaman, padahal hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Hal-hal yang kita anggap tabu itu sebenarnya ada di sekitar kita,” ucap Tobing, merujuk pada berbagai scene dalam film seperti eksistensi kaum queer, seksisme, one night stand, hingga cara meraih status sosial.

Bagi Nissa, kekuatan acara ini tidak hanya terletak pada film, tetapi juga pada ruang diskusi yang terbuka. Orang-orang dari latar belakang berbeda dapat bertemu dan saling bertukar pandangan.

“Diskusi ini sangat membantu, karena kita jadi melihat dari banyak perspektif yang berbeda,” ujarnya.

Perspektif yang beragam justru memperkaya pemahaman. Tidak ada satu kebenaran tunggal, melainkan banyak kemungkinan makna.

Tobing menambahkan, “Walaupun penontonnya sedikit, ruang alternatif ini harus tetap ada.”

Pada akhirnya, film ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi.

“Karena bahkan orang terdekat kita pun belum tentu benar-benar kita kenal,” tutup Nissa.

Kesadaran ini menjadi penutup yang reflektif. Bahkan orang yang paling dekat sekalipun belum tentu sepenuhnya kita pahami.

Di tengah arus tontonan yang cenderung seragam, Komunitas Layar Kita memilih jalur berbeda. Mereka tidak berupaya menjadi besar, tetapi tetap konsisten menghadirkan ruang alternatif.

“Kita hanya memberikan alternatif di tengah tontonan yang mainstream,” ujar Tobing.

Bagi mereka, film bukan sekadar hiburan, melainkan cara sederhana untuk memahami dunia dan melihat manusia dari sudut pandang yang lebih luas.

“Film adalah ongkos paling murah untuk mengenal dunia,” pungkasnya sambil tersenyum.

News Update

Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Apr 2026, 16:15

Daya Tahan Ekonomi Jawa Barat di Tengah Eskalasi Geopolitik, Mengapa Dampaknya Belum Terasa?

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 15:28

Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)

Bandung memang punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan angka.

Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 01 Apr 2026, 15:27

Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

Film Selamat Pagi, Malam memotret Jakarta sebagai ruang kompleks tempat urbanisasi, isu gender, dan sisi tabu manusia saling berkelindan, menghadirkan realitas yang jauh dari hitam-putih.

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 12:45

Tentang Radio, Bukan AI Setelah Lebaran Usai

Radio tetap menjadi ruang komunikasi paling autentik yang menjaga emosi, kepercayaan, dan partisipasi warga di tengah maraknya konten berbasis AI, termasuk pada momen Lebaran tahun ini.

Ilustrasi radio. (Sumber: Pexels | Foto: Đặng Thanh Tú)
Sejarah 01 Apr 2026, 12:02

Hikayat Selat Hormuz, Pintu Sempit yang Selalu Jadi Titik Panas Geopolitik Dunia

Sejak era perdagangan kuno hingga konflik modern, Selat Hormuz selalu menjadi titik strategis ekonomi dan geopolitik dunia.

Selat Hormuz, Iran.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 10:05

Beda Pendapat kok Dituding Antek Asing?

Kritik dibalas stempel "antek asing" dan teror fisik. Demokrasi kita kian gagal napas.

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)
Linimasa 01 Apr 2026, 08:45

Cerita Warga Perbatasan Bandung Barat yang Lebih Memilih Hidup di Ciwidey

Warga Desa Mekarwangi lebih memilih beraktivitas ke Ciwidey karena akses lebih dekat dan mudah dibandingkan ke pusat Bandung Barat.

Desa Mekarwangi, tempat di mana warganya lebih terhubung dengan Ciwidey alih-alih Bandung Barat. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)
Beranda 31 Mar 2026, 09:18

Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Penurunan pembeli yang drastis membuat mereka bertahan di batas, menjalani hari sambil menunggu nasib profesi ini yang perlahan mendekati kepunahan.

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 31 Mar 2026, 09:16

Victory Water Park Soreang, Gabungan Wisata Air dengan Kebun Binatang

Objek wisata Bandung dengan kolam ombak, arus, hingga mini zoo di Victory Water Park Soreang. Cocok untuk liburan keluarga dengan tiket terjangkau.

Objek wisata Bandung Victory Water Park Soreang. (Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 31 Mar 2026, 08:49

Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

Kemacetan yang kian menjadi rutinitas mendorong warga Bandung bersuara. Melalui forum diskusi, mereka mendesak transformasi transportasi umum yang lebih terintegrasi, manusiawi, dan benar-benar berdam

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)