Uno, Lego, dan Ogo!

13 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Sore itu langit Babakan Dangdeur, Cibiru, Bandung, tampak cerah. Angin berembus pelan, seolah-olah mengajak siapa saja untuk rehat sejenak melupakan kesibukan aktivitas bekerja. Di ruang tengah saat asyik menghabiskan waktu dengan bermain Uno Stacko, permainan menyusun balok yang sederhana, tetapi selalu menghadirkan gelak tawa.

Aa Akil, anak kedua (11 tahun), dengan sabar menjelaskan aturan permainan. Setiap pemain bergiliran mengambil satu balok menggunakan dua jari, lalu meletakkannya di bagian paling atas. Balok yang diambil harus memiliki warna (angka) yang sama dengan balok sebelumnya.

Permainan terus berlangsung hingga susunan balok akhirnya roboh. Siapa yang membuatnya runtuh, dialah yang kalah. Di dalamnya terdapat balok-balok khusus yang membuat permainan semakin seru, seperti perintah mengambil dua balok, membalik arah permainan, (mengganti warna).

Ya, seperti banyak permainan anak-anak lainnya, aturan baku sering kali tidak cukup. Agar lebih meriah, disepakati aturan tambahan. Siapa pun yang kalah harus menerima "hukuman" berupa wajah yang ditaburi bedak Saripohaci, hingga putih seluruhnya.

Tak ada tangisan, yang terdengar justru gelak tawa. Wajah yang berubah menjadi putih seperti kokok beluk menjadi hiburan tersendiri. Kadang, keseruan justru lahir dari aturan kecil yang diciptakan bersama.

Asyiknya bermain Uno Stacko, yang kalah mendapatkan hukuman cemongan pakai bedak, Ahad (7/6/2026). (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Asyiknya bermain Uno Stacko, yang kalah mendapatkan hukuman cemongan pakai bedak, Ahad (7/6/2026). (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)

Sungguh di tengah-tengah riuh permainan, Kakang, anak ketiga (5 tahun), tiba-tiba ikut nimbrung. Setiap kali ada yang kalah, dialah yang paling bersemangat mengambil bedak untuk menaburkannya ke wajah sang "korban".

Sambil tertawa lepas, bocil tiba-tiba berkata, "Bah, kalau main lego waktu di Amah sudah dibuatkan cerita."

"Henteu acan," jawabku singkat.

"Tolong buatkan ya, Bah. Kan seru. Main lego, nulis, terus banyak teman-teman," pintanya penuh harap.

"Emang saha wae rencangna?"

Tanpa ragu Kakang menjawab, "Banyak. Aya Abizar, Abian, Aska..."

Jawaban itu membuatku tersenyum. Rupanya, yang paling membekas dari tempat belajar bagi anak bukan hanya deretan huruf, angka yang diajarkan, melainkan nama-nama teman yang mereka temui di sana.

Sudah sepekan ini Kakang mulai ikut bermain sambil belajar di Rumah Belajar Musi. Ya, mengikuti jejak Aa Akil yang hampir tiga tahun belajar di sana sejak kelas III SD. Jika Aa Akil lebih banyak mendalami matematika dan bahasa Inggris, maka bagi Kakang ruang itu menjadi tempat belajar bersosialisasi, bercerita, mengenal huruf, mengeja kata, menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Hari pertama belajar, Selasa (21/7/2026), sejak pagi sudah sibuk meminta segera mandi agar tidak terlambat berangkat ke "Amah". Proses belajar berlangsung pukul 07.00 hingga 08.00, bubaran melanjutkan aktivitas di PAUD Al-Hidayah hingga pukul 11.00.

Menariknya, jarak antara Komunitas Belajar Musi di RW 4 dengan PAUD Al-Hidayah di RW 3 hanya sekitar lima puluh langkah kaki. Begitu dekat dan menghadirkan dua ruang belajar yang sama-sama menyenangkan bagi seorang anak.

Sepulang bekerja, Kakang langsung menghampiriku. "Bah, sini duduk. Mau cerita," katanya sambil menarik tanganku.

Bocil berbisik di telinga, seolah-olah menyimpan rahasia besar. "Senang, Bah. Bisa main, belajar, banyak teman. Ada Abizar, Abian, Aska..."

Ya, hanya mengangguk sambil tersenyum. Anak-anak memang memiliki cara sendiri untuk mengukur kebahagiaan. Bukan dari nilai, capaian akademik, melainkan dari permainan yang mereka lakukan bersama dan teman-teman yang mereka temui setiap hari.

Berhubung jadwal Kamis lupa, pekan itu kegiatan belajar dilaksanakan pada Sabtu (25/7/2026) selama satu jam. Kakang belajar mengenal angka satu hingga sepuluh, huruf, bernyanyi, dan tentu saja bermain lego.

Seusai kegiatan, Aa Akil menjemput adiknya. Jarak dari rumah ke tempat belajar hanya terpaut tiga rumah, sehingga mereka pulang berjalan kaki sambil terus mengobrol.

Sesampainya di rumah, kalimat pertama yang terlontar dari mulut Kakang bukanlah tentang angka yang berhasil dihafalnya, huruf yang baru dikenalnya.

"Asyik, Bah... bisa main lego sama teman-teman!" ujarnya penuh semangat.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Serunya Bermain Sambil Belajar

Belajar melalui bermain merupakan satu teknik pengajaran dan pembelajaran yang berkesan kepada anak usia dini. Dengan melalui teknik ini akan mendatangkan kesenangan dan kepuasan kepada mereka dalam suatu program yang hendak disampaikan. Misalnya, melalui bermain anak-anak akan dapat menguasai perkembangan dan keterampilan fisik dan penguasaan bahasa dari segi perbendaharaan, serta peraturan tata bahasa.

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa bermain sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Dengan demikian, dalam proses pembelajaran PAUD bukan menekankan terhadap kemampuan menguasai materi melainkan proses belajar melalui bermain.

Dengan bermain dapat menumbuhkan kesenangan anak terhadap belajar. Selanjutnya, anak akan dapat memperkaya, (memperluas) pengalaman bermain yang bermakna.

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi (bahan), dan media yang menarik agar mudah diikuti anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya (Direktorat PAUD, 2003: 3).

Dalam kegiatan bermain, anak diajak mengenai dunia dan lingkungannya. Berbagai aktivitas bermain memberikan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bermain dengan pembelajaran dapat memberikan dukungan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak secara lebih optimal. Slamet Suyanto (2002:127), mengatakan bahwa permainan memang baik untuk mendidik anak, tetapi permainan tersebut harus diberi muatan pendidikan sehingga anak dapat belajar.

Hal ini lebih lanjut ditekankan dalam Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 Pasal 5 yang menjelaskan program pendidikan PAUD diberikan melalui rangsangan pendidikan yang dilakukan oleh pendidik dalam kegiatan belajar melalui suasana bermain. Oleh karena itu, belajar melalui bermain merupakan suatu kegiatan belajar terhadap anak yang dilakukan dengan suasana dan aneka kegiatan bermain.

Pengertian bermain menurut konsep Association for Childhood Education International (ACEI) adalah “a dynamic, active and constructive behavior is neces- sary and integral part of childhood, infancy through adolescence”. Dalam konsep ACEI, bermain dimaknai sebagai perubahan yang membangun, aktif dan dinamis dalam perkembangan, serta pertumbuhan yang penting bagi anak untuk menuju dewasa.

Bruner dalam Martuti (2008: 11), memberikan penekanan pada fungsi bermain sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas.

Ahli lainnya yang memberikan definisi bermain adalah Vygotsky, seorang psikolog berkebangsaan Rusia, ia mengemukakan bermain merupakan “play is an excellent setting for cognitive development." He was especially interested in the symbolic and make believe aspects of play, as when a child rides a stick as if it were a horse. For young children, the imaginary situation is real. Parent should encourage such imaginary play because it advances the child's cognitive development, especially creative thought (Santrock, 2007: 509).

Jadi, menurut Vygotsky bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognitif seorang. Dengan bermain, daya pikir dan perkembangan otak anak akan semakin baik, serta berkembang secara optimal. Anak pada usia dini tidak atau kurang memperoleh saat-saat bermain maka akan tertinggal dan terlihat minder dan merasa rendah diri. (Ahmad Susanto, 2021: 97-98).

Ingat, setiap anak terlahir sebagai penjelajah dunia yang tak kenal lelah. Mata mereka yang berbinar adalah lensa yang menyaring keajaiban dari hal-hal yang paling sederhana: bentuk bayangan, rasa air hujan, atau bunyi gemerisik daun. Masa kanak-kanak, khususnya usia dini (0- 6 tahun), bukan sekadar fase persiapan menuju kehidupan yang "sebenarnya", melainkan sebuah landasan suci tempat fondasi seluruh masa depannya dibangun.

Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan tentang "mengisi gelas yang kosong" dengan segunung fakta dan angka. Ia adalah tentang menyalakan api keingintahuan, membimbing tangan kecil untuk merasakan, memicu pertanyaan dari benak yang kritis, dan memupuk nilai-nilai kemanusiaan melalui setiap interaksi.

Metode yang efektif dalam PAUD adalah metode yang menghormati "keseluruhan" anak perkembangan kognitif, fisik, sosial-emosional, dan bahasa secara seimbang dan menyeluruh.

Tantangan di kelas PAUD adalah tantangan yang nyata. Bagaimana menciptakan kegiatan yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga bermakna? Bagaimana memastikan setiap anak, dengan keunikan dan kecepatan belajarnya masing-masing, dapat terlibat aktif dan berkembang optimal? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering menghantui para pendidik dan orang tua yang tulus mencintai dunia anak usia dini.

Penelitian neurosains modern telah membuktikan sesuatu yang mungkin sudah kita duga: lima tahun pertama kehidupan anak adalah periode kritis yang paling pesat pertumbuhan otaknya. Setiap detik, lebih dari satu juta koneksi neural baru terbentuk, dibentuk oleh pengalaman dan interaksi dengan dunia sekitar.

Data ini bukan sekadar angka, ia adalah panggilan tanggung jawab bagi kita semua yang terlibat dalam pendidikan anak usia dini. Investasi yang tepat pada pendidikan PAUD yang berkualitas memiliki dampak jangka panjang yang luar biasa, tidak hanya bagi individu anak tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan mulai dari kesiapan sekolah, pencapaian akademik yang lebih tinggi, hingga stabilitas sosial-ekonomi.

Namun, kunci dari "pendidikan yang berkualitas" ini terletak pada metode pembelajaran yang digunakan. Metode pembelajaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang efektif adalah metode yang berpusat pada anak, berbasis bermain, dan menyesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.

Hasil kerja sama Aa Akil, Musa bermain lego di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Hasil kerja sama Aa Akil, Musa bermain lego di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

11 Prinsip Dasar Pembelajaran Ala PAUD

Prinsip dasar pembelajaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah fondasi yang memandu setiap aspek proses belajar mengajar untuk anak usia 0-6 tahun. Prinsip-prinsip ini dirumuskan untuk memastikan bahwa pembelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan, kebutuhan, dan karakteristik unik anak usia dini.

Di Indonesia, prinsip-prinsip ini secara resmi tercantum dalam Permendikbud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Berikut adalah prinsip-prinsip dasar pembelajaran PAUD, dijelaskan secara detail:

1. Bermain Sambil Belajar (Belajar Melalui Bermain)

Ini adalah prinsip yang paling sentral dalam PAUD. Bermain adalah dunia anak. Bermain adalah cara utama anak belajar. Melalui bermain, mereka dapat mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, emosional, bahasa, dan motorik. Konsep aktivitas bermain yang menyenangkan dan menarik justru menjadi media belajar yang paling efektif. Tanpa disadari, anak mengembangkan berbagai aspek perkembangan melalui bermain.

Contoh Penerapan: a. Bermain balok: anak belajar konsep matematika (bentuk, ukuran, keseimbangan), fisika (gravitasi), dan sosial (berbagi, kerja sama); b. Bermain peran (role play): anak mengembangkan bahasa, empati, keterampilan sosial, dan pemecahan masalah; c. Menyusun Puzzle: anak melatih motorik halus, koordinasi mata-tangan, kesabaran, dan logika.

2. Berorientasi Pada Perkembangan Anak

Pembelajaran harus disesuaikan dengan usia, minat, dan tahapan perkembangan setiap anak (Developmentally Appropriate Practice/DAP). Konsepnya setiap anak unik dan berkembang sesuai dengan ritmenya masing-masing. Guru tidak boleh memaksa anak mencapai target yang belum sesuai dengan usianya.

Contoh Penerapan: a. Tidak memaksa anak usia 3 tahun untuk calistung (baca, tulis, hitung) yang merupakan tugas perkembangan anak usia lebih tua; b. Memberikan aktivitas sensori motor (meraba, merasakan, mendengar) untuk anak toddler, dan aktivitas yang lebih kompleks seperti proyek sederhana untuk anak usia 5-6 tahun.

3. Berorientasi Pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran dirancang berdasarkan minat dan kebutuhan individual anak, bukan semata-mata keinginan guru atau kurikulum yang kaku. Maksudnya adalah anak akan belajar dengan optimal ketika mereka tertarik dan terlibat aktif. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mengamati dan merespons minat anak.

Contoh Penerapan: a. Jika beberapa anak tertarik pada serangga, guru dapat mengembangkan tema pembelajaran tentang serangga: membaca buku, mengamati semut, menggambar kupu-kupu, dll. b. Menyediakan berbagai macam material dan kegiatan sehingga anak dapat memilih sesuai minatnya (area bermain: seni, balok, peran, alam, dll.).

4. Berpusat Pada Anak (Child-Centered)

Anak adalah subjek aktif dalam pembelajaran, bukan objek yang hanya menerima informasi. Kegiatan dirancang berdasarkan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak, bukan keinginan guru. Adapun konsep yang diterapkan dimana peran guru adalah memfasilitasi, membimbing, dan memotivasi, sementara anak yang aktif mengeksplorasi, menemukan, dan membangun pengetahuannya sendiri.

Contoh Penerapan: Guru memberikan pertanyaan terbuka ("Menurutmu, kenapa air bisa mengalir?") daripada langsung memberikan jawaban dan Anak diberikan kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mencari solusi sendiri dengan bimbingan guru.

5. Pembelajaran yang Kontekstual

Materi pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata dan lingkungan sehari-hari anak. Materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari anak agar lebih bermakna. Tujuannya adalah agar Anak lebih mudah memahami sesuatu yang dekat dan relevan dengan kehidupannya.

Contoh Penerapan: a. Belajar berhitung dengan menghitung jumlah teman, buah, atau mainan di kelas; b. Belajar tentang tanaman dengan langsung menanam dan merawatnya di kebun sekolah; c. Mengenal profesi dengan mengundang orang tua yang berprofesi sebagai polisi atau dokter untuk bercerita.

Aa Akil tengah memperlihat hasil kreasi bermain lego, Sabtu (12/7/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil tengah memperlihat hasil kreasi bermain lego, Sabtu (12/7/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

6. Terpadu (Integrated)

Pembelajaran tidak dilakukan per mata pelajaran, tetapi mengintegrasikan semua aspek perkembangan (nilai agama moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni) dalam satu tema atau kegiatan sehingga pembelajaran tidak terpisah-pisah.

Satu tema dapat mencakup banyak aspek perkembangan (contoh: tema "Air" bisa termasuk sains, berhitung, bahasa, seni, dan motorik). Konsep yang dimaksud adalah bahwasanya Perkembangan anak adalah suatu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

Contoh Penerapan: Kegiatan "membuat sandwich" dapat mengembangkan a. Motorik halus (mengoles, merobek selada); b. Kognitif (mengenal urutan, konsep sebab-akibat); c. Bahasa (menyebutkan nama bahan); d. Sosial-Emosional (antri, berbagi, bangga dengan hasil karya); e. Seni (menyusun sandwich dengan kreatif).

7. Menggunakan Pendekatan Tematik

Tema digunakan sebagai pemersatu berbagai kegiatan dan materi pembelajaran. Tema membuat pembelajaran lebih terarah namun tetap fleksibel. Adapun Konsep pendekatan tematik ini dengan memberikan Tema yang menarik (seperti "Binatang", "Keluargaku", "Transportasi") menjadi payung untuk mengembangkan berbagai aktivitas belajar.

Contoh penerapan: Tema "Air" dapat mencakup: a. Sains: Percobaan mengapung dan tenggelam; b. Seni: Melukis dengan air; c. Motorik: Bermain water bead; d. Bahasa: Bercerita tentang pengalaman berenang.

8. Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)

Suasana pembelajaran harus dirancang agar anak merasa senang, aman, dan bebas berekspresi. Maksudnya adalah Aktif-Anak terlibat langsung secara fisik dan mental-; Kreatif-Anak didorong untuk menghasilkan ide dan karyanya sendiri-; Efektif-Kegiatan mencapai tujuan perkembangan yang diharapkan-; Menyenangkan (Fun)- Proses belajar penuh dengan kegembiraan, tanpa paksaan dan tekanan.

9. Demokratis dan Berkeadilan

Semua anak mendapat perhatian dan pelayanan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang, jenis kelamin, kemampuan, atau status sosial. Konsepnya adalah setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang. Lingkungan harus inklusif dan menghargai keragaman.

Contoh Penerapan: a. Guru memberikan pujian dan perhatian yang merata; b. Materi dan mainan disesuaikan agar dapat diakses oleh semua anak, termasuk anak dengan disabilitas; c. Anak diajarkan untuk menghargai perbedaan temannya.

10. Mengembangkan Kecakapan Hidup (Life Skills)

Pembelajaran tidak hanya untuk pengetahuan akademik, tetapi untuk membentuk kemandirian dan keterampilan hidup dasar. Adapun Konsepnya adalah dengan membiasakan anak dengan tugas-tugas sehari-hari yang sederhana.

Contoh Penerapan: a. Mencuci tangan sendiri, memakai sepatu, membereskan mainan setelah digunakan; b. Mengajarkan cara mengungkapkan perasaan (marah, sedih) dengan kata-kata yang baik; c. Belajar antri dan mengatasi konflik dengan teman secara sederhana.

11. Lingkungan yang Stimulatif

Ruang kelas yang aman, nyaman, kaya akan bahan ajar, dan mendukung eksplorasi adalah "guru ketiga" (setelah guru dan teman). Lingkungan adalah "guru ketiga" (setelah guru dan teman). Lingkungan harus aman secara fisik dan psikologis, serta kaya akan stimulasi yang mendorong eksplorasi dan penemuan.

Contoh penerapan: ruang kelas diatur menjadi sudut-sudut belajar (reading corner, nature corner, art corner) yang mudah diakses anak, dengan material yang menarik dan sesuai usia.

Prinsip-prinsip dasar PAUD ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Inti dari semua prinsip ini adalah menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, kaya stimulasi, dan penuh kasih sayang dimana anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Peran guru bukan sebagai "pengajar" yang dominan, tetapi sebagai fasilitator, observer, motivator, dan pendamping yang peka terhadap kebutuhan setiap individu anak.

Pembelajaran PAUD yang efektif adalah yang menyenangkan, bermakna, dan menghargai proses belajar setiap anak sebagai individu yang unik.

Tujuannya bukan untuk mencetak anak yang pandai akademis semata, tetapi untuk membentuk fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter dan keterampilan yang dibutuhkan untuk belajar sepanjang hayat (life long learners). (Sisca Septiani, ‎dkk, 2025: 111-120)

Bermain merupakan suatu kegiatan yang melekat pada diri anak. Pasalnya, bermain itu kodrat bagi setiap anak. Saat mendengarkan cerita Kakang, justru disitulah letak hakikat belajar pada masa kanak-kanak.

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia. Dari permainan, anak belajar menunggu giliran, menerima kekalahan, bekerja sama, membangun imajinasi, hingga merawat persahabatan.

Walhasil, sebelum pandai membaca buku, yang terlebih dahulu dibaca itu wajah-wajah kawan (Ayah, Ibu, Kaka) yang menemani masa kecilnya. Kenangan yang paling lama tinggal bukanlah tentang pelajaran (berhitung, mengenal dan menulis angka, huruf) yang diajarkan guru, melainkan tawa yang lahir saat bermain bersama.

Waktu Kakang bertanya, "Bah kenapa banyak yang ditungguin di Amah sama di Al-Hidayah, Kakang tidak ya!"

"Eta mah ogo wae, sapertos Kakang nuju bageur hoyong diantosan" ujarku sambil tersenyum dan mengusap kepala. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)