Uno, Lego, dan Ogo!

13 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Sore itu langit Babakan Dangdeur, Cibiru, Bandung, tampak cerah. Angin berembus pelan, seolah-olah mengajak siapa saja untuk rehat sejenak melupakan kesibukan aktivitas bekerja. Di ruang tengah saat asyik menghabiskan waktu dengan bermain Uno Stacko, permainan menyusun balok yang sederhana, tetapi selalu menghadirkan gelak tawa.

Aa Akil, anak kedua (11 tahun), dengan sabar menjelaskan aturan permainan. Setiap pemain bergiliran mengambil satu balok menggunakan dua jari, lalu meletakkannya di bagian paling atas. Balok yang diambil harus memiliki warna (angka) yang sama dengan balok sebelumnya.

Permainan terus berlangsung hingga susunan balok akhirnya roboh. Siapa yang membuatnya runtuh, dialah yang kalah. Di dalamnya terdapat balok-balok khusus yang membuat permainan semakin seru, seperti perintah mengambil dua balok, membalik arah permainan, (mengganti warna).

Ya, seperti banyak permainan anak-anak lainnya, aturan baku sering kali tidak cukup. Agar lebih meriah, disepakati aturan tambahan. Siapa pun yang kalah harus menerima "hukuman" berupa wajah yang ditaburi bedak Saripohaci, hingga putih seluruhnya.

Tak ada tangisan, yang terdengar justru gelak tawa. Wajah yang berubah menjadi putih seperti kokok beluk menjadi hiburan tersendiri. Kadang, keseruan justru lahir dari aturan kecil yang diciptakan bersama.

Asyiknya bermain Uno Stacko, yang kalah mendapatkan hukuman cemongan pakai bedak, Ahad (7/6/2026). (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Asyiknya bermain Uno Stacko, yang kalah mendapatkan hukuman cemongan pakai bedak, Ahad (7/6/2026). (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)

Sungguh di tengah-tengah riuh permainan, Kakang, anak ketiga (5 tahun), tiba-tiba ikut nimbrung. Setiap kali ada yang kalah, dialah yang paling bersemangat mengambil bedak untuk menaburkannya ke wajah sang "korban".

Sambil tertawa lepas, bocil tiba-tiba berkata, "Bah, kalau main lego waktu di Amah sudah dibuatkan cerita."

"Henteu acan," jawabku singkat.

"Tolong buatkan ya, Bah. Kan seru. Main lego, nulis, terus banyak teman-teman," pintanya penuh harap.

"Emang saha wae rencangna?"

Tanpa ragu Kakang menjawab, "Banyak. Aya Abizar, Abian, Aska..."

Jawaban itu membuatku tersenyum. Rupanya, yang paling membekas dari tempat belajar bagi anak bukan hanya deretan huruf, angka yang diajarkan, melainkan nama-nama teman yang mereka temui di sana.

Sudah sepekan ini Kakang mulai ikut bermain sambil belajar di Rumah Belajar Musi. Ya, mengikuti jejak Aa Akil yang hampir tiga tahun belajar di sana sejak kelas III SD. Jika Aa Akil lebih banyak mendalami matematika dan bahasa Inggris, maka bagi Kakang ruang itu menjadi tempat belajar bersosialisasi, bercerita, mengenal huruf, mengeja kata, menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Hari pertama belajar, Selasa (21/7/2026), sejak pagi sudah sibuk meminta segera mandi agar tidak terlambat berangkat ke "Amah". Proses belajar berlangsung pukul 07.00 hingga 08.00, bubaran melanjutkan aktivitas di PAUD Al-Hidayah hingga pukul 11.00.

Menariknya, jarak antara Komunitas Belajar Musi di RW 4 dengan PAUD Al-Hidayah di RW 3 hanya sekitar lima puluh langkah kaki. Begitu dekat dan menghadirkan dua ruang belajar yang sama-sama menyenangkan bagi seorang anak.

Sepulang bekerja, Kakang langsung menghampiriku. "Bah, sini duduk. Mau cerita," katanya sambil menarik tanganku.

Bocil berbisik di telinga, seolah-olah menyimpan rahasia besar. "Senang, Bah. Bisa main, belajar, banyak teman. Ada Abizar, Abian, Aska..."

Ya, hanya mengangguk sambil tersenyum. Anak-anak memang memiliki cara sendiri untuk mengukur kebahagiaan. Bukan dari nilai, capaian akademik, melainkan dari permainan yang mereka lakukan bersama dan teman-teman yang mereka temui setiap hari.

Berhubung jadwal Kamis lupa, pekan itu kegiatan belajar dilaksanakan pada Sabtu (25/7/2026) selama satu jam. Kakang belajar mengenal angka satu hingga sepuluh, huruf, bernyanyi, dan tentu saja bermain lego.

Seusai kegiatan, Aa Akil menjemput adiknya. Jarak dari rumah ke tempat belajar hanya terpaut tiga rumah, sehingga mereka pulang berjalan kaki sambil terus mengobrol.

Sesampainya di rumah, kalimat pertama yang terlontar dari mulut Kakang bukanlah tentang angka yang berhasil dihafalnya, huruf yang baru dikenalnya.

"Asyik, Bah... bisa main lego sama teman-teman!" ujarnya penuh semangat.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Serunya Bermain Sambil Belajar

Belajar melalui bermain merupakan satu teknik pengajaran dan pembelajaran yang berkesan kepada anak usia dini. Dengan melalui teknik ini akan mendatangkan kesenangan dan kepuasan kepada mereka dalam suatu program yang hendak disampaikan. Misalnya, melalui bermain anak-anak akan dapat menguasai perkembangan dan keterampilan fisik dan penguasaan bahasa dari segi perbendaharaan, serta peraturan tata bahasa.

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa bermain sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Dengan demikian, dalam proses pembelajaran PAUD bukan menekankan terhadap kemampuan menguasai materi melainkan proses belajar melalui bermain.

Dengan bermain dapat menumbuhkan kesenangan anak terhadap belajar. Selanjutnya, anak akan dapat memperkaya, (memperluas) pengalaman bermain yang bermakna.

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi (bahan), dan media yang menarik agar mudah diikuti anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya (Direktorat PAUD, 2003: 3).

Dalam kegiatan bermain, anak diajak mengenai dunia dan lingkungannya. Berbagai aktivitas bermain memberikan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bermain dengan pembelajaran dapat memberikan dukungan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak secara lebih optimal. Slamet Suyanto (2002:127), mengatakan bahwa permainan memang baik untuk mendidik anak, tetapi permainan tersebut harus diberi muatan pendidikan sehingga anak dapat belajar.

Hal ini lebih lanjut ditekankan dalam Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 Pasal 5 yang menjelaskan program pendidikan PAUD diberikan melalui rangsangan pendidikan yang dilakukan oleh pendidik dalam kegiatan belajar melalui suasana bermain. Oleh karena itu, belajar melalui bermain merupakan suatu kegiatan belajar terhadap anak yang dilakukan dengan suasana dan aneka kegiatan bermain.

Pengertian bermain menurut konsep Association for Childhood Education International (ACEI) adalah “a dynamic, active and constructive behavior is neces- sary and integral part of childhood, infancy through adolescence”. Dalam konsep ACEI, bermain dimaknai sebagai perubahan yang membangun, aktif dan dinamis dalam perkembangan, serta pertumbuhan yang penting bagi anak untuk menuju dewasa.

Bruner dalam Martuti (2008: 11), memberikan penekanan pada fungsi bermain sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas.

Ahli lainnya yang memberikan definisi bermain adalah Vygotsky, seorang psikolog berkebangsaan Rusia, ia mengemukakan bermain merupakan “play is an excellent setting for cognitive development." He was especially interested in the symbolic and make believe aspects of play, as when a child rides a stick as if it were a horse. For young children, the imaginary situation is real. Parent should encourage such imaginary play because it advances the child's cognitive development, especially creative thought (Santrock, 2007: 509).

Jadi, menurut Vygotsky bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognitif seorang. Dengan bermain, daya pikir dan perkembangan otak anak akan semakin baik, serta berkembang secara optimal. Anak pada usia dini tidak atau kurang memperoleh saat-saat bermain maka akan tertinggal dan terlihat minder dan merasa rendah diri. (Ahmad Susanto, 2021: 97-98).

Ingat, setiap anak terlahir sebagai penjelajah dunia yang tak kenal lelah. Mata mereka yang berbinar adalah lensa yang menyaring keajaiban dari hal-hal yang paling sederhana: bentuk bayangan, rasa air hujan, atau bunyi gemerisik daun. Masa kanak-kanak, khususnya usia dini (0- 6 tahun), bukan sekadar fase persiapan menuju kehidupan yang "sebenarnya", melainkan sebuah landasan suci tempat fondasi seluruh masa depannya dibangun.

Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan tentang "mengisi gelas yang kosong" dengan segunung fakta dan angka. Ia adalah tentang menyalakan api keingintahuan, membimbing tangan kecil untuk merasakan, memicu pertanyaan dari benak yang kritis, dan memupuk nilai-nilai kemanusiaan melalui setiap interaksi.

Metode yang efektif dalam PAUD adalah metode yang menghormati "keseluruhan" anak perkembangan kognitif, fisik, sosial-emosional, dan bahasa secara seimbang dan menyeluruh.

Tantangan di kelas PAUD adalah tantangan yang nyata. Bagaimana menciptakan kegiatan yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga bermakna? Bagaimana memastikan setiap anak, dengan keunikan dan kecepatan belajarnya masing-masing, dapat terlibat aktif dan berkembang optimal? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering menghantui para pendidik dan orang tua yang tulus mencintai dunia anak usia dini.

Penelitian neurosains modern telah membuktikan sesuatu yang mungkin sudah kita duga: lima tahun pertama kehidupan anak adalah periode kritis yang paling pesat pertumbuhan otaknya. Setiap detik, lebih dari satu juta koneksi neural baru terbentuk, dibentuk oleh pengalaman dan interaksi dengan dunia sekitar.

Data ini bukan sekadar angka, ia adalah panggilan tanggung jawab bagi kita semua yang terlibat dalam pendidikan anak usia dini. Investasi yang tepat pada pendidikan PAUD yang berkualitas memiliki dampak jangka panjang yang luar biasa, tidak hanya bagi individu anak tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan mulai dari kesiapan sekolah, pencapaian akademik yang lebih tinggi, hingga stabilitas sosial-ekonomi.

Namun, kunci dari "pendidikan yang berkualitas" ini terletak pada metode pembelajaran yang digunakan. Metode pembelajaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang efektif adalah metode yang berpusat pada anak, berbasis bermain, dan menyesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.

Hasil kerja sama Aa Akil, Musa bermain lego di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Hasil kerja sama Aa Akil, Musa bermain lego di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

11 Prinsip Dasar Pembelajaran Ala PAUD

Prinsip dasar pembelajaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah fondasi yang memandu setiap aspek proses belajar mengajar untuk anak usia 0-6 tahun. Prinsip-prinsip ini dirumuskan untuk memastikan bahwa pembelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan, kebutuhan, dan karakteristik unik anak usia dini.

Di Indonesia, prinsip-prinsip ini secara resmi tercantum dalam Permendikbud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Berikut adalah prinsip-prinsip dasar pembelajaran PAUD, dijelaskan secara detail:

1. Bermain Sambil Belajar (Belajar Melalui Bermain)

Ini adalah prinsip yang paling sentral dalam PAUD. Bermain adalah dunia anak. Bermain adalah cara utama anak belajar. Melalui bermain, mereka dapat mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, emosional, bahasa, dan motorik. Konsep aktivitas bermain yang menyenangkan dan menarik justru menjadi media belajar yang paling efektif. Tanpa disadari, anak mengembangkan berbagai aspek perkembangan melalui bermain.

Contoh Penerapan: a. Bermain balok: anak belajar konsep matematika (bentuk, ukuran, keseimbangan), fisika (gravitasi), dan sosial (berbagi, kerja sama); b. Bermain peran (role play): anak mengembangkan bahasa, empati, keterampilan sosial, dan pemecahan masalah; c. Menyusun Puzzle: anak melatih motorik halus, koordinasi mata-tangan, kesabaran, dan logika.

2. Berorientasi Pada Perkembangan Anak

Pembelajaran harus disesuaikan dengan usia, minat, dan tahapan perkembangan setiap anak (Developmentally Appropriate Practice/DAP). Konsepnya setiap anak unik dan berkembang sesuai dengan ritmenya masing-masing. Guru tidak boleh memaksa anak mencapai target yang belum sesuai dengan usianya.

Contoh Penerapan: a. Tidak memaksa anak usia 3 tahun untuk calistung (baca, tulis, hitung) yang merupakan tugas perkembangan anak usia lebih tua; b. Memberikan aktivitas sensori motor (meraba, merasakan, mendengar) untuk anak toddler, dan aktivitas yang lebih kompleks seperti proyek sederhana untuk anak usia 5-6 tahun.

3. Berorientasi Pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran dirancang berdasarkan minat dan kebutuhan individual anak, bukan semata-mata keinginan guru atau kurikulum yang kaku. Maksudnya adalah anak akan belajar dengan optimal ketika mereka tertarik dan terlibat aktif. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mengamati dan merespons minat anak.

Contoh Penerapan: a. Jika beberapa anak tertarik pada serangga, guru dapat mengembangkan tema pembelajaran tentang serangga: membaca buku, mengamati semut, menggambar kupu-kupu, dll. b. Menyediakan berbagai macam material dan kegiatan sehingga anak dapat memilih sesuai minatnya (area bermain: seni, balok, peran, alam, dll.).

4. Berpusat Pada Anak (Child-Centered)

Anak adalah subjek aktif dalam pembelajaran, bukan objek yang hanya menerima informasi. Kegiatan dirancang berdasarkan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak, bukan keinginan guru. Adapun konsep yang diterapkan dimana peran guru adalah memfasilitasi, membimbing, dan memotivasi, sementara anak yang aktif mengeksplorasi, menemukan, dan membangun pengetahuannya sendiri.

Contoh Penerapan: Guru memberikan pertanyaan terbuka ("Menurutmu, kenapa air bisa mengalir?") daripada langsung memberikan jawaban dan Anak diberikan kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mencari solusi sendiri dengan bimbingan guru.

5. Pembelajaran yang Kontekstual

Materi pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata dan lingkungan sehari-hari anak. Materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari anak agar lebih bermakna. Tujuannya adalah agar Anak lebih mudah memahami sesuatu yang dekat dan relevan dengan kehidupannya.

Contoh Penerapan: a. Belajar berhitung dengan menghitung jumlah teman, buah, atau mainan di kelas; b. Belajar tentang tanaman dengan langsung menanam dan merawatnya di kebun sekolah; c. Mengenal profesi dengan mengundang orang tua yang berprofesi sebagai polisi atau dokter untuk bercerita.

Aa Akil tengah memperlihat hasil kreasi bermain lego, Sabtu (12/7/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil tengah memperlihat hasil kreasi bermain lego, Sabtu (12/7/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

6. Terpadu (Integrated)

Pembelajaran tidak dilakukan per mata pelajaran, tetapi mengintegrasikan semua aspek perkembangan (nilai agama moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni) dalam satu tema atau kegiatan sehingga pembelajaran tidak terpisah-pisah.

Satu tema dapat mencakup banyak aspek perkembangan (contoh: tema "Air" bisa termasuk sains, berhitung, bahasa, seni, dan motorik). Konsep yang dimaksud adalah bahwasanya Perkembangan anak adalah suatu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

Contoh Penerapan: Kegiatan "membuat sandwich" dapat mengembangkan a. Motorik halus (mengoles, merobek selada); b. Kognitif (mengenal urutan, konsep sebab-akibat); c. Bahasa (menyebutkan nama bahan); d. Sosial-Emosional (antri, berbagi, bangga dengan hasil karya); e. Seni (menyusun sandwich dengan kreatif).

7. Menggunakan Pendekatan Tematik

Tema digunakan sebagai pemersatu berbagai kegiatan dan materi pembelajaran. Tema membuat pembelajaran lebih terarah namun tetap fleksibel. Adapun Konsep pendekatan tematik ini dengan memberikan Tema yang menarik (seperti "Binatang", "Keluargaku", "Transportasi") menjadi payung untuk mengembangkan berbagai aktivitas belajar.

Contoh penerapan: Tema "Air" dapat mencakup: a. Sains: Percobaan mengapung dan tenggelam; b. Seni: Melukis dengan air; c. Motorik: Bermain water bead; d. Bahasa: Bercerita tentang pengalaman berenang.

8. Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)

Suasana pembelajaran harus dirancang agar anak merasa senang, aman, dan bebas berekspresi. Maksudnya adalah Aktif-Anak terlibat langsung secara fisik dan mental-; Kreatif-Anak didorong untuk menghasilkan ide dan karyanya sendiri-; Efektif-Kegiatan mencapai tujuan perkembangan yang diharapkan-; Menyenangkan (Fun)- Proses belajar penuh dengan kegembiraan, tanpa paksaan dan tekanan.

9. Demokratis dan Berkeadilan

Semua anak mendapat perhatian dan pelayanan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang, jenis kelamin, kemampuan, atau status sosial. Konsepnya adalah setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang. Lingkungan harus inklusif dan menghargai keragaman.

Contoh Penerapan: a. Guru memberikan pujian dan perhatian yang merata; b. Materi dan mainan disesuaikan agar dapat diakses oleh semua anak, termasuk anak dengan disabilitas; c. Anak diajarkan untuk menghargai perbedaan temannya.

10. Mengembangkan Kecakapan Hidup (Life Skills)

Pembelajaran tidak hanya untuk pengetahuan akademik, tetapi untuk membentuk kemandirian dan keterampilan hidup dasar. Adapun Konsepnya adalah dengan membiasakan anak dengan tugas-tugas sehari-hari yang sederhana.

Contoh Penerapan: a. Mencuci tangan sendiri, memakai sepatu, membereskan mainan setelah digunakan; b. Mengajarkan cara mengungkapkan perasaan (marah, sedih) dengan kata-kata yang baik; c. Belajar antri dan mengatasi konflik dengan teman secara sederhana.

11. Lingkungan yang Stimulatif

Ruang kelas yang aman, nyaman, kaya akan bahan ajar, dan mendukung eksplorasi adalah "guru ketiga" (setelah guru dan teman). Lingkungan adalah "guru ketiga" (setelah guru dan teman). Lingkungan harus aman secara fisik dan psikologis, serta kaya akan stimulasi yang mendorong eksplorasi dan penemuan.

Contoh penerapan: ruang kelas diatur menjadi sudut-sudut belajar (reading corner, nature corner, art corner) yang mudah diakses anak, dengan material yang menarik dan sesuai usia.

Prinsip-prinsip dasar PAUD ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Inti dari semua prinsip ini adalah menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, kaya stimulasi, dan penuh kasih sayang dimana anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Peran guru bukan sebagai "pengajar" yang dominan, tetapi sebagai fasilitator, observer, motivator, dan pendamping yang peka terhadap kebutuhan setiap individu anak.

Pembelajaran PAUD yang efektif adalah yang menyenangkan, bermakna, dan menghargai proses belajar setiap anak sebagai individu yang unik.

Tujuannya bukan untuk mencetak anak yang pandai akademis semata, tetapi untuk membentuk fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter dan keterampilan yang dibutuhkan untuk belajar sepanjang hayat (life long learners). (Sisca Septiani, ‎dkk, 2025: 111-120)

Bermain merupakan suatu kegiatan yang melekat pada diri anak. Pasalnya, bermain itu kodrat bagi setiap anak. Saat mendengarkan cerita Kakang, justru disitulah letak hakikat belajar pada masa kanak-kanak.

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia. Dari permainan, anak belajar menunggu giliran, menerima kekalahan, bekerja sama, membangun imajinasi, hingga merawat persahabatan.

Walhasil, sebelum pandai membaca buku, yang terlebih dahulu dibaca itu wajah-wajah kawan (Ayah, Ibu, Kaka) yang menemani masa kecilnya. Kenangan yang paling lama tinggal bukanlah tentang pelajaran (berhitung, mengenal dan menulis angka, huruf) yang diajarkan guru, melainkan tawa yang lahir saat bermain bersama.

Waktu Kakang bertanya, "Bah kenapa banyak yang ditungguin di Amah sama di Al-Hidayah, Kakang tidak ya!"

"Eta mah ogo wae, sapertos Kakang nuju bageur hoyong diantosan" ujarku sambil tersenyum dan mengusap kepala. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)