Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

2 menit baca
Anak Agung Gde Abel Sachio Karang
Ditulis oleh Anak Agung Gde Abel Sachio Karang diterbitkan
SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)

Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia mengalami tantangan untuk mendapatkan senjata modern. Hingga perlu mengambil senjata bekas kolonial yang tertinggal oleh Belanda dan Jepang. Pasca kemerdekaan senjata yang dimiliki Indonesia merupakan pembelian senjata dari negara lain, seperti yang ditulis oleh Tempo, ketergantungan terhadap negara lain untuk keperluan militer mengancam Indonesia terhadap embargo.

Seperti pada awal 2000-an, ketika Amerika Serikat serta negara-negara Eropa mengembargo Indonesia karena krisis di Timor Timur. Maka sadarlah bahwa Indonesia perlu berorientasi pada kemandirian alutsista, menuju kemampuan produksi alutsista oleh industri pertahanan domestik. SDM pertahanan perlu dibina dengan semangat nation building, bukan hanya dalam bidang technical competence.

Indonesia sudah mulai mencari senapan nasional di bawah pimpinan Suharto, maka ditugaskanlah BUMN untuk segera melakukan pengembangan senjata nasional. Menghasilkan SP-1, modifikasi dari senapan serbu Beretta BM-59 Mk.1 buatan Italia, yang diproduksi oleh PSM (Pabrik Senjata dan Mesiu) atau sekarang disebut PT. Pindad. Namun dalam Operasi Seroja ditemukan bahwa SP-1 sendiri memiliki berbagai kendala di lapangan, seperti sering macet (selongsong tidak keluar), popor kayu yang mudah pecah/retak, dan laras yang cepat panas saat tembakan otomatis.

FN FNC (Sumber: Wikimedia)
FN FNC (Sumber: Wikimedia)

Maka Diusulkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) untuk membuat senjata yang sudah di pasar melalui lisensi, untuk menghemat waktu dan biaya. BPPT mendorong 6 calon jenis senapan serbu, HK33 (Jerman), M16A1 (Amerika), FNC (Belgia), SIG SG 540 (Swiss), Steyr (Austria), dan Baretta AR70 (Italia). Ditulis Metro.co.Id, bahwa dari enam tersebut, FNC (Fabrique Nationale Carabine) terpilih dengan nama SS-1 (Senapan Serbu 1). Dikarenakan pihak FN Herstal bersedia memberikan alih teknologi 100 persen, dengan PT. Pindad diwajibkan memproduksi 200.000 unit FNC. Setelah itu tidak perlu membayar royalti lagi.

Menurut mantan Kepala Staf TNI AU Chappy Hakim, membangun pabrik senjata sendiri adalah cara membangkitkan martabat bangsa. Sebuah negara tidak hanya dibangun dari segi pemerintahan, atau layanan umum, tetapi juga dari kemampuan berdiri tegak dan mempertahankan dirinya tanpa bantuan luar. Maka Peningkatan kemampuan industri pertahanan diperlukan untuk memperkuat dan memenuhi kebutuhan TNI dalam melaksanakan tugasnya.

Pada saat artikel ini ditulis, senjata yang diproduksi oleh PT. Pindad sudah dapat bersaing dipasar internasional dengan produksi SS-3, tetapi kemampuan PT. Pindad untuk memenuhi produksi massal masih kurang. Hingga dalam peristiwa kedaulatan negara terancam, PT. Pindad tidak memiliki kemampuan produksi yang melebihi degradasi militer.

SS3-M1 (Sumber: PT.Pindad)
SS3-M1 (Sumber: PT.Pindad)

Meningkatkan kemampuan industri pertahanan adalah salah satu komponen utama dalam membangun negara. Sejarah senjata nasional tidak dapat dipisahkan dari nation building. Senjata seperti SS1 menjadi produk kebanggaan yang tidak hanya memberikan kemandirian dalam hal pengadaan senjata, tetapi juga membuka lapangan kerja.

Sebuah negara yang berdaulat perlu menunjukkan kepada dunia bahwa ia dapat mempertahankan kedaulatan itu tanpa bantuan asing, dalam bentuk industri pertahanan lokal. Maka SS1 adalah langkah pertama Indonesia mampu untuk memproduksi senjata sendiri, menetapkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan sebagai kekuatan regional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anak Agung Gde Abel Sachio Karang
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 27 Jul 2026, 17:05

KDM Perlu Langkah Cepat Atasi Bencana Kekeringan di Jawa Barat

Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya

Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 16:37

Romantisme Mendengarkan Sandiwara Radio Saur Sepuh di Radio Bandung Era 1990-an

Popularitas Saur Sepuh kemudian melahirkan berbagai adaptasi ke layar lebar dan layar kaca, sehingga kisah legendaris tersebut dapat dinikmati generasi berikutnya.

Sandiwara Radio Saur Sepuh, salah satu program radio paling legendaris pada era 1990-an. (Sumber: Tabloid Monitor, edisi 4 Juni 1987)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:52

Merentas Kesenjangan Mutu Pendidikan

Keberadaan SNT, setidaknya bisa menjadi solusi sekaligus penyegaran bagi sekolah-sekolah yang sudah ada.

Pelajar sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: KyoRa Kee)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:13

Konstruksi Sosial dalam Pernikahan: Antara Kebutuhan dan Keinginan

Pernikahan muda sebagai solusi yang justru banyak mengakibatkan perceraian, kekerasan, dan penderitaan.

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 13:57

Dari Viral Menjadi Pembelajaran: Memahami Fungsi Pelican Crossing

Di balik kasus viral pelican crossing di Bundaran HI Jakarta, tersimpan pelajaran penting tentang hak pejalan kaki, keselamatan jalan, dan tanggung jawab pengendara dalam ruang publik.

Tangkapan layar video satpam menegur pengemudi mobil Toyota Alphard yang diduga menerobos pelican crossing di kawasan Halte Transjakarta Bundaran HI, (23/7/2026). (Sumber: Instagram/@infojktku)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)