Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

2 menit baca
Anak Agung Gde Abel Sachio Karang
Ditulis oleh Anak Agung Gde Abel Sachio Karang diterbitkan Jumat 12 Jun 2026, 09:42 WIB
SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)

Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia mengalami tantangan untuk mendapatkan senjata modern. Hingga perlu mengambil senjata bekas kolonial yang tertinggal oleh Belanda dan Jepang. Pasca kemerdekaan senjata yang dimiliki Indonesia merupakan pembelian senjata dari negara lain, seperti yang ditulis oleh Tempo, ketergantungan terhadap negara lain untuk keperluan militer mengancam Indonesia terhadap embargo.

Seperti pada awal 2000-an, ketika Amerika Serikat serta negara-negara Eropa mengembargo Indonesia karena krisis di Timor Timur. Maka sadarlah bahwa Indonesia perlu berorientasi pada kemandirian alutsista, menuju kemampuan produksi alutsista oleh industri pertahanan domestik. SDM pertahanan perlu dibina dengan semangat nation building, bukan hanya dalam bidang technical competence.

Indonesia sudah mulai mencari senapan nasional di bawah pimpinan Suharto, maka ditugaskanlah BUMN untuk segera melakukan pengembangan senjata nasional. Menghasilkan SP-1, modifikasi dari senapan serbu Beretta BM-59 Mk.1 buatan Italia, yang diproduksi oleh PSM (Pabrik Senjata dan Mesiu) atau sekarang disebut PT. Pindad. Namun dalam Operasi Seroja ditemukan bahwa SP-1 sendiri memiliki berbagai kendala di lapangan, seperti sering macet (selongsong tidak keluar), popor kayu yang mudah pecah/retak, dan laras yang cepat panas saat tembakan otomatis.

FN FNC (Sumber: Wikimedia)
FN FNC (Sumber: Wikimedia)

Maka Diusulkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) untuk membuat senjata yang sudah di pasar melalui lisensi, untuk menghemat waktu dan biaya. BPPT mendorong 6 calon jenis senapan serbu, HK33 (Jerman), M16A1 (Amerika), FNC (Belgia), SIG SG 540 (Swiss), Steyr (Austria), dan Baretta AR70 (Italia). Ditulis Metro.co.Id, bahwa dari enam tersebut, FNC (Fabrique Nationale Carabine) terpilih dengan nama SS-1 (Senapan Serbu 1). Dikarenakan pihak FN Herstal bersedia memberikan alih teknologi 100 persen, dengan PT. Pindad diwajibkan memproduksi 200.000 unit FNC. Setelah itu tidak perlu membayar royalti lagi.

Menurut mantan Kepala Staf TNI AU Chappy Hakim, membangun pabrik senjata sendiri adalah cara membangkitkan martabat bangsa. Sebuah negara tidak hanya dibangun dari segi pemerintahan, atau layanan umum, tetapi juga dari kemampuan berdiri tegak dan mempertahankan dirinya tanpa bantuan luar. Maka Peningkatan kemampuan industri pertahanan diperlukan untuk memperkuat dan memenuhi kebutuhan TNI dalam melaksanakan tugasnya.

Pada saat artikel ini ditulis, senjata yang diproduksi oleh PT. Pindad sudah dapat bersaing dipasar internasional dengan produksi SS-3, tetapi kemampuan PT. Pindad untuk memenuhi produksi massal masih kurang. Hingga dalam peristiwa kedaulatan negara terancam, PT. Pindad tidak memiliki kemampuan produksi yang melebihi degradasi militer.

SS3-M1 (Sumber: PT.Pindad)
SS3-M1 (Sumber: PT.Pindad)

Meningkatkan kemampuan industri pertahanan adalah salah satu komponen utama dalam membangun negara. Sejarah senjata nasional tidak dapat dipisahkan dari nation building. Senjata seperti SS1 menjadi produk kebanggaan yang tidak hanya memberikan kemandirian dalam hal pengadaan senjata, tetapi juga membuka lapangan kerja.

Sebuah negara yang berdaulat perlu menunjukkan kepada dunia bahwa ia dapat mempertahankan kedaulatan itu tanpa bantuan asing, dalam bentuk industri pertahanan lokal. Maka SS1 adalah langkah pertama Indonesia mampu untuk memproduksi senjata sendiri, menetapkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan sebagai kekuatan regional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anak Agung Gde Abel Sachio Karang
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:36

Memahami Konsep Iklan 'Mie Nyemek': Perlukah Inovasi Kuliner Lokal dan Warmindo?

Membedah peluncuran Indomie Hype Abis Mie Nyemek melalui tiga platform yaitu website, Instagram, dan news online.

Penulis menganalisis teknik penulisan PT. Indofood dari ketiga platform yaitu website, media sosial, dan news online untuk melihat konsistensi pesan.
Wisata & Kuliner 11 Jun 2026, 18:17

Panduan Tamasya ke Situ Cileunca Pangalengan, Danau Buatan yang Jadi Ikon Bandung Selatan

Situ Cileunca di Pangalengan menawarkan wisata danau, rafting, camping, dan sejarah PLTA sejak 1919.

Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Disbudpar Kabupaten Bandung)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 18:09

Surabi Bandung Melintasi Zaman: Dari Menu Sarapan Kaum Agraris hingga Ikon Kuliner Kafe

Kudapan bundar berbahan dasar tepung beras dan kelapa ini adalah contoh sempurna dari kelenturan budaya kuliner Nusantara.

Salah satu varian surabi di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: JENNI AGUSTINA)
Wisata & Kuliner 11 Jun 2026, 15:14

5 Penginapan Estetik Pilihan di Yogyakarta, Bukan Cuma Buat Tempat Tidur

Dari hotel ramah lingkungan hingga penginapan bernuansa Meksiko, berikut lima penginapan estetik di Yogyakarta yang menawarkan pengalaman menginap berbeda.

Por Aqui Stay & Dine
Linimasa 11 Jun 2026, 09:46

ITC Kebonkalapa, Pusat Perbelanjaan Kota Bandung yang Memudar

Dulu penuh pembeli, kini ITC Kebonkalapa menghadapi sepinya pengunjung dan banyak kios kosong.

Kondisi ITC Kebonkalapa yang dulu sempat jadi tempat nongkrong dan belanja andalan warga Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 09:08

Bagaimana Musik Membantu Anak Tunagrahita Berinteraksi dengan Orang Lain?

Anak tunagrahita menghadapi hambatan sosial akibat gangguan fungsi kognitif.

Ilustrasi. (Sumber: gemini.ai)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:20

Mengapa Banjir di Majalaya Hari Ini Berbeda dengan Era Hindia-Belanda?

Apakah banjir di Majalaya terjadi baru baru ini atau dimulai pada abad 20?

Gambar banjir di Majalaya (Sumber: wa grup | Foto: Mufti Nurlita Sari)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:03

Menyoal Eksklusivitas dalam Komunitas Baca Buku

Menurutku cukup pejabat yang terlihat hidup lebih eksklusif dibandingkan rakyatnya tapi jangan sampai ruang-ruang membaca, ruang-ruang diskusi juga ikut membentuk kesenjangan diantara anggotanya

Komunitas Baca Buku seharusnya menjadi ajang paling ramah bagi mereka yang ingin mencari ruang aman untuk berdiskusi dan berdialetika bukan justru terasing karena punya pilihan yang berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)