Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

4 menit baca
Valerie Alexia
Ditulis oleh Valerie Alexia diterbitkan
Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa. Pola pikir yang sama pun terus muncul “hujan terlalu deras, alam sedang marah”. Memang, Bandung adalah kota tropis di dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan, ditambah dampak perubahan iklim yang nyata. Bandung memiliki curah hujan 2.215 mm/tahun yang sebenarnya lebih rendah dari Malaysia dan Panama, namun negara-negara tersebut tidak masuk dalam daftar negara dengan bencana banjir tahunan sistemik seperti Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan intensitas hujan, melainkan apa yang terjadi pada air ketika menyentuh tanah. Ketika lahan hijau diganti beton, ketika izin bangunan terbit tanpa pengawasan, dan ketika ruang terbuka hijau terus menghilang, banjir bukan lagi bencana alam tetapi adalah hasil dari suatu kebijakan. Selama Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) diterbitkan tanpa penegakan kewajiban infrastruktur hijau di setiap persilnya, maka pemerintah kota bukan hanya gagal melindungi warganya namun justru aktif memproduksi banjir itu sendiri.

Banjir Bandung tidak murni disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga oleh alih fungsi lahan. Penelitian Putri (2025) dari UNPAR di DTA Nanjung, hulu Citarum, menghitung bahwa perubahan tata guna lahan telah meningkatkan debit banjir periode ulang 100 tahun sebesar 9,78% antara 2004 dan 2014, dan diprediksi melonjak hingga 13,42% pada 2034 jika tidak ditindaklanjuti . Studi ini membuktikan bahwa alih fungsi lahan telah memperparah sistem hidrologi DAS.

Di Bandung Raya, alih fungsi lahan telah terjadi secara masif. Sawah, rawa, dan danau yang dulu berfungsi sebagai spons alami kini telah berganti menjadi permukiman dan kawasan komersial. Walhi Jawa Barat mencatat bahwa 70 % lahan di Kawasan Bandung Utara sudah beralih fungsi, menghilangkan kapasitas resapan alami seluas ribuan hektar.

Regulasi Ada, Penegakan Lemah

Masalahnya tidak berhenti pada alih fungsi lahan di tingkat makro. Di tingkat mikro, setiap persil, setiap bangunan akan memperparah kerusakan yang ada jika sistem perizinan tidak diawasi. Regulasinya sudah ada: PP No. 16 Tahun 2021 yang menggantikan IMB dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) telah mengintegrasikan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) sebagai standar teknis nasional, diperkuat Permen PUPR No. 21 Tahun 2021 yang mengatur penilaian kinerja BGH. Di tingkat kota, Peraturan Walikota Bandung No. 1023/2016 tentang Bangunan Gedung Hijau bahkan sudah lebih dulu mengintegrasikan persyaratan ini ke dalam proses perizinan.

Namun celah kritis dalam regulasi nasional justru terletak pada cakupannya: berdasarkan PP 16/2021 dan Permen PUPR 21/2021, kewajiban BGH hanya berlaku untuk bangunan baru dengan luas lantai di atas 20.000 m² dan bangunan lama di atas 50.000 m², sementara ribuan rumah tinggal, ruko, dan perumahan kecil-menengah yang mendominasi Bandung Raya tidak terkena kewajiban apapun. Selain itu, untuk kebijakan PBG sendiri, hampir 600.000 bangunan di Kota Bandung, baru sekitar 50 persen yang memiliki PBG, sementara sisanya, sekitar 300.000 bangunan berdiri tanpa proses verifikasi apapun. Dua lapisan regulasi yakni kota dan nasional sama-sama gagal ditegakkan karena resistensi pengembang, minimnya pengawasan, dan tidak adanya kemauan politik untuk menegakkan sanksi.

Solusi banjir Bandung tidak akan tuntas jika hanya mengandalkan infrastruktur makro seperti bendungan dan pelebaran sungai, karena akar masalahnya justru berada di skala terkecil yaitu setiap persil bangunan yang kini tertutup beton tanpa sistem pengelolaan air hujannya sendiri. Konsep Low Impact Development (LID), yang dikembangkan pertama kali oleh Prince George's County, Maryland (1999), menegaskan bahwa setiap pengembangan lahan wajib mempertahankan kondisi hidrologi sebelum pembangunan yang artinya setiap bangunan harus mengelola limpasan airnya sendiri, bukan membebankannya ke drainase kota.

Penelitian yang memodelkan pembangunan sebuah gereja di Bandung menunjukkan peningkatan debit limpasan sebesar 26,6 hingga 34,4 persen hanya dari satu bangunan, bayangkan akumulasinya dari ribuan bangunan baru setiap tahun. Dengan demikian, mewajibkan kolam retensi, rain garden, sumur resapan, dan perkerasan permeabel dalam setiap PBG bukan sekadar rekomendasi teknis, melainkan koreksi atas ketidakadilan yang membiarkan pemilik bangunan mengalihkan konsekuensi hidrologisnya kepada warga yang lebih rentan.

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Banjir Bandung adalah hasil akumulasi kebijakan yang memihak kepentingan modal properti, bukan takdir alam yang harus diterima setiap tahun. Regulasi BGH sudah ada di dua lapisan, namun aturan tanpa penegakan hanyalah dekorasi hukum yang tidak menyelamatkan satu pun rumah di Baleendah. Prinsip Low Impact Development mengajarkan bahwa solusi banjir harus dimulai dari skala terkecil, sehingga selama kewajiban infrastruktur hijau di tingkat persil tidak ditegakkan, bendungan sebesar apapun di hulu tidak akan mampu mengompensasi lahan-lahan yang telah dibetonkan tanpa pertanggungjawaban hidrologi.

Oleh karena itu, rekomendasi yang mendesak adalah menegakkan kewajiban BGH berbasis LID dalam setiap penerbitan PBG tanpa pengecualian, menghentikan alih fungsi lahan resapan secara konsisten, meninjau ulang seluruh izin perumahan di kawasan hulu, dan menerbitkan peraturan turunan yang lebih operasional disertai sanksi nyata. Selama pemerintah memilih untuk melihat regulasi tanpa menegakkannya, Bandung tidak akan berhenti tenggelam, bukan karena hujannya terlalu deras, tetapi karena setiap bangunan baru tanpa infrastruktur hijau adalah satu keputusan lagi untuk membiarkan air mengalir ke rumah orang lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)