Banjir Dayeuhkolot, Antara Kolam dan Renang Gaya Bebas

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Senin 19 Jan 2026, 15:22 WIB
Banjir yang menggenang di ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat 22 November 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Banjir yang menggenang di ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat 22 November 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Setiap musim hujan datang, Bandung punya kebiasaan unik: sebagian warga sibuk nyeduh kopi susu, sebagian lagi… nyiapin rakit. Ya, inilah Bandung bagian selatan, tepatnya Dayeuhkolot, tempat di mana “banjir” bukan sekadar bencana, tapi sudah jadi kawan lama yang rutin datang tanpa undangan.

Dan entah kenapa, warga tetap bisa tertawa. “Banjir deui, atuh… urang mah geus biasa. Tinggal ngojay saeutik, ngopi deui,” kata seorang bapak di pinggir jalan Ciguriang sambil menatap air setinggi lutut.

Sebagai orang Bandung yang dulu kuliah di UIN Bandung angkatan 2002 dan kembali ke kota ini tahun 2025, saya merasa seolah kota ini tidak berubah banyak—masih adem, masih romantis, tapi juga… masih rawan jadi kolam raksasa.

Dan di situlah saya mulai berpikir: mungkin memang benar, kita sedang ngojay di Bandung, bukan sekadar karena hujan, tapi karena warisan geologi dan mentalitas warga yang sekuat batu kali Citarum.

Dayeuhkolot: Kota Tua

Kalau ditanya kenapa Dayeuhkolot sering kebanjiran, jawabannya bukan karena hujan semata, tapi karena geologi Bandung itu sendiri.

Kata para ahli geologi ITB, Bandung dulunya adalah danau purba — Danau Bandung Purba — yang terbentuk sekitar 50.000 tahun lalu setelah letusan besar Gunung Sunda Purba. Letusannya menutup aliran sungai, membentuk cekungan raksasa yang lama-lama jadi danau.

Bayangkan: ribuan tahun lalu, tempat kita ngopi sekarang sebenarnya adalah dasar danau purba. Setelah danau itu surut, manusia datang, membangun rumah, kampus, dan pabrik… tanpa sadar bahwa mereka sedang tinggal di “bekas baskom alam”.

Jadi, kalau Dayeuhkolot banjir, sebenarnya alam hanya sedang mengenang masa lalunya. Bandung seakan berkata, “Dulu aku ini danau, Nak. Sekarang kamu yang mengaku kota, tapi lihat — aku bisa kembali ke bentuk asliku kapan saja.”

Nama Dayeuhkolot sendiri mengandung ironi. “Dayeuh” berarti kota, “kolot” berarti tua. Secara harfiah: kota tua. Tapi di zaman sekarang, seolah jadi “kolam tua” — tempat air mengenang masa lalu Bandung.

Saya pernah melewati Dayeuhkolot selepas hujan besar. Jalanan berubah jadi kanal. Motor-motor beriringan pelan, pengendara menunduk pasrah. Tapi di sisi lain, ada anak-anak tertawa, bermain ban bekas sambil teriak, “Ngapungkeun kapal, Mang!”

Lalu ada ibu-ibu yang tetap jualan gorengan di atas meja kayu yang terapung di depan rumah.

“Naha teu sieun, Bu?” saya tanya.

“Sieun mah sieun, tapi kudu dahar, Kang. Mun teu dagang, moal bisa ngopi.”

Jawaban sederhana itu menyentak saya. Di tengah genangan air cokelat, semangat hidup warga tetap jernih.

Mungkin inilah bentuk resiliensi Sunda: bisa bercanda bahkan saat banjir, bisa beradaptasi tanpa kehilangan tawa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir Dayeuhkolot bukan hanya soal air yang meluap, tapi juga soal bagaimana manusia membaca alamnya.

Dulu, kakek saya sering bilang, “Leuweung rusak, cai teu boga tempat nyusup.” (Kalau hutan rusak, air nggak punya tempat meresap.)

Itu bukan teori ilmiah, tapi filosofi lokal yang sejalan dengan ilmu geologi modern.

Air mengalir dari gunung ke lembah, mencari tempat rendah — dan Bandung Selatan adalah tempat terendahnya. Tapi manusia mempercepat siklus itu dengan menebang, menutup tanah dengan aspal, dan membangun di lahan cekungan tanpa resapan.

Jadi, ketika air datang, dia hanya melakukan satu hal: kembali ke tempat asalnya.
Seolah air berkata, “Aku tak marah, hanya pulang.”

Cerita Ngojay di Tengah Kota

Suatu pagi di awal 2025, saya mampir ke Dayeuhkolot setelah hujan semalam. Air setinggi lutut membanjiri jalan utama.

Seorang remaja mendorong motor, sementara bocah-bocah bermain sambil menjerit gembira. Ada perahu karet oranye milik relawan melintas, disusul mobil polisi yang terjebak air. Ironi dan komedi bercampur sempurna.

Saya menepi di warung kecil. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya, menyajikan kopi panas.

“Banjir teu eureun-eureun, Bu?” tanya saya.

“Eureun mah eureun, Kang. Tapi balik deui. Siga mantan.”

Kami tertawa keras-keras. Bandung Selatan memang begitu: bahkan di tengah bencana, humor tetap mengalir seperti sungainya.

Dan ketika saya menatap hamparan air itu, saya merasa seolah Bandung sedang bercermin — memperlihatkan wajahnya yang lama, tapi dengan mata baru.

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Banjir bukan hanya air, tapi juga refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan bumi.

Sebagai orang yang pernah belajar ilmu Antropologi Agama di UIN Bandung, saya percaya bahwa ilmu dan kearifan lokal tidak harus bertentangan.

Geologi menjelaskan “mengapa” Dayeuhkolot banjir; kearifan lokal mengajarkan “bagaimana” kita bersikap terhadapnya.

Dalam budaya Sunda, ada pepatah: “Cai téh panghurip hirup.” (Air adalah sumber kehidupan.)

Ironis, karena air yang memberi hidup kini justru menenggelamkan. Tapi kalau dipikir-pikir, air tidak berubah — hanya manusia yang lupa menghormatinya.

Bagi warga Dayeuhkolot, air bukan musuh, tapi tamu tak diundang yang harus disambut dengan bijak. Mereka tidak melawan dengan marah, tapi bertahan dengan akal dan gotong royong: bikin panggung kayu, taruh perabot di tempat tinggi, dan tetap jualan meski lantai rumah basah.

Ada filosofi diam-diam di sana: henteu kudu kuat ngalawan, asal kuat ngamangpaatkeun. (Tak perlu kuat melawan, asal kuat beradaptasi.)

Bandung yang Mengapung

Jika dilihat dari peta geologi, Bandung memang “terjebak” di cekungan besar dikelilingi gunung. Curah hujan tinggi, drainase buruk, dan sedimentasi sungai Citarum jadi kombinasi maut. Tapi di balik itu, ada keindahan unik: Bandung adalah kota yang terus berdialog dengan air.

Mungkin ini cara alam mengingatkan kita: jangan terlalu sombong menantang kontur bumi.
Kita membangun perumahan di rawa, menimbun sawah, dan menutup resapan. Lalu ketika air datang, kita bingung, padahal air hanya menjalankan logika lamanya.

Saya jadi teringat ucapan dosen geologi UIN waktu kuliah umum dulu,

“Bandung mah kota romantis, tapi juga rapuh. Kalau kamu tak hati-hati, dia bisa berubah jadi danau lagi.”

Dan saya rasa beliau tidak bercanda.

Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir Dayeuhkolot adalah puisi yang terus diulang. Setiap tahun, baitnya sama: hujan turun, air meluap, berita muncul, warga bertahan. Tapi di antara itu, ada semangat yang tak pernah padam.

Bandung bukan hanya kota dengan sejarah geologi yang indah, tapi juga manusia yang luar biasa lentur.

Mungkin kita memang sedang “ngojay” di Bandung — tapi bukan dengan pasrah, melainkan dengan gaya khas urang Sunda: sabar, nyarita bari seuri, tapi tetap mikir.

Dan siapa tahu, dari tawa di tengah genangan, lahir kesadaran baru: bahwa untuk mencintai kota ini, kita harus belajar lagi menghormati tanah dan airnya.

Karena sejatinya, Bandung tidak pernah menenggelamkan kita — kita saja yang lupa bagaimana cara berenang bersama alam. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)