Banjir Dayeuhkolot, Antara Kolam dan Renang Gaya Bebas

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Banjir yang menggenang di ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat 22 November 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Banjir yang menggenang di ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat 22 November 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Setiap musim hujan datang, Bandung punya kebiasaan unik: sebagian warga sibuk nyeduh kopi susu, sebagian lagi… nyiapin rakit. Ya, inilah Bandung bagian selatan, tepatnya Dayeuhkolot, tempat di mana “banjir” bukan sekadar bencana, tapi sudah jadi kawan lama yang rutin datang tanpa undangan.

Dan entah kenapa, warga tetap bisa tertawa. “Banjir deui, atuh… urang mah geus biasa. Tinggal ngojay saeutik, ngopi deui,” kata seorang bapak di pinggir jalan Ciguriang sambil menatap air setinggi lutut.

Sebagai orang Bandung yang dulu kuliah di UIN Bandung angkatan 2002 dan kembali ke kota ini tahun 2025, saya merasa seolah kota ini tidak berubah banyak—masih adem, masih romantis, tapi juga… masih rawan jadi kolam raksasa.

Dan di situlah saya mulai berpikir: mungkin memang benar, kita sedang ngojay di Bandung, bukan sekadar karena hujan, tapi karena warisan geologi dan mentalitas warga yang sekuat batu kali Citarum.

Dayeuhkolot: Kota Tua

Kalau ditanya kenapa Dayeuhkolot sering kebanjiran, jawabannya bukan karena hujan semata, tapi karena geologi Bandung itu sendiri.

Kata para ahli geologi ITB, Bandung dulunya adalah danau purba — Danau Bandung Purba — yang terbentuk sekitar 50.000 tahun lalu setelah letusan besar Gunung Sunda Purba. Letusannya menutup aliran sungai, membentuk cekungan raksasa yang lama-lama jadi danau.

Bayangkan: ribuan tahun lalu, tempat kita ngopi sekarang sebenarnya adalah dasar danau purba. Setelah danau itu surut, manusia datang, membangun rumah, kampus, dan pabrik… tanpa sadar bahwa mereka sedang tinggal di “bekas baskom alam”.

Jadi, kalau Dayeuhkolot banjir, sebenarnya alam hanya sedang mengenang masa lalunya. Bandung seakan berkata, “Dulu aku ini danau, Nak. Sekarang kamu yang mengaku kota, tapi lihat — aku bisa kembali ke bentuk asliku kapan saja.”

Nama Dayeuhkolot sendiri mengandung ironi. “Dayeuh” berarti kota, “kolot” berarti tua. Secara harfiah: kota tua. Tapi di zaman sekarang, seolah jadi “kolam tua” — tempat air mengenang masa lalu Bandung.

Saya pernah melewati Dayeuhkolot selepas hujan besar. Jalanan berubah jadi kanal. Motor-motor beriringan pelan, pengendara menunduk pasrah. Tapi di sisi lain, ada anak-anak tertawa, bermain ban bekas sambil teriak, “Ngapungkeun kapal, Mang!”

Lalu ada ibu-ibu yang tetap jualan gorengan di atas meja kayu yang terapung di depan rumah.

“Naha teu sieun, Bu?” saya tanya.

“Sieun mah sieun, tapi kudu dahar, Kang. Mun teu dagang, moal bisa ngopi.”

Jawaban sederhana itu menyentak saya. Di tengah genangan air cokelat, semangat hidup warga tetap jernih.

Mungkin inilah bentuk resiliensi Sunda: bisa bercanda bahkan saat banjir, bisa beradaptasi tanpa kehilangan tawa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir Dayeuhkolot bukan hanya soal air yang meluap, tapi juga soal bagaimana manusia membaca alamnya.

Dulu, kakek saya sering bilang, “Leuweung rusak, cai teu boga tempat nyusup.” (Kalau hutan rusak, air nggak punya tempat meresap.)

Itu bukan teori ilmiah, tapi filosofi lokal yang sejalan dengan ilmu geologi modern.

Air mengalir dari gunung ke lembah, mencari tempat rendah — dan Bandung Selatan adalah tempat terendahnya. Tapi manusia mempercepat siklus itu dengan menebang, menutup tanah dengan aspal, dan membangun di lahan cekungan tanpa resapan.

Jadi, ketika air datang, dia hanya melakukan satu hal: kembali ke tempat asalnya.
Seolah air berkata, “Aku tak marah, hanya pulang.”

Cerita Ngojay di Tengah Kota

Suatu pagi di awal 2025, saya mampir ke Dayeuhkolot setelah hujan semalam. Air setinggi lutut membanjiri jalan utama.

Seorang remaja mendorong motor, sementara bocah-bocah bermain sambil menjerit gembira. Ada perahu karet oranye milik relawan melintas, disusul mobil polisi yang terjebak air. Ironi dan komedi bercampur sempurna.

Saya menepi di warung kecil. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya, menyajikan kopi panas.

“Banjir teu eureun-eureun, Bu?” tanya saya.

“Eureun mah eureun, Kang. Tapi balik deui. Siga mantan.”

Kami tertawa keras-keras. Bandung Selatan memang begitu: bahkan di tengah bencana, humor tetap mengalir seperti sungainya.

Dan ketika saya menatap hamparan air itu, saya merasa seolah Bandung sedang bercermin — memperlihatkan wajahnya yang lama, tapi dengan mata baru.

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Banjir bukan hanya air, tapi juga refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan bumi.

Sebagai orang yang pernah belajar ilmu Antropologi Agama di UIN Bandung, saya percaya bahwa ilmu dan kearifan lokal tidak harus bertentangan.

Geologi menjelaskan “mengapa” Dayeuhkolot banjir; kearifan lokal mengajarkan “bagaimana” kita bersikap terhadapnya.

Dalam budaya Sunda, ada pepatah: “Cai téh panghurip hirup.” (Air adalah sumber kehidupan.)

Ironis, karena air yang memberi hidup kini justru menenggelamkan. Tapi kalau dipikir-pikir, air tidak berubah — hanya manusia yang lupa menghormatinya.

Bagi warga Dayeuhkolot, air bukan musuh, tapi tamu tak diundang yang harus disambut dengan bijak. Mereka tidak melawan dengan marah, tapi bertahan dengan akal dan gotong royong: bikin panggung kayu, taruh perabot di tempat tinggi, dan tetap jualan meski lantai rumah basah.

Ada filosofi diam-diam di sana: henteu kudu kuat ngalawan, asal kuat ngamangpaatkeun. (Tak perlu kuat melawan, asal kuat beradaptasi.)

Bandung yang Mengapung

Jika dilihat dari peta geologi, Bandung memang “terjebak” di cekungan besar dikelilingi gunung. Curah hujan tinggi, drainase buruk, dan sedimentasi sungai Citarum jadi kombinasi maut. Tapi di balik itu, ada keindahan unik: Bandung adalah kota yang terus berdialog dengan air.

Mungkin ini cara alam mengingatkan kita: jangan terlalu sombong menantang kontur bumi.
Kita membangun perumahan di rawa, menimbun sawah, dan menutup resapan. Lalu ketika air datang, kita bingung, padahal air hanya menjalankan logika lamanya.

Saya jadi teringat ucapan dosen geologi UIN waktu kuliah umum dulu,

“Bandung mah kota romantis, tapi juga rapuh. Kalau kamu tak hati-hati, dia bisa berubah jadi danau lagi.”

Dan saya rasa beliau tidak bercanda.

Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir Dayeuhkolot adalah puisi yang terus diulang. Setiap tahun, baitnya sama: hujan turun, air meluap, berita muncul, warga bertahan. Tapi di antara itu, ada semangat yang tak pernah padam.

Bandung bukan hanya kota dengan sejarah geologi yang indah, tapi juga manusia yang luar biasa lentur.

Mungkin kita memang sedang “ngojay” di Bandung — tapi bukan dengan pasrah, melainkan dengan gaya khas urang Sunda: sabar, nyarita bari seuri, tapi tetap mikir.

Dan siapa tahu, dari tawa di tengah genangan, lahir kesadaran baru: bahwa untuk mencintai kota ini, kita harus belajar lagi menghormati tanah dan airnya.

Karena sejatinya, Bandung tidak pernah menenggelamkan kita — kita saja yang lupa bagaimana cara berenang bersama alam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)