Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

4 menit baca
Mahi M. Hkikmat
Ditulis oleh Mahi M. Hkikmat diterbitkan
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Bencana berbasis lingkungan, seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan, telah menjadi tantangan berulang bagi Indonesia. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta tata kelola ruang yang belum optimal memperbesar risiko bencana di berbagai daerah. Namun, di balik aspek teknis penanggulangan bencana, terdapat dimensi lain yang sama krusial, yaitu komunikasi politik pemerintah. Cara pemerintah menyampaikan informasi, membangun narasi, dan berinteraksi dengan publik sangat menentukan efektivitas respons bencana sekaligus tingkat kepercayaan masyarakat.

Sepanjang 2023–2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian banjir yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Di Sumatra saja, banjir besar melanda Jambi, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, merendam ribuan rumah, melumpuhkan aktivitas ekonomi, serta memaksa warga mengungsi. 

Bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi juga merupakan peristiwa politik karena menyangkut keputusan, tanggung jawab, dan kehadiran negara di hadapan warga. Dalam konteks ini, komunikasi politik pemerintah memainkan peran strategis: menyampaikan informasi yang akurat, menenangkan publik, mengoordinasikan respons lintas lembaga, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat (Norris, 2011).

Tidak Steril

Komunikasi politik dalam situasi bencana idealnya bersifat cepat, transparan, empatik, dan koordinatif. Indonesia telah berupaya mengembangkan sistem komunikasi krisis berbasis satu pintu, penggunaan aplikasi InaRISK dan peringatan dini (early warning system). Namun realitasnya, sering kali terjadi ketidaksinkronan pesan antara pemerintah pusat dan daerah, yang menimbulkan kebingungan publik (Nugroho, 2022).

Bahkan, dalam banjir di Jakarta dan daerah penyangga Jabodetabek, narasi politik yang muncul tidak jarang bergeser dari mitigasi dan keselamatan warga menjadi perdebatan kebijakan dan saling menyalahkan antaraktor politik. Hal ini menunjukkan, komunikasi politik bencana tidak pernah steril dari kepentingan kekuasaan. Menurut Coombs (2015), kegagalan dalam mengelola komunikasi krisis dapat memperburuk dampak bencana karena menurunkan legitimasi pemerintah dan meningkatkan ketidakpercayaan publik.

Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Kasus banjir di Sumatra dapat dijadikan contoh nyata. Curah hujan tinggi yang diperparah oleh alih fungsi lahan di daerah hulu menyebabkan beberapa sungai meluap dan merendam ribuan rumah. Pemerintah daerah dan pusat bergerak menyalurkan bantuan, tetapi komunikasi publik kerap bersifat reaktif. Penjelasan mengenai penyebab struktural banjir, seperti deforestasi dan tata kelola lingkungan, minim keterbukaan. Akibatnya, ruang publik dipenuhi spekulasi, saling menyalahkan, dan ketidakpuasan warga yang merasa negara hadir terlambat.

Pemerintah lebih banyak menekankan narasi “cuaca ekstrem” sebagai penyebab utama, sedangkan dimensi kebijakan pembangunan dan eksploitasi lingkungan jarang dikomunikasikan secara jujur dan utuh. Dalam komunikasi politik bencana, pengaburan sebab-sebab struktural justru berisiko melemahkan legitimasi pemerintah, karena publik semakin kritis dan memiliki akses luas terhadap informasi alternatif melalui media sosial (Castells, 2012).

Komunikasi politik bencana juga tercermin dalam simbolisme kekuasaan. Kunjungan pejabat ke lokasi banjir, pernyataan resmi di media, dan tayangan pembagian bantuan menjadi pesan simbolik bahwa negara hadir. Namun, tanpa konsistensi pesan dan empati yang kuat, simbol-simbol ini mudah dibaca sebagai pencitraan. Di beberapa wilayah banjir di Sumatra, masyarakat justru lebih mempercayai informasi dari relawan, jurnalis lokal, dan media sosial dibandingkan kanal resmi pemerintah.

Modal Besar

Kita tengok pendekatan komunikasi politik bencana di negara lain. Jepang, misalnya, dikenal dengan sistem komunikasi bencana yang disiplin, terkoordinasi, dan berbasis sains. Pemerintah secara rutin memberikan edukasi publik mengenai risiko banjir, gempa, dan tsunami, bahkan sebelum bencana terjadi. Saat krisis berlangsung, pesan pemerintah pusat dan daerah relatif seragam, singkat, dan fokus pada keselamatan warga, sehingga kepanikan dapat ditekan dan kepercayaan publik tetap terjaga (Aldrich, 2012).

Belanda sebagai negara yang rentan banjir, membingkai bencana sebagai risiko kolektif yang harus dihadapi bersama. Komunikasi politik menekankan transparansi, partisipasi publik, dan kolaborasi dengan ilmuwan serta komunitas lokal. Dengan cara tersebut, kebijakan pengendalian banjir memperoleh legitimasi sosial yang kuat, meskipun membutuhkan biaya besar dan perubahan tata ruang jangka panjang (Hajer, 2018).

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun komunikasi politik bencana lebih baik. Pengalaman panjang menghadapi bencana, keberadaan BNPB, serta penetrasi media digital yang luas seharusnya menjadi kekuatan. Namun, tantangannya terletak pada konsistensi pesan, keberanian mengakui akar masalah lingkungan, dan kemampuan mengelola komunikasi lintas level pemerintahan.

Selain itu, eksistensi media sosial pun dalam karakteristik penyebaran informasi cepat, tetapi membuka ruang bagi hoaks dan disinformasi. Dalam konteks banjir di Sumatra, misalnya, beredar narasi yang menyalahkan kelompok tertentu atau mempolitisasi bantuan bencana. Sehingga Pemerintah dituntut tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam membangun narasi berbasis fakta dan kepedulian (Bradshaw & Howard, 2020).

Baca Juga: Risiko Jebakan Citra pada Medsos Pejabat Publik-Politisi Tanah Air

Komunikasi politik yang efektif dalam menghadapi bencana lingkungan harus memadukan pendekatan teknokratis dan humanis. Pemerintah perlu menjelaskan penyebab bencana secara ilmiah, sekaligus menunjukkan empati kepada korban. Selain itu, penting untuk melibatkan aktor non-negara, seperti media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal, sebagai mitra komunikasi. Pendekatan partisipatif ini terbukti efektif di negara-negara Skandinavia dalam menghadapi banjir dan cuaca ekstrem (OECD, 2019).

Ke depan, Indonesia perlu memperkuat komunikasi politik bencana sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional. Bencana lingkungan bukan hanya persoalan alam, tetapi juga ujian kepemimpinan dan kualitas demokrasi. Ketika komunikasi politik dijalankan secara jujur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan rakyat, bencana dapat menjadi momentum memperkuat solidaritas nasional. Sebaliknya, komunikasi yang elitis dan politis justru berpotensi memperdalam krisis. Dalam dunia yang semakin rentan terhadap krisis lingkungan, kemampuan pemerintah berkomunikasi secara tepat adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan nyawa dan menjaga kepercayaan publik. (*)

Mahi M. Hikmat, Guru Besar Komunikasi Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)