Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

Mahi M. Hkikmat
Ditulis oleh Mahi M. Hkikmat diterbitkan Rabu 07 Jan 2026, 12:09 WIB
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Bencana berbasis lingkungan, seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan, telah menjadi tantangan berulang bagi Indonesia. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta tata kelola ruang yang belum optimal memperbesar risiko bencana di berbagai daerah. Namun, di balik aspek teknis penanggulangan bencana, terdapat dimensi lain yang sama krusial, yaitu komunikasi politik pemerintah. Cara pemerintah menyampaikan informasi, membangun narasi, dan berinteraksi dengan publik sangat menentukan efektivitas respons bencana sekaligus tingkat kepercayaan masyarakat.

Sepanjang 2023–2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian banjir yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Di Sumatra saja, banjir besar melanda Jambi, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, merendam ribuan rumah, melumpuhkan aktivitas ekonomi, serta memaksa warga mengungsi. 

Bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi juga merupakan peristiwa politik karena menyangkut keputusan, tanggung jawab, dan kehadiran negara di hadapan warga. Dalam konteks ini, komunikasi politik pemerintah memainkan peran strategis: menyampaikan informasi yang akurat, menenangkan publik, mengoordinasikan respons lintas lembaga, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat (Norris, 2011).

Tidak Steril

Komunikasi politik dalam situasi bencana idealnya bersifat cepat, transparan, empatik, dan koordinatif. Indonesia telah berupaya mengembangkan sistem komunikasi krisis berbasis satu pintu, penggunaan aplikasi InaRISK dan peringatan dini (early warning system). Namun realitasnya, sering kali terjadi ketidaksinkronan pesan antara pemerintah pusat dan daerah, yang menimbulkan kebingungan publik (Nugroho, 2022).

Bahkan, dalam banjir di Jakarta dan daerah penyangga Jabodetabek, narasi politik yang muncul tidak jarang bergeser dari mitigasi dan keselamatan warga menjadi perdebatan kebijakan dan saling menyalahkan antaraktor politik. Hal ini menunjukkan, komunikasi politik bencana tidak pernah steril dari kepentingan kekuasaan. Menurut Coombs (2015), kegagalan dalam mengelola komunikasi krisis dapat memperburuk dampak bencana karena menurunkan legitimasi pemerintah dan meningkatkan ketidakpercayaan publik.

Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Kasus banjir di Sumatra dapat dijadikan contoh nyata. Curah hujan tinggi yang diperparah oleh alih fungsi lahan di daerah hulu menyebabkan beberapa sungai meluap dan merendam ribuan rumah. Pemerintah daerah dan pusat bergerak menyalurkan bantuan, tetapi komunikasi publik kerap bersifat reaktif. Penjelasan mengenai penyebab struktural banjir, seperti deforestasi dan tata kelola lingkungan, minim keterbukaan. Akibatnya, ruang publik dipenuhi spekulasi, saling menyalahkan, dan ketidakpuasan warga yang merasa negara hadir terlambat.

Pemerintah lebih banyak menekankan narasi “cuaca ekstrem” sebagai penyebab utama, sedangkan dimensi kebijakan pembangunan dan eksploitasi lingkungan jarang dikomunikasikan secara jujur dan utuh. Dalam komunikasi politik bencana, pengaburan sebab-sebab struktural justru berisiko melemahkan legitimasi pemerintah, karena publik semakin kritis dan memiliki akses luas terhadap informasi alternatif melalui media sosial (Castells, 2012).

Komunikasi politik bencana juga tercermin dalam simbolisme kekuasaan. Kunjungan pejabat ke lokasi banjir, pernyataan resmi di media, dan tayangan pembagian bantuan menjadi pesan simbolik bahwa negara hadir. Namun, tanpa konsistensi pesan dan empati yang kuat, simbol-simbol ini mudah dibaca sebagai pencitraan. Di beberapa wilayah banjir di Sumatra, masyarakat justru lebih mempercayai informasi dari relawan, jurnalis lokal, dan media sosial dibandingkan kanal resmi pemerintah.

Modal Besar

Kita tengok pendekatan komunikasi politik bencana di negara lain. Jepang, misalnya, dikenal dengan sistem komunikasi bencana yang disiplin, terkoordinasi, dan berbasis sains. Pemerintah secara rutin memberikan edukasi publik mengenai risiko banjir, gempa, dan tsunami, bahkan sebelum bencana terjadi. Saat krisis berlangsung, pesan pemerintah pusat dan daerah relatif seragam, singkat, dan fokus pada keselamatan warga, sehingga kepanikan dapat ditekan dan kepercayaan publik tetap terjaga (Aldrich, 2012).

Belanda sebagai negara yang rentan banjir, membingkai bencana sebagai risiko kolektif yang harus dihadapi bersama. Komunikasi politik menekankan transparansi, partisipasi publik, dan kolaborasi dengan ilmuwan serta komunitas lokal. Dengan cara tersebut, kebijakan pengendalian banjir memperoleh legitimasi sosial yang kuat, meskipun membutuhkan biaya besar dan perubahan tata ruang jangka panjang (Hajer, 2018).

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun komunikasi politik bencana lebih baik. Pengalaman panjang menghadapi bencana, keberadaan BNPB, serta penetrasi media digital yang luas seharusnya menjadi kekuatan. Namun, tantangannya terletak pada konsistensi pesan, keberanian mengakui akar masalah lingkungan, dan kemampuan mengelola komunikasi lintas level pemerintahan.

Selain itu, eksistensi media sosial pun dalam karakteristik penyebaran informasi cepat, tetapi membuka ruang bagi hoaks dan disinformasi. Dalam konteks banjir di Sumatra, misalnya, beredar narasi yang menyalahkan kelompok tertentu atau mempolitisasi bantuan bencana. Sehingga Pemerintah dituntut tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam membangun narasi berbasis fakta dan kepedulian (Bradshaw & Howard, 2020).

Baca Juga: Risiko Jebakan Citra pada Medsos Pejabat Publik-Politisi Tanah Air

Komunikasi politik yang efektif dalam menghadapi bencana lingkungan harus memadukan pendekatan teknokratis dan humanis. Pemerintah perlu menjelaskan penyebab bencana secara ilmiah, sekaligus menunjukkan empati kepada korban. Selain itu, penting untuk melibatkan aktor non-negara, seperti media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal, sebagai mitra komunikasi. Pendekatan partisipatif ini terbukti efektif di negara-negara Skandinavia dalam menghadapi banjir dan cuaca ekstrem (OECD, 2019).

Ke depan, Indonesia perlu memperkuat komunikasi politik bencana sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional. Bencana lingkungan bukan hanya persoalan alam, tetapi juga ujian kepemimpinan dan kualitas demokrasi. Ketika komunikasi politik dijalankan secara jujur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan rakyat, bencana dapat menjadi momentum memperkuat solidaritas nasional. Sebaliknya, komunikasi yang elitis dan politis justru berpotensi memperdalam krisis. Dalam dunia yang semakin rentan terhadap krisis lingkungan, kemampuan pemerintah berkomunikasi secara tepat adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan nyawa dan menjaga kepercayaan publik. (*)

Mahi M. Hikmat, Guru Besar Komunikasi Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Mahi M. Hkikmat
Saya dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)