Suara yang Disapu Banjir

nayla qathrunnisa
Ditulis oleh nayla qathrunnisa diterbitkan Rabu 07 Jan 2026, 19:47 WIB
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Sudah lebih satu bulan berlalu sejak banjir bandang melanda daerah Sumatera. Namun, penderitaan rakyat seakan tidak ada habisnya. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan menjadi suatu kemewahan bagi masyarakat yang terdampak. Tidak terkecuali bagi Salwa, seorang gadis yang berasal dari Gampong Kebun Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Indonesia.

Kala itu, Salwa yang bersekolah di SMAN Modal Bangsa Banda Aceh sedang pulang kerumahnya. Rumah Salwa terletak di dataran tinggi, namun hal tersebut tidak menghentikan imbas air hujan untuk sampai ke rumahnya. “Di daerah kami ada yang seatap, ada yang rumahnya emang tenggelam, di rumah Salwa sendiri setelinga orang dewasa”

Hujan yang turun terus menerus semenjak hari Rabu, 26 November 2025 membuat Salwa dan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Melalui percakapan singkat di aplikasi Whatsapp, Salwa bercerita tentang peristiwa tersebut. “Hari kamis sampai jumat (2 hari 1 malam) Salwa sama keluarga ngungsi ke atas truk, kebetulan ada yang bawa truk terbuka gitu, dia udah bawa kompor beras sama telur lah buat makan seadanya, jadi pas air naik itu kami ada yang di truk ada juga yang ke rumah yang tinggi”

“Ada juga yang taro meja terus kursi diatasnya, duduk di meja itu semalaman kakinya basah, ada juga yang di atas sepeda motor ada yang di atas mobil” lanjutnya. Segala upaya dilakukan oleh Salwa, keluarga, beserta tetangganya untuk bertahan hidup ditengah banjir yang melanda.

Di saat orang-orang di daerah lain tertidur pulas, mereka yang terkena bencana harus bertahan ditengah basahnya hujan dan dinginnya angin malam. “Di atas truk itu kebanyakan ibu yang ada anak kecil, rame-rame, ada juga orang tua. Malam itu anak-anak kecil emang rewel semua dengan kami cuma tutupi pakai terpal jadi emang pengap dan dingin kali” ujar Salwa.

Ketidaknyamanan paling terasa ketika ia berada di atas truk warga. Di truk yang tidak luas itu, mereka berkumpul dan bertahan ditengah segala keterbatasan. Makan dilakukan secara bersama-sama, tanpa piring dan hanya beralaskan tutup wadah makanan yang dipakai bergantian.

“Lauknya ya cuma nasi sama telur orak-arik, supaya cukup untuk semua dan beberapa hari kedepan” ujar Salwa.

Persoalan tidak berhenti pada makanan. Air bersih juga menjadi barang langka bagi Salwa dan pengungsi lainnya. Sejak Jumat, 28 November 2025, sebagian persediaan air bersih mulai habis, sehingga warga harus menghemat dalam kondisi yang serba sulit. Dari cerita tetangga sekitar, Salwa mendengar kabar bahwa di wilayah lain, ada warga yang terpaksa meminum air banjir untuk bertahan hidup.

Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Beberapa hari setelahnya, keadaan belum banyak berubah. Bantuan belum merata, bahkan belum sampai, namun kebutuhan yang harus dipenuhi terus mendesak. Kebutuhan penting yakni pangan pun menjadi sangat terbatas. “Kami rebus pepaya, pisang muda, mie instan itu-itu aja makanan kami” katanya.

Di tengah kondisi yang serba kekurangan, warga hanya bisa bertahan dengan apa yang ada. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar mereka bisa tetap bertahan hidup hingga kondisi membaik.

Dalam kondisi darurat tersebut, warga tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan. Mereka mendirikan posko pengungsian sendiri, dua tenda yang didirikan seadanya menggunakan terpal dan tiang kerangka yang dimiliki oleh desa mereka. Setidaknya cukup untuk melindungi mereka dari hujan dan udara yang dingin.

“Posko kami buat sendiri kak, dua tenda gitu” ucap Salwa.

Menunggu di tengah ketidakpastian menjadi makanan sehari-hari mereka. Warga bertahan hidup dengan barang-barang mereka yang tersisa, hingga bantuan datang beberapa hari kemudian, di awal bulan Desember. Bantuan datang membawa sandang dan pangan yang cukup meringankan, tetapi belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan para pengungsi. “Untuk bantuan alhamdulillah udah lumayan tercukupi, ada dari helikopter atau mobil gitu bawain ke tempat kami”

“Bantuan baju-baju juga udah banyak, rumah-rumah juga udah ada yang bersih seluruhnya, gak ada lagi yang tinggal ditenda kalau di tempat Salwa” lanjutnya.

Sayangnya tidak semua daerah mendapatkan keberuntungan untuk pulih secepat Gampong Kebun Medan Ara. Hingga saat ini, masih ada warga yang tinggal di tenda, masih banyak warga yang rumahnya masih terdapat air dan lumpur selutut yang sulit untuk dibersihkan sebelum surut.

Di akhir ceritanya, Salwa menyimpan harapan besar bagi pemerintah. Ia berharap penanganan bencana dapat dilakukan dengan lebih serius, tanpa mengecilkan kondisi yang terjadi di lapangan.

“Di Aceh Tamiang kondisinya nggak dilebih-lebihkan, semua yang terjadi memang nyata. Banyak orang yang kesusahan dan kehilangan harta benda” ucapnya.

Baca Juga: Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

Salwa juga berharap proses pemulihan bisa dipercepat, dan bantuan diberikan secara menyeluruh bagi masyarakat. Baginya, bencana yang melanda Aceh Tamiang sangatlah berdampak bagi masyarakat sehingga bantuan pemerintah sangatlah penting untuk pemulihan yang maksimal.

Salwa menaruh harapan bagi pemerintah untuk menjaga alam dan berhenti merusak sumber daya alam di Indonesia. “Pemerintah mohon kali untuk stop rusak alam yang ada di Aceh, Sumatera, maupun di seluruh Indonesia”

Ia juga berharap dari kejadian ini akan lahir perubahan dan kebijakan yang lebih baik dari pemerintah, sehingga penanganan banjir dapat dilakukan lebih cepat dan warga dapat kembali menjalani kehidupan mereka seperti sedia kala. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.