Suara yang Disapu Banjir

4 menit baca
nayla qathrunnisa
Ditulis oleh nayla qathrunnisa diterbitkan
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Sudah lebih satu bulan berlalu sejak banjir bandang melanda daerah Sumatera. Namun, penderitaan rakyat seakan tidak ada habisnya. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan menjadi suatu kemewahan bagi masyarakat yang terdampak. Tidak terkecuali bagi Salwa, seorang gadis yang berasal dari Gampong Kebun Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Indonesia.

Kala itu, Salwa yang bersekolah di SMAN Modal Bangsa Banda Aceh sedang pulang kerumahnya. Rumah Salwa terletak di dataran tinggi, namun hal tersebut tidak menghentikan imbas air hujan untuk sampai ke rumahnya. “Di daerah kami ada yang seatap, ada yang rumahnya emang tenggelam, di rumah Salwa sendiri setelinga orang dewasa”

Hujan yang turun terus menerus semenjak hari Rabu, 26 November 2025 membuat Salwa dan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Melalui percakapan singkat di aplikasi Whatsapp, Salwa bercerita tentang peristiwa tersebut. “Hari kamis sampai jumat (2 hari 1 malam) Salwa sama keluarga ngungsi ke atas truk, kebetulan ada yang bawa truk terbuka gitu, dia udah bawa kompor beras sama telur lah buat makan seadanya, jadi pas air naik itu kami ada yang di truk ada juga yang ke rumah yang tinggi”

“Ada juga yang taro meja terus kursi diatasnya, duduk di meja itu semalaman kakinya basah, ada juga yang di atas sepeda motor ada yang di atas mobil” lanjutnya. Segala upaya dilakukan oleh Salwa, keluarga, beserta tetangganya untuk bertahan hidup ditengah banjir yang melanda.

Di saat orang-orang di daerah lain tertidur pulas, mereka yang terkena bencana harus bertahan ditengah basahnya hujan dan dinginnya angin malam. “Di atas truk itu kebanyakan ibu yang ada anak kecil, rame-rame, ada juga orang tua. Malam itu anak-anak kecil emang rewel semua dengan kami cuma tutupi pakai terpal jadi emang pengap dan dingin kali” ujar Salwa.

Ketidaknyamanan paling terasa ketika ia berada di atas truk warga. Di truk yang tidak luas itu, mereka berkumpul dan bertahan ditengah segala keterbatasan. Makan dilakukan secara bersama-sama, tanpa piring dan hanya beralaskan tutup wadah makanan yang dipakai bergantian.

“Lauknya ya cuma nasi sama telur orak-arik, supaya cukup untuk semua dan beberapa hari kedepan” ujar Salwa.

Persoalan tidak berhenti pada makanan. Air bersih juga menjadi barang langka bagi Salwa dan pengungsi lainnya. Sejak Jumat, 28 November 2025, sebagian persediaan air bersih mulai habis, sehingga warga harus menghemat dalam kondisi yang serba sulit. Dari cerita tetangga sekitar, Salwa mendengar kabar bahwa di wilayah lain, ada warga yang terpaksa meminum air banjir untuk bertahan hidup.

Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Beberapa hari setelahnya, keadaan belum banyak berubah. Bantuan belum merata, bahkan belum sampai, namun kebutuhan yang harus dipenuhi terus mendesak. Kebutuhan penting yakni pangan pun menjadi sangat terbatas. “Kami rebus pepaya, pisang muda, mie instan itu-itu aja makanan kami” katanya.

Di tengah kondisi yang serba kekurangan, warga hanya bisa bertahan dengan apa yang ada. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar mereka bisa tetap bertahan hidup hingga kondisi membaik.

Dalam kondisi darurat tersebut, warga tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan. Mereka mendirikan posko pengungsian sendiri, dua tenda yang didirikan seadanya menggunakan terpal dan tiang kerangka yang dimiliki oleh desa mereka. Setidaknya cukup untuk melindungi mereka dari hujan dan udara yang dingin.

“Posko kami buat sendiri kak, dua tenda gitu” ucap Salwa.

Menunggu di tengah ketidakpastian menjadi makanan sehari-hari mereka. Warga bertahan hidup dengan barang-barang mereka yang tersisa, hingga bantuan datang beberapa hari kemudian, di awal bulan Desember. Bantuan datang membawa sandang dan pangan yang cukup meringankan, tetapi belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan para pengungsi. “Untuk bantuan alhamdulillah udah lumayan tercukupi, ada dari helikopter atau mobil gitu bawain ke tempat kami”

“Bantuan baju-baju juga udah banyak, rumah-rumah juga udah ada yang bersih seluruhnya, gak ada lagi yang tinggal ditenda kalau di tempat Salwa” lanjutnya.

Sayangnya tidak semua daerah mendapatkan keberuntungan untuk pulih secepat Gampong Kebun Medan Ara. Hingga saat ini, masih ada warga yang tinggal di tenda, masih banyak warga yang rumahnya masih terdapat air dan lumpur selutut yang sulit untuk dibersihkan sebelum surut.

Di akhir ceritanya, Salwa menyimpan harapan besar bagi pemerintah. Ia berharap penanganan bencana dapat dilakukan dengan lebih serius, tanpa mengecilkan kondisi yang terjadi di lapangan.

“Di Aceh Tamiang kondisinya nggak dilebih-lebihkan, semua yang terjadi memang nyata. Banyak orang yang kesusahan dan kehilangan harta benda” ucapnya.

Baca Juga: Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

Salwa juga berharap proses pemulihan bisa dipercepat, dan bantuan diberikan secara menyeluruh bagi masyarakat. Baginya, bencana yang melanda Aceh Tamiang sangatlah berdampak bagi masyarakat sehingga bantuan pemerintah sangatlah penting untuk pemulihan yang maksimal.

Salwa menaruh harapan bagi pemerintah untuk menjaga alam dan berhenti merusak sumber daya alam di Indonesia. “Pemerintah mohon kali untuk stop rusak alam yang ada di Aceh, Sumatera, maupun di seluruh Indonesia”

Ia juga berharap dari kejadian ini akan lahir perubahan dan kebijakan yang lebih baik dari pemerintah, sehingga penanganan banjir dapat dilakukan lebih cepat dan warga dapat kembali menjalani kehidupan mereka seperti sedia kala. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)