Sampai di Mana Mesin Akan Menggantikan Manusia?

6 menit baca
Yohanes Tito Marcello Hutagalung
Ditulis oleh Yohanes Tito Marcello Hutagalung diterbitkan
Karya Jason M. Allen dengan judul Théâtre D'opéra Spatial (Sumber: Wikipedia (“Théâtre D’opéra Spatial”, karya Jason M. Allen, 2022))
Karya Jason M. Allen dengan judul Théâtre D'opéra Spatial (Sumber: Wikipedia (“Théâtre D’opéra Spatial”, karya Jason M. Allen, 2022))

Théâtre D'opéra Spatial, karya Jason M. Allen, menjadi karya yang menang dalam kontes seni murni Colorado State Fair pada tahun 2022 untuk kalangan “emerging artists”. Karya ini menjadi salah satu karya  karya awal yang diciptakan oleh AI untuk memenangkan kontes. Setelah kemenangannya, karya ini menuai banyak kritik karena penggunaan AI oleh Jason. Isu ini kurang lebih mencerminkan apa yang sedang terjadi di dunia seni, termasuk Indonesia pada saat ini, dengan banyaknya konten-konten entertainment , karya  karya seni, bahkan film yang sudah dibuat tanpa bantuan manusia. Karena itu, kita terpaksa bertanya, “Sampai batas apakah mesin dapat menggantikan seni hasil tangan manusia?” 

Ide untuk menciptakan karya seni melalui mesin daripada tangan manusia dirintis oleh artis Harold Cohen dengan ciptaannya, AARON. AARON dapat menciptakan karya dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh Harold. Yang awalnya karyanya hanyalah sebatas abstrak di 1970-an, AARON makin berkembang dengan karya-karya yang makin kompleks mulai dari batu, pohon, hingga manusia. 

Konsep menciptakan seni dengan mesin selanjutnya dilakukan oleh Artificial Intelligence (AI). AI menciptakan karyanya dengan melakukan ekstrapolasi terhadap jutaan data-data, dalam hal ini karya  karya seni yang sudah dimasukkan ke dalam databasenya, lalu mencari suatu pola yang cocok dengan tema yang diberikan. Pola tersebut kemudian digunakan oleh AI untuk menciptakan karya yang paling sesuai dengan tema. Dengan kata lain, AI bertindak seperti kuas yang memiliki suatu kumpulan peraturan yang berfungsi untuk memberi arah tentang apa yang ingin digambarkannya.

Proses yang lumayan enteng menjadi alasan bagi banyak pencipta seni AI untuk menggunakan AI. Klaim tersebut memang benar. Karya  karya seni yang diciptakan oleh AI tidak memerlukan jam yang diperlukan oleh artis konvensional untuk bertukar pikiran maupun menciptakan karya mereka. Hanya dengan menyalurkan ide kita dan menekan tombol submit, mesin tersebut akan mencetak gambar yang paling sesuai dengan ide yang kita berikan. Seiring dengan berkembangnya zaman, AI juga makin pintar dalam menciptakan karya  karya tersebut, bahkan sampai karya tersebut tampak sangat asli.

Jadi, jika hanya dengan satu klik kita dapat menciptakan karya dalam waktu singkat, apa gunanya bagi kita untuk menciptakan karya dengan tangan lagi?

Penggunaan Artificial Intelligence yang masif dalam era ini telah mendorong kembali suatu konsep penting di dunia seni, yaitu estetika.

Pada dasarnya, kita bukan mesin. Manusia telah diberi kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk  makhluk hidup yang lain: kemampuan untuk merasa. Dengan berkembangnya kecerdasan manusia di setiap zaman, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih dari sekadar insting hewan kita. Sementara makhluk hidup lain berjodoh hanya demi keberlangsungan spesies mereka, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih jauh. Kita berjodoh karena ada bagian di dalam diri kita yang ingin melanjutkan kehidupan kita dengan pihak tersebut, bukan hanya untuk menciptakan keturunan demi memastikan keberlangsungan hidup spesies kita. Perasaan-perasaan ini, digabung dengan ratusan perasaan lain yang kita rasakan, menghasilkan kreativitas yang ada di dalam diri kita.

Cara kita mengekspresikan kreativitas adalah seni, baik melalui menciptakannya maupun menikmatinya. Seni merupakan wadah bagi semua orang untuk menyalurkan kreativitas mereka masing  masing, baik dengan karya tulisan, gambaran di kanvas, maupun ukiran patung. Semua ini adalah bagian dari apa yang membuat kita hidup. Walaupun kita tidak aktif menciptakan seni setiap hari, kita secara tidak sadar sering mencari karya  karya seni yang bermakna untuk kita nikmati. Beberapa mencari film yang enak untuk ditonton, dengan tipe film yang bervariasi juga. Beberapa menonton video-video di media sosial yang menggugah rasa yang bermacam  macam; rasa senang, rasa sedih , rasa marah , dsb. 

Demikian juga mengapa, ide untuk menggantikan manusia sepenuhnya dengan mesin untuk menciptakan karya-karya yang ada tidak akan berlangsung baik untuk kita. Kreativitas tidak lahir dari seperangkat peraturan universal yang disetujui. Di balik kreativitas manusia, terdapat ribuan detik pengalaman yang sudah ada sejak kita kecil hingga sekarang. Kreativitas tersebut lahir dari segala hal yang telah kita raba, lihat, rasakan, dan dengar. Dengan kata lain, setiap orang memiliki kreativitas yang berbeda. AI tidak memiliki semua itu. Mesin tidak memiliki ratusan pengalaman yang manusia miliki. AI hanya memiliki kumpulan data  sebagai sumber untuk melakukan ekstrapolasi. Segala yang diciptakan oleh AI berasal dari algoritma, rumus matematika, yang kemudian melahirkan karya yang “‘aman”, karya yang mengikuti pola-pola karya dahulu tanpa adanya kreativitas apa pun yang dituang ke dalam karya tersebut.

Jika tradisi untuk menciptakan karya tanpa adanya asistensi apa pun dari manusia terus dilakukan, karya yang bermunculan di dunia seni lambat laun akan menjadi jenuh dengan karya-karya yang sudah ada sebelumnya. Menggunakan AI untuk menciptakan cerita saat ini hanya akan menghasilkan cerita yang generik, cerita yang memiliki kiasan yang sudah sering kita dengar seribu kali. Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan mesin hanya akan menciptakan karya-karya yang sudah kita lihat berkali-kali sebelumnya, dan pastinya setiap orang akan muak dengan dunia seni lambat laun.

Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan AI juga mencerminkan sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi pada generasi kita. Kita diajari untuk mencari jalur yang “aman” ; mencari gelar yang bagus di universitas yang bergengsi, lalu bekerja keras dari jam 9 pagi hingga 5 sore setiap hari di bilik kantor kita. Kehidupan ini dipaparkan sebagai kehidupan yang “ideal”, yang paling aman bagi generasi pada saat ini, apalagi dengan krisis ekonomi yang terjadi di kiri dan kanan. Lambat laun, kita diajarkan untuk menjadi roda gigi di mesin perekonomian dunia ini, nothing more, nothing less. Memang, tampaknya masuk akal untuk bersikap demikian, agar kita dapat menafkahi diri kita sendiri serta keluarga kita. Namun, tradisi ini mengikis kreativitas yang kita miliki setiap hari.

Baca Juga: Kecerdasan Buatan bagi Mahasiswa: Peluang atau Ancaman?

Seni harus menjadi sebuah kekuatan yang menginspirasi kita di zaman ini untuk menjadi lebih dari roda gigi mesin tersebut. Bukannya hasil rumusan matematika yang mengutamakan kenormatifan dari dunia seni, seni seharusnya memberi inspirasi bagi kita untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda, untuk melihat koneksi-koneksi, hubungan antar konsep yang tidak dapat kita lihat jika kita bergerak di jalur yang “aman”. Kreativitas pada dasarnya tidak harus menuruti norma yang ada. Di banyak kasus, kreativitas bahkan menentang norma yang ada. Memang, memiliki pekerjaan dari jam 9 sampai 5 bukanlah hal yang buruk, tetapi kita tetap harus memelihara dan mengembangkan kreativitas yang kita miliki di sampingnya, bukan meredupkan nyala dari lampu tersebut untuk upaya menjadi sebuah roda gigi. Seni dengan demikian, seharusnya bertindak sebagai inspirasi kita untuk menyalakannya.

Walaupun AI tidak memiliki kreativitas yang cukup untuk menggantikan manusia, AI tetap dapat membantu dunia seni dalam banyak hal. Artis-artis dapat menggunakan AI untuk mencari panduan untuk menciptakan sesuatu. AI juga dapat digunakan untuk mencari sesuatu di Google, sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mencari suatu laman yang cocok. Selain itu, AI masih dapat digunakan untuk membantu hal-hal repetitif yang tidak memerlukan kreativitas. Dengan demikian, kita dapat lebih fokus pada proses kreatif dalam pembuatan seni.

Dengan demikian, dengan segala ancaman yang ada di balik penggunaan AI, ketika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi pendukung kreativitas kita. AI dapat digunakan untuk mendorong kreativitas kita lebih jauh, baik dengan mencarikan panduan yang baik bagi kita, membantu memoles karya kita sedikit, dan sebagainya. AI layaknya adalah sebuah kuas di saku kita; kuas tersebut tidak dibentuk untuk menggantikan kita, tetapi untuk membantu kita menyalurkan kreativitas kita ke dalam kanvas yang ada. (*)

Daftar Pustaka

  • Corrall, Matt. “The Harm & Hypocrisy of AI Art.” Matt Corrall, Matt Corrall, 2023, www.corralldesign.com/writing/ai-harm-hypocrisy.

  • Reinhart, Eric. “The Trouble with AI Art Isn’t Just Lack of Originality. It’s Something Far Bigger.” The Guardian, The Guardian, 20 Mei 2025, www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/20/ai-art-concerns-originality-connection.

  • Vinther, Bianca. “Creativity in Art: The Ultimate Overview to Understanding the Foundation of Your Art.” Medium, 22 Sept. 2021, medium.com/@the_pointless_artist/creativity-in-art-the-ultimate-overview-to-understanding-the-foundation-of-your-art-8fbbfa0625e.

  • Wikipedia Contributors. “Théâtre d’Opéra Spatial.” Wikipedia, Wikimedia Foundation, 18 Mei 2023, en.wikipedia.org/wiki/Th%C3%A9%C3%A2tre_d%27Op%C3%A9ra_Spatial. 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yohanes Tito Marcello Hutagalung
Universitas Katolik Parahyangan student. Currently majoring in Computer Science.

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)