Sampai di Mana Mesin Akan Menggantikan Manusia?

Yohanes Tito Marcello Hutagalung
Ditulis oleh Yohanes Tito Marcello Hutagalung diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 20:02 WIB
Karya Jason M. Allen dengan judul Théâtre D'opéra Spatial (Sumber: Wikipedia (“Théâtre D’opéra Spatial”, karya Jason M. Allen, 2022))

Karya Jason M. Allen dengan judul Théâtre D'opéra Spatial (Sumber: Wikipedia (“Théâtre D’opéra Spatial”, karya Jason M. Allen, 2022))

Théâtre D'opéra Spatial, karya Jason M. Allen, menjadi karya yang menang dalam kontes seni murni Colorado State Fair pada tahun 2022 untuk kalangan “emerging artists”. Karya ini menjadi salah satu karya  karya awal yang diciptakan oleh AI untuk memenangkan kontes. Setelah kemenangannya, karya ini menuai banyak kritik karena penggunaan AI oleh Jason. Isu ini kurang lebih mencerminkan apa yang sedang terjadi di dunia seni, termasuk Indonesia pada saat ini, dengan banyaknya konten-konten entertainment , karya  karya seni, bahkan film yang sudah dibuat tanpa bantuan manusia. Karena itu, kita terpaksa bertanya, “Sampai batas apakah mesin dapat menggantikan seni hasil tangan manusia?” 

Ide untuk menciptakan karya seni melalui mesin daripada tangan manusia dirintis oleh artis Harold Cohen dengan ciptaannya, AARON. AARON dapat menciptakan karya dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh Harold. Yang awalnya karyanya hanyalah sebatas abstrak di 1970-an, AARON makin berkembang dengan karya-karya yang makin kompleks mulai dari batu, pohon, hingga manusia. 

Konsep menciptakan seni dengan mesin selanjutnya dilakukan oleh Artificial Intelligence (AI). AI menciptakan karyanya dengan melakukan ekstrapolasi terhadap jutaan data-data, dalam hal ini karya  karya seni yang sudah dimasukkan ke dalam databasenya, lalu mencari suatu pola yang cocok dengan tema yang diberikan. Pola tersebut kemudian digunakan oleh AI untuk menciptakan karya yang paling sesuai dengan tema. Dengan kata lain, AI bertindak seperti kuas yang memiliki suatu kumpulan peraturan yang berfungsi untuk memberi arah tentang apa yang ingin digambarkannya.

Proses yang lumayan enteng menjadi alasan bagi banyak pencipta seni AI untuk menggunakan AI. Klaim tersebut memang benar. Karya  karya seni yang diciptakan oleh AI tidak memerlukan jam yang diperlukan oleh artis konvensional untuk bertukar pikiran maupun menciptakan karya mereka. Hanya dengan menyalurkan ide kita dan menekan tombol submit, mesin tersebut akan mencetak gambar yang paling sesuai dengan ide yang kita berikan. Seiring dengan berkembangnya zaman, AI juga makin pintar dalam menciptakan karya  karya tersebut, bahkan sampai karya tersebut tampak sangat asli.

Jadi, jika hanya dengan satu klik kita dapat menciptakan karya dalam waktu singkat, apa gunanya bagi kita untuk menciptakan karya dengan tangan lagi?

Penggunaan Artificial Intelligence yang masif dalam era ini telah mendorong kembali suatu konsep penting di dunia seni, yaitu estetika.

Pada dasarnya, kita bukan mesin. Manusia telah diberi kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk  makhluk hidup yang lain: kemampuan untuk merasa. Dengan berkembangnya kecerdasan manusia di setiap zaman, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih dari sekadar insting hewan kita. Sementara makhluk hidup lain berjodoh hanya demi keberlangsungan spesies mereka, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih jauh. Kita berjodoh karena ada bagian di dalam diri kita yang ingin melanjutkan kehidupan kita dengan pihak tersebut, bukan hanya untuk menciptakan keturunan demi memastikan keberlangsungan hidup spesies kita. Perasaan-perasaan ini, digabung dengan ratusan perasaan lain yang kita rasakan, menghasilkan kreativitas yang ada di dalam diri kita.

Cara kita mengekspresikan kreativitas adalah seni, baik melalui menciptakannya maupun menikmatinya. Seni merupakan wadah bagi semua orang untuk menyalurkan kreativitas mereka masing  masing, baik dengan karya tulisan, gambaran di kanvas, maupun ukiran patung. Semua ini adalah bagian dari apa yang membuat kita hidup. Walaupun kita tidak aktif menciptakan seni setiap hari, kita secara tidak sadar sering mencari karya  karya seni yang bermakna untuk kita nikmati. Beberapa mencari film yang enak untuk ditonton, dengan tipe film yang bervariasi juga. Beberapa menonton video-video di media sosial yang menggugah rasa yang bermacam  macam; rasa senang, rasa sedih , rasa marah , dsb. 

Demikian juga mengapa, ide untuk menggantikan manusia sepenuhnya dengan mesin untuk menciptakan karya-karya yang ada tidak akan berlangsung baik untuk kita. Kreativitas tidak lahir dari seperangkat peraturan universal yang disetujui. Di balik kreativitas manusia, terdapat ribuan detik pengalaman yang sudah ada sejak kita kecil hingga sekarang. Kreativitas tersebut lahir dari segala hal yang telah kita raba, lihat, rasakan, dan dengar. Dengan kata lain, setiap orang memiliki kreativitas yang berbeda. AI tidak memiliki semua itu. Mesin tidak memiliki ratusan pengalaman yang manusia miliki. AI hanya memiliki kumpulan data  sebagai sumber untuk melakukan ekstrapolasi. Segala yang diciptakan oleh AI berasal dari algoritma, rumus matematika, yang kemudian melahirkan karya yang “‘aman”, karya yang mengikuti pola-pola karya dahulu tanpa adanya kreativitas apa pun yang dituang ke dalam karya tersebut.

Jika tradisi untuk menciptakan karya tanpa adanya asistensi apa pun dari manusia terus dilakukan, karya yang bermunculan di dunia seni lambat laun akan menjadi jenuh dengan karya-karya yang sudah ada sebelumnya. Menggunakan AI untuk menciptakan cerita saat ini hanya akan menghasilkan cerita yang generik, cerita yang memiliki kiasan yang sudah sering kita dengar seribu kali. Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan mesin hanya akan menciptakan karya-karya yang sudah kita lihat berkali-kali sebelumnya, dan pastinya setiap orang akan muak dengan dunia seni lambat laun.

Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan AI juga mencerminkan sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi pada generasi kita. Kita diajari untuk mencari jalur yang “aman” ; mencari gelar yang bagus di universitas yang bergengsi, lalu bekerja keras dari jam 9 pagi hingga 5 sore setiap hari di bilik kantor kita. Kehidupan ini dipaparkan sebagai kehidupan yang “ideal”, yang paling aman bagi generasi pada saat ini, apalagi dengan krisis ekonomi yang terjadi di kiri dan kanan. Lambat laun, kita diajarkan untuk menjadi roda gigi di mesin perekonomian dunia ini, nothing more, nothing less. Memang, tampaknya masuk akal untuk bersikap demikian, agar kita dapat menafkahi diri kita sendiri serta keluarga kita. Namun, tradisi ini mengikis kreativitas yang kita miliki setiap hari.

Baca Juga: Kecerdasan Buatan bagi Mahasiswa: Peluang atau Ancaman?

Seni harus menjadi sebuah kekuatan yang menginspirasi kita di zaman ini untuk menjadi lebih dari roda gigi mesin tersebut. Bukannya hasil rumusan matematika yang mengutamakan kenormatifan dari dunia seni, seni seharusnya memberi inspirasi bagi kita untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda, untuk melihat koneksi-koneksi, hubungan antar konsep yang tidak dapat kita lihat jika kita bergerak di jalur yang “aman”. Kreativitas pada dasarnya tidak harus menuruti norma yang ada. Di banyak kasus, kreativitas bahkan menentang norma yang ada. Memang, memiliki pekerjaan dari jam 9 sampai 5 bukanlah hal yang buruk, tetapi kita tetap harus memelihara dan mengembangkan kreativitas yang kita miliki di sampingnya, bukan meredupkan nyala dari lampu tersebut untuk upaya menjadi sebuah roda gigi. Seni dengan demikian, seharusnya bertindak sebagai inspirasi kita untuk menyalakannya.

Walaupun AI tidak memiliki kreativitas yang cukup untuk menggantikan manusia, AI tetap dapat membantu dunia seni dalam banyak hal. Artis-artis dapat menggunakan AI untuk mencari panduan untuk menciptakan sesuatu. AI juga dapat digunakan untuk mencari sesuatu di Google, sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mencari suatu laman yang cocok. Selain itu, AI masih dapat digunakan untuk membantu hal-hal repetitif yang tidak memerlukan kreativitas. Dengan demikian, kita dapat lebih fokus pada proses kreatif dalam pembuatan seni.

Dengan demikian, dengan segala ancaman yang ada di balik penggunaan AI, ketika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi pendukung kreativitas kita. AI dapat digunakan untuk mendorong kreativitas kita lebih jauh, baik dengan mencarikan panduan yang baik bagi kita, membantu memoles karya kita sedikit, dan sebagainya. AI layaknya adalah sebuah kuas di saku kita; kuas tersebut tidak dibentuk untuk menggantikan kita, tetapi untuk membantu kita menyalurkan kreativitas kita ke dalam kanvas yang ada. (*)

Daftar Pustaka

  • Corrall, Matt. “The Harm & Hypocrisy of AI Art.” Matt Corrall, Matt Corrall, 2023, www.corralldesign.com/writing/ai-harm-hypocrisy.

  • Reinhart, Eric. “The Trouble with AI Art Isn’t Just Lack of Originality. It’s Something Far Bigger.” The Guardian, The Guardian, 20 Mei 2025, www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/20/ai-art-concerns-originality-connection.

  • Vinther, Bianca. “Creativity in Art: The Ultimate Overview to Understanding the Foundation of Your Art.” Medium, 22 Sept. 2021, medium.com/@the_pointless_artist/creativity-in-art-the-ultimate-overview-to-understanding-the-foundation-of-your-art-8fbbfa0625e.

  • Wikipedia Contributors. “Théâtre d’Opéra Spatial.” Wikipedia, Wikimedia Foundation, 18 Mei 2023, en.wikipedia.org/wiki/Th%C3%A9%C3%A2tre_d%27Op%C3%A9ra_Spatial. 

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yohanes Tito Marcello Hutagalung
Universitas Katolik Parahyangan student. Currently majoring in Computer Science.

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)