Buruh sebagai Indonesia

8 menit baca
Muhammad Assegaf
Ditulis oleh Muhammad Assegaf diterbitkan
PKBM (Pameran Karya Buruh Majalengka). (Foto: Penulis)
PKBM (Pameran Karya Buruh Majalengka). (Foto: Penulis)

Bedah Buku “Antara Mesin dan Buku: Transformasi Hidup Seorang Buruh Pabrik Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik” bersama Hawe Setiawan dan Dedi Junaedi

Buruh sebagai perannya adalah seorang pekerja yang senantiasa mempertaruhkan diri demi upah, peran buruh juga menjadi penting untuk direspon dalam memberikan suara sebagai keresahan sosial melalui sebuah karya sebagai senjata.

Saya sebagai penyimak dalam bedah buku ini, menautkan sebuah pembahasan yang kompleks dan konkret dalam menyiasati sebuah tulisan secara kontekstual. Buku yang dilahirkan dari kelas Buruh Majalengka Menulis (BUMM) memuat 148 halaman diterbitkan oleh Ceria Space Projek, 2025. Kelas BUMM di mentori oleh Kegga Keggyan sebagai seorang penulis lepas asal Sumedang yang telah menulis untuk berbagai publikasi online dan cetak.

Karyanya seperti: Kerangka Makhluk Purba (Jawapos 2022), Menara Loji (Inimahsumedang.com 2023), dan masih banyak lagi. Kelas BUMM berjalan selama empat kali pertemuan bersama kaum buruh yang pertama di Rumah Ajip Rosisdi, kemudian kedua di Taman Sejarah Majalengka, ketiga di Gedung Juang Majalengka, dan terakhir di Alun-Alun Majalenga. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Minggu, 22/06/2025. Acara bedah buku merupakan bagian dari kegiatan Pameran Karya Buruh Majalengka (PKBM) yang digagas oleh Padepokan Kirik Nguyuh di Girimukti, Majalengka. Dalam pemeran berlangsung memuat sebuah lukisan, buku, pamflet berupa sajak, gitar batu, dan lain-lain. Selain itu ada pula pentas Alunan Musik Bambu, Seni Tari, Gamelan Sorawatu, Gaok Ekperimental, Teater Buruh, dan Monolog. Acara dihadiri oleh para buruh, pegiat seni setempat, pegiat literasi, rekan-rekan komunitas, juga Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka.

Esai sebagai Cermin Jati Diri Buruh

Sebutan buruh bukan hanya meliputi seorang buruh pabrik, melainkan juga buruh tani, dan guru yang berstatus honorer swasta. Mereka mengimplementasikan sebuah kata buruh sebagai jati diri yang tercermin dari sebuah tema yang diangkat.

Dalam konteks kata buruh mungkin kata itu adalah sebuah kata yang paling sopan dari pada pekerja/kuli. Lalu jika kata buruh hari ini menjadi familiar, lalu siapa buruh itu? Apakah kita sebagai pembaca juga adalah buruh? Ini menjadi menarik, maka saya menginterpretasikan Buruh Sebagai Indonesia.

Editor sekaligus Dosen Hawe Setiawan (HS) mengungkapkan sebuah esai mengenai gerak pinjol, pertanian, pentingnya meningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), dan memastikan peran sosial buruh di tengah masyarakat. Menurut Hawe Setiawan itu adalah tema-tema besar yang mungkin abstrak tapi disisi itu perlu untuk dibahas. Ia berkata bahwa Esai yang mengangkat tema yang cukup berat sesungguhnya kaitan itu dengan diri kita secara konkret yang akrab dengan penulisnya, sehingga bisa membaca secara perspektif. Seperti dalam sebuah tulisan Candra Sapta Ramadhan yang esainya dijadikan judul buku “Antara Mesin dan Buku: Transformasi Hidup Seorang Buruh Pabrik Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik.”

Esai tersebut menurut Hawe Setiawan mengangkat sebuah pengalaman konkret yang diungkap oleh penulis sebagai buruh, konkret juga bisa di lihat, di pegang, di raba, dan juga menghadapi ruang yang ada darah dan dagingnya. Esai-esai yang telah di tulis dengan pembahasan kompleks ada kaitannya juga dengan puisi sebagai sebuah karya sastra yang meningkatkan sebuah imajinasi, berupa empati dalam sebuah mimpi. Selain karya Candra, HS juga tertarik dengan Esai karya Yani Julita Sari, “Anak Perempuan Pertama”; Wandi Suhendi, “Orang Kecil yang bermimpi Besar”; Giari Rahman Hanafi, “Mimpiku adalah Memiliki Usaha Sendiri yang Sukses”; Annisa Nurul Fahomi, “Buruh”; Euis Yuningsih, “Buruh yang ingin Belajar Menulis”; dan Eti Suhaeti, “Buruh Tulang Punggung”.

Buruh Menjadi Sebuah Kata Yang Seksi

Dedi Junaedi (DJ) atau yang akrab di sapa Wa Kijoen merupakan budayawan sekaligus sastrawan asal Majalengka. Dalam diskusi karya buruh, ia mengungkap bahwa kata buruh menjadi sebuah kata yang seksi. Dari 148 halaman semua penulis menggunakan kata buruh, kenapa tidak pekerja? Mungkin kata buruh lebih layak jual. 18 Esai dan 36 Puisi semunya menggunakan kata buruh di dalamnya ini menjadi luar biasa, dimana kemudian ada pergeseran makna.

Dari pekerja menjadi buruh, padahal dua kamus yang telah di pelajari oleh Wa Kijoen diantaranya Ganesa Bandung dan Kamus Populer Internasional. Buruh secara pengertiannya adalah orang yang diberikan tenaganya kepada orang yang berdiri/majikan. Jadi mau tidak mau buruh dalam pengertian yang konket dalam bahasa Indonesia adalah orang yang mempekerjakan diri. Kemudian buruh dalam bahasa sastra, buruh itu menjadi layak jual ketika disuarakan. Dan harus di catatkan bahwa Kirik Nguyuh memulai itu, bagaimana kemudian buruh selama ini tidak menjadi manusia, akan tetapi lebih diposisikan sebagai mesin penggerak perusahaan.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)

Memulai itu, bagaimana kemudian buruh yang tadinya tidak dianggap manusia dihadapkan dengan sebuah kertas, dan pena sehingga melahirkan sebuah karya yang kemasannya buruh belajar menulis. Kata belajar lebih identik dengan sekolah, dan murni karena berhadapan tiap hari dengan produksi. Jadi mau tidak mau ada semacam simbiosis, ada sebuah percakapan saling menolong bagaimana sebuah industri bersamaan dengan kepekaan literasi. Ini yang jarang digarap oleh seseorang, kita seakan alergi ketika mendengarkan sebuah kata produksi, padahal semuanya berawal dari literasi. Ada sebuah tanggungjawab, bagi semua orang yang cinta sastra.

Apapun namanya, BUMM (Buruh Majalengka Menulis) lalu siapa buruh itu? Jangan-jangan kita semua adalah buruh, termasuk buruh kebudayaan. Hanya orang-orang yang punya nyali yang mengirimkan sebuah aspirasi melalui sebuah kata, sehingga dapat di suarakan dan di baca kepada orang lain.

Puisi: Ungkapan Buruh Sebagai Indonesia

karangan yang bersifat imajinatif terwujud karena adanya suatu objek untuk sekadar merenung dari berbagai sudut pandang, misalnya dalam hal ini tema besarnya adalah buruh. Sorang penulis puisi menggambarkan sebuah peristiwa dari sudut pandang. Puisi itu variatif, karena memiliki banyak ragam dari adegan-adegan yang diberikan oleh penulis bisa menjadi abstrak dan konket.

Dalam sebuah puisi ada rasa, nada, ekspresi, dan makna. Seorang buruh mungkin tidak memahami struktur penulisan puisi secara kompleks tapi setidaknya ia bisa mengungkapkan sebuah bahasa dengan lantunannya. hal tersebut muncul pada puisi “Aku Seorang Buruh Tani” oleh Titi Sulastri. Katanya:

Aku seorang buruh tani

Hanya itu pekerjaan yang mampu kulampaui

Setiap hari pantang menyerah

Bercocok tanam demi padi yang melimpah

Mimpi dan harapan ku bumbungkan tinggi

Karena menjadi buruh tani aku tak mati

Karena menjadi buruh tani aku mendapat rezeki

Karena menjadi buruh tani aku menulis puisi

Dalam sebuah puisi yang telah di tulis oleh Titi Sulastri, ia mengungkapkan puisi itu sebagai diafan (kalimat sederhana) namun dari setiap kalimat yang telah disusun dalam larik ada satu kalimat yang membuat pembaca menjadi timbul pertanyaan dengan pernyataanya “karena menjadi buruh tani aku menulis puisi” menjadi buruh tani adalah sebuah konsekuensi yang telah di jalani, ada “Mimpi dan harapan ku bumbungkan tinggi”.

Buruh dari lingkungan pabrik memberikan kata lain untuk bersuara melalui puisi. Mimin Harmini dari PT. Leetex Garment Indonesia dalam penggalan puisinya yang berjudul “Mimpi Yang Terjahit di Antara Kain dan Benang” katanya:

Kain-kain terbentang bagaikan kanvas yang siap di lukis oleh benang

Mimpi-mimpi tersulam dalam setiap jahitan

Jarum dan benang menjadi tinta

Dan pena yang menulis perjuangan tanpa kata

Dalam setiap lipatan dan jahitan yang rapi

Ada mimpi yang terpendam rapi dalam raga

Oh lihatlah pakaian ini 

Ada mimpi dan harapan merek yang ikut terjahit indah  

Di antara kain dan benang

Mimpi-mimpi tersulam dari hal yang kecil menjadi detail, setiap jahitan yang memberikan sebuah warna dan pena memberikan arti perjuangan tanpa kata. Pakaian sebuah identitas yang ikut terjahit namun elok “di antara kain dan benang” menyuratkan buruh pabrik. Mimin Harmini mungkin menegaskan bahwa sebagai buruh jangan melihat sesuatu yang diselesaikan sebagai upah, namun ada sebuah karya, cerminan, keteramilan, kreativitas yang dapat dibanggakan dalam diri.

Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Baru

Dari berbagai kegiatan yang di gagas, saya adalah orang yang senantiasa diajak untuk melek literasi dalam membangun struktur berpikir. Ada sebuah kepekaan yang di bangun oleh Padepokan Kirik Nguyuh bersama Om Baron Famousa yang telah mendidik saya di kandang selama kurang lebih delapan bulan. Kata kandang bukan hanya berbicara soal hewan, tapi.. sekolah.

Pengalaman saya selama di Padepokan Kirik Nguyuh selaian belajar mengenai pemahaman konteks yang ada di dalamnya yang paling dasar adalah tentang lingkungan, dimulai dari menyapu halaman setiap hari. Lalu membuka Kelas Sastra secara gratis yang diikuti oleh siswa SD dan SMP. Kelas sastra yang digagas adalah puisi, karena puisi selain memberikan sebuah rasa dengan bahasa yang cukup sederhana, ia dapat memberikan makna yang universal meliputi “rasa, nada, ekspresi, dan pesan”.

Baca Juga: Jalan Kota Bandung yang Tak Lagi Ramah di Mata Pengguna Sepeda

Selain itu juga, saya ikut berpartisipasi dalam melestarikan gamelan sorawatu. Sebuah jenis gamelan batu yang cara bermainnya tanpa pentatonis/diatonis. Gamelan sorawatu yang digagas oleh Om Baron Famousa memiliki kebebasan bagi masyarakat untuk belajar musik, masyarakat yang ikut serta terdiri dari berbagai latar belakang seperti: buruh tani, pendidik, pekerja, penjahit, mahasiswa, dan sebagainya. Membahas gamelan sorawatu memiliki sebuah filosofis yang di dalamnya terdapat nilai-nilai pancasila, dan pendekatan pembelajaran sosial emosiional. Pendidikan berbasis masyarakat di Padepokan Kirik Nguyuh itu gratis karena menarik sebuah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru”.

Dari PKBM pertama dan PKBM kedua saya turut berpartisipasi dalam kegiatannya. Di mulai dari awal bulan Januari-Februari ada kelas BUMM (Buruh Majalengka Menulis), bulan Maret-April ada Kelas BUMN (Buruh Majalengk Ngagaok), dan di Bulan Mei ada LKPPM (Literasi Keuangan Pekerja Perempuan Majalengka) Tahun 2025. Kegiatan ini tercipta dari proses ikhtiar serta istiqomah panjang Om Baron Famousa bersama kawan-kawan. Rangkaian kegiatan tercipta dari menentukan struktur berpikir dalam menemukan suatu ide-ide baru, sehingga semesta juga ikut merestui. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Assegaf
Pegiat Literasi

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)