Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Banjir Datang, Mahasiswa Tetap Mengejar Tugas

Melli Cinta Cristina Hutajulu
Ditulis oleh Melli Cinta Cristina Hutajulu diterbitkan Rabu 21 Jan 2026, 08:52 WIB
Cuplikan video TikTok salah seorang Mahasiswa Telkom University yang tinggal di kawasan Sukabirus. (Sumber: TikTok)

Cuplikan video TikTok salah seorang Mahasiswa Telkom University yang tinggal di kawasan Sukabirus. (Sumber: TikTok)

Genangan air yang meresahkan warga di kawasan Sukabirus, terutama mahasiswa Telkom University, terjadi akibat hujan yang turun tanpa henti. Kondisi ini tidak hanya merendam sebagian lingkungan kos, tetapi juga mengganggu aktivitas perjalanan di sekitar kampus. Mahasiswa pun berada dalam dilema antara tetap melanjutkan kewajiban perkuliahan atau mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan kesehatan di tengah lingkungan yang memaksa mereka untuk tetap bertahan.

Berdasarkan keterangan salah satu mahasiswi yang tinggal di sekitar Sukabirus, genangan air mulai dirasakan sejak awal Desember. Lucia, mahasiswi Ilmu Komunikasi Telkom University yang menetap di kawasan Griya Alifa, mengatakan banjir terjadi sekitar tanggal 4 hingga 7 Desember ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut tanpa jeda selama beberapa hari.

“Banjirnya muncul saat hujan deras, biasanya kalau hujan berhenti airnya baru surut,” ujar Lucia.

Sementara itu, Inayah menyebut genangan air membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk benar-benar surut setiap kali hujan lebat turun. Kondisi ini membuat banjir tidak hanya terjadi sekali, melainkan berulang dalam rentang beberapa hari.

Luapan air yang perlahan bertambah tinggi menjadi penyebab utama terjadinya banjir di kawasan Sukabirus. Saluran drainase yang sempit membuat parah dikarenakan debit air yang meningkat dikala hujan yang terus saja deras saat itu. Di beberapa titik, ketinggian air mencapai lutut hingga hampir mencapai seukuran paha orang dewasa. Anindita, Mahasiswi Imu Komunikasi Telkom University, mengungkapkan bahwa dampak dari banjir tersebut cukup parah

“Barang-barang sampai berhamburan ke mana-mana karena banjirnya hampir sepaha,” ujarnya.

Tidak hanya genangan air, banjir juga berdampak pada pasokan listrik di sekitar permukiman. Inayah menyebut aliran listrik di lingkungan tempat tinggalnya sempat dipadamkan sementara hingga 13 jam demi alasan keamanan, meskipun area kosnya tidak ikut terendam banjir.

Banjir yang terjadi tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas perkuliahan, terutama bagi mahasiswa Telkom University. Akses jalan yang tergenang air membuat jalur alternatif tidak dapat digunakan, sehingga kendaraan harus melewati satu jalur yang sama dan menyebabkan kemacetan cukup parah. Inayah menyebut kondisi tersebut membuat perjalanan menuju kampus menjadi lebih padat dari biasanya.

Selain kendala mobilitas, banjir juga memengaruhi waktu belajar mahasiswa. Anindita mengaku fokusnya sering terpecah karena harus terus waspada terhadap kemungkinan banjir susulan yang dapat terjadi kapan saja, sehingga waktu mengerjakan tugas kuliah menjadi terbatas. Di sisi lain, Lucia mengantisipasi pemadaman listrik dengan mengisi daya ponsel dan laptop sebelum kembali ke kost, agar aktivitas perkuliahan tetap dapat berjalan meski listrik padam sewaktu-waktu.

Di tengah kondisi banjir yang menyulitkan, solidaritas justru terlihat tumbuh di lingkungan sekitar Sukabirus. Inayah menceritakan bahwa warga dan mahasiswa sempat berjaga pada malam hari untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir susulan.

Sementara itu, Anindita bersama teman-teman satu kost saling membantu membersihkan lumpur sisa banjir agar lingkungan kembali layak ditempati. Bentuk kepedulian juga datang dari hal-hal sederhana, seperti yang dirasakan Lucia ketika mahasiswa saling berbagi lilin karena kost-an mereka mengalami pemadaman listrik. Kebersamaan tersebut menjadi cara mahasiswa bertahan dan saling menguatkan di tengah keterbatasan akibat banjir.

Baca Juga: Di Malam yang Tidak Pernah Sama, Pasar Lilin Astana Anyar Tetap Ada

Meski genangan perlahan menghilang, rasa cemas belum sepenuhnya pergi setiap kali hujan kembali turun di Sukabirus. Bagi mahasiswa, suara hujan kini bukan sekadar tanda cuaca, tetapi alarm akan kemungkinan listrik padam dan air yang datang tanpa peringatan. Harapan pun muncul dari pengalaman ini. Anindita berharap sistem drainase di kawasan Sukabirus dapat dibenahi agar banjir tidak lagi menjadi rutinitas musiman.

Lucia menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memperbaiki kondisi selokan. Sementara Inayah melihat banjir sebagai cerminan kelalaian manusia yang masih kerap mengabaikan dampak dari sampah dan pengelolaan lingkungan. Di tengah segala keterbatasan, banjir ini meninggalkan satu pelajaran penting ketahanan mahasiswa bukan alasan untuk membiarkan persoalan lingkungan terus berulang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Melli Cinta Cristina Hutajulu
Communication Science Student

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)