Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

5 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)

*Ditulis oleh Mochamad Arbani

Dunia perfilman Indonesia pada tahun 2025 ini memperlihatkan dinamika yang sangat kontras dan memunculkan tanda tanya besar bagi industri hiburan kita.

Di satu sisi, film animasi Jumbo berhasil mencatatkan rekor baru yang luar biasa fantastis, dengan raihan lebih dari 10 juta penonton sejak tayang perdana pada akhir Maret 2025. Angka yang fenomenal ini bahkan sukses melampaui rekor film-film terlaris yang pernah ada sebelumnya di Tanah Air. Namun, realitas yang sepenuhnya bertolak belakang terjadi pada periode waktu yang sama, di mana film Misteri Cek Khodam hanya mampu terjual sebanyak 27 lembar tiket saja sebelum akhirnya secara paksa dihentikan penayangannya setelah baru tayang selama dua hari.

Ketika rekor jumlah penonton yang sangat fantastis dan angka keterisian kursi yang teramat kecil ini terjadi secara bersamaan, masalah utamanya tentu bukan lagi sekadar soal keberuntungan nasib sebuah film. Fenomena kontras ini justru memunculkan pertanyaan penting dan mendasar: apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Jika kita melihat secara kuantitatif, jumlah produksi film nasional sebenarnya sedang mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Sepanjang tahun 2025, tercatat terdapat 204 judul film yang beredar di pasaran, angka ini meroket tajam dan naik 65 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang hanya memproduksi 123 judul. Meski demikian, dari total 79,6 juta penonton bioskop di Indonesia, sekitar sepertiga kekuatan pasar nyatanya hanya terkonsentrasi secara penuh pada dua film utama saja, yaitu Jumbo dan Agak Laen: Menyala Pantiku!.

Akibat dari ketimpangan ini, 202 judul film sisanya mau tidak mau harus saling sikut berebut sisa pasar, dengan rata-rata raihan penonton yang sangat kecil, yakni hanya sekitar 292 ribu penonton per film. Persaingan ketat yang berdarah-darah ini terasa semakin berat karena industri perfilman kita masih dihadapkan pada masalah klasik keterbatasan infrastruktur penayangan. Ratusan karya film tersebut harus rela antre dan bersaing memperebutkan ruang di 2.300 layar bioskop yang beroperasi, sebuah ketersediaan angka yang masih jauh di bawah kebutuhan ideal penayangan sebanyak 10 ribu layar.

Situasi industri perfilman ini kemudian diperparah oleh regulasi dan kebijakan pihak bioskop yang mewajibkan setiap film untuk setidaknya mempertahankan keterisian kursi minimal 10 persen pada hari kedua tayang. Aturan komersial yang amat ketat ini pada akhirnya membuat karya film yang tidak terlihat eye catching atau menarik perhatian cepat dari penonton akan dengan sangat mudah diturunkan dari layar lebar.

Pergeseran drastis pada perilaku penonton ini pada hakikatnya sangat berkaitan erat dengan adanya perubahan besar dalam cara konsumsi informasi masyarakat di era digital saat ini. Kehadiran berbagai platform video pendek seperti TikTok, Reels, dan YouTube Shorts secara perlahan namun pasti telah membiasakan masyarakat kontemporer pada pemenuhan informasi dan hiburan yang serba cepat serta instan.

Data mencatat fakta yang mengejutkan bahwa pengguna harian unik platform YouTube di Indonesia telah menembus angka 110 juta orang, dengan rutinitas konsumsi hingga miliaran tayangan video pendek setiap harinya. Dalam kondisi masyarakat modern yang serba terburu-buru, meluangkan waktu luang selama dua jam penuh di dalam ruang bioskop sering kali dianggap sebagai sebuah aktivitas yang kurang efisien, terlebih jika dibandingkan dengan mudahnya menyaksikan ringkasan alur cerita film yang dipadatkan ke dalam durasi sepuluh menit saja melalui layar gawai masing-masing.

Ilustrasi film animasi. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi film animasi. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)

Pendekatan filosofis dari pemikir Walter Benjamin mengenai konsep reproduksi karya seni dapat memperjelas fenomena pergeseran budaya ini. Dalam teorinya, Benjamin menjelaskan tentang konsep 'aura', yaitu keotentikan, kedalaman makna, dan kehadiran unik dari suatu karya seni yang sama sekali tidak dapat digantikan oleh salinan mekanis ataupun cuplikan digital.

Bioskop sejatinya merupakan sebuah ruang ritual khusus tempat aura film dirasakan secara utuh melalui sensasi keheningan dan skala visual berukuran raksasa yang pada akhirnya memunculkan respons emosional mendalam bagi penonton. Namun, ketika film dipangkas secara kasar menjadi sekadar ringkasan alur cerita belaka, nilai dari pengalaman estetis tersebut tentu menjadi sangat berkurang atau hilang sama sekali.

Lebih lanjut lagi, kacamata dari teori Uses and Gratifications sangat membantu kita memahami bahwa motivasi para penonton bioskop hari ini memang telah bergeser. Audiens sekarang ini tidak lagi semata-mata mengejar pengalaman estetis di dalam bioskop, melainkan lebih cenderung mencari kemudahan informasi sebagai modal utama dalam berinteraksi sosial di media maya. Bukti tak terbantahkannya, figur kreator konten seperti Klara Tania bahkan sanggup memikat dan menarik lebih dari 24 juta pengikut hanya dengan modal menyajikan ringkasan jalan cerita film-film populer.

Fenomena maraknya kreator ringkasan ini memperlihatkan bahwa publik pada dasarnya tidak kehilangan minat pada kualitas cerita film itu sendiri, melainkan mereka dengan sengaja memilih cara paling praktis dan efisien untuk tetap relevan dalam pergaulan lingkungan mereka tanpa harus mengorbankan waktu.

Rangkaian kondisi pergeseran budaya masa kini tersebut pada akhirnya turut memengaruhi strategi para produser dan pelaku industri dalam merancang karya mereka di lapangan. Proses pembuatan film pada masa kini sering kali banyak dikompromikan dan disesuaikan sedemikian rupa agar berbagai adegannya akan mudah dipotong menjadi bahan materi promosi singkat yang berpotensi viral di media sosial.

Hal komersial semacam ini terlihat amat jelas dari tingginya dominasi produksi genre horor yang sukses merajai porsi 46 persen dari total keseluruhan produksi film nasional pada tahun 2025 ini. Sayangnya, strategi jalan pintas demi meraup atensi di media sosial ini tidak sepenuhnya membuahkan hasil. Faktanya, lebih dari sepertiga film horor yang diproduksi tersebut tetap saja menemui kegagalan untuk mencapai ambang batas psikologis 100 ribu penonton yang diakibatkan oleh tingkat kejenuhan pasar serta formula cerita horor yang terlampau seragam dan dapat ditebak.

Untuk mengatasi berbagai tantangan kultural dan struktural industri ini secara menyeluruh, industri sinema Tanah Air tidak bisa lagi hanya sekadar mengandalkan formula-formula instan atau bergantung berlebihan pada genre tertentu demi meraih keuntungan cepat.

Para pembuat film harus berani mengembalikan esensi sinema dengan berfokus pada penguatan kualitas cerita naratif dan juga penyajian elemen visual yang memang dirancang sedemikian rupa agar pantas dinikmati secara eksklusif di teater layar lebar. Di saat yang bersamaan, langkah penguatan ekosistem perfilman melalui percepatan penambahan fasilitas layar bioskop agar merata, serta adanya penyesuaian aturan penayangan eksibitor yang lebih ramah kreator, menjadi hal mutlak dan penting.

Dengan pembenahan ekosistem ini, diharapkan bahwa karya film yang berkualitas senantiasa mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama untuk tumbuh, bertahan, dan diapresiasi secara adil. (*)

*Mochamad Arbani adalah Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)