Hikayat Bioskop Laksana Cicalengka, Tempat Gaul di Bandung Timur Tempo Doeloe

2 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Para penonton Bioskop Rex Batavia saat pemutaran The Dawn Patrol tahun 1939. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Para penonton Bioskop Rex Batavia saat pemutaran The Dawn Patrol tahun 1939. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

AYOBANDUNG.ID - Kalau sekarang orang Cicalengka ingin hiburan, tinggal buka TikTok atau nonton Netflix di HP. Tapi beberapa dekade lalu, hiburan itu ada di gedung gelap dengan layar besar: bioskop. Di ujung timur Kabupaten Bandung, berdirilah sebuah bioskop legendaris bernama Laksana, tapi lebih beken dengan nama Baron, bahkan punya julukan nyentrik: Petay.

Cicalengka zaman dulu bukan sekadar kota persinggahan kereta. Ia adalah ibukota Afdeling Bandung, semacam pusat keramaian di masa lalu. Jadi wajar saja, ada pemodal yang kepincut membuka bioskop di sana. Hasilnya? Warga Cicalengka, Nagreg, sampai Rancaekek pun bisa ikut nonton film tanpa harus ke Bandung kota.

Fitri Fauziah, 44 tahun, yang rumahnya pas di depan bekas bioskop itu, masih ingat samar-samar. "Sepertinya awal 90-an berhenti beroperasinya. Lupa lagi sudah sangat lama," katanya.

Ia bercerita kalau akhir 80-an saat baru masuk SD, bioskop ini masih hidup dan sekolahnya pun pernah kerja sama. “Untuk anak sekolah biasanya diputar film perjuangan,” ujarnya.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Tentu, kalau bukan momen 17 Agustusan atau September penuh propaganda G30S/PKI, bioskop ini memutar film biasa. Tapi ada satu genre yang bikin bioskop ini dikenal orang. Kata Fitri, "Terkenalnya film India. Makanya durasinya sangat lama, bisa sampai 3 jam."

Ya, bisa dibayangkan anak-anak Cicalengka rela duduk lama menonton Shah Rukh Khan berjoget sambil menangis.

Potret area bekas bangunan Bioskop Laksana Cicalengka. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Potret area bekas bangunan Bioskop Laksana Cicalengka. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Dari Laksana, Baron, sampai Petay

Bioskop ini resmi bernama Laksana, tapi orang-orang malah lebih sering menyebutnya Baron. Konon, mungkin nama Baron diambil dari pemilik bioskop. Bisa juga hanya karena lokasi jalan di sebelah timur Cicalengka akhirnya akrab disebut kawasan Baron. “Di sini dikenalnya kawasan Baron. Memang jalannya itu jalan Timur Cicalengka,” kata Fitri.

Julukan nama Baron ini bahkan lebih kuat melekat dibanding nama kampungnya sendiri. Seakan-akan bioskop itu jadi penanda geografis yang lebih penting ketimbang plang jalan.

Selain Baron, bioskop ini juga punya julukan lain yang tak kalah unik: Petay. Menurut Abdurrahman, warga sekitar, “Petay itu cepe ngantay. Malam minggu penontonnya pasti sangat banyak. Kalau hari biasa mah tidak terlalu banyak yang nonton.”

Baca Juga: Sejarah Bioskop Rio Cimahi, Tempat Hiburan Serdadu KNIL yang Jadi Sarang Film Panas

Cepe alias Rp100 untuk sekali nonton. Ngantay artinya antre panjang-panjang. Jadi, Petay ini bukan sekadar nama, tapi filosofi ekonomi rakyat kecil. Bayangkan, hanya dengan selembar cepe, muda-mudi bisa duduk manis di kursi kayu, nonton film Bollywood, sambil cuci mata lihat gebetan.

Sayangnya, semua kejayaan itu tinggal cerita. Gedung megah bioskop Laksana sudah rata dengan tanah, berganti deretan ruko: ada yang jadi klinik, toko, sampai cucian motor. Jejaknya nyaris hilang. Generasi 30-an ke bawah mungkin sudah tidak tahu lagi kalau di situ dulu ada bioskop legendaris yang bikin Cicalengka berdenyut.

Kini, yang tersisa hanya ingatan kolektif orang-orang tua: sebuah masa ketika malam Minggu berarti antre tiket, menonton film tiga jam, lalu pulang dengan hati riang. Bioskop Laksana, Baron, atau Petay, kini sudah masuk ke dalam kotak kenangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)