Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

FENOMENA pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri garmen bukanlah cerita baru. Walau demikian, setiap kasus PHK selalu menyisakan luka yang nyata. 

Apa yang terjadi pada kasus PHK ratusan buruh garmen di Cimahi, baru-baru ini, hanyalah satu potongan kecil dari gambaran yang lebih besar ihwal sebuah sektor industri yang sejak awal memang dibangun di atas logika fleksibilitas, bukan stabilitas.

Dalam narasi kebijakan, seperti yang telah disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang lebih akrab dipanggil KDM, salah satu solusi adalah buruh diminta berpindah mengikuti lokasi industri baru. 

Secara ekonomi, solusi ini ini masuk di akal. Namun, dalam realitas sosial, persoalannya boleh jadi jauh lebih kompleks.

Industri garmen adalah contoh klasik dari sektor padat karya yang sangat sensitif terhadap biaya. Upah, sewa lahan, hingga ongkos logistik menjadi variabel yang menentukan apakah sebuah pabrik akan bertahan atau pindah. Ketika biaya di satu wilayah naik, perpindahan menjadi keputusan rasional bagi perusahaan.

Akan tetapi, rasionalitas perusahaan tidak selalu sejalan dengan rasionalitas kehidupan buruh. Bagi buruh, pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga bagian dari ekosistem kehidupan, yang bersangkut-paut dengan keluarga, komunitas, akses pendidikan anak, hingga jaringan sosial yang telah dibangun bertahun-tahun.

Mak, soal pilihan berpindah atau bertahan dapat menjadi dilema yang tidak sepenuhnya bebas. Secara teori ekonomi tenaga kerja, mobilitas adalah hal yang diharapkan untuk meningkatkan efisiensi pasar kerja. Tapi, dalam praktiknya, mobilitas juga memiliki biaya yang tidak kecil.

Biaya itu bukan hanya perkara finansial, seperti ongkos pindah, sewa tempat tinggal baru, atau transportasi. Ada juga biaya sosial yang sering tidak terlihat, yakni perpisahan dengan keluarga, kehilangan dukungan komunitas, hingga tekanan psikologis akibat adaptasi di lingkungan baru.

Banyak perempuan

Banyak buruh garmen adalah kaum perempuan, dan sering kali sebagai tulang punggung keluarga. Ketika mereka diminta pindah ke daerah lain seperti Indramayu atau Majalengka, keputusan itu bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal siapa yang akan mengurus anak, orang tua, atau rumah tangga.

Dalam kajian ekonomi ketenagakerjaan, situasi ini disebut sebagai constrained choice -- pilihan yang secara formal ada, tetapi secara nyata sangat terbatas. Buruh memang bisa memilih pindah agar bisa terus bekerja, tetapi dengan konsekuensi yang berat. Mereka juga bisa memilih bertahan, tetapi dengan risiko menganggur.

Di sisi lain, pasar kerja di sektor garmen juga memiliki karakter yang cenderung homogen. Keterampilan yang dimiliki buruh relatif spesifik -- menjahit, memotong, finishing -- yang tidak selalu mudah dialihkan ke sektor lain tanpa pelatihan tambahan.

Imbasnya, kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh dalam menghadapi perubahan.

Relokasi industri juga menciptakan fenomena yang disebut sebagai spatial mismatch. Lapangan kerja tersedia, tetapi tidak berada di lokasi yang sama dengan tenaga kerja. Ketidaksesuaian ini bisa menjadi sumber inefisiensi sekaligus ketimpangan baru.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pengangguran struktural

Di wilayah industri lama seperti Cimahi, kita melihat potensi munculnya pengangguran struktural. Adapun di wilayah industri baru, perusahaan justru kesulitan mencari tenaga kerja yang siap pakai dalam waktu cepat.

Ironisnya, kondisi ini tidak sepenuhnya menguntungkan siapa pun. Buruh kehilangan pekerjaan, daerah lama kehilangan aktivitas ekonomi, dan daerah baru harus berinvestasi dalam pelatihan tenaga kerja.

Dalam konteks global, dinamika ini tidak lepas dari tekanan rantai pasok industri fesyen. Model bisnis fast fashion menuntut produksi cepat dengan biaya rendah. Negara atau daerah yang tidak lagi kompetitif akan dengan mudah ditinggalkan investor.

Indonesia, termasuk Jawa Barat, sejauh ini, masih berada di posisi sebagai basis produksi dengan nilai tambah relatif rendah. Artinya, daya tawar terhadap investor tidak terlalu kuat, terutama ketika bersaing dengan daerah atau negara lain yang menawarkan biaya lebih murah.

Upaya meningkatkan kesejahteraan buruh melalui kenaikan upah minimum justru bisa menjadi pemicu relokasi industri. Namun, menahan upah juga bukan solusi, lantaran bakal menekan kualitas hidup para buruh.

Dilema tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak bisa dilihat secara parsial. Ini bukan sekadar soal buruh yang harus fleksibel atau perusahaan yang harus efisien, tetapi soal struktur ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak pada stabilitas kerja.

Kualitas tenaga kerja

Bagi buruh, ketidakpastian bisa dibilang telah menjadi bagian dari kehidupan kerja. Mereka tidak hanya menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, tetapi juga harus siap dengan kemungkinan berpindah kapan saja.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada kualitas tenaga kerja itu sendiri. Ketidakpastian membuat buruh sulit merencanakan masa depan, baik dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun investasi keluarga.

Ada juga dimensi psikologis yang jarang dibahas. PHK tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga pada rasa harga diri dan identitas. Pekerjaan sering kali menjadi bagian dari siapa seseorang, dan kehilangannya pekerjaan bisa memicu tekanan mental.

Di sisi kebijakan, imbauan untuk berpindah seharusnya diikuti dengan dukungan yang konkret. Misalnya, program relokasi tenaga kerja, subsidi tempat tinggal, atau pelatihan ulang yang terstruktur.

Tanpa itu, mobilitas hanya akan menjadi beban tambahan bagi buruh. Mereka dipaksa beradaptasi dalam sistem yang tidak sepenuhnya mendukung.

Lebih jauh lagi, perlu pula ada strategi untuk meningkatkan nilai tambah industri. Selama Indonesia hanya menjadi tempat produksi, tekanan biaya akan selalu menjadi faktor dominan, dan siklus relokasi akan terus berulang.

Penguatan sektor desain, branding, hingga distribusi bisa menjadi jalan keluar jangka panjang. Dengan begitu, ketergantungan pada upah murah bisa semakin dikurangi.

Namun, semua itu bukan proses yang instan. Dibutuhkan investasi dalam pendidikan, pelatihan, dan kebijakan industri yang konsisten.

Sementara itu, buruh tetap berada di garis depan menghadapi dampak perubahan. Mereka adalah pihak yang paling cepat merasakan konsekuensi dari setiap keputusan ekonomi.

Dilema antara bertahan atau berpindah pada akhirnya bukan sekadar pilihan individu, tetapi refleksi dari struktur ekonomi yang lebih besar. 

Maka, penting untuk melihat buruh bukan hanya sebagai faktor produksi, tetapi juga sebagai manusia dengan kehidupan yang kompleks. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang memahami kompleksitas itu.

Jika tidak, maka setiap kali industri harus berpindah, cerita yang sama akan terus terulang: pabrik tutup, buruh kehilangan pekerjaan, sementara pemerintah kembali dihadapkan pada pilihan sulit antara menarik investasi baru atau melindungi tenaga kerja yang terdampak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)