Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

6 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)
Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)

Setiap hari, kita bertemu dengan buruh di sudut-sudut Kota Bandung tanpa menyadarinya. Mereka bekerja sejak pagi, menembus padatnya jalanan, hingga larut malam ketika sebagian orang sudah beristirahat. Mereka adalah pengemudi yang mengantar kita ke tujuan, pekerja pabrik yang membuat barang-barang yang kita pakai, kurir yang memastikan pesanan tiba tepat waktu, dan petugas kebersihan yang menjaga lingkungan tetap bersih. Lelah yang mereka rasakan bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari usaha untuk menghidupi keluarga dan menjaga agar kehidupan terus berjalan.

Di balik peringatan Hari Buruh, ada kisah panjang yang jarang disadari. Pada awal abad ke-19, saat industrialisasi berkembang pesat di Amerika Serikat, buruh bekerja dalam jam yang sangat panjang. Mereka bisa bekerja hingga 14 hingga 20 jam sehari dalam kondisi kerja yang jauh dari layak. Situasi ini memicu tuntutan, dimulai dari desakan untuk mengurangi jam kerja menjadi 10 jam. Tuntutan ini sempat diberlakukan terbatas bagi pekerja pemerintah pada masa Presiden Martin Van Buren.

Namun, itu belum cukup. Seiring waktu, tuntutan semakin tegas. Salah satu contohnya adalah slogan perjuangan buruh Australia, “8 jam kerja, 8 jam rekreasi, dan 8 jam istirahat,” sebagai batas yang lebih manusiawi.

Dorongan tersebut semakin kuat seiring terbentuknya gerakan buruh yang terorganisir. Pada 1860-an, para pekerja di Amerika Serikat mulai bersatu, termasuk melalui pembentukan National Labor Union yang mendorong penerapan jam kerja delapan jam. Seruan ini kemudian meluas hingga tingkat internasional. Puncaknya terjadi ketika federasi buruh di Amerika dan Kanada menetapkan 1 Mei 1886 sebagai batas mulai diterapkannya jam kerja delapan jam per hari. Keputusan ini memicu gelombang aksi besar di berbagai kota, melibatkan ratusan ribu buruh, dengan Chicago menjadi salah satu titik paling tegang dalam peristiwa Haymarket Square.

Setelah peristiwa itu, pada tahun 1889, gerakan buruh internasional menetapkan 1 Mei sebagai hari untuk memperingati perjuangan ini dan menyuarakan solidaritas pekerja di seluruh dunia. Sejak saat itu, Hari Buruh berkembang menjadi simbol global. Ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga tentang tuntutan yang terus ada dan berulang di berbagai tempat.

Di Indonesia, makna sejarah ini terasa tidak jauh berbeda. Buruh tetap menjadi bagian penting dari ekonomi, hadir di berbagai sektor. Namun, masalah yang mereka hadapi belum sepenuhnya berubah. Dari upah yang seringkali pas-pasan hingga kepastian kerja yang tidak menentu, semuanya masih jadi bagian dari realitas sehari-hari. Menjelang 1 Mei, yang muncul bukan hanya soal mengenang. Ada juga pertanyaan sederhana yang sering dihindari: apakah semangat perjuangan para buruh benar-benar bergerak maju, atau justru berhenti pada peringatan tahunan?

Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Upah Minimum dan Batas Layak yang Dipertanyakan

Salah satu masalah yang paling dekat dengan kehidupan buruh adalah upah. Di Kota Bandung, pemerintah menetapkan Upah Minimum Kota Bandung tahun 2026 sebesar Rp4.737.678 sebagai batas terendah bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi buruh agar mereka tetap memiliki kepastian penghasilan di tengah perubahan ekonomi yang cepat.

Namun di lapangan, angka ini sering kali tidak memenuhi kebutuhan hidup. Angka tersebut seringkali hanya menjadi batas administratif, bukan ukuran apakah seseorang bisa hidup layak. Ketika biaya hidup di kota terus meningkat, mulai dari kebutuhan tempat tinggal hingga konsumsi harian, penghasilan yang diterima sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang.

Masalah ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang jarak antara kebijakan dan kenyataan. Apa yang terlihat cukup di atas kertas, belum tentu cukup dalam kehidupan sehari-hari. Jarak itu semakin terasa ketika harga kebutuhan terus naik.

Data inflasi, dampak bagi buruh sangat terasa nyata di kehidupan sehari-hari. (Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS))
Data inflasi, dampak bagi buruh sangat terasa nyata di kehidupan sehari-hari. (Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS))

Ketika Harga Naik, Namun Upah Tetap

Tekanan terhadap buruh juga tidak berhenti hanya pada besaran upah yang terbatas. Pada Maret 2026, biaya hidup kembali mengalami kenaikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan sebesar 3,48 persen, dengan kenaikan yang dipicu oleh kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti tarif listrik, bahan pangan, hingga transportasi.

Kenaikan ini mungkin terlihat kecil secara persentase, tetapi dampaknya terasa langsung. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak banyak berubah, ruang untuk memenuhi kebutuhan menjadi semakin sempit. Pendapatan yang sebelumnya pas-pasan kini semakin tertekan. Buruh bukan hanya dituntut untuk terus bekerja, tetapi juga dipaksa menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang tidak selalu berpihak.

Tekanan yang dihadapi buruh tidak hanya berasal dari kenaikan biaya hidup, tetapi mulai menyentuh hal yang lebih mendasar, yaitu kepastian kerja.

Ketika pekerjaan buruh hilang, yang runtuh bukan hanya penghasilan, tapi kepastian hidup. (Sumber: Pixabay | Foto: Mohamed_hassan)
Ketika pekerjaan buruh hilang, yang runtuh bukan hanya penghasilan, tapi kepastian hidup. (Sumber: Pixabay | Foto: Mohamed_hassan)

Ketika Bekerja Tak Lagi Menjamin Bertahan

Situasi yang terus menumpuk pada buruh mulai berujung pada hilangnya pekerjaan. Di Jawa Barat, gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi dalam skala yang besar. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang diolah oleh Pusdatik per 6 April 2026 mencatat sebanyak 8.389 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang Januari hingga Maret 2026, menjadikan provinsi ini sebagai wilayah dengan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tertinggi secara nasional.

Lonjakan terbesar terjadi pada awal tahun. Pada Januari tercatat 4.590 kasus PHK, kemudian menurun menjadi 3.273 pada Februari, dan kembali turun menjadi 526 pada Maret. Meski penurunan mulai terlihat, jumlah tersebut tetap menunjukkan bahwa kondisi di sektor ketenagakerjaan masih berat, terutama di sektor industri dan manufaktur yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.

Di tengah kondisi tersebut, pekerja yang terdampak memang masuk dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan sebagai bentuk perlindungan. Namun, itu lebih terasa sebagai penyangga sementara, bukan jaminan kepastian.

Oleh karena itu, persoalan buruh tidak lagi dilihat sebagai isu yang berdiri sendiri. Upah yang terbatas, harga yang terus naik, hingga ancaman kehilangan pekerjaan membentuk satu rangkaian tekanan yang saling berkaitan. Buruh tetap menjadi penggerak ekonomi Indonesia, tetapi sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika kondisi memburuk. Ironinya, di tengah kontribusi yang besar, posisi mereka justru tetap berada di titik paling rentan. Mereka dibutuhkan untuk menjaga roda ekonomi tetap berjalan, tetapi belum sepenuhnya memiliki kepastian untuk hidup dengan layak.

Menjelang 1 Mei 2026, Hari Buruh seharusnya tidak berhenti sebagai pengingat tahunan semata. Ia lahir dari perjuangan panjang untuk kehidupan yang lebih manusiawi, dan semangat itu seharusnya tetap hidup dalam realitas hari ini. Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka perjuangan itu belum benar-benar selesai. Hari Buruh bukan sekadar untuk diperingati, tetapi untuk terus diperjuangkan maknanya. (*)

REFERENSI

  • Nangia, T. (2026). May Day | Holiday, Meaning, History, & Origins | Britannica. Encyclopaedia Britannica.

  • GAPURA JABAR. (2025). UMK Kota Bandung 2026 Ditetapkan Rp4.737.678.

  • Badan Pusat Statistik. (2026). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen.

  • VISI.NEWS. (2026). Jabar Darurat PHK! Ribuan Buruh Tumbang di Awal 2026.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)