Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Rabu 29 Apr 2026, 07:36 WIB
Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)

Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)

Setiap hari, kita bertemu dengan buruh di sudut-sudut Kota Bandung tanpa menyadarinya. Mereka bekerja sejak pagi, menembus padatnya jalanan, hingga larut malam ketika sebagian orang sudah beristirahat. Mereka adalah pengemudi yang mengantar kita ke tujuan, pekerja pabrik yang membuat barang-barang yang kita pakai, kurir yang memastikan pesanan tiba tepat waktu, dan petugas kebersihan yang menjaga lingkungan tetap bersih. Lelah yang mereka rasakan bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari usaha untuk menghidupi keluarga dan menjaga agar kehidupan terus berjalan.

Di balik peringatan Hari Buruh, ada kisah panjang yang jarang disadari. Pada awal abad ke-19, saat industrialisasi berkembang pesat di Amerika Serikat, buruh bekerja dalam jam yang sangat panjang. Mereka bisa bekerja hingga 14 hingga 20 jam sehari dalam kondisi kerja yang jauh dari layak. Situasi ini memicu tuntutan, dimulai dari desakan untuk mengurangi jam kerja menjadi 10 jam. Tuntutan ini sempat diberlakukan terbatas bagi pekerja pemerintah pada masa Presiden Martin Van Buren.

Namun, itu belum cukup. Seiring waktu, tuntutan semakin tegas. Salah satu contohnya adalah slogan perjuangan buruh Australia, “8 jam kerja, 8 jam rekreasi, dan 8 jam istirahat,” sebagai batas yang lebih manusiawi.

Dorongan tersebut semakin kuat seiring terbentuknya gerakan buruh yang terorganisir. Pada 1860-an, para pekerja di Amerika Serikat mulai bersatu, termasuk melalui pembentukan National Labor Union yang mendorong penerapan jam kerja delapan jam. Seruan ini kemudian meluas hingga tingkat internasional. Puncaknya terjadi ketika federasi buruh di Amerika dan Kanada menetapkan 1 Mei 1886 sebagai batas mulai diterapkannya jam kerja delapan jam per hari. Keputusan ini memicu gelombang aksi besar di berbagai kota, melibatkan ratusan ribu buruh, dengan Chicago menjadi salah satu titik paling tegang dalam peristiwa Haymarket Square.

Setelah peristiwa itu, pada tahun 1889, gerakan buruh internasional menetapkan 1 Mei sebagai hari untuk memperingati perjuangan ini dan menyuarakan solidaritas pekerja di seluruh dunia. Sejak saat itu, Hari Buruh berkembang menjadi simbol global. Ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga tentang tuntutan yang terus ada dan berulang di berbagai tempat.

Di Indonesia, makna sejarah ini terasa tidak jauh berbeda. Buruh tetap menjadi bagian penting dari ekonomi, hadir di berbagai sektor. Namun, masalah yang mereka hadapi belum sepenuhnya berubah. Dari upah yang seringkali pas-pasan hingga kepastian kerja yang tidak menentu, semuanya masih jadi bagian dari realitas sehari-hari. Menjelang 1 Mei, yang muncul bukan hanya soal mengenang. Ada juga pertanyaan sederhana yang sering dihindari: apakah semangat perjuangan para buruh benar-benar bergerak maju, atau justru berhenti pada peringatan tahunan?

Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Upah Minimum dan Batas Layak yang Dipertanyakan

Salah satu masalah yang paling dekat dengan kehidupan buruh adalah upah. Di Kota Bandung, pemerintah menetapkan Upah Minimum Kota Bandung tahun 2026 sebesar Rp4.737.678 sebagai batas terendah bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi buruh agar mereka tetap memiliki kepastian penghasilan di tengah perubahan ekonomi yang cepat.

Namun di lapangan, angka ini sering kali tidak memenuhi kebutuhan hidup. Angka tersebut seringkali hanya menjadi batas administratif, bukan ukuran apakah seseorang bisa hidup layak. Ketika biaya hidup di kota terus meningkat, mulai dari kebutuhan tempat tinggal hingga konsumsi harian, penghasilan yang diterima sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang.

Masalah ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang jarak antara kebijakan dan kenyataan. Apa yang terlihat cukup di atas kertas, belum tentu cukup dalam kehidupan sehari-hari. Jarak itu semakin terasa ketika harga kebutuhan terus naik.

Data inflasi, dampak bagi buruh sangat terasa nyata di kehidupan sehari-hari. (Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS))
Data inflasi, dampak bagi buruh sangat terasa nyata di kehidupan sehari-hari. (Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS))

Ketika Harga Naik, Namun Upah Tetap

Tekanan terhadap buruh juga tidak berhenti hanya pada besaran upah yang terbatas. Pada Maret 2026, biaya hidup kembali mengalami kenaikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan sebesar 3,48 persen, dengan kenaikan yang dipicu oleh kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti tarif listrik, bahan pangan, hingga transportasi.

Kenaikan ini mungkin terlihat kecil secara persentase, tetapi dampaknya terasa langsung. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak banyak berubah, ruang untuk memenuhi kebutuhan menjadi semakin sempit. Pendapatan yang sebelumnya pas-pasan kini semakin tertekan. Buruh bukan hanya dituntut untuk terus bekerja, tetapi juga dipaksa menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang tidak selalu berpihak.

Tekanan yang dihadapi buruh tidak hanya berasal dari kenaikan biaya hidup, tetapi mulai menyentuh hal yang lebih mendasar, yaitu kepastian kerja.

Ketika pekerjaan buruh hilang, yang runtuh bukan hanya penghasilan, tapi kepastian hidup. (Sumber: Pixabay | Foto: Mohamed_hassan)
Ketika pekerjaan buruh hilang, yang runtuh bukan hanya penghasilan, tapi kepastian hidup. (Sumber: Pixabay | Foto: Mohamed_hassan)

Ketika Bekerja Tak Lagi Menjamin Bertahan

Situasi yang terus menumpuk pada buruh mulai berujung pada hilangnya pekerjaan. Di Jawa Barat, gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi dalam skala yang besar. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang diolah oleh Pusdatik per 6 April 2026 mencatat sebanyak 8.389 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang Januari hingga Maret 2026, menjadikan provinsi ini sebagai wilayah dengan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tertinggi secara nasional.

Lonjakan terbesar terjadi pada awal tahun. Pada Januari tercatat 4.590 kasus PHK, kemudian menurun menjadi 3.273 pada Februari, dan kembali turun menjadi 526 pada Maret. Meski penurunan mulai terlihat, jumlah tersebut tetap menunjukkan bahwa kondisi di sektor ketenagakerjaan masih berat, terutama di sektor industri dan manufaktur yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.

Di tengah kondisi tersebut, pekerja yang terdampak memang masuk dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan sebagai bentuk perlindungan. Namun, itu lebih terasa sebagai penyangga sementara, bukan jaminan kepastian.

Oleh karena itu, persoalan buruh tidak lagi dilihat sebagai isu yang berdiri sendiri. Upah yang terbatas, harga yang terus naik, hingga ancaman kehilangan pekerjaan membentuk satu rangkaian tekanan yang saling berkaitan. Buruh tetap menjadi penggerak ekonomi Indonesia, tetapi sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika kondisi memburuk. Ironinya, di tengah kontribusi yang besar, posisi mereka justru tetap berada di titik paling rentan. Mereka dibutuhkan untuk menjaga roda ekonomi tetap berjalan, tetapi belum sepenuhnya memiliki kepastian untuk hidup dengan layak.

Menjelang 1 Mei 2026, Hari Buruh seharusnya tidak berhenti sebagai pengingat tahunan semata. Ia lahir dari perjuangan panjang untuk kehidupan yang lebih manusiawi, dan semangat itu seharusnya tetap hidup dalam realitas hari ini. Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka perjuangan itu belum benar-benar selesai. Hari Buruh bukan sekadar untuk diperingati, tetapi untuk terus diperjuangkan maknanya. (*)

REFERENSI

  • Nangia, T. (2026). May Day | Holiday, Meaning, History, & Origins | Britannica. Encyclopaedia Britannica.

  • GAPURA JABAR. (2025). UMK Kota Bandung 2026 Ditetapkan Rp4.737.678.

  • Badan Pusat Statistik. (2026). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen.

  • VISI.NEWS. (2026). Jabar Darurat PHK! Ribuan Buruh Tumbang di Awal 2026.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)