AYOBANDUNG.ID - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskar) Kota Bandung mencatat kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi. Wilayah tersebut adalah Babakan Ciparay, Sukasari, Lengkong, Andir, Cicendo, Sukajadi, Coblong, Batununggal, dan Bandung Kulon.
Kawasan-kawasan ini dinilai rawan karena didominasi permukiman padat penduduk serta keberadaan area pergudangan dan usaha, seperti insiden kebakaran gudang rongsok dan konveksi yang beberapa kali terjadi.
Secara lebih spesifik, pada 2024 Kota Bandung mengalami 350 kejadian kebakaran yang tersebar di berbagai kecamatan. Kecamatan Babakan Ciparay menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 30 kasus. Tingginya angka ini dipengaruhi oleh kepadatan penduduk hingga akses jalan yang relatif sulit dijangkau petugas. Data ini memperkuat posisi Babakan Ciparay sebagai wilayah paling rawan dalam pemetaan kebakaran tingkat kota.
Tren kebakaran di Kota Bandung juga menunjukkan fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021 tercatat 182 kejadian kebakaran, kemudian meningkat menjadi 195 kejadian pada 2022. Lonjakan signifikan terjadi pada 2023 dengan total 352 kejadian, sebelum sedikit menurun menjadi 350 kejadian pada 2024. Dalam periode tersebut, kawasan pusat kota konsisten menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, diikuti Bandung Timur, Bandung Selatan, Bandung Barat, dan Bandung Utara. Puncak kejadian umumnya terjadi pada musim kemarau, terutama antara Juli hingga Oktober.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung, Kurniawan, mengatakan pihaknya terus memetakan wilayah rawan kebakaran sebagai dasar dalam menentukan langkah pencegahan yang lebih efektif.
“Kalau kita lihat data, kejadian kebakaran terbanyak ada 10 kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.

Diskar Kota Bandung menyebutkan, pemetaan tersebut didasarkan pada jumlah laporan kejadian dalam beberapa tahun terakhir, termasuk faktor kepadatan permukiman, kondisi instalasi listrik, serta aktivitas masyarakat yang berisiko memicu kebakaran.
Kurniawan mengatakan, data tersebut menjadi acuan utama dalam menyusun program mitigasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“Bagaimana kita melakukan upaya-upaya pencegahan, tentu secara rutin kita lakukan penyembuhan edukasi masyarakat,” ungkapnya.
Ia mengatakan, edukasi dilakukan dengan berbagai metode, baik secara langsung maupun melalui media digital agar jangkauan informasi semakin luas dan mudah diakses oleh masyarakat.
“Kemudian, kita juga bermitra dengan warga-warga kebakaran sareng di setiap wilayah untuk menjalankan sosialisasi dan edukasi kepada warga-warga masyarakat terkait dengan potensi bahaya kebakaran, terutama di musim kemarau yang akan datang,” ucapnya.

Dia menyebutkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci penting dalam menekan angka kebakaran, mengingat waktu respons awal sangat menentukan besar kecilnya dampak yang ditimbulkan.
“Yang selanjutnya adalah, masyarakat juga kita latih bagaimana cara menggunakan peralatan pemadaman yang sudah mereka miliki, berupa pompa portable yang sudah mereka miliki,” ujarnya.
Ia mengatakan, kemampuan dasar tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melakukan penanganan awal sebelum petugas tiba di lokasi kejadian.
“Ketika terjadi kebakaran, masyarakat bisa menanggulangi kebakaran itu, sebelum petugas kebakaran, semakin singkat masyarakat mengetahui dan punya kemampuan untuk memadamkan kebakaran, maka potensi kelebihannya akan semakin kecil itu yang kita harapkan,” ungkapnya.
Dia mengatakan, upaya pencegahan tetap menjadi prioritas utama dibandingkan penanganan saat kejadian sudah berlangsung.
“Yang lebih optimalnya lagi, ketika masyarakat mengetahui potensi bahaya dan mereka bisa menanggulangi kebakaran, sehingga tidak terjadi kebakaran,” ujarnya.
Ia menyebutkan, strategi Diskar Kota Bandung dalam menekan angka kebakaran dilakukan melalui tiga pendekatan utama yang berkelanjutan.
“Jadi, yang pertama kita melakukan sosialisasi edukasi melalui media sosial kita, kemudian secara langsung edukasi masyarakat, yang ketiga, bermitra dengan relawan-relawan yang kita pelajari, dan yang kita pelatihkan dengan teknis, untuk mereka melakukan sosialisasi edukasi secara langsung kepada masyarakat,” pungkasnya.
