Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Selasa 28 Apr 2026, 11:32 WIB
Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi. Namun, bukan puisi panjang yang mereka rawat, melainkan haiku yaitu larik-larik pendek yang hening, tetapi menyimpan kedalaman makna.

Mereka datang dari berbagai latar belakang ada mahasiswa, guru, dosen, akademisi, musisi, seniman, wartawan, birokrat, profesional hingga para tokoh. Perbedaan itu melebur dalam satu ruang bernama HaikuKu Indonesia, sebuah komunitas yang menjadikan kesederhanaan sebagai kekuatan utama dalam berpuisi.

Jumlah anggotanya kini telah melampaui dua belas ribu orang. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa puisi bahkan dalam bentuk paling ringkas, masih menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat modern.

Momentum Hari Puisi Nasional setiap 28 April menjadi pengingat bahwa puisi tidak selalu hadir dalam bentuk panjang dan retoris. Dalam haiku, puisi justru menemukan daya pukau pada kesederhanaannya yaitu tiga baris, 17 suku kata, dan sekelumit momen yang ditangkap dengan jernih.

Haiku berasal dari Jepang (俳句) dengan pola 5-7-5. Sekilas tampak sederhana, tetapi justru di situlah tantangannya. Setiap kata harus presisi, setiap jeda harus bermakna.

“Tidak sesederhana yang dibayangkan,” ujar Diro Aritonang Presiden HaikuKu Indonesia. Menurutnya, seorang haijin tidak hanya dituntut menulis singkat, tetapi juga peka terhadap waktu dan alam. Karena itu, kehadiran kigo, penanda musim atau suasana menjadi penting. Dalam konteks Indonesia, kigo dapat hadir melalui hujan, kemarau, atau detail keseharian yang akrab dan dekat dengan pengalaman hidup.

Di dalam komunitas ini, haiku tidak berjudul dan hanya terdiri dari satu bait. Disiplin ini dijaga bersama. Justru dari keterbatasan itulah lahir kebebasan yang khas kebebasan untuk merasakan, menangkap, dan mengendapkan momen.

Peringatan 100 hari mengenang bunda Imas Utami Lokayanti dan launching buku "Bunga Haiku untuk Bunda" pada hari Sabtu, 11 April 2026 di Gedung Indonesia Menggugat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Peringatan 100 hari mengenang bunda Imas Utami Lokayanti dan launching buku "Bunga Haiku untuk Bunda" pada hari Sabtu, 11 April 2026 di Gedung Indonesia Menggugat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Didirikan pada 7 November 2014, HaikuKu Indonesia telah berkembang menjadi lebih dari sekadar grup media sosial. Ia menjelma menjadi ruang belajar yang hidup. Diskusi berjalan berdampingan dengan canda, kritik hadir tanpa menghakimi. Anggota senior membimbing yang baru bukan dengan jarak, melainkan dengan kedekatan.

Kegiatan dan diskusi di grup WhatApps menjadi denyut komunitas ruang di mana karya dibedah, dimaknai, dan dipertemukan dengan perspektif baru. Para senior menggali haiku lebih dalam, bahkan hingga ke ranah filosofis.

Tak berhenti di dunia maya, pertemuan langsung juga menjadi bagian penting. Di sana, puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan bersama hadir sebagai pengalaman kolektif yang menghidupkan kembali makna kebersamaan dalam berkarya.

Dalam suasana peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini, HaikuKu Indonesia juga mengenang salah satu sosok pentingnya yakni Imas Utami Lokayanti. Sosok yang akrab disapa “Bunda” ini dikenang dalam peringatan 100 hari wafatnya melalui acara “Mengenang Bunda & Launching Buku: Bunga Haiku untuk Bunda” yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, pada 11 April 2026.

Imas Utami Lokayanti, S.Pd., lahir di Bandung, 15 Desember 1960. Ia dikenal sebagai pengelola sekolah PAUD sekaligus sosok yang aktif sebagai administrator dan bendahara HaikuKu Indonesia. Dalam dunia kreatif, ia menorehkan sejumlah karya penting, di antaranya kumpulan haiku dan haiga Guratan Jiwa (2016), serta keterlibatannya dalam berbagai antologi seperti The Universe Haiku (Haiku Semesta) (2016), Melawan Korupsi (2018), dan antologi haiku perempuan Indonesia Hati Rembulan.

Menurut Achmad Jusnadi, ketua penyelenggara, acara yang digagas bersama sahabat dan keluarga ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk merawat kenangan sekaligus merayakan jejak kreatif yang ditinggalkan. Peluncuran buku tersebut menjadi simbol bahwa karya-karya almarhumah terus hidup dalam kata, dalam ingatan, dan dalam kebersamaan komunitas.

Imas dikenal sebagai penyair sekaligus pelukis yang menekuni haiku dan haiga, perpaduan antara puisi dan lukisan. Dalam karya-karyanya, ia menghadirkan kepekaan yang halus tentang waktu, rasa, dan kehidupan yang ditangkap dalam bentuk sederhana, namun membekas.

Pameran tunggalnya, Bunga Bunga Haiku (2023), menjadi salah satu tonggak penting, ketika sajak-sajaknya hadir di atas kanvas menyatukan kata dan warna dalam satu tarikan napas estetik.

Sebagai bagian dari HaikuKu Indonesia Imas turut memperkaya perjalanan haiku di Indonesia, sekaligus membuka ruang pertemuan antara sastra dan seni rupa.

Pada akhirnya, Hari Puisi Nasional bukan hanya tentang merayakan puisi sebagai karya, melainkan sebagai laku cara manusia merasakan dan memahami dunia.

Di HaikuKu Indonesia, puisi hidup dalam bentuk yang paling ringkas, namun justru paling jernih. Ia hadir dalam tiga baris sederhana, tetapi mampu menyimpan kenangan, kehilangan, dan harapan.

Dan seperti haiku itu sendiri, warisan yang ditinggalkan baik oleh komunitas maupun oleh sosok seperti Imas Utami Lokayanti tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berlanjut, dalam bait-bait pendek yang diam-diam berbicara panjang. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 28 Apr 2026, 09:25

Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

Setelah 7 tahun menanti, penghuni Rumah Deret Tamansari kini menagih janji hunian layak dan ruang usaha yang belum terpenuhi di tengah sempitnya ruang hidup dan trauma penggusuran.

Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 08:56

Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 3) 'Vereeniging Himpoenan Soedara'

Data dan keterangan ini diperoleh dari wawancara lisan bersama keluarga Pasar Baru Bandung.

Buku "100 Tahun Bank Baudara". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Wisata & Kuliner 27 Apr 2026, 16:22

Wisata Curug Cipanas Lembang dan Daya Tariknya, dari Kolam Hangat hingga Camping

Curug Cipanas Lembang menawarkan air terjun hangat alami dengan kolam berundak, cocok untuk relaksasi di udara sejuk pegunungan.

Curug Cipanas Nagrak, Lembang. (Sumber: Ayonetizen | Foto: Muhamad Faisal Ramadhan)
Bandung 27 Apr 2026, 16:21

Strategi Batik Kina Menembus Pasar Global, Inovasi Motif Heritage Tanpa Merusak Ekosistem

Batik Kina bukan sekadar bisnis UMKM biasa, melainkan sebuah gerakan inovasi yang mengawinkan kelestarian lingkungan dengan kemajuan teknologi tekstil.

Rakha Wahyu, pendiri dan pencipta Batik Kina melihat bahwa pohon Kina bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus dipatenkan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 27 Apr 2026, 15:38

Menghidupkan Heritage Commodity, Cara Rakha Wahyu Menyelamatkan Sejarah Pohon Kina Lewat Sehelai Kain Batik

Jawa Barat, khususnya Bandung, pernah menjadi pusat Kina dunia sejak 1845, namun seiring waktu, kejayaan itu luntur dan pohonnya kian langka.

Rakha Wahyu, pendiri dan pencipta Batik Kina melihat bahwa pohon Kina bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus dipatenkan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Komunitas 27 Apr 2026, 15:27

Lari Malam di Kiara Artha Park Kian Ramai, DuduluRun Ajak Anak Muda Hidup Sehat

Komunitas DuduluRun meramaikan Kiara Artha Park dengan lari malam. Bukan sekadar olahraga, aktivitas ini jadi cara anak muda menjaga kesehatan fisik, mental, dan konsistensi hidup.

Bahrul Husaeni mendirikan DuduluRun sebagai wadah untuk memantau progres kesehatan dan perkembangan setiap pelari secara bertahap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 13:22

Gedung Sate Rapi di Depan, Kacau di Belakang?

Selama pembangunan berfokus pada yang tampak di depan, Bandung belum benar-benar berubah.

Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ikon 27 Apr 2026, 12:08

Sejarah Waduk Jatigede Sumedang, Proyek Warisan Kolonial yang Tenggelamkan 28 Desa

Dirancang sejak kolonial, Waduk Jatigede baru terwujud pada 2015, membawa manfaat besar sekaligus memicu relokasi warga dan hilangnya warisan budaya

Waduk Jatigede, Sumedang. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 11:31

Wisata Rasa di Bumi Pasundan: Strategi Mengangkat Kuliner Lokal ke Panggung Gastronomi Dunia

Buku Wisata Rasa di Bumi Pasundan (2025), sebuah karya kolaboratif dari Kementerian Pariwisata.

buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan". (Sumber: kemenpar.go.id)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 09:40

Bandung Milestone Merawat Ingatan Asia Afrika dari Jantung Kota

Delapan dekade setelah gaung Konferensi Asia Afrika menggema dari jantung Bandung.

Walikota Muhammad Farhan mengamati koleksi buku yang dipamerkan dalam Bandung Milestone, yang menampilkan jejak sejarah dan semangat Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 27 Apr 2026, 08:49

Ambisi Transisi Energi Belum Menyentuh Akar Masalah, Warga Sekitar PLTU Tetap Menanggung Beban Lingkungan

Warga sekitar PLTU masih menanggung dampak lingkungan dan sosial, sementara kebijakan transisi energi dinilai belum menyentuh perlindungan dan keadilan di tingkat tapak.

Suasana diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak” di Kota Bandung, Minggu (26/4), yang mempertemukan warga, pemerintah, dan pakar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 08:00

Tumbuhkan Cinta Membaca, Bangun Keberanian Menulis

Mari kita tumbuhkan cinta pada kebiasaan membaca, bangun keberanian untuk tradisi menulis, dan keyakinan setiap anak punya cerita untuk dibagikan, direnungkan bersama.

Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Linimasa 26 Apr 2026, 20:21

Melawan Lupa Sesar Lembang Lewat Festival Ngabandungan Bandung

Festival Ngabandungan Bandung hadirkan edukasi mitigasi Sesar Lembang lewat seni imersif dan pendekatan budaya.

Festival Ngabandungan Bandung di Balaikota Bandung, Minggu, 26 April 2026. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 26 Apr 2026, 18:52

Pemain Persib Asal Luar Kota Bandung Tahun 1980-an

Para pendatang yang kemudian menjadi pemain Persib karena memiliki kebanggaan menjadi pemain Persib Bandung

Persib Piala Soeratin 1980 diperkuat Ade Mulyono, Yusuf Bachtiar, Ajat Sudrajat, Wawan Hermawan(kiper), Wawan Karnawan, dll. (Sumber: Facebook | Foto: Planet Bola)