Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi. Namun, bukan puisi panjang yang mereka rawat, melainkan haiku yaitu larik-larik pendek yang hening, tetapi menyimpan kedalaman makna.

Mereka datang dari berbagai latar belakang ada mahasiswa, guru, dosen, akademisi, musisi, seniman, wartawan, birokrat, profesional hingga para tokoh. Perbedaan itu melebur dalam satu ruang bernama HaikuKu Indonesia, sebuah komunitas yang menjadikan kesederhanaan sebagai kekuatan utama dalam berpuisi.

Jumlah anggotanya kini telah melampaui dua belas ribu orang. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa puisi bahkan dalam bentuk paling ringkas, masih menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat modern.

Momentum Hari Puisi Nasional setiap 28 April menjadi pengingat bahwa puisi tidak selalu hadir dalam bentuk panjang dan retoris. Dalam haiku, puisi justru menemukan daya pukau pada kesederhanaannya yaitu tiga baris, 17 suku kata, dan sekelumit momen yang ditangkap dengan jernih.

Haiku berasal dari Jepang (俳句) dengan pola 5-7-5. Sekilas tampak sederhana, tetapi justru di situlah tantangannya. Setiap kata harus presisi, setiap jeda harus bermakna.

“Tidak sesederhana yang dibayangkan,” ujar Diro Aritonang Presiden HaikuKu Indonesia. Menurutnya, seorang haijin tidak hanya dituntut menulis singkat, tetapi juga peka terhadap waktu dan alam. Karena itu, kehadiran kigo, penanda musim atau suasana menjadi penting. Dalam konteks Indonesia, kigo dapat hadir melalui hujan, kemarau, atau detail keseharian yang akrab dan dekat dengan pengalaman hidup.

Di dalam komunitas ini, haiku tidak berjudul dan hanya terdiri dari satu bait. Disiplin ini dijaga bersama. Justru dari keterbatasan itulah lahir kebebasan yang khas kebebasan untuk merasakan, menangkap, dan mengendapkan momen.

Peringatan 100 hari mengenang bunda Imas Utami Lokayanti dan launching buku "Bunga Haiku untuk Bunda" pada hari Sabtu, 11 April 2026 di Gedung Indonesia Menggugat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Peringatan 100 hari mengenang bunda Imas Utami Lokayanti dan launching buku "Bunga Haiku untuk Bunda" pada hari Sabtu, 11 April 2026 di Gedung Indonesia Menggugat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Didirikan pada 7 November 2014, HaikuKu Indonesia telah berkembang menjadi lebih dari sekadar grup media sosial. Ia menjelma menjadi ruang belajar yang hidup. Diskusi berjalan berdampingan dengan canda, kritik hadir tanpa menghakimi. Anggota senior membimbing yang baru bukan dengan jarak, melainkan dengan kedekatan.

Kegiatan dan diskusi di grup WhatApps menjadi denyut komunitas ruang di mana karya dibedah, dimaknai, dan dipertemukan dengan perspektif baru. Para senior menggali haiku lebih dalam, bahkan hingga ke ranah filosofis.

Tak berhenti di dunia maya, pertemuan langsung juga menjadi bagian penting. Di sana, puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan bersama hadir sebagai pengalaman kolektif yang menghidupkan kembali makna kebersamaan dalam berkarya.

Dalam suasana peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini, HaikuKu Indonesia juga mengenang salah satu sosok pentingnya yakni Imas Utami Lokayanti. Sosok yang akrab disapa “Bunda” ini dikenang dalam peringatan 100 hari wafatnya melalui acara “Mengenang Bunda & Launching Buku: Bunga Haiku untuk Bunda” yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, pada 11 April 2026.

Imas Utami Lokayanti, S.Pd., lahir di Bandung, 15 Desember 1960. Ia dikenal sebagai pengelola sekolah PAUD sekaligus sosok yang aktif sebagai administrator dan bendahara HaikuKu Indonesia. Dalam dunia kreatif, ia menorehkan sejumlah karya penting, di antaranya kumpulan haiku dan haiga Guratan Jiwa (2016), serta keterlibatannya dalam berbagai antologi seperti The Universe Haiku (Haiku Semesta) (2016), Melawan Korupsi (2018), dan antologi haiku perempuan Indonesia Hati Rembulan.

Menurut Achmad Jusnadi, ketua penyelenggara, acara yang digagas bersama sahabat dan keluarga ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk merawat kenangan sekaligus merayakan jejak kreatif yang ditinggalkan. Peluncuran buku tersebut menjadi simbol bahwa karya-karya almarhumah terus hidup dalam kata, dalam ingatan, dan dalam kebersamaan komunitas.

Imas dikenal sebagai penyair sekaligus pelukis yang menekuni haiku dan haiga, perpaduan antara puisi dan lukisan. Dalam karya-karyanya, ia menghadirkan kepekaan yang halus tentang waktu, rasa, dan kehidupan yang ditangkap dalam bentuk sederhana, namun membekas.

Pameran tunggalnya, Bunga Bunga Haiku (2023), menjadi salah satu tonggak penting, ketika sajak-sajaknya hadir di atas kanvas menyatukan kata dan warna dalam satu tarikan napas estetik.

Sebagai bagian dari HaikuKu Indonesia Imas turut memperkaya perjalanan haiku di Indonesia, sekaligus membuka ruang pertemuan antara sastra dan seni rupa.

Pada akhirnya, Hari Puisi Nasional bukan hanya tentang merayakan puisi sebagai karya, melainkan sebagai laku cara manusia merasakan dan memahami dunia.

Di HaikuKu Indonesia, puisi hidup dalam bentuk yang paling ringkas, namun justru paling jernih. Ia hadir dalam tiga baris sederhana, tetapi mampu menyimpan kenangan, kehilangan, dan harapan.

Dan seperti haiku itu sendiri, warisan yang ditinggalkan baik oleh komunitas maupun oleh sosok seperti Imas Utami Lokayanti tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berlanjut, dalam bait-bait pendek yang diam-diam berbicara panjang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)