Kota Bandung adalah "bidan" untuk lahirnya gerakan puisi mbeling pada awal tahun 1970-an yang dipelopori oleh Remy Sylado. melalui rubrik Puisi Mbeling di Majalah Aktuil, ia terus-menerus menancapkan jargon puisi mbeling agar mengakar di dalam pikiran masyarakat. Tujuannya adalah untuk menampung berbagai kreativitas khususnya anak muda supaya giat dan selalu membuat puisi dengan kata-kata biasa di kehidupan sehari-hari. Kata Mbeling berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, susah diatur, memberontak.
Remy Sylado yang kelahiran Makasar, tergolong seniman yang multitalenta, dari penulis buku, drama, sutradara, aktor teater, pemain film, sinetron, penyair, novelis, musisi hingga pelukis. Majalah Aktuil yang terbit pertama kali pada 8 Juni 1967 di Bandung menjadi salah satu ruang ekspresi bagi Remy Sylado untuk terus tumbuh dan berkegiatan di ranah menulis. Awal Tahun 1970-an merupakan masa popularitasnya ketika majalah tersebut jadi rujukan utama kaum muda Indonesia.
Mengutip pernyataan Sapardi Djoko Damono bahwa kelakar adalah ciri utamanya. Di samping itu, ciri lainnya adalah kritik dan ejekan terhadap sikap sungguh-sungguh penyair umumnya dalam menghadapi puisi. Kata-kata dipermainkan serta arti, bunyi, dan tipografi dimanfaatkan untuk mencapai efek tersebut. Sebagian besar puisi mbeling tersebut menunjukkan bahwa penyairnya sekadar mengajak pembaca berkelakar, tanpa maksud lain yang disembunyikan.

Salah satu contoh puisi mbeling bisa dilihat di bawah ini :
Olahraga
olahraga
orang kota
mengangkat barbel
di fitness centre
olahraga
orang desa
memacul tanah
di sawah ladang
yang satu
mencari sehat
karena anjuran
yang lain
menemukan sehat
karena telanjur
Sebagai gerakan perlawanan terhadap bahasa puisi yang berbunga-bunga namun gelap, puisi mbeling menawarkan konsep sebaliknya, puisi ditulis dengan bahasa biasa dan diusahakan terang-benderang. Dengan begitu, puisi bukan saja mudah dipahami sebagai pertanggungjawaban penyairnya terhadap realitas, namun ia juga membuka akses seluas-luasnya kepada siapa saja untuk menjadi penyair dengan menuliskan potret keseharian yang sepele seperti contoh puisi mbeling di atas tadi.
Gerakan puisi mbeling di Kota Bandung telah memunculkan sebuah peristiwa besar lagi punya kaitan dengan puisi yaitu dilaksanakannya sidang Pengadilan Puisi. Pengadilan Puisi, tepatnya "Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir", merupakan nama sebuah acara yang diselenggarakan Yayasan Arena.
Acara ini diadakan di Aula Universitas Parahyangan, Bandung, 8 September 1974 dan diikuti oleh sejumlah pengarang Indonesia. Dalam acara ini, Slamet Kirnanto yang bertindak sebagai "Jaksa" membacakan "tuntutan"-nya yang berjudul 'Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir Ini Tidak Sehat, Tidak Jelas dan Brengsek !'
Tuntutan dari Darmanto Jatman dan Slamet Kirnanto secara tersirat dan tersurat memang terasa di dalam ketidakpuasan terhadap kehidupan puisi Indonesia pada saat itu. Ketidakpuasan itu, antara lain, menyangkut:
(1) sistem penilaian terhadap puisi Indonesia
(2) kritikus sastra Indonesia
(3) media yang memuat karya sastra Indonesia
(4) beberapa penyair Indonesia yang dianggap "mapan"
Taufiq Ismail mengatakan bahwa penyelenggara Djen Amar dan Sanento Yuliman menjelaskan kepada saya apa yang dimaksud dengan Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir itu. Rupanya kawan-kawan di Bandung ini ingin mencari suatu bentuk lain dalam membicarakan kesusastraan, dalam hal ini puisi. Pernyataan tersebut dikutip dari "Catatan dari Bandung dan Jakarta: Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir dan Jawaban Terhadap Itu"

Bentuk seminar, simposium, dan diskusi panel dianggap menjemukan sehingga dicari suatu bentuk yang tidak menjemukan, lucu, tapi juga bersungguh-sungguh. Konon menurut gagasan Darmanto, bentuk pengadilan bisa memenuhi persyaratan. Demikianlah Puisi Indonesia Mutakhir jadi terdakwa yang diadili, ada jaksa yang mendakwa, ada pembela yang menangkis dakwaan, ada orang-orang yang memberikan kesaksian dan tentu saja kemudian ada hakim yang memutuskan.
Dengan demikian Kota Bandung mampu menjadi saksi kunci pusat riuh rendahnya perkembangan puisi nasional. Dua peristiwa diatas yaitu Gerakan puisi mbeling dan Pengadilan Puisi Indonesia mutakhir, telah memberikan darah baru demi menggerakkan nyawa kehidupan tulis menulis terutama puisi di Indonesia. Kota Bandung selalu menerima pendatang untuk mengembangkan kemampuan dirinya, seperti Remy Sylado dengan ide briliannya membuat Kota Bandung semakin disanjung. (*)
