'Kuliah di Bandung itu Keren' dari Perspektif Mahasiswa Sumatera

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Pepatah mengatakan “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, rasanya mulai menemukan makna bagi saya saat mengobrol santai dengan salah seorang teman perantauan di kampus. Untuk menghilangkan rasa tegang sebelum try out OSCE dimulai saya mencoba menjalin kedekatan karena kami hanya berkuliah secara offline selama satu bulan dan sisanya dilakukan dengan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker).

Bermula dari pertanyaan ”Apa sih yang membuat kamu memilih Bandung sebagai tempat kuliah” tak disangka bisa menjadi sebuah obrolan yang asyik dan menambah Khazanah baru bagi saya selaku masyarakat kelahiran Bandung.

Bandung memang selalu tampak menakjubkan bagi orang asing yang baru saja singgah, baik untuk berwisata, study tour, meeting kantor, bekerja juga kalangan mahasiswa yang ingin menuntut ilmu. Sebagian masyarakat di luar kota Bandung tampak mengagumi Braga sebagai arsitektur estetik untuk mengabadikan foto bersama keluarga. Lembang sebagai hutan sejuk yang bisa menghilangkan kepenatan dari hirup-pikuk perkotaan. Pangalengan dengan hamparan kebun teh yang mengingatkan kisah cinta remaja antara Rachel dan Farel dalam film My Heart. Ciwidey dengan kemegahan kawah putih yang identik dengan tempat penuh romansa. Juga Dago dengan segala ke moderan dan kelestarian alam yang masih bisa menyatu.

Sementara sisi lain kota Bandung yang gelap-sesak-durjana jarang tampak di permukaan. Di balik keeksotisan yang sering dibicarakan—banyak pula yang masih menjadi pr bagi Kota Bandung yang mesti diperbaiki. Banjir yang semakin parah dan meluas kemana-mana. Beberapa titik di kabupaten seperti Dayeuh Kolot, Banjaran, Baleendah tak luput dari air lumpur coklat yang meluap dari Sungai citarum. Sementara beberapa minggu terakhir derasnya air hujan menyebabkan banjir yang hampir memutus kegiatan masyarakat sekitar.

Kini banjir tak hanya merendam daerah kabupaten bandung tapi sudah merambah ke area perkotaan seperti Cibaduyut, Kopo, Gedebage. Drainase yang buruk juga pola hidup masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan pengelolaan sampah- membuat Kota Bandung sangat rentan mengalami banjir ketika hujan deras datang melanda. Tak hanya itu Bandung yang dikagumi dengan vibes estetik yang hadir berdasarkan quote justru tak seindah kelihatannya. Misalnya sejumlah jalanan di Kota Bandung masih memiliki penerangan yang cukup buruk. Entah kurangnya fasilitas dari pemerintahan setempat juga akibat para oknum pencuri fasilitas umum.

Bandung yang sering dianggap perantau bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hidup—faktanya masyarakat Bandung sendiri masih banyak yang menjadi pengangguran, masih banyak yang memiliki upah jauh di bawah UMR. Bandung yang dikenal dengan segala ketenangannya pun sebetulnya berbanding terbalik dengan tingkat kriminalitas yang kian tinggi seperti kasus pelecehan, kekerasan seksual, pembegalan hingga kasus pembunuhan.

Kembali kepada cerita seorang teman dari Sumatera yang sangat mengagumi kota bandung. Tak hanya dia bahkan kehadirannya di Kota Bandung sebagai mahasiswa sangat menjadi hal yang Istimewa bagi mayoritas masyarakat sebrang pulau Sumatera.

“Entah kenapa ya teh, pokonya kemaren pas kita pulang, tetangga pada bilang “ Ih keren ya kuliah di Bandung, hebat ya sudah jadi mahasiswa di Bandung, gimana kondisi disana ? pasti seru ya?”

Sejumlah teman saya yang berasal dari luar pulau jawa pun mengungkapkan hal yang sama tentang hal tersebut. Mereka senang sekaligus kaget karena berita yang menurut mereka biasa saja justru menjadi sebuah antusias bagi masyarakat di luar pulau jawa. Bagi mayoritas masyarakat Kota Bandung punya keistimewaan tersendiri dalam hati mereka tanpa mereka tahu penyebabnya. Mungkin istilah ini bisa kita analogikan seperti orang yang sedang jatuh cinta- sesuatu yang mengalir begitu saja kadang tanpa tahu alasannya apa.

Satu minggu liburan menjelang hari raya beberapa orang kembali ke kampung halamannya. Begitu juga dengan teman-teman saya yang merantau. Mereka mengatakan layaknya menjadi artis ibu kota yang baru saja pulang ke rumahnya. Begitu disambut dengan baik, dipuja-puji karena berhasil menjadi mahasiswa di Kota Bandung, pokonya saat lebaran mereka bisa menjadi pusat perhatian keluarga yang masyarakat sekitar.

Saya pun semakin penasaran apa yang membuat mereka begitu takjub dengan kota Bandung tapi mereka susah mengungkapkannya. Namun setelah mengobrol lebih jauh layaknya seorang detektif yang ingi menggali informasi lebih dalam—saya mencoba mengajukan beberapa pertanyaan lain yang akhirnya bisa mengumpulkan menjadi sebuah kesimpulan.

Pertama, bagi mereka Bandung memiliki udara yang sejuk dan suasana yang nyaman. Berbeda dengan pulau Sumatera yang setiap harinya teman-teman saya tidak bisa lepas dari kipas angin kini justru teman saya sangat bersahabat dengan selimut. Bahkan salah satu teman saya lainnya mengungkapkan banyak sweater yang awalnya hanya tinggal di lemari tapi setelah di Bandung pakaian tersebut jadi bermanfaat. Kedua, Bandung memiliki reputasi kampus yang sangat baik. Beberapa teman saya sangat kagum dengan berita-berita baik dari kampus ternama ITB, UNPAD dan Telkom University. Ketiga, Bandung adalah surga kuliner. Beberapa teman saya baru mengetahui tukang tahu bulat setelah kos satu bulan di Cibiru. Mereka banyak mencoba cita rasa dan varian makanan yang belum pernah mereka temukan di Sumatera. Hanya saja kekurangan makanan di Kota Bandung menurut mereka adalah tingkat rasa pedas yang kurang nendang dan dominan banyak makanan yang rasanya manis—khususnya bagi masakan yang tersedia di warteg.

“Aneh ya di Bandung tuh, ko sayur asam rasanya manis, harusnya kan asam ya”.

Begitulah sedikit protes mereka tentang kuliner sayur asam dan yang paling mencengangkan menurut mereka seblak di Bandung masih kalah rasanya dengan seblak di Sumatera. Seketika saya tertawa sekaligus penasaran dan ingin mencoba langsung seblak versi Sumatera ketika punya kesempatan ketika berkunjung kesana.

Terakhir yang membuat mereka senang kuliah di Bandung adalah banyaknya destinasi wisata yang bisa di eksplor sehingga bagi mereka ini menjadi asupan nutrisi ketika lelah dengan tugas perkuliahan. Bahkan hal pertama setelah mereka datang ke Bandung adalah pergi ke Braga, Dago, Pangalengan dan beberapa tempat wisata populer yang ada di Kota Bandung.

Begitulah kiranya bercerita dengan teman perantauan di kampus. Saya selalu mengira kalau orang sebrang itu keras dan nada bicaranya itu seperti marah-marah. Ternyata setelah berbicara lebih jauh bagi mereka hal itu adalah lumrah. Mereka bukan marah justru itu bahasa cinta dari rumah tempat mereka tinggal. Berbicara dengan mereka membuat saya makin memahami makna “ Bhinneka Tunggal Ika”.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)