Dari Timur ke Tren Nasional, Apresiasi Budaya atau Komodifikasi ‘Timurnesia’?

3 menit baca
Aqna Intan
Ditulis oleh Aqna Intan diterbitkan
Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)
Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)

“Tor monitor ketua. Anggota mau lapor ketua …”

Dalam beberapa waktu terakhir, musik dari Indonesia Timur seolah hadir di berbagai ruang, baik di media sosial maupun dalam kegiatan sehari-hari. 

Contohnya ‘TABOLA BALE, ‘Ngapain Repot’, atau ‘Stecu Stecu’ yang kerap dipakai oleh kreator konten di platform TikTok. Tidak hanya di ranah media sosial, musik timur pun kini tidak luput dari kegiatan yang dilaksanakan secara langsung.

Dari lirik yang mudah diingat dan iramanya yang unik, musik timur ini segera menyebar dengan cepat dan menjadi populer di berbagai platform digital. Tanpa sadar, banyak orang turut menyanyikannya, bahkan tanpa memahami makna dibalik lirik tersebut.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana musik timur mampu memantik partisipasi kolektif dalam penyebarannya, yang menunjukkan bahwa audiens tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga berperan sebagai aktor dalam penyebaran budaya. Kini, musik timur kian menjamur, menembus batas geografis, dan menjadi bagian dari konsumsi budaya populer masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, dibalik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan. Apakah ini adalah bentuk apresiasi budaya, atau justru awal dari komodifikasi yang lebih luas?

Sebelum dikenal dalam jangkauan nasional, musik timur awalnya berkembang secara akar rumput. Di Indonesia bagian timur seperti NTT, Maluku, dan Papua, musik ini tumbuh subur sebagai ekspresi budaya dan menjadi bagian dari identitas komunitas.

Menariknya, eksklusivitas musik timur dimulai dari karya musik timur yang diciptakan oleh orang timur untuk orang timur. Kemunculan musik ini juga sebagai tanda resistensi identitas ditengah arus dominasi musik pop di ibu kota. Tidak hanya itu, musik timur juga berfungsi sebagai simbol dan kebanggaan, sehingga menjadi ‘ruang’ bagi anak muda untuk berekspresi tanpa harus mengikuti standar industri pusat.

Dalam budaya populer, hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari subkultur, yakni gerakan budaya yang tumbuh dari kelompok masyarakat yang memiliki norma, gaya, atau nilai yang berbeda dari budaya dominan.

Seiring waktu, banyak individu dari luar komunitas Indonesia timur yang mulai menikmati musik ini.

Adanya akses yang mudah melalui media sosial, fase viral itu ditandai oleh audiens yang tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan juga ikut menyebarkan dan membentuk trend. Mulai dari lip-sync lagu, menciptakan dance TikTok, atau sekadar menggunakan sound musik dalam postingan mereka.

Fenomena popularitas musik timur ini kemudian menjadi momentum yang penting. Momentum tersebut dimanfaatkan oleh Kementerian Kebudayaan RI untuk mulai mengakui dan mewadahi gerakan ini melalui istilah ‘Timurnesia’, yakni sebuah movement atau gerakan kolektif yang berasal dari pemuda timur. 

Menurut Siprianus Bhuka atau yang akrab disapa Rian, vokalis Silet Open Up dalam podcast TS Talks, ‘Timurnesia’ sejatinya adalah ‘rumah besar’ bagi musik timur sebab saat ini musik timur belum memiliki genre tertentu. Oleh karena itu, melalui diskusi antara musisi timur dengan Wakil Menteri Kebudayaan RI, ‘Timurnesia’ diupayakan akan menjadi genre, walaupun saat ini belum disahkan.

Kendati ‘Timurnesia’ menjadi langkah awal untuk mempopulerkan budaya Indonesia, fenomena yang diartikan sebagai apresiasi bagi perkembangan musik timur juga dapat berpotensi melanggengkan komodifikasi.

Dalam kajian komunikasi ekonomi politik, Vincent Mosco menyebut proses ini sebagai komodifikasi. Sederhananya, komodifikasi adalah proses terjadinya perubahan nilai guna ke nilai tukar. Pada konteks ini, ketika musik timur mengalami proses komodifikasi, berarti musik yang awalnya berfungsi sebagai sarana ekspresi identitas, kini bergeser menjadi produk industri yang tujuan utamanya adalah meraih keuntungan ekonomis.

Wujudnya beragam. Salah satunya, musisi dapat menciptakan lagu sesuai preferensi pasar. Alih-alih lirik yang berisi kedalaman makna atau irama yang menyentuh hati, musisi cenderung menciptakan lirik yang mudah diingat, suasana lagu yang ceria, dan irama yang menarik. Itulah yang dikejar, agar tetap bersaing dalam algoritma guna menjaga pangsa pasar digital.

Namun, komodifikasi tidak selalu dimaknai dengan cara negatif. Justru, komodifikasi terjadi sebagai konsekuensi ketika sebuah budaya menjadi populer, budaya tersebut juga ikut bertransformasi menjadi ‘produk’.

Ditengah dinamika budaya yang terus berkembang, perubahan makna dapat terjadi kapan saja. Sekarang, pertanyaannya bukan semata tentang apresiasi atau komodifikasi, melainkan bagaimana kita seharusnya menyikapi pergeseran apresiasi ke komodifikasi tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)