Dari Timur ke Tren Nasional, Apresiasi Budaya atau Komodifikasi ‘Timurnesia’?

3 menit baca
Aqna Intan
Ditulis oleh Aqna Intan diterbitkan Kamis 23 Apr 2026, 17:20 WIB
Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)

Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)

“Tor monitor ketua. Anggota mau lapor ketua …”

Dalam beberapa waktu terakhir, musik dari Indonesia Timur seolah hadir di berbagai ruang, baik di media sosial maupun dalam kegiatan sehari-hari. 

Contohnya ‘TABOLA BALE, ‘Ngapain Repot’, atau ‘Stecu Stecu’ yang kerap dipakai oleh kreator konten di platform TikTok. Tidak hanya di ranah media sosial, musik timur pun kini tidak luput dari kegiatan yang dilaksanakan secara langsung.

Dari lirik yang mudah diingat dan iramanya yang unik, musik timur ini segera menyebar dengan cepat dan menjadi populer di berbagai platform digital. Tanpa sadar, banyak orang turut menyanyikannya, bahkan tanpa memahami makna dibalik lirik tersebut.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana musik timur mampu memantik partisipasi kolektif dalam penyebarannya, yang menunjukkan bahwa audiens tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga berperan sebagai aktor dalam penyebaran budaya. Kini, musik timur kian menjamur, menembus batas geografis, dan menjadi bagian dari konsumsi budaya populer masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, dibalik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan. Apakah ini adalah bentuk apresiasi budaya, atau justru awal dari komodifikasi yang lebih luas?

Sebelum dikenal dalam jangkauan nasional, musik timur awalnya berkembang secara akar rumput. Di Indonesia bagian timur seperti NTT, Maluku, dan Papua, musik ini tumbuh subur sebagai ekspresi budaya dan menjadi bagian dari identitas komunitas.

Menariknya, eksklusivitas musik timur dimulai dari karya musik timur yang diciptakan oleh orang timur untuk orang timur. Kemunculan musik ini juga sebagai tanda resistensi identitas ditengah arus dominasi musik pop di ibu kota. Tidak hanya itu, musik timur juga berfungsi sebagai simbol dan kebanggaan, sehingga menjadi ‘ruang’ bagi anak muda untuk berekspresi tanpa harus mengikuti standar industri pusat.

Dalam budaya populer, hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari subkultur, yakni gerakan budaya yang tumbuh dari kelompok masyarakat yang memiliki norma, gaya, atau nilai yang berbeda dari budaya dominan.

Seiring waktu, banyak individu dari luar komunitas Indonesia timur yang mulai menikmati musik ini.

Adanya akses yang mudah melalui media sosial, fase viral itu ditandai oleh audiens yang tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan juga ikut menyebarkan dan membentuk trend. Mulai dari lip-sync lagu, menciptakan dance TikTok, atau sekadar menggunakan sound musik dalam postingan mereka.

Fenomena popularitas musik timur ini kemudian menjadi momentum yang penting. Momentum tersebut dimanfaatkan oleh Kementerian Kebudayaan RI untuk mulai mengakui dan mewadahi gerakan ini melalui istilah ‘Timurnesia’, yakni sebuah movement atau gerakan kolektif yang berasal dari pemuda timur. 

Menurut Siprianus Bhuka atau yang akrab disapa Rian, vokalis Silet Open Up dalam podcast TS Talks, ‘Timurnesia’ sejatinya adalah ‘rumah besar’ bagi musik timur sebab saat ini musik timur belum memiliki genre tertentu. Oleh karena itu, melalui diskusi antara musisi timur dengan Wakil Menteri Kebudayaan RI, ‘Timurnesia’ diupayakan akan menjadi genre, walaupun saat ini belum disahkan.

Kendati ‘Timurnesia’ menjadi langkah awal untuk mempopulerkan budaya Indonesia, fenomena yang diartikan sebagai apresiasi bagi perkembangan musik timur juga dapat berpotensi melanggengkan komodifikasi.

Dalam kajian komunikasi ekonomi politik, Vincent Mosco menyebut proses ini sebagai komodifikasi. Sederhananya, komodifikasi adalah proses terjadinya perubahan nilai guna ke nilai tukar. Pada konteks ini, ketika musik timur mengalami proses komodifikasi, berarti musik yang awalnya berfungsi sebagai sarana ekspresi identitas, kini bergeser menjadi produk industri yang tujuan utamanya adalah meraih keuntungan ekonomis.

Wujudnya beragam. Salah satunya, musisi dapat menciptakan lagu sesuai preferensi pasar. Alih-alih lirik yang berisi kedalaman makna atau irama yang menyentuh hati, musisi cenderung menciptakan lirik yang mudah diingat, suasana lagu yang ceria, dan irama yang menarik. Itulah yang dikejar, agar tetap bersaing dalam algoritma guna menjaga pangsa pasar digital.

Namun, komodifikasi tidak selalu dimaknai dengan cara negatif. Justru, komodifikasi terjadi sebagai konsekuensi ketika sebuah budaya menjadi populer, budaya tersebut juga ikut bertransformasi menjadi ‘produk’.

Ditengah dinamika budaya yang terus berkembang, perubahan makna dapat terjadi kapan saja. Sekarang, pertanyaannya bukan semata tentang apresiasi atau komodifikasi, melainkan bagaimana kita seharusnya menyikapi pergeseran apresiasi ke komodifikasi tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aqna Intan
Tentang Aqna Intan
sedang belajar menulis, memahami, dan menyuarakan.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)