SNT dan Jalan Panjang Pemerataan Pendidikan

5 menit baca
Muhamad Hafiatul Annur
Ditulis oleh Muhamad Hafiatul Annur diterbitkan
Siswa SMP. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Siswa SMP. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)

Bel sekolah berbunyi pukul tujuh pagi. Di sebuah sekolah negeri di kota besar, puluhan siswa memasuki ruang kelas yang telah dilengkapi papan interaktif, jaringan internet, perpustakaan digital, dan guru-guru yang rutin mengikuti pelatihan.

Pada jam yang hampir bersamaan, ratusan kilometer dari sana, seorang siswa di daerah pegunungan baru memulai perjalanan menuju sekolah. Ia harus berjalan beberapa kilometer sebelum menemukan kendaraan yang dapat mengantarnya ke ruang belajar dengan fasilitas yang jauh lebih sederhana.

Mereka sama-sama mengenakan seragam putih biru, sama-sama membawa cita-cita, tetapi tidak memulai pendidikan dari titik yang sama.

Pendidikan memang selalu menjanjikan kesempatan yang setara. Namun dalam praktiknya, kesempatan itu masih sangat dipengaruhi oleh tempat seorang anak dilahirkan.

Kualitas guru, ketersediaan fasilitas, budaya belajar, dukungan keluarga, hingga kepemimpinan sekolah membentuk pengalaman pendidikan yang berbeda-beda.

Akibatnya, sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar, melainkan penentu awal tentang sejauh mana kesempatan seorang anak untuk berkembang.

Fenomena Ketimpangan

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia hari ini tidak lagi sesederhana membangun sekolah baru. Selama puluhan tahun, negara telah mengalokasikan anggaran besar untuk memperluas akses pendidikan.

Gedung sekolah bertambah, ruang kelas diperbaiki, dan berbagai program reformasi pendidikan terus diperkenalkan. Namun satu persoalan yang tetap bertahan adalah mutu pendidikan berkembang dengan kecepatan yang tidak sama.

Sebagian sekolah tumbuh menjadi ruang yang melahirkan inovasi, sementara sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan pembelajaran yang paling mendasar.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Kita terlalu sering mengukur keberhasilan pendidikan melalui apa yang tampak secara fisik, tetapi lebih jarang bertanya bagaimana kehidupan berlangsung di dalam sekolah itu sendiri.

Gagasan Pemerataan

Gagasan ini sesungguhnya telah lama hidup dalam pemikiran pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses menuntun seluruh potensi kodrati anak agar berkembang secara utuh (Musanna, 2017).

Kata menuntun tidak pernah dimaknai sebagai aktivitas mengajar semata, melainkan menghadirkan lingkungan yang memungkinkan setiap anak bertumbuh sesuai kodratnya.

Dalam perspektif tersebut, sekolah bukanlah tujuan akhir pendidikan, melainkan ruang tempat manusia dibentuk melalui interaksi, keteladanan, dan pengalaman belajar yang berkelanjutan.

Puluhan tahun kemudian, gagasan itu memperoleh penegasan dalam berbagai kajian pendidikan modern. Michael Fullan (2007) menunjukkan bahwa reformasi pendidikan yang berhasil tidak pernah lahir hanya dari pembangunan gedung, perubahan kurikulum, atau pergantian kebijakan administratif.

Perubahan yang bertahan justru lahir ketika budaya belajar berubah, kepemimpinan sekolah berkembang, guru saling belajar, dan seluruh unsur pendidikan bergerak dalam tujuan yang sama. Artinya, membangun sekolah jauh lebih mudah daripada membangun kehidupan di dalam sekolah.

Sekolah Nasional Terintegrasi

Jika menggunakan cara pandang tersebut, maka Program Sekolah Nasional Terintegrasi yang mulai diperkenalkan pemerintah sesungguhnya menarik untuk dibaca bukan karena target pembangunan ratusan sekolah atau besarnya investasi yang disiapkan.

Hal yang lebih penting justru terletak pada perubahan cara negara memandang pendidikan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, perhatian tidak lagi hanya diarahkan pada pembangunan satuan pendidikan sebagai institusi yang berdiri sendiri, melainkan pada upaya membangun keterhubungan antarsatuan pendidikan, kesinambungan proses belajar, kolaborasi sumber daya, serta pemerataan mutu melalui sebuah ekosistem pendidikan yang lebih utuh.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)
Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Menjawab dengan Pendekatan Baru

Program Sekolah Nasional Terintegrasi hadir sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mencari bentuk baru penyelenggaraan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah sekolah, tetapi juga peningkatan kualitas layanan pendidikan. Program ini merupakan bagian dari agenda percepatan peningkatan mutu pendidikan melalui pembangunan satuan pendidikan yang mengintegrasikan berbagai unsur pembelajaran dalam satu sistem (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026; Kompas, 2026).

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi secara bertahap hingga tahun 2029. Pada tahap awal tahun 2026, pemerintah menyiapkan pembangunan 37 lokasi SNT, dengan 17 sekolah ditargetkan mulai memberikan layanan pada Tahun Ajaran 2026/2027, sementara 20 lokasi lainnya memasuki tahap pembangunan dan diproyeksikan menerima peserta didik pada tahun berikutnya (Kemendikdasmen, 2026; Antara, 2026; Kompas, 2026).

Program ini dirancang untuk mengintegrasikan jenjang pendidikan SMP dan SMA dalam satu lingkungan pendidikan. Namun, makna integrasi tidak berhenti pada penggabungan jenjang atau pembangunan fasilitas dalam satu kawasan. Pemerintah menjelaskan bahwa SNT juga mengintegrasikan proses pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta peserta didik, pemanfaatan fasilitas, serta sistem penjaminan mutu pendidikan (Kemendikdasmen, 2026).

Konsep tersebut menunjukkan adanya upaya mengubah cara melihat sekolah. Sekolah tidak lagi ditempatkan sebagai unit yang bekerja sendiri, melainkan sebagai bagian dari jaringan pendidikan yang saling mendukung. Peserta didik tidak hanya membutuhkan ruang kelas untuk menerima materi pelajaran, tetapi membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang secara akademik maupun personal.

Hal ini menjadi penting karena perjalanan pendidikan seorang anak sering kali mengalami fragmentasi. Ketika seorang siswa menyelesaikan satu jenjang pendidikan dan berpindah ke jenjang berikutnya, ia tidak hanya mengalami perubahan tingkat pembelajaran, tetapi juga perubahan budaya sekolah, lingkungan sosial, serta pola pendampingan. Dalam beberapa kondisi, perpindahan tersebut dapat menjadi hambatan bagi keberlanjutan perkembangan peserta didik.

Sekolah Nasional Terintegrasi mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda dengan membangun kesinambungan proses pendidikan. Peserta didik dipandang bukan sebagai individu yang menjalani tahapan pendidikan secara terpisah, tetapi sebagai manusia yang berkembang melalui proses panjang yang membutuhkan lingkungan pendidikan yang konsisten.

Cara pandang tersebut sejalan dengan teori ekologi perkembangan manusia yang dikemukakan Urie Bronfenbrenner. Menurutnya, perkembangan individu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan yang saling berkaitan, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga sistem kebijakan yang lebih luas (Bronfenbrenner, 1979). Dalam konteks pendidikan, sekolah tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial yang membentuk peserta didik.

Karena itu, keberhasilan Sekolah Nasional Terintegrasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas bangunan atau fasilitas yang tersedia. Infrastruktur memang menjadi bagian penting, tetapi bukan faktor tunggal. Sekolah dengan fasilitas modern tetap membutuhkan guru yang kompeten, kepemimpinan sekolah yang efektif, serta budaya belajar yang mampu menghidupkan seluruh sumber daya yang tersedia.

Di titik inilah konsep SNT menghadapi tantangan terbesar. Sebab sejarah reformasi pendidikan menunjukkan bahwa perubahan struktural tidak selalu menghasilkan perubahan substantif. Sebuah program dapat memiliki desain yang baik dalam dokumen kebijakan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana manusia di dalam sistem tersebut menjalankannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Hafiatul Annur
Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)