Cimenyan Masuk Kota Bandung: Perluasan Wilayah atau Perluasan Tanggung Jawab?

5 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Bandung dari satu sudut Cimenyan beberapa tahun lalu. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung dari satu sudut Cimenyan beberapa tahun lalu. (Foto: Dokumen pribadi)

Wacana penggabungan Cimenyan ke Kota Bandung harus menjadi kesempatan memperkuat konservasi, bukan membuka jalan bagi perluasan permukiman.

Dari lereng Cimenyan, Kota Bandung terlihat begitu dekat. Hamparan bangunan membentang di kejauhan, memenuhi cekungan yang dari waktu ke waktu semakin padat. Namun, di antara perbukitan dan jalan-jalan desa, masih tersisa kebun, pepohonan, lahan terbuka, serta bentang hijau yang selama ini menjadi bagian penting dari penyangga ekologis Bandung.

Beberapa tahun lalu, saya memotret sejumlah sudut Cimenyan. Saat itu, suasana desa dan hijaunya lereng masih terasa kuat. Kini, ketika muncul kembali wacana perluasan wilayah Kota Bandung yang salah satunya mencakup Kecamatan Cimenyan, foto-foto tersebut menghadirkan kegelisahan yang berbeda.

Secara administratif, gagasan itu memang dapat dipahami. Cimenyan berbatasan langsung dengan Kota Bandung. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar aktivitas warganya juga lebih terhubung dengan kota, baik dalam urusan pendidikan, perdagangan, pekerjaan, maupun pelayanan lainnya. Sementara itu, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung berada cukup jauh di Soreang.
Jika dilihat dari sudut pelayanan publik, kedekatan administratif dengan Kota Bandung mungkin dapat memudahkan warga. Namun, persoalannya tidak berhenti pada soal jarak antara Cimenyan dan pusat pemerintahan.

Cimenyan bukan sekadar wilayah di pinggir kota yang dapat diperlakukan sebagai ruang untuk memperluas batas administratif. Sebagian besar bentangnya merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara, kawasan yang memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan air, penyangga ekologis, serta bagian dari sistem lingkungan yang menopang kehidupan Bandung Raya.
Karena itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika Cimenyan masuk ke Kota Bandung, apakah perubahan tersebut akan memperkuat perlindungan kawasan, atau justru mempercepat masuknya pembangunan kota ke lereng-lerengnya?

Pertanyaan ini penting karena tekanan pembangunan sebenarnya sudah berlangsung bahkan sebelum wacana penggabungan kembali dibicarakan. Sebagian wilayah Cimenyan perlahan telah berubah. Kawasan perumahan dan pembangunan baru terus masuk, menggeser bentang hijau yang sebelumnya lebih luas.
Di sinilah terlihat sebuah paradoks.

Di satu sisi, Cimenyan dipandang sebagai bagian dari kawasan konservasi dan penyangga ekologis. Namun, di sisi lain, pembangunan perumahan terus tumbuh. Masyarakat tentu berhak bertanya: jika fungsi konservasi kawasan memang penting, mengapa pembangunan di wilayah tersebut tampak begitu mudah masuk?

Pertanyaan itu bukan berarti seluruh pembangunan harus ditolak. Setiap wilayah memiliki kebutuhan terhadap permukiman, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, pembangunan harus tetap tunduk pada daya dukung lingkungan dan arah tata ruang. Kawasan yang memiliki fungsi resapan tidak dapat diperlakukan sama dengan kawasan perkotaan yang memang dirancang untuk kepadatan bangunan.

Sebab, perubahan ruang tidak selalu dapat dipulihkan.

Ketika kebun berubah menjadi perumahan, ketika tanah terbuka tertutup beton, atau ketika lereng dipotong untuk pembangunan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga di sekitar lokasi. Berkurangnya daerah resapan dapat memengaruhi tata air di wilayah yang lebih luas. Risiko banjir, longsor, berkurangnya cadangan air tanah, hingga meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dapat menjadi persoalan bersama.

Air tidak mengenal batas administrasi. Begitu pula dampak kerusakan lingkungan.

Karena itu, sebelum berbicara lebih jauh mengenai perluasan wilayah Kota Bandung, ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dijawab secara terbuka: bagaimana kondisi kawasan hijau Cimenyan saat ini? Seberapa besar lahan yang telah berubah fungsi? Apakah pembangunan yang telah berlangsung sesuai dengan rencana tata ruang? Dan sejauh mana fungsi ekologis kawasan masih dapat dipertahankan?

Wacana penggabungan tidak boleh hanya dilihat sebagai peluang memperluas wilayah kota. Kota Bandung harus memandangnya sebagai perluasan tanggung jawab ekologis.

Jika Cimenyan benar-benar masuk ke dalam wilayah Kota Bandung, komitmen terhadap perlindungan lingkungan harus disusun sejak awal. Fungsi kawasan hijau, daerah tangkapan air, lahan pertanian, dan wilayah konservasi perlu dikawal dalam perencanaan tata ruang. Jangan sampai perlindungan baru dibicarakan setelah perubahan fungsi lahan terjadi.

Pengawalan terhadap RTRW dan RDTR menjadi penting karena di sanalah arah masa depan suatu wilayah ditentukan. Apakah Cimenyan akan diposisikan sebagai kawasan penyangga ekologis, atau sebagai cadangan perluasan permukiman? Apakah bentang hijaunya akan dipertahankan, atau perlahan dibuka bagi pembangunan baru?

Pilihan itu tidak boleh hanya ditentukan oleh kepentingan investasi atau peningkatan nilai tanah.
Cimenyan justru dapat dikembangkan dengan arah yang berbeda: sebagai wilayah wisata konservasi berbasis masyarakat.

Wisata konservasi bukan berarti membangun lebih banyak vila, resort, kafe, atau tempat wisata buatan di lereng. Sebaliknya, pengembangan harus bertumpu pada apa yang menjadi kekuatan Cimenyan: lanskap alam, pertanian, kebun, sumber air, jalur jelajah, pengetahuan lingkungan, serta kehidupan masyarakat setempat. Agrowisata, wisata edukasi lingkungan, wisata kebun, jalur pejalan kaki, dan kegiatan berbasis budaya lokal dapat menjadi sumber ekonomi tanpa harus mengorbankan fungsi ekologis kawasan. Dalam model seperti itu, warga bukan hanya menjadi penonton atau tenaga kerja, melainkan pelaku utama sekaligus penjaga lingkungan.

Konservasi tidak harus dipandang sebagai penghambat pembangunan. Konservasi dapat menjadi dasar bagi pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Cimenyan tidak perlu menjadi kota agar dapat berkembang. Justru nilai Cimenyan terletak pada apa yang semakin langka di Kota Bandung: ruang hijau, tanah resapan, bentang alam, lahan pertanian, dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya.

Jika seluruh wilayah di sekitar Bandung dibangun dengan pola yang sama—perumahan, kawasan komersial, dan bangunan baru—lalu dari mana kota memperoleh air, udara yang lebih baik, dan ruang ekologis untuk mempertahankan kehidupannya? Karena itu, bila Kota Bandung serius ingin memperluas wilayahnya, perluasan tersebut harus disertai keberanian untuk memperluas kawasan konservasi, memperkuat perlindungan ruang hijau, dan menjaga Cimenyan dari tekanan pembangunan yang berlebihan.

Cimenyan boleh lebih dekat secara administratif kepada Kota Bandung. Namun, kedekatan itu harus diikuti oleh tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga alamnya.

Perluasan wilayah tidak boleh dimaknai sebagai perluasan permukiman.
Batas wilayah boleh berubah, tetapi Cimenyan harus tetap menjadi ruang hijau yang menjaga kehidupan kota.

Sebab, kota tidak hanya membutuhkan ruang untuk tumbuh. Kota juga membutuhkan kawasan yang tetap hijau agar dapat bertahan hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)