Masa Depan Penerbangan Jawa Barat antara Integrasi atau Fragmentasi

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menegaskan bahwa bandara Husein Sastranegara kini telah siap melayani operasional pesawat jet berbadan sedang (narrow body), termasuk tipe Boeing 737-800.

Kesiapan ini bukan sekadar klaim, melainkan dibuktikan melalui terbitnya Sertifikat Bandar Udara (SBU) Nomor 005.1/SBU/VII/2026 oleh Kementerian Perhubungan pada 23 Juli 2026.

Lebih dari sekadar dokumen administratif, sertifikat ini menjadi indikator bahwa aspek keselamatan penerbangan di bandara Husein telah memenuhi standar regulasi, sekaligus membuka jalan bagi operasional pesawat jet narrow body secara penuh.

Integrasi atau fragmentasi

Kembalinya Bandara Husein Sastranegara ke dalam orbit penerbangan jet bukan sekadar kabar teknis. Ia membuka pula perdebatan lama ihwal apakah sistem transportasi udara di Jawa Barat akan diarahkan menuju integrasi, atau justru semakin terfragmentasi.

Selama beberapa tahun terakhir, arah kebijakan cenderung mendorong konsolidasi ke Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati di Majalengka. Secara desain, Kertajati dibangun sebagai bandara besar dengan kapasitas tinggi. Ia dimaksudkan menjadi pusat baru yang mampu menampung pertumbuhan penumpang jangka panjang.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu mengikuti desain di atas kertas. Permintaan penerbangan sangat dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas. Dalam hal ini, kedekatan bandara Husein dengan pusat Kota Bandung menjadi variabel yang masih sulit dikalahkan.

Maka, dilema pun mulai terlihat. Kertajati unggul dalam kapasitas dan potensi jangka panjang. Adapun Husein unggul dalam kedekatan dan kenyamanan pengguna. Dua keunggulan ini tidak selalu bisa disatukan dalam satu desain kebijakan yang rapi.

Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kondisi ini berpotensi menciptakan fragmentasi. Maskapai, penumpang, dan bahkan regulator bisa terjebak dalam sistem yang terbagi. Rute terpecah, load factor tidak optimal, dan efisiensi operasional menurun.

Dilihat dari kacamata industri penerbangan, fragmentasi berarti biaya. Pesawat harus ditempatkan di lebih banyak titik, rotasi menjadi kurang efisien, dan utilisasi armada bisa turun. Dalam industri dengan margin tipis, ini bukan hal kecil.

Sebaliknya, integrasi menawarkan skala ekonomi. Dengan konsentrasi trafik di satu bandara, maskapai bisa mengoptimalkan jadwal, meningkatkan frekuensi, dan menekan biaya per kursi. Ini adalah logika yang selama ini mendorong pengembangan hub besar di berbagai negara.

akan tetapi, integrasi juga punya biaya sosial. Penumpang harus menempuh jarak lebih jauh. Waktu perjalanan bertambah. Dalam konteks Bandung, perjalanan ke Kertajati bisa menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi perjalanan bisnis yang sensitif terhadap waktu.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa dilihat hitam putih. Integrasi tidak otomatis lebih baik. Fragmentasi juga tidak selalu buruk. Kuncinya ada pada bagaimana keduanya dikelola dalam satu kerangka sistem.

Tidak bergantung satu bandara

Dalam literatur transportasi, ada dikenal konsep multi-airport system. Intinya, sebuah kawasan tidak bergantung pada satu bandara saja, melainkan mengelola beberapa bandara dengan fungsi yang berbeda, namun tetap terintegrasi secara sistem.

Nah, Jawa Barat sebenarnya berpotensi mengarah ke model seperti ini. Husein bisa memainkan peran sebagai bandara dekat kota dengan fokus pada rute tertentu. Sementara Kertajati menjadi pusat untuk penerbangan dengan skala lebih besar.

Tetapi, model seperti ini tidak akan berjalan otomatis. Ia membutuhkan desain kebijakan yang jelas. Tanpa itu, yang terjadi bukan integrasi, melainkan kompetisi tidak sehat antar bandara.

Kompetisi antarbandara dalam satu wilayah sering kali berujung pada underutilization. Infrastruktur mahal tidak terpakai optimal. Ini adalah risiko nyata yang pernah terjadi di berbagai negara berkembang.

Salah satu faktor kunci adalah kejelasan segmentasi. Misalnya, bandara mana melayani rute apa, maskapai mana diarahkan ke mana. Tanpa segmentasi, pasar akan terpecah tanpa arah.

Selain itu, konektivitas darat menjadi faktor penentu. Integrasi bandara tidak mungkin terjadi tanpa integrasi transportasi darat. Jalan tol, kereta, dan sistem angkutan publik harus menjadi bagian dari desain besar.

Kertajati, misalnya, sangat bergantung pada peningkatan aksesibilitas. Tanpa konektivitas yang efisien, keunggulan kapasitasnya tidak akan sepenuhnya terkonversi menjadi permintaan nyata.

Di sisi lain, Husein menghadapi keterbatasan ruang. Sebagai bandara di tengah kota, ekspansi fisik hampir tidak mungkin dilakukan. Ini berarti ada batas alami terhadap pertumbuhannya.

Dari sudut pandang keselamatan, bandara urban juga membawa tantangan tersendiri. Operasional pesawat jet di area padat penduduk memerlukan standar yang lebih ketat. Sertifikasi seperti PKP-PK Kategori 7 memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Lingkungan juga perlu menjadi pertimbangan. Kebisingan, emisi, dan dampak sosial lainnya tidak bisa diabaikan. Di banyak kota dunia, bandara di pusat kota justru dikurangi perannya seiring waktu.

Tentu saja, Bandung memiliki konteks yang unik. Struktur kotanya, pola mobilitas penduduk, dan karakter ekonominya berbeda. Meniru mentah-mentah model kota lain tanpa adaptasi bisa berujung pada kebijakan yang tidak efektif.

Karena itu, pendekatan berbasis data menjadi krusial. Keputusan tidak cukup didasarkan pada asumsi atau preferensi politik. Dibutuhkan pula analisis permintaan, perilaku penumpang, dan proyeksi jangka panjang.

Di sisi maskapai, fleksibilitas menjadi penting. Mereka akan memilih bandara berdasarkan kombinasi biaya, permintaan, dan regulasi. Kebijakan yang terlalu kaku justru bisa menghambat adaptasi pasar.

Adapun  bagi penumpang, yang paling penting adalah kepastian dan kemudahan. Mereka tidak terlalu peduli bandara mana yang digunakan, selama perjalanan tetap efisien. Ini perspektif yang sering kali terlupakan dalam perumusan kebijakan.

Hampir pasti meningkat

Dalam jangka panjang, pertumbuhan trafik udara di Jawa Barat hampir pasti akan meningkat. Persoalannya bukan apakah satu bandara cukup, tetapi bagaimana beberapa bandara bisa bekerja bersama-sama.

Jika dikelola dengan baik, keberadaan dua bandara bisa menjadi kekuatan. Bandung bisa memiliki sistem yang fleksibel, adaptif, dan tahan terhadap perubahan permintaan.

Namun, jika tidak, kita akan melihat pola sebaliknya. Infrastruktur besar yang tidak optimal, kebijakan yang berubah-ubah, dan pelaku industri yang terus menyesuaikan diri tanpa arah yang jelas.

Maka, peran pemerintah menjadi sangat menentukan. Ia bukan sekadar sebagai regulator, tetapi juga sebagai arsitek sistem. Pemerintah yang menentukan apakah arah kebijakan yang diambil adalah integrasi atau fragmentasi.

Pilihan itu tidak selalu eksplisit. Ia bisa tercermin dalam detail kebijakan sehari-hari, mulai dari penentuan slot, insentif maskapai, hingga pengembangan infrastruktur pendukung.

Masa depan penerbangan di Jawa Barat pada ujungnya bukan terletak pada perkara bandara mana yang lebih unggul, melainkan pada bagaimana sistem dibangun -- apakah menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan, atau kumpulan bagian yang berjalan sendiri-sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Jul 2026, 20:11

Memahami Komunikasi Iklan Masa Kini, Apa Itu Global “Off The Wall” Campaign Launch?

Memahami campaign “Off The Wall Authentic” melalui website resmi, Instagram, dan media online untuk memperkuat identitas street culture serta menjangkau audiens global.

Memahami campaign “Off The Wall Authentic” melalui website resmi, Instagram, dan media online untuk memperkuat identitas street culture serta menjangkau audiens global. (Sumber: Vans)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 19:11

Masih Adakah Gerakan Nasional Revolusi Mental?

Wajah hukum Indonesia yang terbalik. Sesama rakyat main hakim sendiri. Sedangkan untuk maling uang rakyat disebut pahlawan yang disebut dikriminalisasi.

Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 18:23

Potret Indonesia pada Awal Orde Baru dalam Kompas Edisi Akhir Juli 1970

Terbitan yang kini telah berusia 56 tahun itu menjadi potret Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru.

Harian Kompas edisi 30 Juli 1970 memuat beragam peristiwa penting yang menggambarkan dinamika politik, ekonomi, dan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa awal Orde Baru. (Sumber: Kompas edisi 30 Juli 1970 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 17:25

Cimenyan Masuk Kota Bandung: Perluasan Wilayah atau Perluasan Tanggung Jawab?

Perubahan batas wilayah tidak boleh mengubah Cimenyan dari kawasan penyangga menjadi kawasan permukiman.

Bandung dari satu sudut Cimenyan beberapa tahun lalu. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 17:00

Gastronomi Ikan Bumi Parahiyangan: Tinjauan 33 Resep Klasik dari Buku 'Mina Rasa' (1977)

Buku berjudul Mina Rasa, Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang sampai Merauke merupakan sebuah artefak literasi gizi yang memiliki signifikansi strategis dalam dokumentasi kekayaan protein hewani nasional

Buku "Mina Rasa". (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 28 Jul 2026, 15:41

5 Kuliner Legendaris Cirebon Pilihan yang Wajib Dicoba saat Liburan

Jelajahi wisata kuliner Cirebon lewat lima tempat makan legendaris, mulai nasi jamblang, empal gentong, hingga mie get yang viral.

Empal Gentong H. Apud Cirebon.
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 15:09

Masa Depan Penerbangan Jawa Barat antara Integrasi atau Fragmentasi

Kompetisi antarbandara dalam satu wilayah sering kali berujung pada underutilization.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 28 Jul 2026, 14:54

Jelajah Bandung, Masjid Berbentuk Lumbung Padi di Soreang

Berbeda dari masjid pada umumnya, Masjid Salman Rasidi mengusung desain leuit Sunda serta sistem pencahayaan dan sirkulasi udara yang hemat energi.

Masjid Salman Rasidi Soreang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 28 Jul 2026, 14:49

Menjelajah Pasar Ceplak, Pelopor Culinary Night di Kota Dodol

Berburu kuliner malam di Garut? Pasar Ceplak menghadirkan puluhan pilihan makanan tradisional yang telah menjadi favorit warga sejak puluhan tahun lalu.

Suasana Pasar Ceplak Culinary Night di Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 11:44

Membangun Kesadaran Lingkungan Melalui Komunikasi Digital Multi-Platform

Memperkenalkan konsep Smart and Green Building melalui media online, website, dan media sosial.

Ilustrasi gedung ramah lingkungan. (Sumber: Pexels | Foto: FOX ^.ᆽ.^= ∫)
Ayo Netizen 28 Jul 2026, 08:08

Memahami Kontradiksi Wilayah Kerajaan Melayu dalam Konteks Ekspedisi Pamalayu (1275-1286 M)

Pada masa ekspansi bangsa Mongol, Raja Kertanegara melakukan perluasan wilayah menuju Sumatera.

Prasasti Amoghapasa yang diberikan oleh Kertanegara kepada Kerajaan Pamalayu. (Sumber: Museum Nasional Indonesia)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 21:00

Selat Solo, Steak Jawa yang Lahir dari Pertemuan Dua Tradisi Kuliner

Selat Solo merupakan perpaduan steak, salad, dan sup dengan kuah manis khas Jawa. Pelajari sejarah, keunikan, dan filosofi kuliner legendaris ini.

Selat Solo. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 20:40

Memahami Strategi Komunikasi dalam Membangun Citra Merek Melaui Figur Publik di Era Digital

Analisis ini membahas pemanfaatan figur publik dan komunikasi lintas platform dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media online sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital.

Rose BlackPink sebagai figur publik dalam membangun citra merek yang konsisten melalui media sosial sebagai bagian dari strategi komunikasi di era digital. (Sumber: PUMA)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 18:31

Dulu Debu Pasir Kini Kapur

Memori saat Bandung Raya diserbu debu Gunung Galunggung tasikmalaya tahun 1980-an, kini daerah Cipatat diserang debu tambang kapur

Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 17:05

KDM Perlu Langkah Cepat Atasi Bencana Kekeringan di Jawa Barat

Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya

Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 16:37

Romantisme Mendengarkan Sandiwara Radio Saur Sepuh di Radio Bandung Era 1990-an

Popularitas Saur Sepuh kemudian melahirkan berbagai adaptasi ke layar lebar dan layar kaca, sehingga kisah legendaris tersebut dapat dinikmati generasi berikutnya.

Sandiwara Radio Saur Sepuh, salah satu program radio paling legendaris pada era 1990-an. (Sumber: Tabloid Monitor, edisi 4 Juni 1987)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:52

Merentas Kesenjangan Mutu Pendidikan

Keberadaan SNT, setidaknya bisa menjadi solusi sekaligus penyegaran bagi sekolah-sekolah yang sudah ada.

Pelajar sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: KyoRa Kee)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 15:13

Konstruksi Sosial dalam Pernikahan: Antara Kebutuhan dan Keinginan

Pernikahan muda sebagai solusi yang justru banyak mengakibatkan perceraian, kekerasan, dan penderitaan.

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: pexels | Foto: Aydin Photografi)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 13:57

Dari Viral Menjadi Pembelajaran: Memahami Fungsi Pelican Crossing

Di balik kasus viral pelican crossing di Bundaran HI Jakarta, tersimpan pelajaran penting tentang hak pejalan kaki, keselamatan jalan, dan tanggung jawab pengendara dalam ruang publik.

Tangkapan layar video satpam menegur pengemudi mobil Toyota Alphard yang diduga menerobos pelican crossing di kawasan Halte Transjakarta Bundaran HI, (23/7/2026). (Sumber: Instagram/@infojktku)
Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)