Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

BANDARA Husein Sastranegara kembali direaktivasi dan bersiap menerima denyut penerbangan komersial. Pertanyaan adalah: untuk apa?

Perdebatan mengenai Bandara Husein selama beberapa tahun terakhir sering terjebak pada dua kutub yang saling meniadakan. Di satu sisi, ada kerinduan agar bandara itu kembali seperti dahulu kala, ketika penerbangan dari dan menuju Bandung begitu ramai. 

Di sisi lain muncul anggapan bahwa keberadaan Bandara Kertajati di Majalengka otomatis membuat Bandara Husein kehilangan alasan untuk survive. Kedua cara pandang itu sama-sama menyederhanakan persoalan. Sistem transportasi modern hampir tidak pernah dibangun di atas logika "yang satu hidup, yang lain mati".

Dalam kacamata transportasi, bandara adalah simpul dalam jaringan mobilitas yang lebih besar. Nilainya bukan ditentukan oleh panjang landasan atau megahnya terminal, melainkan oleh kemampuannya menghubungkan manusia, barang, ide, investasi, dan peluang ekonomi secara efisien.

Karena itu, persoalan yang relevan menyangkut Bandara Husein yaitu fungsi apa yang paling tepat dijalankan oleh bandara yang posisinya di pusat Kota Bandung ini.

Peran berbeda

Banyak kota besar di dunia justru berkembang dengan lebih dari satu bandara yang memiliki peran berbeda. Ada bandara utama untuk penerbangan jarak jauh dan pesawat berbadan lebar. 

Ada pula bandara yang lebih dekat ke pusat kota untuk melayani mobilitas bisnis, perjalanan singkat, atau rute-rute tertentu. Pembagian fungsi semacam ini bukan pemborosan, melainkan bentuk spesialisasi. Dalam teori ekonomi, spesialisasi memungkinkan setiap aset menghasilkan nilai paling tinggi sesuai keunggulannya.

Bandara kota bukan selalu yang terbesar, melainkan yang paling dekat dengan pusat aktivitas ekonomi. Kedekatan geografis menelurkan keuntungan yang sering kali lebih berharga daripada kapasitas fisik. 

Sebagai ilustrasi, bagi pelaku usaha, akademisi, tenaga profesional, atau peserta konferensi, selisih waktu tempuh satu hingga dua jam dapat sangat mempengaruhi keputusan perjalanan. Waktu, dalam ekonomi modern, adalah biaya yang nyata meskipun tidak selalu terlihat dalam tiket.

Sebuah penerbangan yang lebih murah dapat kehilangan daya tarik apabila membutuhkan perjalanan darat yang jauh lebih panjang. Sebaliknya, tarif yang sedikit lebih tinggi sering tetap dipilih karena menghemat waktu dan mengurangi ketidakpastian perjalanan.

Dari sudut pandang itu, Bandara Husein memiliki karakteristik yang tidak dimiliki semua bandara. Letaknya yang menyatu dengan kawasan perkotaan menjadikannya dekat dengan pusat pendidikan, kawasan bisnis, hotel, rumah sakit, dan berbagai aktivitas ekonomi Bandung. 

Kedekatan tersebut bukan sekadar kenyamanan. Ia merupakan bentuk modal spasial, yakni keuntungan yang muncul karena posisi geografis suatu infrastruktur terhadap pusat-pusat kegiatan manusia.

Sebaliknya, Bandara Kertajati memiliki keunggulan yang berbeda. Lahan yang luas memberi ruang untuk pengembangan kapasitas jangka panjang, operasional pesawat yang lebih besar, serta peluang berkembang menjadi simpul logistik dan penerbangan berskala regional. 

Keunggulan seperti itu sulit diwujudkan di Husein karena keterbatasan ruang dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, kedua bandara memiliki karakter yang sejak awal memang tidak identik.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)

Masalah muncul ketika dua infrastruktur yang berbeda karakter dipaksa dinilai menggunakan ukuran keberhasilan yang sama. Jika keduanya sama-sama mengejar seluruh jenis penumpang dan seluruh rute, persaingan akan menjadi mahal dan tidak efisien. 

Namun, apabila masing-masing menjalankan fungsi yang berbeda, keduanya justru dapat saling memperkuat. Oleh sebab itu, reaktivasi Bandara Husein semestinya dipahami sebagai upaya mengembalikan fungsi yang sesuai dengan karakter alamiahnya. Jadi, bukan menghidupkan kembali romantisme masa lalu. 

Singkatnya, yang dibutuhkan bukan replika Bandung satu dekade lalu, melainkan sistem mobilitas yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat hari ini. Dunia telah berubah. Pola perjalanan berubah. Cara orang bekerja berubah. Maka cara sebuah bandara memberi manfaat pun harus ikut berubah.

Logika aglomerasi

Bandung dibangun dengan logika aglomerasi. Kampus, pusat riset, industri kreatif, rumah sakit, pusat perbelanjaan, kawasan kuliner, hingga destinasi wisata berada dalam radius yang relatif berdekatan. 

Kepadatan aktivitas seperti itu menciptakan produktivitas yang lebih tinggi karena orang, informasi, dan peluang dapat bertemu dengan biaya yang lebih rendah. Mobilitas menjadi bahan bakar utama dari wujud aglomerasi.

Maka, keberadaan bandara tidak sekadar memindahkan penumpang dari satu kota ke kota lain. Ia memperpendek jarak ekonomi. Seorang dosen tamu yang datang untuk mengajar sehari kampus ternama di Bandung, investor yang hendak meninjau proyek di Bandung Selatan, dokter spesialis yang mengikuti konferensi internasional di pusat Kota Bandung, atau pelaku usaha yang hanya memiliki waktu beberapa jam di ibukota Jawa Barat ini, semuanya menghitung perjalanan secara menyeluruh. 

Yang mereka beli sesungguhnya bukan kursi pesawat, melainkan kepastian bahwa waktu mereka dapat digunakan secara produktif.

Dalam banyak kasus, kualitas perjalanan sama pentingnya dengan kuantitas perjalanan. Seratus penumpang yang melakukan perjalanan bisnis dengan intensitas ekonomi tinggi dapat menghasilkan dampak yang berbeda dibanding seratus penumpang yang sekadar melakukan perjalanan rekreasi singkat. 

Karena itu, keberhasilan sebuah bandara tidak cukup diukur dari angka pergerakan penumpang, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dibawa oleh mobilitas tersebut.

Kota pendidikan

Bandung bukan hanya kota tujuan wisata. Bandung juga kota pendidikan, pusat pertemuan ilmiah, ruang tumbuh industri kreatif, dan simpul layanan kesehatan. Aktivitas-aktivitas tersebut bergantung pada kemudahan konektivitas. Semakin mudah orang berkualitas tinggi bergerak masuk dan keluar Bandung, semakin besar pula peluang lahirnya kolaborasi, investasi, inovasi, dan pertukaran pengetahuan.

Kota-kota yang menjadi pusat kolaborasi, investasi, inovasi dan pertukaran pengetahuan seyogianya selalu menjaga konektivitas udaranya dengan serius, mengingat aksesibilitas merupakan bagian dari daya saing. 

Dalam ekonomi global, perusahaan tidak hanya memilih lokasi berdasarkan biaya produksi, tetapi juga berdasarkan kemudahan menjangkau talenta, mitra bisnis, dan pasar. Kota yang sulit diakses perlahan bakal kehilangan sebagian daya tariknya, meskipun memiliki sumber daya yang melimpah ruah.

Namun, konektivitas tidak identik dengan memperbanyak bandara atau membuka sebanyak mungkin rute penerbangan. Yang lebih penting adalah membangun jaringan transportasi yang saling melengkapi. 

Bandara Husein, Bandara Kertajati, stasiun kereta cepat, jalan tol, hingga angkutan perkotaan seharusnya dipandang sebagai satu ekosistem mobilitas. Kelemahan salah satu moda dapat ditutupi oleh keunggulan moda lainnya. Sebaliknya, ketika masing-masing berjalan sendiri-sendiri, biaya sosial justru bakal meningkat.

Lantaran itu, reaktivasi Bandara Husein sebaiknya tidak dibaca sebagai kemenangan satu infrastruktur atas infrastruktur lain. Narasi semacam itu hanya melahirkan dikotomi yang tidak produktif. Yang dibutuhkan Jawa Barat bukan perlombaan menentukan bandara mana yang paling sibuk, melainkan pembagian fungsi yang membuat seluruh sistem bekerja lebih efisien. 

Romantisme sejarah

Masa depan Bandara Husein tidak akan ditentukan oleh romantisme sejarah masa lampau ataupun semangat seremonial saat penerbangan pertama kembali mengudara di atas langit Bandung.

Masa depan bandara ini akan ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan memahami satu hal sederhana tetapi mendasar, yakni sebuah bandara bukan tujuan akhir pembangunan. Ia hanyalah simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi sosial, dan pengetahuan. Ketika simpul itu mampu membuat keseluruhan jaringan bekerja lebih baik, saat itulah reaktivasi benar-benar menemukan maknanya.

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Dalam jagad industri penerbangan, pembukaan rute adalah langkah yang relatif mudah. Tantangan sebenarnya adalah menjaga agar rute tersebut tetap layak secara ekonomi.

Maskapai hidup dari keseimbangan yang rumit antara tingkat keterisian kursi, biaya operasional, frekuensi penerbangan, dan konsistensi permintaan pasar.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada jumlah maskapai yang datang atau banyaknya penerbangan yang dibuka lewat Bandara Husein. Yang lebih penting adalah apakah layanan tersebut mampu bertahan.

Sejarah industri penerbangan, baik di Indonesia maupun di berbagai negara, menunjukkan tidak sedikit rute penerbangan yang dibuka dengan antusias, tetapi kemudian ditutup permanen karena permintaannya tidak cukup kuat.

Infrastruktur dapat disiapkan pemerintah, tetapi keberlanjutan bisnis tetap bergantung pada dinamika pasar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)