Luka, Algoritma, dan Dogma

13 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)

Siang yang mendung itu, di sela jam istirahat bekerja, berpapasan dengan seorang kawan lama, tepat di samping pos satpam depan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sudah cukup lama tak bersua. Obrolan ringan mengalir mulai dari kabar anak, keluarga, pekerjaan, hingga berbagai isu yang sedang hangat diperbincangkan.

Percakapan berhenti pada satu peristiwa yang mengusik banyak orang. Pasalnya seorang siswa MAN 3 Padang membawa bom rakitan ke sekolah.

"Sudah nulis tentang itu, kan?" tanyanya.

"Nuju," jawabku singkat.

Laki-laki bertubuh gemuk itu bertanya lagi, "Bagaimana pendapat soal pernyataan pimpinan yang mengingatkan agar jangan terburu-buru mengaitkan kasus itu dengan radikalisme?"

Sebelum menjawab terdiam sejenak.

"Perkara ini jangan buru-buru dibaca dari ujungnya saja. Motifnya masih didalami aparat. Tapi ada persoalan lain yang harus kita baca mulai dari luka karena perundungan, derasnya arus media sosial, sampai semakin sempitnya ruang interaksi sosial anak-anak yang berujung pada runtuhnya dogma," jelasku.

Percakapan singkat itu terus terngiang saat membaca berbagai pemberitaan. Potongan-potongan fakta dari sejumlah media justru memperlihatkan ihwal persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi label pada pelakunya.

Ternyata, menurut Densus 88, apa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta disebabkan oleh suatu fenomena yang disebut "Memetic Violence"
Apa itu memetic violence? (Sumber: Instagram | Foto: @peacegenid)

Dalam berbagai liputan terungkap siswa berinisial R (17) merupakan korban perundungan. Jubir Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan tekanan psikologis akibat sering menjadi sasaran ejekan teman-temannya menjadi salah satu faktor yang diduga melatarbelakangi tindakannya. Dari pemeriksaan awal, petugas mengamankan berbagai barang seperti petasan, baut, kelereng, pisau, anak panah, telepon genggam, dan kotak yang diduga berisi rangkaian bahan peledak.

Kendati tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, Polisi memfokuskan penanganan pada pemulihan psikologis anak. Aparat menegaskan seluruh keterangan awal, termasuk dugaan keterlibatan dalam grup daring, masih dalam proses verifikasi dan pendalaman.

R mengaku mempelajari cara membuat bahan peledak melalui internet yang terinspirasi oleh peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 2025. Selama sekitar empat bulan terakhir, belajar merakit bom secara mandiri di kamarnya dengan membeli berbagai bahan melalui toko daring tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Untuk mendalami rasa penasarannya bergabung dengan sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak. Fakta lain yang tak kalah menyayat. Hasil pemeriksaan awal kepolisian, R mengaku menjadi korban perundungan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kini menginjak kelas XII.

Bertahun-tahun hidup bersama ejekan dan tekanan. Polisi menduga kemarahan yang menumpuk itu akhirnya berubah menjadi pelampiasan, bahkan diduga sebagai upaya menunjukkan eksistensi kepada lingkungan yang selama ini membuatnya merasa tidak dianggap. Meskipun dugaan ini masih terus didalami melalui pemeriksaan terhadap guru, teman sekolah, dan para saksi.

Dalam pandangan psikolog Aully Grashinta dari Fakultas Psikologi Universitas Pancasila menuturkan korban perundungan yang mengalami tekanan berkepanjangan cenderung menyimpan rasa frustrasi kepada satu kelompok, bukan hanya kepada satu orang. Ketika tekanan itu mencapai puncaknya, sebagian korban memilih melawan. Bagi anak yang memiliki kemampuan berpikir dan akses informasi yang luas, strategi balas dendam dapat dicari melalui internet.

Diakuinya, media sosial dan ruang digital menyediakan begitu banyak informasi yang mudah diakses, termasuk informasi yang seharusnya tidak dikonsumsi anak-anak. Internet memang tidak menciptakan kemarahan, tetapi dapat menyediakan cara bagi kemarahan itu untuk menemukan bentuknya.

Ingat, persoalannya bukan semata seorang anak merakit bom. Permasalahan seorang anak mengaku memendam luka sejak sekolah dasar hingga menjelang lulus sekolah menengah. Persoalannya bukan hanya internet yang terlalu bebas, tetapi karena seorang anak dapat belajar merakit bahan peledak selama berbulan-bulan tanpa diketahui orang-orang terdekatnya. (detikNews Rabu, 15 Jul 2026 10:02 WIB, BBC Indonesia 15 Juli 2026, Kompas 15 Jul 2026 12:53 WIB)

Internet bijak terhindar dari hoaks (Sumber: instagram@dinaskominfontt)
Internet bijak terhindar dari hoaks (Sumber: instagram@dinaskominfontt)

Narasi Jadi Sarana Pelarian, Peneguhan Identitas

Dalam buku Denyut Nadi Radikalisasi Pola Narasi dan Pola Propaganda di Media Sosial Tahun 2025 diuraikan Indonesia saat ini berdiri di atas pencapaian keamanan yang secara statistik tak terbantahkan. Berbagai barometer internasional dan nasional mengonfirmasi stabilitas yang impresif.

Global Terrorism Index (2023- 2025) menempatkan Indonesia pada peringkat 30 dengan dampak LowMedium (skor 4.17), Global Terrorism Database dan I-KHub BNPT kompak mencatat nihilnya insiden serangan (zero attacks) dalam periode yang sama.

Penyebaran ideologi kekerasan di kalangan remaja kini merambah komunitas digital, khususnya melalui grup dalam jaringan True Crime Community (TCC). Densus 88 di akhir tahun 2025 menemukan komunitas ini terbentuk secara organik dari minat individu terhadap konten kekerasan dan sensasionalisme tanpa tokoh penggerak tunggal.

Sedikitnya terdapat 70 anak dari 19 provinsi yang tergabung di dalamnya, dengan konsentrasi terbesar di DKI Jakarta (15 anak), Jawa Barat (12 anak), dan Jawa Timur (11 anak). Mayoritas anggota berusia 11–18 tahun, umumnya merupakan korban perundungan dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, disertai paparan berlebihan terhadap gawai dan konten pornografi.

Bagi mereka, komunitas itu menjadi “rumah kedua” di mana mereka merasa didengarkan dan diterima, meski bimbingan yang diberikan sering kali menormalisasi kekerasan sebagai solusi. Walau tidak seluruhnya menganut ideologi radikal, anak-anak ini menjadikan narasi kekerasan itu sebagai sarana pelarian dan peneguhan identitas di tengah persoalan pribadi yang mereka hadapi.

Proses radikalisasi ini berjalan sistematis, namun sangat tersamar. Anak-anak rentan ini ditarik ke dalam game online seperti Roblox, dan akhirnya mengunci indoktrinasi di grup tertutup terenkripsi. Fase inkubasi ini sistematis. Algoritma media sosial dan ruang gaming dimanfaatkan untuk membangun “pasukan” tanpa terdeteksi sebagai insiden teror oleh lembaga pemeringkat dunia.

Suasana ini menandai pergeseran fundamental dalam lanskap keamanan nasional, di mana ancaman teror tidak lagi sekadar berbasis indoktrinasi ideologi, melainkan mengeksploitasi kerentanan psikologis dan krisis identitas di ruang privat digital.

Memetic Violence ini adalah alarm baru di dunia digital kita. Kekerasan yang muncul karena peniruan... (Sumber: reskrimum.metro.polri.go.id | Foto: Istimewa)
Memetic Violence ini adalah alarm baru di dunia digital kita. Kekerasan yang muncul karena peniruan... (Sumber: reskrimum.metro.polri.go.id | Foto: Istimewa)

Dari Kekerasan Mimetik ke Impulsif

Dalam pemahaman tradisional, kita berpikir hasrat bersifat linear, termasuk hasrat melakukan kekerasan. René Girard (1972) menegaskan tidak relasi langsung antara subjek dan hasratnya. Girard menunjukkan “model” selalu hadir di tengah-tengah, meski subjek tidak menyadarinya. Teori Girard memberikan jawaban mengapa seorang remaja di Jakarta bisa meniru aksi di Buffalo tanpa pernah bertemu pelakunya.

Secara esensi, manusia adalah mesin peniru, dan kekerasan adalah bahasanya. Keinginan (hasrat) itu triangular (segitiga). Kita tidak pernah menginginkan objek secara langsung. Kita menginginkan sesuatu karena orang lain (model) menginginkannya. Intensitas imitasi yang berlebihan dapat mengubah dinamika hubungan secara drastis.

Jika Girard bergerak lebih dalam dengan mengurai asal usul kekerasan mimetik, (hasrat mimetik), yaitu ketika subjek model untuk mendapatkan keterikatan dengan model. Dalam konteks teror, remaja (subjek) bisa saja tidak membenci korban. Ia melihat Tarrant (model) memiliki “kuasa” dan “validasi” . Ia meniru hasrat Tarrant untuk mendapatkan status eksistensial yang sama.

Mengapa Jamaah Ansharud Daulah (JAD) terus melakukan serangan (atau merencanakan serangan) padahal ISIS sudah hancur lebur? Jawabannya bukan pada kekuatan militer. Bagi JAD, ISIS bukan lagi sekadar organisasi, melainkan "model" yang memicu hasrat untuk menduplikasi utopia di tanah air. Kekerasan menjadi ajang pembuktian status. Siapa yang paling nekat, dia yang dianggap paling dekat dengan "Model" (ISIS).

Bila remaja memilih figur ekstremis sebagai model, alasannya karena figur itu tampak memberikan status dan validasi eksistensial. Solusinya bukan menghapus hasrat mimetik (yang tidak mungkin), melainkan menyediakan model alternatif yang menarik dengan cara yang sama tetapi melalui pencapaian konstruktif, plus mengungkap mekanisme kepada remaja, sehingga mereka sadar sedang dimanipulasi oleh struktur mimetik.

Hasrat kekerasan ini semakin terakselerasi berkat normalisasi paparan konten kekerasan yang dialami sebagian anak muda di media sosial dan game online. Untuk kekerasan di kalangan anak muda sering kali dipahami secara terfragmentasi, entah sebagai akibat dari indoktrinasi ideologis semata (gangguan mental) yang berdiri sendiri.

Padahal, transformasi seorang individu dari sekadar peniru menjadi pelaku kekerasan impulsif tidak hanya melibatkan perubahan perilaku, tetapi kerusakan mendalam pada kemampuan merasa.

Semuanya ini sangat erat kaitannya dengan pendangkalan empati dan penumpulan sensitivitas terhadap kekerasan, yang salah satunya dipicu oleh paparan kekerasan intensif dari media sosial dan game online. Artinya, aksi kekerasan dari proses peniruan berkelindan dengan proses pengikisan rasa kemanusiaan secara perlahan melalui mekanisme disensitisasi (pengebalan rasa).

Pada fase mimetik, seseorang melakukan kekerasan karena berusaha mencapai level (objek) yang dimiliki figur yang mereka idolakan. Konsekuensinya, akan terus “menelan” segala tindakan kekerasan itu sebagai bagian dari norma baru dalam kehidupannya. Semakin lama, sesuatu yang awalnya mengerikan, lama-kelamaan menjadi biasa karena terus-menerus dilihat dan ditiru.

Ilustrasi -- Sejumlah anak bermain gawai di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (11/10/2019). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi -- Sejumlah anak bermain gawai di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (11/10/2019). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lahirkan Pola Pikir Narsistik, Pendangkalan Empati

Dalam konteks neurobiologi, paparan berulang dan tekanan untuk menyamai “sang idola” menciptakan kondisi stres kronis dalam otak. Kondisi ini memicu produksi hormon stres (kortisol) yang berlebihan, yang secara fatal melemahkan fungsi bagian otak luhur sebagai pusat pengendali logika, moral, dan yang terpenting, empati (Brouwers et al., 2010).

Hilangnya fungsi kontrol ini mengakibatkan apa yang disebut sebagai pendangkalan empati. Secara alamiah, otak manusia memiliki rem sebagai mekanisme untuk menimbang konsekuensi moral dan merasakan kasih sayang atau hormat kepada orang lain.

Pada individu yang telah teradikalisasi secara mimetik, mekanisme ini rusak. Mereka sering kali memiliki citra diri yang sangat tinggi, namun rapuh, sebuah kondisi narsistik di mana mereka merasa hebat karena meniru idola kekerasan mereka, tetapi sangat sensitif dan rapuh secara identitas.

Fokus yang berlebihan pada pertahanan ego dan status diri ini membuat ruang untuk memikirkan perasaan orang lain menjadi hilang. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai manusia yang bernyawa, melainkan hanya objek dalam panggung pembuktian diri mereka.

Ketika disensitisasi (penumpulan) terhadap kekerasan telah mencapai puncaknya, individu tersebut memasuki fase paling berbahaya, yaitu kekerasan impulsif. Dalam kondisi ini, sensitivitas mereka terhadap kekerasan sudah mati. Mereka tidak lagi melakukan kekerasan secara terencana untuk mendapatkan imbalan status, melainkan bereaksi secara refleks sebagai “norma” dan “kewajaran”.

Karena “rem” empati di otak sudah usang akibat gerusan hormon stres dan pola pikir narsistik, provokasi sekecil apa pun langsung direspons dengan serangan fisik yang brutal dan berlebihan, jauh melampaui apa yang dianggap wajar.

Di kepala mereka, kekerasan hanyalah satu-satunya respons otomatis yang tersisa, bukan karena itu adalah satu-satunya hal yang perlu dilakukan, tetapi karena itu adalah sesuatu yang “harusnya” dilakukan.

Kekerasan mimetik menjembati motif seseorang dengan idolanya untuk terbiasa dengan darah dan senjata, sementara proses biologis yang menyertainya membunuh empati dan menumpulkan sensitivitas.

Hasil akhirnya justru tercipta mesin kekerasan yang bergerak bukan lagi karena ideologi, melainkan karena ketiadaan rasa. Oleh karena itu, intervensi tidak cukup hanya dengan memberikan pemahaman intelektual, tetapi harus menyentuh upaya membangun kembali rasa empati dan kemanusiaan yang telah tumpul akibat obsesi peniruan tersebut.

Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)
Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)

Dunia Maya Fase Inkubasi, Manipulasi

Keterhubungan dengan jaringan teror karena itu perlu didefinisikan ulang. Jika dahulu keterhubungan ditandai oleh keanggotaan formal, sumpah setia, interaksi tatap muka, serta kepatuhan pada struktur komando dan pelatihan langsung dari pemimpin, kini lanskap digital telah melahirkan definisi baru yang melampaui batasan fisik tersebut.

Di era algoritma ini, seseorang dapat dianggap terhubung semata-mata dengan mengadopsi ideologi radikal melalui platform digital dan merasa menjadi bagian dari komunitas ekstremis global tanpa pernah memiliki keanggotaan resmi (interaksi langsung).

Keterhubungan ini terbangun melalui jaringan ikatan dengan ribuan individu sepemikiran, konsumsi konten kekerasan seperti manifesto, video yang menginspirasi, serta paparan terhadap konten kekerasan lain yang menyebarkan taktik teror.

Denyut Nadi Radikalisasi 2025 menegaskan nihilnya serangan teror justru menjadi selubung bagi kerentanan ideologis yang semakin dalam dan tak terdeteksi radar konvensional. Ketergantungan pada metrik keamanan yang hanya berfokus pada dampak yang terlihat, seperti jumlah korban jiwa (ledakan), telah menciptakan titik buta berbahaya, di mana absennya kekerasan fisik disalahartikan sebagai hilangnya ancaman.

Padahal, realitas data menunjukkan sebaliknya. Puluhan ribu aktivitas radikal dan pendanaan terorisme bersirkulasi ke ruang digital, menjadikan dunia maya sebagai fase inkubasi dan ruang digital grooming paham radikal terorisme.

Transformasi ancaman ini bergerak melalui rekayasa psikologis dengan kerangka kerja 3D (Delegitimasi, Doktrinasi, dan Demolisi) untuk memanipulasi persepsi audiens. Propaganda tidak lagi bergerak acak, melainkan terstruktur untuk mendelegitimasi negara dengan narasi "sistem jahiliyah" dan pemerintah sebagai " antek asing" , sembari menawarkan utopia Khilafah sebagai solusi tunggal atas segala krisis, mulai dari ekonomi hingga konflik global.

Bahayanya, narasi ini kini berevolusi menjadi ancaman yang menyasar generasi muda melalui ekosistem yang sebelumnya dianggap aman, seperti industri game online, dan platform komunikasi komunitas.

Untuk di ruang-ruang ini, radikalisasi tidak hanya terjadi melalui doktrin agama, tetapi melalui infiltrasi ideologi impor seperti supremasi kulit putih dan simbolisme Neo-Nazi yang dikemas dalam budaya meme dan estetika yang menarik bagi anak muda yang sedang mencari identitas.

Teori hasrat mimetik Rene Girard menjelaskan bahwa “model” sangat berpengaruh bagi “subjek” untuk melakukan sesuatu. Seorang remaja di Jakarta dapat meniru aksi teror di belahan dunia lain bukan karena perintah komando pusat, melainkan karena dorongan hasrat untuk meniru "model" (seperti figur teroris global) guna mendapatkan validasi dan status eksistensial yang sama.

Imitasi ini pada akhirnya memicu dorongan untuk melakukan eskalasi kekerasan demi membuktikan diri mereka lebih "murni" (lebih berani) daripada model yang mereka tiru. Ancaman kita saat ini bukan lagi hanya narasi radikal teroris di ruang media maya, tetapi ruang-ruang psikologis generasi muda yang rentan terhadap validasi instan, status sosial, dan kecemasan yang mudah untuk dimobilisasi oleh kelompok-kelompok radikal teroris. (Sigit Karyadi, Hendro Wicaksono, dkk., 2026:1-5 dan 29-33)

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Persoalannya bukan semata-mata algoritma media sosial, melainkan semakin sempitnya ruang percakapan yang hangat di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan pergaulan. Perundungan bukan sekadar candaan yang kelewat batas. Perlahan mengikis harga diri seseorang. Lukanya memang tidak terlihat, tidak berdarah, dan tidak meninggalkan bekas di wajah. Justru menetap di dalam hati, tumbuh bersama rasa sepi, marah, dendam, serta perasaan tidak berharga.

Di era digital, luka itu menemukan ruang yang jauh lebih luas. Algoritma tidak pernah bertanya apakah seseorang sedang terluka. Hanya membaca apa yang dicari, diklik, dan ditonton. Ketika seorang anak mencari cara melampiaskan rasa sakitnya, internet mampu menyuguhkan ribuan jawaban dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua jawaban membawa harapan. Tidak semuanya mengarahkan pada kehidupan yang lebih baik.

Ironisnya, di tengah dunia yang terasa semakin terhubung, banyak anak justru semakin kesepian. Mereka memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi kehilangan satu orang yang benar-benar bersedia mendengarkan. Mereka aktif dalam berbagai grup percakapan, tetapi jarang menikmati dialog yang hangat bersama orang tua. Mereka rajin membagikan cerita di linimasa, tetapi kesulitan mengungkapkan isi hati di meja makan.

Ihwal memutus mata rantai perundungan tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku. Orang tua perlu menjadi teladan dalam memperlakukan sesama dengan hormat dan tanpa kekerasan. Sekolah harus menghadirkan sistem pencegahan, pengawasan, edukasi, serta layanan konseling yang mampu melindungi anak agar tidak menjadi pelaku maupun korban. Pemerintah berkewajiban memastikan ekosistem pendidikan benar-benar menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan ramah bagi setiap peserta didik.

Pada saat yang sama, penggunaan media sosial perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kedewasaan anak. Energi mereka harus diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif yang memperkaya pengalaman sosial, menumbuhkan empati, serta memperkuat karakter. Pasalnya, tantangan terbesar hari ini bukan sekadar mengawasi gawai, melainkan memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian.

Ketika rumah kehilangan percakapan, sekolah tidak bisa menghadirkan kehangatan, dan lingkungan kehilangan kepedulian, media sosial akan menjadi tempat anak mencari jawaban.

Padahal algoritma hanya memahami jejak digital, bukan luka batin. Tidak mengenal empati. Tak mampu membedakan apakah seseorang sedang belajar, mencari hiburan, sedang memendam kemarahan.

Di situlah letak bahayanya. Saat luka batin bertemu dengan informasi yang keliru, inspirasi yang menyesatkan, komunitas yang menguatkan kebencian, ruang digital dapat mempercepat lahirnya keputusan-keputusan yang membahayakan.

Walhasil, literasi digital harus berjalan beriringan dengan pendampingan emosional agar anak mampu memilah informasi yang membangun kehidupan dan menolak konten yang justru menyesatkan.

Dengan demikian, persoalan terbesar bukanlah teknologi, melainkan rapuhnya interaksi sosial di tengah kehidupan yang semakin digital. Kita hidup di zaman ketika percakapan tatap muka semakin berkurang dan hubungan virtual terus bertambah.

Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar akses internet. Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengar, guru yang peka terhadap perubahan perilaku murid, teman yang saling menguatkan,  lingkungan yang menghargai martabat setiap manusia. Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita kembali meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bagi sesama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)