Hikayat Bandara Kertajati: Lahir dari Keyakinan, Sepi Ditinggal Kenyataan

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
BIJB Kertajati. (Sumber: Dok. BIJB Kertajati)
BIJB Kertajati. (Sumber: Dok. BIJB Kertajati)

AYOBANDUNG.ID - Pada mulanya adalah sebidang tanah di Majalengka yang sunyi, jauh dari riuh pesawat dan aroma oktan tinggi. Di situlah sekelompok pejabat membayangkan masa depan: runway sepanjang mimpi, terminal sebesar ambisi, dan jutaan penumpang yang konon akan datang berbondong-bondong. Dua dekade berlalu, gagasan itu menjelma bandara raksasa yang berdiri gagah. Sayangnya, penumpang yang dijanjikan masih lebih sering hadir di presentasi PowerPoint ketimbang di kursi-kursi ruang tunggu.

Dia adalah Kertajati. Ada bangunan-bangunan raksasa yang dibangun dengan gegap gempita, penuh janji, dan digadang-gadang menjadi muka baru peradaban daerah. Ada pula bangunan raksasa yang berdiri tegak memandang jauh ke hamparan ladang dan sawah sambil bertanya-tanya, sebetulnya siapa yang akan datang dan mengisinya. Di antara dua takdir itu, Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati duduk manis, atau mungkin gelisah, di sebuah persimpangan nasib: terlalu megah untuk dibiarkan kosong, tetapi terlalu sepi untuk disebut berhasil.

Kisahnya panjang, penuh ambisi dan rasa percaya diri setinggi menara kontrol, yang pada akhirnya berhadapan dengan kenyataan keras: tidak semua mimpi yang dibangun dengan beton tebal dan pagar setinggi belasan meter bisa langsung mengundang keramaian. Ada bandara yang lahir dari kebutuhan, ada pula bandara yang lahir dari keyakinan bahwa kebutuhan akan muncul belakangan. Kertajati adalah anak yang kedua.

Sejarah Kertajati dimulai jauh sebelum satu pun kerucut beton ditancapkan di tanah Majalengka. Pada awal 2000-an, Jawa Barat tengah tumbuh seperti remaja yang mendadak tinggi: cepat, besar, dan butuh banyak ruang. Penduduknya sudah mencapai puluhan juta jiwa. Bandara Husein Sastranegara, yang terkungkung bukit dan permukiman Bandung, mulai terasa sumpek. Maka muncul gagasan membangun bandara baru yang bisa menampung pesawat besar dan harapan besar.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Gagasan itu berkecambah pada 2003 ketika studi kelayakan diasah. Optimisme saat itu sedang murah. Mereka yang mendorong rencana ini membayangkan sebuah bandara yang sanggup melayani seluruh Jawa Barat, sebuah mercusuar baru yang akan mengangkat ekonomi daerah timur-barat dan utara-selatan secara simultan.

Pada 2005 izin lokasi keluar, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengangkat tangan dengan penuh keberanian: proyek ini akan dibiayai lewat APBD. Namun, keberanian itu rupanya hanya langkah awal yang tidak diikuti gerak kaki. Tidak satu pun ekskavator turun ke lapangan hingga tujuh tahun kemudian. Izin pun kedaluwarsa, laksana janji diet yang tak pernah dimulai.

Ketika izin itu menguap begitu saja, sebetulnya publik sudah bisa mencium aroma problem: jarak antara ambisi dan eksekusi terkadang lebih jauh dari jarak Bandung–Kertajati. Tetapi kisah ini tidak berhenti. Setelah jeda panjang yang mirip babak tidur dalam lakon drama, rencana itu dihidupkan kembali. Survei digelar ulang. Perhitungan ulang dilakukan. Kesimpulannya: bandara sebesar itu tidak cukup dibiayai APBD; perlu APBN yang kuat dan tekad yang lebih kokoh.

Kemudian datang masa ketika pembangunan infrastruktur menjadi kata yang sering terdengar di mana-mana. Proyek besar dimasukkan ke daftar prioritas nasional. Kertajati ikut terseret dalam arus keyakinan bahwa Indonesia harus menghubungkan diri lebih cepat dan lebih luas. Pada 2014, pembangunan landasan pacu hingga pondasi mulai bergerak. Setidaknya kali ini, alat berat benar-benar datang, bukan sekadar rencana di meja rapat.

Baca Juga: Sejarah Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, Wariskan Beban Gunungan Utang ke China

APBN masuk besar-besaran untuk membangun sisi udara: runway sepanjang tiga kilometer, taxiway yang mengkilap, apron yang luas, sistem lampu pendaratan, hingga menara kontrol setinggi mimpi awalnya. Biayanya membengkak hingga triliunan rupiah. Pemprov Jabar tetap ikut urun, terutama lewat pembebasan lahan dan penyertaan modal ke BUMD yang diberi tugas mengelola bandara itu.

Hasilnya: sebuah bandara modern berdiri gagah di hamparan lahan Majalengka. Terminalnya luas, setara mal besar di kota-kota maju. Kargonya luas. Atapnya tinggi dan mewah. Tiket masuk areanya bahkan bisa membuat sebagian warga bertanya-tanya apakah mereka masih berada di Jawa Barat atau sedang berada di negara lain.

Ketika pesawat kepresidenan mendarat pertama kali pada 24 Mei 2018, suasana di landasan pacu seolah merayakan kelahiran simbol baru kebanggaan Jawa Barat.

Sayangnya, bayi itu ternyata kesulitan tumbuh.

Baca Juga: Reaktivasi Bandara Husein Simalakama Buat Kertajati

BIJB Kertajati kini fokus melayani penerbangan haji khususnya dari Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
BIJB Kertajati kini fokus melayani penerbangan haji khususnya dari Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Runway Panjang tapi Penumpang Enggan Datang

Kertajati lahir sebagai bandara terbesar kedua di Indonesia. Namun, gelar itu tidak banyak menjamin antrean check-in yang panjang. Sejak dibuka, Kertajati seperti gedung pernikahan supermewah yang undangannya tersebar ke seluruh penjuru, tapi tamunya lebih memilih kondangan di rumah tetangga yang lebih dekat.

Persoalan akses adalah duri pertama. Jalan tol yang dijanjikan sebagai pasangan hidup bandara belum rampung saat pembukaan. Tol Cisumdawu, yang seharusnya menjadi urat nadi Kertajati, molor dari tahun ke tahun. Sementara itu, masyarakat Bandung tetap memandang ke utara: Halim dan Soekarno-Hatta terasa lebih dekat, lebih familiar, dan lebih mudah dijangkau.

Ketika tol akhirnya dibuka pada 2023, bandara sudah terlanjur dicap jauh dan merepotkan. Stigma itu menempel lebih kuat daripada cat di dinding terminal.

Pemerintah kemudian mengambil langkah drastis: memindahkan penerbangan jet dari Bandung ke Kertajati. Setidaknya, para penumpang yang biasa terbang dari Husein tidak punya pilihan lain selain mencoba bandara baru. Dengan kebijakan itu, Kertajati mendapat belasan penerbangan per hari ke sejumlah kota besar. Sejenak, bandara itu tampak sibuk seperti anak baru yang mulai punya sedikit teman.

Baca Juga: Hikayat Tol Cisumdawu, Jalan Panjang dari Bandung ke Pintu Langit Kertajati

Tapi keakraban sementara itu tidak bertahan lama. Pada 2024 jumlah pergerakan penumpang hanya ratusan ribu, jauh dari target jutaan. Pada 2025, jumlah penumpang domestik anjlok drastis. Banyak maskapai mengibarkan bendera putih dan hengkang satu per satu setelah melihat kursi-kursi kosong yang terlalu banyak.

Lalu datang kabar yang paling pahit: seluruh penerbangan domestik dihentikan sementara pada Juni 2025. Kertajati hanya melayani satu rute internasional ke Singapura dan keberangkatan haji.

Runway sepanjang tiga kilometer itu tetap ada, tetapi nyaris tidak ada roda pesawat yang menyentuhnya.

Jika bandara bisa berbicara, bisa jadi dia sudah meminta pekerjaan sampingan.

Statistik Besar yang Berujung pada Kenyataan Kecil

Secara finansial, Kertajati membawa beban yang tidak ringan. Setiap tahun bandara ini mencatat kerugian puluhan miliar rupiah. Dalam kas Pemprov Jabar, angka itu mungkin tampak seperti statistik, tetapi di lapangan, itu berarti banyak prioritas lain harus menunggu giliran: perbaikan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga utang-utang daerah.

BUMD yang mengelola bandara itu menanggung porsi terbesar risiko. Dengan lebih dari delapan puluh persen saham berada di tangan pemerintah daerah, setiap rupiah yang hilang terasa langsung di pundak publik Jawa Barat. Sementara itu, kontribusi swasta dan pemerintah pusat tak sebesar porsi kepemilikan daerah.

Perbandingan dengan Bandara Husein Sastranegara pun menunjukkan ironi lain. Dengan investasi jauh lebih kecil, bandara tua itu justru memiliki tingkat pengembalian positif dan jumlah penumpang lebih banyak. Sementara Kertajati yang modern harus puas dengan angka ROI negatif yang cukup dalam.

Para pengamat mencoba mengurai sebab-musababnya. Ada yang menilai bahwa bandara dibangun terlalu besar tanpa menunggu kawasan industri tumbuh terlebih dahulu. Ada pula yang menyoroti lokasinya yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi. Kritik yang paling sering bergema adalah bahwa bandara ini seperti berdiri di tengah halaman dunia yang salah.

Pembangunan infrastruktur memang sering digadang-gadang sebagai pembuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi. Namun Kertajati menunjukkan sisi lain: tidak semua tempat yang dibangun terlebih dahulu akan otomatis memancing keramaian. Kadang-kadang, sebuah tempat tetap sepi meski sudah disiapkan karpet merah, parkir luas, dan tempat duduk yang nyaman.

Baca Juga: Sejarah Bandara Husein Sastranegara Bandung, Berawal dari Tanah Becek di Cipagalo

Kendati diguncang berbagai masalah, Kertajati belum sepenuhnya menyerah. Pemerintah dan pengelola mencoba mengejar peluang baru. Ide paling jelas adalah menjadikan bandara ini pusat keberangkatan haji dan umrah lebih besar. Dengan ruang yang luas dan runway panjang, Kertajati memang cocok untuk pesawat widebody yang membawa jamaah dalam jumlah besar.

Permasalahannya, permintaan kuota masih terbatas dan persaingan dengan bandara lain ketat.

Hadir pula wacana menjadikan Kertajati pusat pemeliharaan pesawat (MRO). Fasilitasnya sebenarnya mendukung, karena apron dan lahan kosong masih luas. Industri ini bisa mendongkrak aktivitas dan pendapatan. Namun membutuhkan investasi besar dari pihak yang benar-benar berani mengambil risiko.

Gubernur juga pernah melontarkan upaya untuk membuka rute-rute kecil lewat maskapai perintis, semacam memberi vitamin tambahan agar bandara tidak sepenuhnya tidur siang berkepanjangan. Di sisi lain, beberapa suara menyarankan untuk membuka kembali Bandara Husein agar lalu lintas udara kembali dinamis, sambil tetap mencoba menghidupkan Kertajati lewat fungsi lain.

Walau begitu, masa depan Kertajati tetap abu-abu. Apakah bandara ini bisa bangkit kembali, atau akan terus menjadi monumen dari ambisi yang gagal? Apakah industri akan tumbuh di sekitarnya sehingga bandara punya alasan baru untuk sibuk? Ataukah nasibnya akan tetap seperti sekarang: megah, luas, tetapi sunyi?

Yang jelas, nasibnya kini bergantung pada keputusan-keputusan strategis ke depan, keputusan yang tidak bisa lagi dibuat berdasar optimisme saja, tetapi memerlukan analisis yang matang, kalkulasi yang tenang, dan penataan ulang prioritas pembangunan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)