Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage yang diproyeksikan jadi kandang Persib.
Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage yang diproyeksikan jadi kandang Persib.

AYOBANDUNG.ID - Bandung adalah kota sepak bola. Persib ibarat agama kedua, dan bobotoh adalah jemaat fanatiknya. Maka ketika Wali Kota Dada Rosada menjanjikan stadion megah bertaraf internasional dalam kampanye Pilkada 2008, janji itu terdengar bak wahyu. Hasilnya, berdirilah Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage.

Stadion ini punya kapasitas sekitar 38–40 ribu penonton, lengkap dengan tribun beratap, mushola, ratusan toilet, sampai ruang VVIP berkaca antipeluru. Bahkan rumputnya pun pakai jenis Zoysia Matrella Merr, rumput yang katanya bisa bikin bola meluncur mulus.

Di atas kertas, stadion ini memang layak disebut salah satu yang terbaik di Indonesia. Tapi di balik megahnya, sejarah GBLA penuh liku, polemik, bahkan drama politik yang tak ada habisnya. Kalau sejarah GBLA dijadikan serial, tayangannya akan mirip Ikatan Cinta: panjang, penuh air mata, dan kadang bikin orang heran kenapa masih lanjut.

Sebelum namanya resmi jadi Gelora Bandung Lautan Api, stadion ini sempat nyaris memakai nama yang lebih personal: Gelora Dada Rosada. Usulan itu muncul dari kelompok Insan Sepak Bola Bandung, dipimpin Asep Setiadji, yang merasa wajar jika stadion dinamai sesuai tokoh yang memprakarsainya.

Baca Juga: Sejarah Hari Jadi Kota Bandung, Kenapa 25 September?

DPRD Kota Bandung bahkan sempat menerima ide tersebut, memasukkannya sebagai salah satu dari tiga opsi resmi: Gelora Bandung Lautan Api, Gelora Gedebage Kota Bandung, dan Gelora Rosada.

Secara logika politik, masuk akal. Dada Rosada adalah wali kota dua periode (2003–2013) sekaligus mantan Ketua Umum Persib Bandung (2003–2008). Stadion ini adalah anak kandungnya. Tapi publik punya logika lain. Banyak warga menilai menamai stadion dengan nama pejabat masih aktif itu mirip narsis tingkat dewa. Bobotoh pun protes, karena stadion seharusnya jadi simbol kebanggaan bersama, bukan monumen pribadi.

Situasi makin runyam setelah Dada terseret kasus korupsi lain. Nama Rosada langsung terasa makin tak pantas. Untuk menghindari perang opini, DPRD bersama Dispora lalu bikin polling SMS pada Maret 2013. Hasilnya telak: Gelora Bandung Lautan Api menang dengan 83,3% suara, Gelora Gedebage Kota Bandung 11,7%, sementara Gelora Rosada cuma 5%. Pada 28 Maret 2013, nama GBLA resmi dipakai. Ironisnya, nama Rosada kini cuma jadi catatan kaki dalam sejarah stadion.

Rujukan nama Lautan Api sendiri punya makna heroik. Merujuk pada peristiwa 24 Maret 1946, ketika warga Bandung membakar kotanya agar tak jatuh ke tangan Belanda. Dengan nama itu, stadion punya aura patriotik, bukan aura narsistik.

Diwarnai Korupsi sampai Tragedi

Upaya membangun stadion ini ibarat menyusun puzzle di atas tanah rawa. Lokasinya berdiri di cekungan Danau Purba Bandung, dengan tanah lempung lunak setebal 30 meter yang rawan ambles. Jadi, tak cukup cuma ngecor beton. Butuh teknologi mahal seperti Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan geotextile. Biaya pun melambung.

Baca Juga: Senjakala Sepeda Boseh Bandung: Ramai Saat Weekend, Sepi Saat Weekday

Pada awalnya, anggaran pembangunan tahun 2009 hanya Rp278 miliar. Tapi seperti kebiasaan proyek negeri ini, angka itu pelan-pelan membengkak hingga Rp545 miliar. PT Adhi Karya ditunjuk jadi kontraktor utama. Target rampung 2012, tapi yang terjadi justru molor. Peresmian baru dilakukan 10 Mei 2013, dengan seremoni yang dihadiri Gubernur Ahmad Heryawan.

Sayangnya, masalah tak berhenti di situ. Tahun 2015, proyek GBLA masuk radar Bareskrim. Audit BPK menemukan indikasi kerugian negara Rp103 miliar. Dugaan mark-up, spesifikasi tak sesuai, dan penyalahgunaan wewenang jadi bahan penyelidikan. Mantan pejabat teknis pembangunan, Yayat Ahmad Sudrajat, divonis 5,5 tahun penjara pada 2018.

Selain kasus hukum, stadion ini juga cepat rusak. Dinding retak, tribun bermasalah, bahkan lapangan sempat ambles. Untuk PON XIX tahun 2016, stadion buru-buru direnovasi. Tapi setelah itu, GBLA kembali terbengkalai. Aset pun sempat tidak jelas statusnya karena serah terima dengan kontraktor mangkrak di tengah jalan.

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)

Tragedi terbesar datang pada 23 September 2018. Dalam laga Persib vs Persija, seorang suporter Persija, Haringga Sirla, tewas dikeroyok bobotoh di sekitar stadion. Peristiwa ini bikin GBLA tercoreng parah. Publik mempertanyakan keamanan stadion, sementara Persib pun lebih sering hijrah ke Stadion Si Jalak Harupat untuk menghindari masalah.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Tak hanya itu, meski Indonesia ditunjuk jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, GBLA tak terpilih sebagai venue. Alasannya klasik: akses jalan belum lengkap, perawatan mahal, dan kualitas bangunan dipertanyakan. Ironi bagi stadion yang dulu dibanggakan setengah mati.

Walau sejarahnya penuh drama, GBLA tetap jadi ikon. Persib Bandung akhirnya kembali menggunakannya sebagai kandang pada musim 2022. Stadion ini memang punya aura yang sulit ditandingi, apalagi bagi bobotoh.

Pada Juli 2024, pengelolaan GBLA resmi diserahkan ke PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) lewat perjanjian 30 tahun dengan Pemkot Bandung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)