Sejarah Bandara Husein Sastranegara Bandung, Berawal dari Tanah Becek di Cipagalo

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Salah satu pesawat milik Belanda di Lapangan Terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara) tahun 1937.
Salah satu pesawat milik Belanda di Lapangan Terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara) tahun 1937.

AYOBANDUNG.ID - Bandara Husein Sastranegara di Bandung punya kisah lahir yang agak ajaib. Bayangkan saja, awalnya hanya berupa lapangan terbang seadanya yang lebih cocok untuk main bola daripada mendaratkan pesawat. Namun kolonial Belanda menjadikannya cikal bakal bandara. Dari sana, pesawat-pesawat awal di Priangan terbang rendah, membawa kisah penerbangan yang kemudian menjelma jadi sejarah panjang kebandarudaraan di Tatar Sunda.

Sejarah bandara ini erat kaitannya dengan masa kolonial Belanda, perkembangan Angkatan Udara di Indonesia, dan sosok seorang perintis penerbang muda yang gugur di usia 27 tahun: Husein Sastranegara. Kisah panjang itu tak langsung bermula dari sosok Husein. Ada episode kolonial lebih dulu, ketika Belanda sibuk membangun sarana udara di Priangan. Dari situlah, jalan menuju bandara yang kelak memakai namanya perlahan disiapkan.

Ceritanya dimulai pada 1917, saat pemerintah Hindia Belanda membangun stasiun radio di Rancaekek. Setahun kemudian, mereka mulai kepikiran untuk bikin lapangan terbang. Maklum, dunia lagi heboh dengan pesawat terbang yang baru saja unjuk gigi di Perang Dunia I. Bandung, kota yang sejuk, ternyata masuk radar. Maka dibangunlah lapangan terbang sederhana di Cipagalo, Sukamiskin. Lapangannya tidak pakai aspal, hanya tanah diratakan, diperkeras sedikit, lalu diberi garis imajiner. Peresmiannya pada 1920 agak nyeleneh: sebuah pesawat percobaan hanya bisa terbang sebentar setinggi 50 meter. Itu pun sudah dianggap sukses besar.

Tapi, Bandung punya satu musuh abadi: tanah becek. Landasan Cipagalo tak bisa dipakai maksimal. Maka Belanda pun mencari lahan baru. Pilihannya jatuh ke daerah Cicukang, Desa Cibeureum, wilayah Andir. Tahun 1921, di atas lahan seluas 45 hektare yang dibeli dari rakyat, berdirilah Lapangan Terbang Andir. Masih sederhana memang, tapi cukup untuk jadi markas Luchtvaart Afdeling alias Angkatan Udara Hindia Belanda.

Baca Juga: Reaktivasi Bandara Husein Simalakama Buat Kertajati

Lapangan ini berbatasan dengan Desa Cibeureum di barat, Sungai Cilimus di timur, Cibogo di utara, dan rel kereta Maleber di selatan. Pesawat-pesawat pertama yang mendarat pun punya nama eksotis ala 1920-an: Avro, Glen Martin, hingga Koelhoven. Bangunan pendukung juga perlahan muncul: hanggar, kantor pos, kantin perwira, sampai gudang panjang. Sebagian bekas bangunannya masih berdiri di kawasan Lanud Husein Sastranegara hingga kini.

Pada awal abad ke-20, kawasan Andir hanyalah lahan lapang, penuh tanah becek yang kalau diinjak bisa bikin sepatu kulit kolonial jadi belepotan. Tapi justru dari tanah becek itulah sejarah penerbangan modern di Bandung bermula.

Dari Belanda ke AURI

Sejarah kemudian berbelok drastis. Usai Indonesia merdeka, Belanda masih ogah melepas kendali. Baru lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, mereka setuju menyerahkan kekuasaan. Termasuk soal pangkalan udara. PAU Andir jadi salah satu yang pertama diserahkan. Pada 20 Januari 1950, AURI resmi menerima bagian utara lapangan udara ini. Sisanya, bagian selatan, baru diserahkan 12 Juni 1950.

Serah terima itu dilakukan cukup khidmat. Mayor EJ van Kappen mewakili Belanda, sementara dari pihak AURI hadir Mayor Udara Wiwiko Soepono. Fasilitasnya antara lain tiga pesawat C-47 Dakota, tiga pesawat latih Harvard, dan tujuh pesawat Piper Cub yang akrab dipanggil "Capung". Dari sinilah AURI mulai membangun kemandirian.

Setelah penyerahan itu, bandara Andir jadi salah satu pangkalan strategis Indonesia. Bukan hanya soal militer, tapi kelak juga sipil. Namun, sebelum nama Husein Sastranegara dipakai, Andir masih dikenal sebagai pangkalan peninggalan Belanda yang berubah jadi simbol kedaulatan.

Tampakan foto udara Lapangan Terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara) tahun 1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Tampakan foto udara Lapangan Terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara) tahun 1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Siapa Husein Sastranegara?

Bandara Andir kemudian berganti nama menjadi Bandara Husein Sastranegara pada 17 Agustus 1952. Nama ini diambil dari seorang perwira penerbang muda yang gugur pada 1946.

Husein lahir pada 20 Januari 1919 di Cilaku, Cianjur. Ia berasal dari keluarga ningrat Priangan, anak kedelapan dari 14 bersaudara. Ayahnya, Raden Demang Ishak Sastranegara, pejabat pemerintahan kolonial yang pernah jadi Wedana Ujungberung dan Patih Tasikmalaya. Dari keluarga ini, Husein tumbuh tanpa rasa minder di hadapan Belanda.

Sejak kecil ia sekolah di ELS (Europese Lagere School) lalu HBS di Bandung dan Jakarta. Setelah itu ia masuk Technische Hogeschool (kini ITB). Tapi hidupnya berubah ketika Belanda membuka kesempatan bagi pribumi untuk belajar penerbangan militer. Tahun 1939, Husein mendaftar ke sekolah penerbang Kalijati, Subang. Dari sepuluh siswa pribumi yang masuk, hanya lima yang lulus dapat brevet, termasuk Husein.

Sayangnya ia hanya mendapat Kleine Militaire Brevet, lisensi untuk menerbangkan pesawat bermesin tunggal. Meski begitu, semangatnya tak surut. Ketika Jepang datang, Husein malah berbelok jadi inspektur polisi di Sukabumi. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia masuk BKR dan akhirnya kembali ke dunia penerbangan bersama AURI.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Di Yogyakarta, Husein jadi instruktur sekaligus perwira operasi AURI. Ia sering menerbangkan pesawat rongsokan peninggalan Jepang: Cureng, Cukiu, sampai Hayabusha. Pada 21 Mei 1946, ia ikut terbang formasi dari Maguwo ke Gorda, Serang. Ia juga terlibat dalam banyak penerbangan ke berbagai daerah untuk mendukung republik muda.

Tragisnya, usia Husein hanya sampai 27 tahun. Pada 26 September 1946, saat melakukan test flight pesawat Cukiu di Yogyakarta, pesawatnya jatuh dan terbakar. Ia gugur bersama teknisi Rukidi. Husein meninggalkan seorang istri dan tiga anak kecil.

Lantaran jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Komodor Udara anumerta. Ia juga dianugerahi Bintang Garuda dan Satyalencana Perang Kemerdekaan. Dan pada 17 Agustus 1952, nama Lapangan Udara Andir resmi diganti menjadi Lanud Husein Sastranegara.

Berubah jadi Bandara Sipil

Walaupun awalnya murni pangkalan militer, perlahan Bandara Husein Sastranegara juga dipakai untuk penerbangan sipil. Letaknya di tengah kota Bandung membuatnya mudah diakses, tapi juga jadi biang kemacetan. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, bandara ini jadi pintu masuk wisatawan domestik maupun mancanegara ke Bandung.

Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Berbagai maskapai besar macam Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, sampai Bouraq pernah hilir mudik di sini. Pada awal 2000-an, dengan booming wisata belanja dan kuliner Bandung, Husein Sastranegara makin sibuk. Apalagi setelah penerbangan murah (low-cost carrier) bermunculan. Bandara ini jadi saksi hidup perjalanan Bandung dari kota militer ke kota wisata.

Tapi, masalah klasik tetap sama: bandara ini terlalu kecil untuk kota sebesar Bandung. Landasannya hanya sekitar 2.200 meter, terbatas untuk pesawat berbadan sedang. Bahkan sering ada lelucon, kalau pesawat mendarat agak meleset sedikit, bisa sekalian parkir di rumah warga sekitar.

Baca Juga: Bandara Husein Setia Terbilang, Lima Penumpang Datang dan Hilang

Karena itu, sejak lama muncul wacana memindahkan bandara ke Kertajati, Majalengka. Meski begitu, Husein tetap punya tempat istimewa di hati orang Bandung. Ada nuansa historis, ada juga romantisme: bandara kecil yang selalu ramai dan terasa dekat dengan kehidupan kota.

Sejarah Bandara Husein Sastranegara adalah cerita tentang lapangan becek yang disulap Belanda jadi pangkalan udara, tentang peralihan kedaulatan lewat KMB, tentang sosok pemuda ningrat yang gugur muda namun diabadikan namanya, hingga transformasi menjadi bandara sipil yang sibuk. Dari Andir ke Husein, dari pesawat Avro ke Boeing, dari tanah Priangan ke langit dunia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)