Bandara Husein Setia Terbilang, Lima Penumpang Datang dan Hilang

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan
Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Situasi Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, tampak lengang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID — Bandara biasanya tempat hilir-mudik manusia. Riuh koper, pengumuman boarding, aroma kedai kopi, dan langkah terburu-buru calon penumpang adalah suasana khasnya. Tapi tidak di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Di sini, sekarang, jumlah penumpangnya tak lebih ramai dari warung rokok dekat perempatan. “Hanya sekitar lima penumpang per hari,” kata General Manajer PT Angkasa Pura Indonesia, Indra Seputra, baru-baru ini.

Ya, lima orang. Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk mengisi satu baris bangku dalam kabin pesawat.

Padahal, dulu bandara ini melayani hingga 4.000 penumpang setiap hari. Sebelum bandara Kertajati “dibuka paksa” jadi pengganti, Husein adalah pintu udara utama Kota Bandung. Kini, ia berdiri seperti raksasa tua yang sudah pensiun, tapi belum resmi diberhentikan.

Walau begitu, Indra buru-buru menegaskan: bandara ini tidak tutup. “Bandung belum pernah tutup. Tidak pernah tutup,” katanya.

Sepinya Husein bukan terjadi begitu saja. Ia bukan bangunan tua yang ditinggal karena rusak atau tak layak. Ia justru ditinggalkan karena pemerintah memindahkan seluruh penerbangan komersial ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, sejak pertengahan 2023.

Kebijakan yang disebut-sebut sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ini menjadikan Kertajati sebagai bandara utama Jawa Barat. Sementara Husein, dengan segala fasilitasnya yang memadai dan lokasinya yang strategis di pusat kota, dikerdilkan fungsinya.

Sejak itu, tidak ada lagi deru pesawat jet di langit Pasteur. Yang tersisa hanyalah pesawat baling-baling kecil milik Susi Air dan penerbangan militer. Bandara yang dulu hiruk-pikuk dengan koper, boarding pass, dan suara panggilan boarding, kini hanya sesekali dikunjungi oleh penumpang tunggal yang bahkan tak perlu antre check-in.

Bandara Husein memang belum mati. Tapi hidupnya seperti lampu neon yang berkedip-kedip. Kadang menyala, lebih sering redup. Dalam sehari, hanya ada satu-dua penerbangan propeller dari Susi Air. Rutenya pun pendek dan sesekali saja. Pangandaran-Bandung-Halim, tiga kali seminggu. Kalau tanggal 2 Juli nanti tak diundur, Yogyakarta-Bandung-Halim akan menyusul.

Toh, suasana tetap seperti terminal bayangan.

Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, menyebut akan mencari solusi. “Prinsipnya untuk kebaikan masyarakat,” katanya. Tapi sampai sekarang, belum ada langkah konkret. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pun hanya bisa menunggu. “Sekarang, kita sedang menunggu,” ujarnya, dalam pernyataan yang terasa lebih pas dibacakan sambil duduk termenung.

Bandara, Tapi Tanpa Bandar

Bandara dengan lima penumpang per hari sebenarnya bukan bandara lagi. Ia lebih menyerupai posko logistik. Tak ada antrean, tak ada hiruk pikuk. Staf keamanan bisa mengenal semua penumpang, bahkan mungkin tahu golongan darah dan nama anak mereka.

Ironisnya, ini semua terjadi di tengah kota yang dikenal sebagai destinasi wisata, pusat perguruan tinggi, dan gudangnya kongres. Tapi turis-turis, mahasiswa, dan pejabat memilih rute lain. Entah naik mobil dari Jakarta, atau terbang dari Kertajati yang konon lebih visioner dari Husein.

Farhan bilang, tak perlu pesawat besar seperti A380 atau Boeing 777. Cukup jet-jet kecil seperti Airbus A320 atau Boeing 737. Tapi untuk itu pun, belum ada kejelasan. “Kita tidak mengharapkan Husein jadi menerima pesawat haji, tidak,” ujar Farhan.

Baca Juga: Reaktivasi Bandara Husein Simalakama Buat Kertajati

Sementara itu, bandara lima penumpang ini terus dibuka. Terus diaudit. Terus diawasi. Seperti rumah besar yang dijaga agar tidak roboh, meski penghuninya hanya satu keluarga kecil, dan kadang, tak ada sama sekali.

Jika tidak ada keputusan segera, bisa jadi bandara ini akan benar-benar tutup. Bukan karena perintah resmi, tapi karena tak ada lagi yang datang. Sebuah bangunan megah yang pelan-pelan berubah jadi simbol dari niat baik yang dibiarkan menggantung.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)

Kertajati Korban Reaktivasi

Farhan adalah salah satu sosok yang paling getol mendorong reaktivasi Bandara Husein. Alasannya masuk akal: warga Bandung butuh akses cepat. Tapi tak semua orang sepakat.

Salah satu yang paling keras mengkritik adalah pengamat ekonomi dari Universitas Majalengka, L. Suparto. Dalam analisisnya, reaktivasi Husein justru mengancam kemajuan ekonomi regional Jawa Barat.

“Secara umum, membuka kembali Husein akan merugikan BIJB Kertajati, yang merupakan bagian penting dari Proyek Strategis Nasional,” katanya.

BIJB bukan sekadar bandara. Ia adalah mimpi besar tentang pemerataan pembangunan. Dibangun di Majalengka agar tak semua pertumbuhan ekonomi menumpuk di Bandung dan Jakarta. “Kalau Husein aktif lagi, manfaat BIJB makin lemah. Ujungnya, provinsi sendiri yang rugi,” tegas Suparto.

Kertajati punya jangkauan lebih luas: dari Bandung hingga Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan kawasan Pantura lainnya. Di sinilah kuncinya: efek domino yang lebih merata, tak cuma terkonsentrasi di Bandung Raya.

Ia membandingkan dengan kisah sukses Bandara Internasional Lombok. Dulu di Mataram, lalu dipindah ke Lombok Tengah. Hasilnya? Muncullah Mandalika, kawasan wisata kelas dunia. “Kalau BIJB dioptimalkan, Majalengka bisa punya cerita yang sama,” katanya penuh keyakinan.

Suparto pun mengkritisi logika ekonomi dari reaktivasi Husein. “Kalau Husein diaktifkan kembali, apa manfaatnya untuk provinsi? Ini justru akan mengurangi return investasi BIJB dan menimbulkan persaingan internal yang tidak sehat,” ujar dia.

Baginya, pilihan ideal bukan reaktivasi, tapi integrasi. Alih-alih membuat dua bandara bersaing di tengah pasar terbatas, sebaiknya dikelola terkoordinasi. “Daripada membagi sumber daya, lebih baik Husein diintegrasikan ke BIJB,” usulnya.

Ia mengakui masalah BIJB bukan soal fisik, tapi konektivitas dan jumlah rute. Tapi itu bukan alasan untuk membuka saingan baru di tengah jalan. “Hadirnya Angkasa Pura dan dukungan profesional Kementerian Perhubungan bisa jadi kunci,” katanya.

Tapi logika kenyamanan warga Bandung tidak serta-merta mengalahkan rencana besar pemerintah pusat. Suparto mengingatkan, Jawa Barat punya saham besar di BIJB. “Kalau Husein terus dioperasikan, kita hanya akan membuat Bandung semakin macet tanpa memberikan manfaat berarti untuk daerah lain,” katanya.

Ia pun mewanti-wanti agar proyek sebesar BIJB tidak jadi proyek gagal seperti beberapa PSN lain yang menyedot dana tapi tak membuahkan hasil. “Reaktivasi Husein hanya akan menciptakan kompetisi yang tidak sehat,” ujarnya.

Baca Juga: Estetika Dulu, Infrastruktur Belakangan: Wajah Kontras Kampung Pelangi Lembur Katumbiri

Jelas, dalam konflik ini tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar atau salah. Tapi realitasnya: Bandara Husein hanya melayani lima orang per hari. Ia belum tutup, tapi hidupnya lebih menyerupai penantian panjang di ruang transit—entah menuju reaktivasi, atau tinggal tunggu waktu resmi pensiun.

Sementara itu, pembangunan terus berpacu. Dan pertanyaan utama tetap menggantung di udara: Apakah Husein Sastranegara masih bandara, atau kini sekadar monumen nostalgia kota yang enggan melepas masa lalunya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)