Estetika Dulu, Infrastruktur Belakangan: Wajah Kontras Kampung Pelangi Lembur Katumbiri

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Suasana di Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Suasana di Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID — Di Kota Bandung, ‘pelangi’ bisa kapan saja dilihat. Warna-warna khas pelangi dapat terlihat dengan mata telanjang. Tapi penampakannya bukan di langit, melainkan di atap dan tembok rumah warga.

Tempat tersebut berada di Kampung Katumbiri, Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Kawasan ini beberapa waktu lalu diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, sebagai kampung wisata.

AyoBandung berkesempatan mengunjungi kampung itu pada Senin, 12 Mei 2025. Untuk menuju ke Kampung Katumbiri, masyarakat bisa masuk melalui Gang Bapak Ehom. Gang ini terletak di sebelah Teras Cikapundung BBWS.

Jarak dari mulut gang ke Kampung Katumbiri sekitar 1 kilometer lebih. Bila hendak ke sana, disarankan untuk berjalan kaki, sebab suasana gang berbeda dari gang pada umumnya.

Selama perjalanan, masyarakat akan menyusuri sisi anak sungai yang relatif bersih dari sampah. Suasananya cukup asri, cocok untuk berjalan kaki. Pohon-pohon dan tanaman tumbuh rindang, dan udara sejuk terasa menyegarkan.

Kebanyakan pengunjung mengenakan pakaian yang stylish. Ada juga yang berpakaian ala olahragawan. Tapi yang jelas, mereka sama-sama berkeringat ketika sampai di Katumbiri.

Perjalanan memakan waktu lebih dari 7 menit. Ini memerlukan sekitar 1.000 langkah kaki. Cukup untuk membakar 40 kalori. Beberapa baju belakang pengunjung tampak basah oleh keringat.

Sesampainya di sana, rumah-rumah warga tampak berjejer tak rapi dan bertingkat, bak permukiman di Brasil. Rumah-rumah itu berdiri di sempadan Sungai Cikapundung. Tembok dan atapnya dicat dengan warna-warna cerah layaknya pelangi.

Wajah perkampungan ‘modern’ di Kota Bandung. Untuk menyusuri kampung itu, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga, sebab kondisi geografisnya seperti di lereng bukit.

Salah satu pengurus Kampung Katumbiri, Herman (62), mengatakan kampung ini berubah jadi permukiman padat sejak tahun 2000-an. Tahun berganti, jumlah bangunan dan warga bertambah.

Dulu, warga hanya menempati bagian atas perkampungan saja. Sementara di sisi sungai, banyak ditumbuhi pohon bambu. Kemudian lama-kelamaan pohon bambu berubah menjadi rumah.

“Mungkin punya anak, cucu, terus pada bangun rumah, akhirnya padat,” kata dia.

Singkat cerita, kampung ini pernah mendapat bantuan atau sponsor dari perusahaan ternama. Permukiman kumuh seketika berubah menjadi kampung pelangi. Sehingga rumah warga terlihat lebih cerah dan menarik.

Sayangnya, itu tak bertahan lama. Warna-warna mulai pudar seiring berjalannya waktu. Di satu sisi, warga tidak memperbarui warna tersebut. Alhasil, kata “menarik” tak lagi cocok untuk kampung tersebut.

Kemudian pada bulan April, Wali Kota Bandung mengunjungi kawasan tersebut. Farhan ingin kampung itu dapat kembali menarik perhatian pengunjung. Upaya reaktivasi warna pun dimulai.

Rumah-rumah lalu dicat ulang, yang menghabiskan 504 galon cat dan melibatkan lebih dari 150 pekerja lapangan. Upaya ini disebut sebagai simbol transformasi dan harapan baru.

“Kalau dari perusahaan kan namanya Kampung Pelangi, nah kalau Wali Kota jadi Lembur Katumbiri. Itu sebenarnya bahasa Sundanya saja,” ucapnya.

Warga Lembur Katumbiri sedang mengecat dinding. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Pemkot Bandung menggandeng seniman John Martono dalam menghidupkan kembali nilai estetika kampung ini. Sentuhan seni John menambah keindahan dari Lembur Katumbiri. Reaktivasi ini diharapkan dapat menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian warga.

Warga yang tinggal di perkampungan ini sekitar 135 KK atau 335 jiwa. Herman mengaku, banyak wisatawan yang datang ke kampung halamannya. Mereka yang berkunjung kebanyakan untuk berswafoto hingga menikmati keindahan alam.

Bangunan di sana kebanyakan semi permanen. Temboknya masih ada yang terbuat dari papan tripleks. Tempat sampah pun sukar ditemui di kawasan wisata tersebut.

Ia mengaku tak keberatan dengan pengunjung yang datang. Sebab Lembur Katumbiri menjadi terkenal. Hal ini berdampak pada pendapatan warga meski tidak terlalu signifikan.

“Ya kalau dibilang ekonomi meningkat hanya beberapa warga saja, masih ada yang kesusahan, tapi berkat viral ya berdampak lah,” ungkapnya.

Beberapa warga memang baru berjualan saat kampung ditetapkan sebagai kawasan wisata tematik. Makanan di sana cukup bervariasi, mulai dari es campur, lotek, kupat tahu, seblak, basreng, minuman saset, dan sebagainya.

Tempat untuk makan pun disediakan dengan bentuk saung semi modern. Pengunjung yang datang memilih tempat itu untuk beristirahat sambil menyantap hidangan yang dipesan. Ada juga lapak untuk berkaraoke.

Herman mengungkapkan, warga di sana kebanyakan bekerja sebagai kuli bangunan, pengumpul rongsok, ojol, hingga buruh pabrik. Sehingga diharapkan peresmian Lembur Katumbiri bisa meningkatkan perekonomian warga.

Namun di satu sisi, ia sedikit menyayangkan sejumlah warga belum terlalu peduli dengan lingkungannya. Ia menyebut kebanyakan kerja bakti dilakukan oleh pengurus kewilayahan saja.

Selain itu, dirinya mengaku belum pernah mendapat bantuan perbaikan jalan dari pemerintah. Padahal, kata dia, jalan menjadi akses utama dalam mendulang kegiatan hingga perekonomian.

“Nggak tahu kenapa pemerintah nggak bisa ke sini, apa karena ini tanah ITB atau bagaimana,” akunya.

Terkait pemberdayaan masyarakat, diakuinya belum sepenuhnya berjalan. Herman mengutarakan masyarakat memang diberi kebebasan ingin berjualan atau tidak, termasuk dalam merawat estetika kampung. Kendati demikian, imbauan dan sosialisasi terus dilakukan oleh para pengurus.

“Kalau (warga) punya kreativitas, dia ingin (rumahnya) lebih bagus, ya silakan. Kita sebagai pengurus tidak memaksa,” ucapnya.

Sejauh ini, program pemberdayaan masyarakat dari pemerintah pun belum ia rasakan. Entah itu berbentuk pelatihan atau workshop, ia mengatakan warga belum mendapatkannya.

Tetapi ia akan mencoba untuk mengajak warga agar membuat kerajinan tangan. Besar harapan kerajinan tersebut bisa menjadi oleh-oleh khas Lembur Katumbiri. Upaya itu disebutnya akan dimulai dari dirinya sendiri.

“Rencana saya mau bikin kerajinan kayak gitu, tapi nanti lah. Semoga aja bisa jadi oleh-oleh khas Lembur Katumbiri,” sebutnya.

Revitalisasi Jangan Abaikan Masalah Nyata

Akan tetapi, reaktivasi Kampung Katumbiri di kawasan Babakan Siliwangi menuai sorotan tajam dari pengamat tata kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Frans Ari Prasetyo. Ia mengingatkan bahwa proses revitalisasi seharusnya berangkat dari kebutuhan dasar warga, bukan sekadar mempercantik tampilan kampung demi kepentingan pariwisata.

“Pertama kita harus lihat, tujuannya dibentuk, dilakukan proses yang terjadi pada wilayah Katumbiri itu. Itu kan bagian dari Babakan Siliwangi. Kita harus lihat bagaimana pola pembangunan Babakan Siliwangi sesuai dengan rencana tata ruang Kota Bandung yang baru direvisi tahun 2024,” ujar Frans saat diwawancarai.

Menurutnya, segala bentuk pembangunan mesti merujuk pada rencana detail tata ruang (RDTR) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang berlaku. Apalagi wilayah Katumbiri tergolong kawasan yang spesifik dan memiliki sensitivitas tinggi.

Ia menilai, revitalisasi yang dilakukan sejauh ini masih bersifat kosmetik. “Apakah revitalisasi hanya menciptakan wilayah tampilan dengan cat-cat saja? Apakah revitalisasi itu akan memberi efek dan berdampak pada masyarakat selanjutnya?” katanya retoris.

Frans menekankan, pembenahan seharusnya dimulai dari infrastruktur dasar kampung, seperti MCK, akses air bersih, sanitasi, dan perumahan layak.

“Saya pikir harus ke arah sana dulu. Baru dipercantik. Bukan seolah-olah dipercantik melalui proses cat-cat-cat, tapi infrastruktur yang diperlukan tidak dikerjakan,” ujarnya.

Warga beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung yang di depan Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Ia menyebutkan, masih ada sekitar 700 ribu warga Bandung yang tidak memiliki fasilitas MCK memadai. Ini memperlihatkan bahwa banyak kebutuhan dasar warga yang belum tersentuh oleh program-program revitalisasi.

“Kenapa tidak dilakukan revitalisasi yang benar-benar urgensinya untuk wilayah itu? Ingin seolah-olah tampak modern, tapi bukan modern dalam arti yang berguna,” tegasnya.

Selain itu, Frans juga menyoroti masalah pembangunan di lahan sempadan sungai yang melanggar ketentuan tata ruang. Kondisi ini menempatkan warga dalam risiko bencana seperti banjir dan longsor, sekaligus ancaman penggusuran karena pelanggaran tata ruang.

Menurutnya, pemerintah seharusnya hadir dan melakukan penataan ulang yang substansial. Seperti melihat aspek pelanggaran tata ruang, wilayah sempadan, sanitasi yang baik, hingga tersedianya air bersih.

“Bagaimana warga merasa aman tinggal di sana, tidak melanggar hukum karena berada di wilayah sempadan. Artinya, pemerintah harus melakukan relokasi atau revitalisasi ulang yang menyeluruh. Yang substansinya dulu, cat nanti saja,” tegasnya.

Frans menyarankan, sebelum mengejar tren kampung wisata atau kampung tematik, pemerintah sebaiknya menyelesaikan dulu persoalan struktural warga.

“Modernisasi yang dipaksakan atas nama pariwisata ini berbahaya, karena akan mengganggu kehidupan warga dan menghapus identitas kampung kota itu sendiri,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa euforia pariwisata bisa menciptakan overtourism yang mengganggu kenyamanan warga.

“Sekarang bayangkan, rumah kita, daerah privat kita, didatangi ribuan orang hanya untuk selfie. Warga itu pasti nggak nyaman,” ucapnya.

Dengan segala kerentanan yang ada, Frans menegaskan pentingnya revitalisasi yang berpihak pada warga, bukan sekadar mengikuti tren.

“Misalnya relokasi atau misalnya melakukan revitalisasi ulang, penataan ulang, penataan ulang wilayah Katumbiri, dan lain-lain gitu.”

“Itu yang paling substansinya dulu, yang substansinya dulu, kan cat mah bisa nanti lagi lah,” ujarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)